Peran Okupasi Terapis dalam Menangani Gangguan Psikososial

Pendahuluan

Kinerja/performance manusia pada dimensi psikososial merupakan dasar bagi semua aspek “pekerjaan” dan okupasi terapi, dengan setiap klien, dan pada setiap kondisi praktik.  Konep okupasi sendiri didefinisikan sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari yang terorganisir, dan memiliki makna tersendiri oleh setiap individu bahkan budaya. Sebuah prinsip utama dari Okupasi Terapi adalah bahwa kehilangan aktivitas bermakna dapat mempengaruhi makna diri dari seorang individu bahkan kelompok. Makna diri individu dipengaruhi oleh beragam konteks : Sosial, budaya, pribadi, psikologis, dan spiritual di mana aktivitas ini terjadi.

Definisi Psikososial

Psikososial didefinisikan sebagai sebuah pengalaman intrapersonal, interpersonal, dan sosial dan interaksi yang mempengaruhi perilaku dan perkembangan okupasional. Beberapa konsep utama pada area psikososial pada aktivitas yang memiliki makna, tujuan, motivasi, aspek simbolis aktivitas, hubungan antar individu, peran diri, dan dinamika bawah sadar dapat mempengaruhi perilaku aktivitas. Aspek kepribadian, emosi, energi, dan dorongan juga mempengaruhi bagaimana orang melakukan aktivitas bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Klasifikasi Internasional Fungsi dan Kerangka Kerja Praktik Okupasi Terapi

The International Classification of Functioning, Disability, and Health (ICF) mendefinisikan disabilitas sebagai interaksi dinamis antara kondisi dan konteks kesehatan, termasuk faktor personal dengan lingkungan yang memengaruhi kinerja seseorang. ICF mengidentifikasi interaksi interpersonal, hubungan dan sikap sosial sebagai faktor yang memliki dampak pada hasil dari berbagai intervensi dan pengaruh fungsi dalam lingkunga.

Demikian pula, Kerangka Kerja Praktik Okupasi Terapi: Ruang lingkup kerja dan Proses yang telah dikembangkan oleh Asosiasi Okupasi Terapis Amerika (AOTA) sudah menyediakan kerangka terpadu untuk memandang Okupasi Terapi dalam area psikososial. Ruang kerja Okupasi Terapi dalam penanganan psikososial mencakup konteks personal, budaya, sosial, dan spiritual dari kehidupan klien yang mempengaruhi aktivitas penting dan bermakna. Proses okupasi terapi berpusat pada klien (client centered) dan kerjasama tim. Seorang okupasi terapis memulai prose/assesment awal dengan memperoleh informasi mengenai sejarah, pengalaman, nilai hidup, minat, dan kapasitas klien. Faktor psikososial mempengaruhi bagaimana terapis melakukan pendekatan pada klien, hubungan terapetik, dan hasil akhir intervensi.

Aspek psikososial Okupasi Terapi didasarkan pada akar sejarah profesi itu sendiri. Okupasi terapi dibentuk oleh berbagai kelompok profesional yang memperhatikan efek yang mengganggu dari ketidakaktifan individu dalam sebuah aktifitas. Mereka ini memandang okupasi terapi sebagai profesi holistik, yang berfokus pada keterkaitan antara pikiran dan tubuh, dan pentingnya aktivitas dalam menolong klien dengan keterbatasan fisik dan psikologis dalam memelihara orientasi kehidupan yang positif. Mereka mempercayai bahwa manusia dibawa ke aktivitas kompleks yang merupakan gabungan dari aspek personal, fisik, dan psikologis yang juga dipengaruhi variabel budaya, sosial, lingkungan, dan politik. Okupasi terapi pada masa sekarang tetap menjadi profesi holistik, berkomitmen untuk membantu individu dan kelompok untuk terlibat dalam aktivitas untuk mencapai dan mempertahankan partisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan, Pelatihan, dan Kompetensi

Okupasi Terapis dididik dan dilatih agar siap untuk mengatasi masalah psikososial dari klien mereka. The Accreditation Council for Occupational Therapy Education (ACOTE) merupakan lembaga yang berwenang untuk menentukan standar program pendidikan terkait dengan konten penanganan okupasi terapi dalam lingkup psikososial, Termasuk pembangunan manusia, pengetahuan, dan pemahaman manusia dan perilaku abnormal, serta pengetahuan tentang keanekaragaman sosiokultural serta pilihan gaya hidup yang dapat mempengaruhi pekerjaan.

