Occupational Marginalization : Masalah Psikologis Pada Kelompok Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT)

LATAR BELAKANG

Ketidakadilan kerja (occupational injustice) umumnya terjadi di seluruh dunia. Ketidakadilan kerja terjadi ketika seorang individu dilarang, diberdayakan, dipisahkan atau dibatasi untuk berpartisipasi dalam pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka untuk mendapatkan kepuasan atau kesejahteraan (Kronenberg, 2005)

Salah satu jenis occupational injustice adalah marginalisasi kerja (occupational marginalization) : dimana terjadinya penolakan oleh standarisasi normatif sosial tentang harapan seseorang, bagaimana, kapan, dan dimana orang harus berpartisipasi (Townsend, 2004)

(Subhrajit, 2014) LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender) sebagai anggota kelompok minoritas sosial, menderita berbagai bentuk ketidakadilan sosial ekonomi dan budaya.

Menurut penelitian (Smitkhova, 2014) menggunakan kuisioner online via google docs yang melibatkan total 253 responden dari kelompok LGBT menjelaskan : lebih dari 40% responden mengatakan bahwa mereka memiliki kesulitan serius dalam berhubungan dengan penerimaan dan penyampaian identitas LGBT mereka. Lebih dari 40% responden mengaku menderita gangguan kejiwaan, dan kesulitan mengatasi depresi dan kecemasan sehingga mencoba mengatasi gejala tesebut dengan mengkonsumi alkohol, atau obat-obata

PERMASALAHAN

Kelompok (LGBT) menghadapi kesulitan yang luar biasa untuk tumbuh dalam masyarakat di mana heteroseksualitas merupakan satu-satunya orientasi seksual yang dapat diterima dan homoseksualitas dianggap menyimpang. Mereka terus menghadapi diskriminasi dan pengucilan di seluruh dunia, disemua aspek kehidupan.

(Eskin, 2005) secara konsisten menyimpulkan bahwa laporan kelompok LGBT mengalami peningkatan tekanan emosional, gejala yang berkaitan dengan gangguan mood dan kecemasan, membahayakan diri sendiri, muncul ide bunuh diri, dan perilaku bunuh diri bila dibandingkan dengan kelompok heteroseksual.

Kesehatan mental yang terganggu merupakan prediktor fundamental dari sejumlah penyimpangan perilaku kesehatan yang terlihat pada kaum LGBT (misalnya penggunaan zat, dan penyalahgunaan obat) (Marshal, 2008).

ANALISIS OCCUPATIONAL INJUSTICE

Marginalisasi kerja (occupational marginalization) adalah kondisi dimana terjadinya penolakan oleh standarisasi normatif sosial tentang harapan seseorang, bagaimana, kapan, dan dimana orang harus berpartisipasi (Townsend, 2004).

(Subhrajit, 2014) Orang-orang yang terpinggirkan memiliki kontrol yang relatif kecil terhadap kehidupan mereka dan sumber daya yang tersedia bagi mereka ; Mereka mungkin menjadi stigmatisasi dan sering menerima sikap publik yang negatif.  Keterbatasan mereka untuk memberi kontribusi sosial akan menurunkan kepercayaan diri dan harga diri sehingga mereka menjadi terisolasi dari lingkungan.

Kelompok LGBT mungkin mengalami banyak bentuk marginalisasi seperti rasisme, seksisme, kemiskinan yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Stigma yang melekat pada orientasi seksual dan identitas gender yang berada di luar norma heteroseksual dan non-transgender yang tidak diharapkan, mengakibatkan keterasingan pada kelompok LGBT. (Subhrajit, 2014)

SARAN/EVALUASI

Kelompok LGBT sering kali membutuhkan dukungan dan bantuan antara teman, orang tua atau psikolog, pekerja sosial, okupasi terapis (support group) dimana kelompok LGBT merasa nyaman menceritakan identitas dan orientasi seksual mereka. (American Psychiatric Association , 2013). Prasangka negatif, kebencian, diskriminasi yang dimanifestasikan terhadap kelompok LGBT adalah faktor stres utama yang membutuhkan kekuatan dari dalam diri, ketahanan, strategi penanggulangan yang efektif untuk mengatasi dampak negatifnya : perilaku kurang sehat ; konsumsi obat, alkohol, merokok, dan gejala gangguan psikologis seperti depresi,  serta keinginan bunuh diri. (Smitkhova, 2014)

PENUTUP

Keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial, berkomunikasi dan beraktivitas tanpa adanya diskriminasi dan stigma negatif terhadap kelompok LGBT merupakan salah satu hak yang didapatkan seorang individu dalam keberlangsungan hidupnya.

References

American Psychiatric Association . (2013). “Adoption and Co-parenting of Children by Same-sex Couples” (ref. 1st March 2013), Available in: http://www.aglp.org/pages/ position.html#Anchor-Adoption-49575.

Eskin. ( 2005). Same-sex sexual orientation, childhood sexual abuse, and uicidal behavior in university students in Turkey, Arch. Sex. Behav. 2005; 34:185–95. [PubMed:15803252.

Kronenberg. (2005). Occupational therapy without borders: Learning from the spirits of survivors. London: Elsevier Church.

Marshal. (2008). Sexual orientation and adolescent substance use: a meta-analyses and methodological review, Addiction. 2008; 103:546–56.[PubMed: 18339100] .

Smitkhova. (2014, 1 1). The effect of marginalization on the healthy aging of. Pscychological problems of LGBT people, pp. 244-248.

Subhrajit. (2014). Problems Faced by LGBT People in the Mainstream Society: Some Recommendations , International Journal of Interdisciplinary and Multidisciplinary Studies (IJIMS), 2014, Vol 1, No.5, 317-331. .

Townsend. (2004). ccupational justice and client-centred practice: A dialogue in progress, Canadian Journal of Occupational Therapy, 71(2), 75-85.

World Federation of Occupational Therapy. (2011). WFOT.

One thought on “Occupational Marginalization : Masalah Psikologis Pada Kelompok Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT)

  1. Pelaku LGBT harus diobati karena LGBT merupakan penyimpangan terhadap perilaku seksual. Tidak ada agama yang mengizinkan LGBT. Pelaku LGBT memang memiliki hak hidup tapi mereka harus mau diobati. Jika melihat LGBT dari sudut pandang negara Amerika dan sejenisnya maka mereka akan mendukung perilaku LGBT tanpa ada usaha untuk menyembuhkannya. Mereka berperilaku seperti itu karena kebablasan dalam menjalani kehidupan. “Saya LGBT dan tidak mengganggu orang. Ini hak dan pilihan saya. Kenapa kalian mempersalahkannya?”. Kira – kira seperti itulah pikiran pelaku LGBT. SEBAT OT berada di Indonesia, harusnya melihat persoalan dari sudut pandang Indonesia. Indonesia adalah masyarakat yang menjunjung tinggi agama dan budaya. Jangan kebablasan seperti masyarakat luar negeri yang tidak mempedulikan aturan agama. Pemilihan foto artikel ini tidaklah pantas karena menunjukkan dukungan terhadap LGBT. Selain itu, kepustakaan yang diambil tidak ada yang berasal dari sudut pandang Indonesia terhadap LGBT.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s