Mengenal Kondisi “Clumsiness” Pada Anak dan Dewasa

Anda mungkin kadang-kadang menganggap diri sebagai seseorang yang ”ceroboh” (clumsy) jika Anda sering bertabrakan dengan properti dirumah atau menjatuhkan suatu barang. Kecerobohan (clumsiness) didefinisikan sebagai sebuah kondisi koordinasi yang buruk dari gerakan, atau pengambilan tindakan.

Pada kondisi normal, keadaan ceroboh saat bergerak boleh jadi menjadi masalah kecil. Tapi, pada tingkat gangguan yang berbeda, Clumsiness bisa jadi merupakan sebuah gangguan yang lebih berat yang  dapat terjadi karena risiko kecelakaan atau cedera serius, seperti gegar otak.

Sebuah penelitian pada tahun 2009 mengkaji  keterkaitan antara memori visual (penglihatan), memori verbal (wicara), kecepatan pemrosesan, dan waktu reaksi dari 1.500 atlet pada tingkat perguruan tinggi. Atlet dengan jumlah kecelakaan/cedera saat berolahraga memiliki waktu reaksi dan kecepatan pemrosesan yang lebih lambat. Atlet dengan tingkat cedera yang lebih banyak memiliki kemampuan yang kurang baik dalam tes memori. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi otak, dari bagaimana informasi diproses untuk memberitahu tubuh Anda bagaimana cara untuk bergerak, memainkan peran yang penting dalam koordinasi.

Kebanyakan orang memiliki waktu tersendiri dimana mereka merasa ceroboh/’kikuk’ dalam beraktivitas, dan pada tingkat yang normal kita biasanya tidak perlu khawatir tentang hal tersebut. Cara yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki koordinasi gerak dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT), seperti membangun kebiasaan untuk meningkatkan pengolahan otak Anda. Terapi CBT juga dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan kesadaran gerak (awareness).

Namun jika Anda mengalami masalah kecanggungan gerak pada situasi yang mendadak/ tiba-tiba, yang disertai dengan gangguan koordinasi yang buruk dan mengganggu kesehatan anda, kondisi ini bisa menjadi gejala dari kondisi masalah kesehatan yang lebih serius.

clumsy-trip.jpg
Tersandung atau salah melangkah saat menuruni tangga juga bisa jadi merupakan gejala dari kecanggungan gerak

Apa yang menyebabkan Clumsiness secara tiba – tiba?

Sebuah keadaan clumsy secara tiba -tiba dapat terjadi jika Anda dalam kondisi terganggu atau tidak menyadari  kondisi lingkungan disekeliling Anda. Namun seringkali, masalah kecanggungan yang terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan kegagalan koordinasi berhubungan dengan gejala lain.

  1. Stroke

Stroke terjadi ketika adanya gumpalan darah yang terbentuk di otak dan menurunkan jumlah aliran darah. Kondisi ini akan menghalangi otak Anda untuk mendapatkan oksigen  yang dapat mengakibatkan sel-sel otak menjadi mati. Selama stroke, beberapa orang mengalami kelumpuhan atau kelemahan otot, yang dapat menyebabkan gangguan koordinasi yang buruk dan kecanggungan dalam bergerak.

Tapi clumsy secara tiba-tiba tidak selalu berarti stroke. Gangguan lain yang menyertai kondisi stroke diantaranya :

  • Bicara cadel
  • Kelemahan otot dan kebas pada anggota badan
  • Sakit kepala

Gejala yang sama juga ditunjukan pada kondisi transient ischemic attack  (TIA), atau “mini-stroke.” Kondisi TIA juga mengurangi aliran darah ke otak. Serangan ini biasanya hanya berlangsung beberapa menit dan tidak menyebabkan kerusakan otak permanen.

  1. Kejang

Kejang (seizure) juga dapat menyebabkan gejala clumsiness yang terjadi secara tiba-tiba. Kejang mioklonik (sentakan ekstrim yang terjadi secara tiba-tiba dengan durasi sangat singkat) dan lemah menyebabkan seseorang tiba-tiba jatuh, seolah-olah mereka tersandung

Pada orang dengan gangguan Kejang parsial kompleks (complex partial seizures) ditandai dengan kondisi dimana seseorang mulai menatap kosong saat berada di tengah-tengah kegiatan. Kemudian mereka akan mulai melakukan aktivitas acak seperti:

  • Bergumam
  • Meraba-raba atau mengangkat pakaian yang dikenakan
  • Mengambil benda-benda

Kejang parsial kompleks mungkin hanya berlangsung beberapa menit, dan orang tersebut akan memiliki memori tentang apa yang terjadi. Tindakan serupa biasanya diulang ketika kejang terjadi lagi.