Pendidikan Okupasi Terapi biasanya memberikan pendidikan dalam bidang berikut:

  • Hubungan Terapi
  • Keterampilan Wawancara
  • Administrasi penilaian fungsional pasien
  • Interpersonal dan dinamika kelompok
  • Desain Terapi Kelompok
  • Intervensi Program Terapi bekerja sama dengan klien, perawat, dan keluarga
  • Promosi kesehatan dan kesejahteraan melalui keterlibatan dalam aktifitas yang bertujuan.

Seorang Terapis okupasi yang bekerja dalam penanganan kasus psikososil harus memiliki pengetahuan tambahan dan keterampilan di bidang-bidang seperti kejiwaan rehabilitasi, terapi ekspresif, maupun keilmuan mengenai penyalahgunaan zat. Penyediaan layanan Individu yang disebut terapi okupasi dibutuhkan ketika ada seorang individu telah mengalami gangguan dalam kemampuan mereka untuk mengambil bagian yang diperlukan dan dimaknai dalam melakukan sebuah pekerjaan. Gangguan ini sering memunculkan respons emosional dan psikologis, termasuk penolakan, marah, takut, putus asa, resistensi terhadap pengobatan, kesepian, kesedihan, kecemasan, dan tanggapan lainnya. Isu-isu psikis ini mungkin tidak menjadi alasan utama untuk rujukan, tetapi harus dipahami dan ditangani karena seorang Okupasi Terapis memberikan pelayanan yang berbasis dan berpusat pada klien (Client Center), sehingga jenis individu dengan gangguan aktifitas apapun seperti remaja dengan gangguan bipolar, anak dengan cerebral palsy, orang dewasa dengan cedera tulang belakang, atau orang dengan gangguan arthritis, faktor psikososial tetap harus dipertimbangkan.

Layanan terapi okupasi juga dapat ditawarkan untuk individu dan populasi untuk mendukung keterlibatan mereka dalam melakukan aktifitas bermakna, salah satunya menggunakan teknik promosi kesehatan. Saat memberikan layanan tersebut, Okupasi Terapis harus mempertimbangkan faktor psikososial yang mempengaruhi keterlibatan dalam pekerjaan. Contoh layanan ini termasuk pelatihan parenting untuk kelompok ibu remaja, pelatihan keterampilan hidup dalam masyarakat untuk kelompok individu yang berada di tempat penampungan tunawisma, dan membuat program pencarian pekerjaan keahlian untuk remaja.

Banyak Okupasi Terapis bekerja dengan individu yang memiliki diagnosis signifikan yang negatif dan mempengaruhi kemampuan mereka untuk terlibat dalam pekerjaan, termasuk penyakit mental, cedera otak traumatis, cacat perkembangan, keterlambatan perkembangan, penyakit Alzheimer, atau demensia. Terapis okupasi memiliki peran dalam meningkatkan kemampuan hidup serta meningkatkan aspek psikologis yang berkaitan dengan cara mereka melakukan aktifitas :

  • Memberikan pengajaran keterampilan mobilitas dalam masyarakat untuk individu dengan gangguan skizofrenia,
  • Memberikan pelatihan individu dengan gangguan depresi dalam strategi yang efektif untuk mengelola stres.
  • Berkolaborasi dengan individu penyalahgunaan obat terlarang untuk membangun rutinitas dan kebiasaan alternatif yang mendukung gaya hidup yang lebih sehat.
  • Memberikan pelatihan individu dengan gangguan kognitif untuk meningkatkan strategi sederhana dalam menyiapkan makanan dan aktifitas kehidupan sehari-hari.
  • Memfasilitasi keterampilan interaksi sehingga anak dengan gangguan defisit perhatian dapat bersosialisasi secara tepat dengan teman sebaya.
group-therapy-addiction-treatment
Salah satu peran Okupasi Terapis dalam aspek Psikososial adalah meningkatkan kemampuan individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, dan membina komunikasi yang baik untuk menyelesaikan sebuah permasalahan  menggunakan terapi kelompok sebagai metode psikoterapi yang diharapkan dapat membantu pasien menjalani aktifitas dengan lebih baik.

