Intelligence Disability: Definisi dan Penatalaksanaan OT

Definisi

American Association on Intellectual and Developmental (AAID) telah mendefinisikan Intelligence Disability sebagai keterbatasan yang signifikan baik dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif, yang mencakup banyak keterampilan sosial dan keterampilan kehidupan sehari-hari. Gangguan ini biasanya berasal sebelum usia penyandang disabilitas berusia 18 tahun. Keterbatasan intelektual merujuk pada suatu ukuran Intelligence Quotient  (IQ) yang  jatuh dibawah rata rata IQ normal yaitu 100 (<70), dan keterbatasan fungsi adaptif mengacu pada gangguan dalam setidaknya dua dari sepuluh bidang keterampilan.

Intelligence Disability  juga didefinisikan dalam Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, edisi 4 (DSM-IV) oleh American Psychiatric Association (APA), serupa dengan definisi AAMR, DSM IV memiliki tiga kriteria diagnostik untuk Intelligence Disability , termasuk intelektual sub-rata berfungsi (IQ <70), gangguan dalam fungsi adaptif dan onset sebelum usia 18. Intelligence Quotient adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental jauh dibawah rata-rata sedemikian rupa sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial dan karenanya memerlukan layanan pendidikan khusus.

Intelligence Disability  menurut klasifikasinya dibedakan menjadi ringan, sedang, berat, dan sangat berat (mild retardation, moderate retardation, severe retardation dan profound retardation) berdasarkan pada tingkat Intelligence Quotient. Penatalaksanaan IIntelligence Disability  mencakup tatalaksana medis, penempatan di panti khusus, psikoterapi, konseling, dan pendidikan khusus. Pencegahan Intelligence Disorders dapat dibagi menjadi pencegahan primer (mencegah timbulnya retardasi mental), atau sekunder (mengurangi manifestasi klinis Intelligence Disability ).

Etiologi

Etiologi Intelligence Disability dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal dan postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam penyebab terjadinyaIntelligence Disability , dan banyak diantaranya yang dapat dicegah. Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis dan psikososial. Penyebab biologis atau sering disebut Intelligence Disorders tipe klinis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Pada umumnya merupakan Intelligence Disability  sedang sampai sangat berat
  2. Tampak sejak lahir atau usia dini
  3. Secara fisis tampak berkelainan/aneh
  4. Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun postnatal
  5. Tidak berhubungan dengan kelas sosial

Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Biasanya merupakan Intelligence Disability ringan
  2. Diketahui pada usia sekolah
  3. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
  4. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
  5. Ada hubungan dengan kelas sosial

Klasifikasi 

Klasifikasi ID berdasarkan IQ menurut DSM-V yaitu:7

  • ID sangat berat

IQ dibawah 20 atau  25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang  terkena ID. Pada sebagian besar individu dengan diagnosis ini dapat diidentifikasi kelainan neurologik, yang mengakibatkan Intelligence Disability. Pada masa anak-anak, menunjukkan gangguan berat pada sensorimotor. Perkembangan motorik dan mengurus diri dan kemampuan komunikasi dapat ditingkatkan dengan latihan yang adekuat.

  • ID berat

IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 3-4 % dari orang yang  terkena Intelligence Disability. Pada masa anak-anak tidak mampu berkomunikasi bahasa. Sewaktu usia sekolah mereka dapat belajar bicara dan dapat dilatih  dalam kecakapan mengurus diri yang sederhana. Pada fase dewasa mereka dapat melakukan kerja sederhana dengan diawasi secara ketat.

  • ID sedang

IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang  terkenaIntelligence Disability . Dapat disebut dengan kelompok yang dapat dilatih (trainable). Memiliki kecakapan komunikasi selama masa anak dini. Mereka memperoleh manfaat dari latihan vokasional, dan dengan pengawasan yang sedang dapat mengurus atau merawat diri sendiri

  • ID ringan

IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkenaIntelligence Disability. Pada umunya anak-anak dengan Intelligence Disability  ringan tidak dikenali sampai  anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah. Dapat disebut dengan kelompok yang dapat dididik (educable).

Problematik Okupasi Terapi

Problematik okupasional yang biasnya muncul pada individu denganIntelligence Disability  :

  1. Individu dengan Intelligence Disability  memiliki keterbatasan dalam kontrol diri yang berkaitan dengan emosi, mood dan prilaku.
  2. Individu dengan Intelligence Disability  memiliki keterbatasan dalam keterampilan sosial/komunikasi.
  3. Ketidakmampuan untuk bersosialisasi termasuk berinteraksi dalam kelompok kecil atau kelompok besar.

Salah satu permasalahan yang muncul pada kasus Intelligence Disability  selain keterbatasan intelektual adalah keterbatasan dalam kemampuan self determination atau kemampuan mengendalikan diri dan menentukan tujuan hidup, keterbatasan ini diakibatkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah permasalahan stres, karena pada individu dengan Retardasi Mental cenderung memiliki keterbatasan pada kontrol diri, pemahaman dan pemecahan masalah, yang akhirnya akan berdampak pada penurunan kualitas hidup (quality of life) individu yang bersangkutan.

Penatalaksanaan Okupasi Terapi :

Mengoptimalkan kemampuan keterampilan sosial dan mengubah prilaku merupakan salah satu penatalaksanaan Okupasi Terapis dalam memberikan intervensi pada individu dengan Intelligence Disability   yang berdasarkan pada konsep social skill yang terbagi menjai penerimaan oleh rekan (peer acceptance), prilaku sosial (social behaviors), dan validitas sosial (social validity).  Keterampilan sosial dalam definisi validitas sosial (social validity) merupakan sebuah perilaku individu dalam situasi tertentu yang mencerminkan sikap individu terhadap penerimaan oleh teman/orang dewasa, kompetensi akademik, konsep diri, dan penyesuaian psikologis. Keterampilan sosial dibagi dan dioperasionalkan menjadi lima komponen yaitu :

  1. Pendekatan yang efektif untuk belajar.
  2. Pengendalian diri.
  3. Kemampuan interpersonal.
  4. Pemecahan masalah perilaku.
  5. Internalisasi perilaku masalah.

References

Dwi P, Santi W. Pengaruh Terapi Sosiodrama Terhadap Keterampilan Komunikasi Non Verbal pada Anak Retardasi Mental Ringan di SLB X Kota Cirebon. Maret 2015: Vol 10 No 1;13

Alaura A , Basma Al-Jabri. From learning to memory: what flies can tell us about intellectual disability treatment. 3 Juny 2015: Vol 6; 1

Sutini T, Budi Anna. Pengaruh Terapi Self-Help Group terhadap Koping Keluarga dengan Anak Retardasi Mental. Agustus 2014: Vol 2 Nomor 2 : 117

American Psyciatric Assosiation. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th. ed. London : New School Library; 2013: 33-6

Reed, Kathlyn L. Quick Reference to Occupational Therapy. 2nd. ed. Maryland : Aspen Publisher: 2001.

Michael L. Wehmeyer. (2000). Essential Characteristics of Self Determined Behavior of Individuals With Mental Retardation. American Journal on Mental Retardation.Vol. 100, No. 6, 632-642

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s