  1. Kecemasan dan Stres

Sistem saraf Anda, yang mengontrol gerakan otot, dapat berfungsi secara tidak normal jika Anda tiba-tiba mengalami kondisi cemas atau stres. Hal ini dapat menyebabkan tangan Anda untuk bergetar saat bersalaman atau kehilangan kendali mengenai bagaimana Anda melihat sekeliling Anda dan melakukan tugas-tugas Anda. Akibatnya, Anda akan mudah bertabrakan atau berbenturan dengan benda atau orang disekeliling Anda.

  1. Obat – obatan dan Alkohol

Jika Anda meminum terlalu banyak alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang, Anda juga mungkin mengalami kecanggungan dalam bergerak karena keracunan. Intoksikasi, yang mengganggu fungsi otak, biasanya melibatkan satu atau dua gejala, yang mungkin menyertakan kondisi gerakan yang tidak terkoordinasi.

Gejala keracunan diantranya:

  • Mata merah
  • Perubahan perilaku
  • Bau yang kuat dari alkohol
  • Bicara cadel
  • Muntah

Anda mungkin mengalami kesulitan menjaga keseimbangan atau koordinasi dalam melangkah ketika mencoba untuk berjalan saat mabuk. Dengan kondisi seperti mabuk, kehilangan kontrol diri, gangguan keseimbangan dapat berakibat melukai diri sendiri atau mendapatkan gegar otak jika Anda jatuh.

  1. Tumor otak

Pertumbuhan sel ganas atau jinak dalam otak juga dapat mempengaruhi keseimbangan dan koordinasi. Jika Anda memiliki tumor otak, Anda juga mungkin mengalami gejala berikut:

  • Mual dan muntah yang tidak dapat dijelaskan
  • Masalah penglihatan
  • Perubahan perilaku
  • Masalah pendengaran
  • Kejang
  • Kelemahan atau mati rasa
  • Sakit kepala yang kuat
  1. Penyakit Parkinson

Penyakit Parkinson mempengaruhi sistem saraf pusat dan dapat mengganggu sistem motorik. Gejala dari Parkinson mengakibatkan tremor pada tangan atau kedutan tangan yang dapat menyebabkan masalah dengan koordinasi. Tanda-tanda dan gejala lain meliputi:

  • Anosmia (Kesulitan dalam menghidu)
  • Kesulitan tidur
  • Sembelit
  • Suara lembut atau rendah
  • Tatapan kosong/ ekspresi datar
  1. Alzheimer

Alzheimer perlahan merusak dan membunuh sel-sel otak. Seseorang dengan penyakit Alzheimer sering mengalami kesulitan dengan memori, memiliki kesulitan menyelesaikan tugas-tugas keseharian, dan mungkin memiliki masalah dengan koordinasi. Risiko Alzheimer meningkat setelah usia 65.

Penyebab lain kecanggungan dalam bergerak :

Gerakan tidak terkoordinasi juga dapat terjadi ketika Anda tidak mendapatkan cukup tidur. Kelelahan dapat mempengaruhi keseimbangan, menyebabkan Anda mudah menjatuhkan benda. Atau Anda mungkin menemukan diri menabrak sesuatu. Mendapatkan setidaknya delapan jam tidur setiap malam memungkinkan otak dan tubuh untuk beristirahat.

Masalah kesehatan yang mempengaruhi sendi dan otot, seperti radang sendi, dan obat-obatan seperti anti-kecemasan, antidepresan, dan obat-obatan antikonvulsan juga dapat menyebabkan gejala yang sama.

  1. Kecanggungan pada anak-anak

Masalah koordinasi pada anak merupakan hal yang tidak biasa seperti kita mengajarkan balita bagaimana untuk berdiri dan berjalan. Anak-anak yang mengalami kesulitan memberikan perhatian juga memiliki masalah dalam koordinasi dan kurang sadar dengan lingkungan mereka.