 Gambaran kasus dan penanganan Okupasi Terapi

  • Seorang anak yang bermasalah dengan aktifitas makan dievaluasi oleh Okupasi Terapis. Ibu remaja merasa khawatir tentang kemampuannya dalam memberi makan anak dan ingin agar anaknya diberikan alat bantu untuk memasukan makanan. Rencana intervensi dikembangkan seorang Okupasi Terapis dalam kasus ini diantaranya adalah membantu ibu untuk mengembangkan kepercayaan diri dalam kemampuan dirinya, mengidentifikasi kebutuhan belajar, dan menguasai keterampilan yang diperlukan untuk melakukan sebuah aktifitas memberi makan.
  • Seorang anak dengan gangguan perkembangan memiliki kesulitan mengikuti rutinitas sekolah, beradaptasi dengan kelas dan perubahan jadwal, serta kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya. Penatalaksanaan Okupasi Terapis dalam kasus ini adalah dengan menilai lingkungan, menyesuaikan rutinitas anak, dan berkonsultasi dengan guru untuk membantu anak menjadi lebih sukses. Seorang Okupasi Terapis juga bertemu dengan guru untuk mengidentifikasi dan menentukan strategi bagi anak untuk dimasukkan dalam kegiatan kelompok sebaya yang nantinya dirancang sedemikian rupa menjadi sebuah aktifitas terapi kelompok yang didesain untuk meningkatkan kemampuan anak dalam akademis dan sosial.
  • Seorang gadis remaja di sekolah tinggi dalam masa pidana kelas menengah, memiliki tingkat prestasi akademik yang rendah, dan tidak memiliki pengalaman kerja atau tujuan karir. Selain itu, ia memiliki sikap membangkang terhadap otoritas. Seorang Okupasi Terapis dapat melakukan penanganan dengan cara bekerja sama dengan penyedia layanan, mengembangkan rencana intervensi dengan Gadis tersebut yang mencakup keinginan dalam menuntaskan pendidikan di sekolah tinggi, menghadir pelatihan keterampilan hidup, mencari pekerjaan paruh waktu, dan mengembangkan keterampilan hidup masyarakat, seperti anggaran dan pengelolaan uang.
  • Laki-laki dewasa dengan cedera tulang belakang sering marah dan kesal karena status cacatnya, takut bahwa dia akan tidak dapat melakukan aktifitas seksual, dan tidak yakin bagaimana dia akan mendukung dirinya sebagai penyandang cacat. Seorang Okupasi Terapi dapat memberikan penanagan dengan cara bekerja sama untuk mengidentifikasi tujuan dan menangani masalah seputar seksualitas dan melakukan konseling secara berkala.
  • Seorang wanita dewasa dengan diagnosis skizofrenia dan penyalahgunaan zat yang menghadiri program rawat jalan dan ingin hidup mandiri dari keluarganya. Seorang Okupasi Terapis dapat berperan dengan cara melengkapi profil pekerjaan, bekerja sama dengan klien untuk mengembangkan rencana pemulihan, dan memfasilitasi pendaftaran klien untuk program akademis yang sesuai dengan usianya. Okupasi Terapis juga mengajarkan keterampilan hidup klien agar menjadi individu yang independen dengan memberikan pelatihan vokasional seperti memasak dan pengelolaan uang.
  • Seorang wanita tua dengan penyakit Alzheimer menjadi semakin sulit melakukan aktifitas keseharian bersama putrinya. Penanganan Okupasi Terapis dalam kasus ini dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan orang terdekat untuk mengidentifikasi strategi adaptif, termasuk membuat rumah lebih aman bagi klien, mengembangkan rutinitas sehari-hari terstruktur, dan mengorganisir tanggung jawab bersama untuk pengasuhan pasien dengan saudara lainnya.
01209.jpg
Seorang Okupasi Terapis tidak boleh memilih dalam menangani pasien/client dengan gangguan psikososial, karena itu seorang Okupasi Terapis dituntut menjadi seorang profesional yang handal dalam memberikan pelayanan dan program terapi yang efektif.

Source : Ruth Ramsey, American Journal of Occupational Therapy, November/December 2004, Vol. 58, 669-672

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s