Jika Anda merasa kecanggungan pada Anda tidak membaik atau malah memburuk, berbicara dengan dokter/ disiplin ilmu kesehatan anak lainnya. Masalah dengan koordinasi pada anak-anak juga dapat disebabkan oleh:

  • Masalah penglihatan
  • Flatfeet, atau kurangnya lengkungan pada kaki
  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Gangguan spektrum autisme (ASD)

 

3181953-father-helping-son-getting-up-from-falling-off-bicycle-stock-photo
Sering terjatuh dari sepeda, bisa jadi adanya kekurangan dalam koordinasi gerak dan inkonsistensi atensi dan konsentrasi
  1. Dyspraxia

Dyspraxia, atau developmental coordination disorder (DCD), adalah suatu kondisi yang mempengaruhi koordinasi gerak anak Anda. Anak-anak dengan DCD biasanya memeiliki keterlambatan kematangan koordinasi fisik untuk usia mereka dan hal ini bukan terjadi karena cacat atau gangguan neurologis pada area belajar.

Anda dapat mengurangi gejala DCD dengan berlatih gerakan, menyederhanakan sebuah aktifitas menjadi beberapa bagian, atau menggunakan alat bantu seperti grip khusus pada pensil.

  1. Kecanggungan gerakan (Clumsy) selama kehamilan

Saat kehamilan berlanjut, pusat gravitasi pada tubuh Anda akan berubah dan mempengaruhi keseimbangan Anda. Keadaan ini akan membuat koordinasi gerak anda menjadi berubah dan lebih sering untuk menabrak hal-hal disekeliling Anda. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi koordinasi Anda diantaranya adalah perubahan hormon, kelelahan, dan pelupa.

Melambatkan gerakan Anda saat kehamilan akan membantu untuk bergerak lebih fokus dan mengindari kecelakaan saat kehamilan.

Penanganan

CBT (Cognitive Behavior Therapy) dapat menjadi pengobatan yang efektif jika Anda memiliki masalah kecil dengan koordinasi. Misalnya, mengatur kebiasaan tidur yang baik dapat akan membantu anda mengurangi kecanggungan dalam bergerak.

Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) atau Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) merupakan salah satu bentuk konseling yang bertujuan membantu klien agar dapat menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang memuaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu dengan cara memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Pendekatan kognitif berusaha memfokuskan untuk menempatkan suatu pikiran, keyakinan atau bentuk pembicaraan diri (self talk) terhadap orang lain (misalnya, hidup saya sengsara sehingga sulit untuk dapat menentukan tujuan hidup saya). Selain itu, terapi juga memfokuskan pada upaya membelajarkan klien agar dapat memiliki bicara dan berpikir yang lebih positif dalam berbagai peristiwa kehidupan dan tidak hanya sekedar berupaya mengatasi penyakit atau gangguan yang sedang dialaminya. Dengan kata lain, konseling kognitif yang memfokuskan pada kegiatan mengelola dan memonitor pola pikir klien sehingga dapat mengurangi pikiran negatif dan mengubah isi pikiran agar dapat diperoleh emosi yang lebih positif. Sedangkan Konseling Behavioral memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan klien, menentukan bentuk imbalan (rewards) yang dapat mendorong klien untuk melakukan tindakan tertentu, pemberian konsekuensi yang tidak menyenangkan, guna mencegah klien melakukan tindakan yang tidak dikehendaki.

Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) dapat digunakan dalam rangka membantu menangani berbagai masalah yang dihadapi individu, seperti : depresi, kecemasan dan gangguan panik, atau dalam menghadapi peristiwa hidup lainnya, seperti: kematian, perceraian, kecacatan, pengangguran, masalah yang berhubungan dengan anak-anak dan stres. Berbagai teknik dan strategi behavioral therapy dapat digunakan untuk meningkatkan hasil perawatan (misalnya, teknik mengelola kemarahan, meditasi, latihan relaksasi, dan assertive training, dan sebagainya). Tidak seperti proses konseling tradisional umumya, Terapi Kognitif-Behavioral (TKB) lebih memfokuskan pada hasil dan tujuan, termasuk di dalamnya adalah hasil jangka pendek (segera) dari proses konseling yang sudah dijalankan.

References :

Bruce, Mary Ann PhD. Psychosocial Frame of Reference. 3rd ed. Thorofare : SLACK incorporated ; 2002

Source Articles : http://www.healthline.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s