Gangguan Pada Geriatri : Alzheimer Dan Efektivitas Penanganan Okupasi Terapi

A. Definisi

Penyakit Alzheimer adalah penyakit otak degeneratif dan penyebab paling umum gangguan demnesia (Wilson, 2012). Gejala khas demensia adalah kesulitan dengan memori, bahasa, problem solving dan keterampilan kognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Gangguan ini terjadi karena sel saraf (neuron) di bagian otak yang terlibat pada fungi kognitif telah rusak atau hancur. Pada penyakit Alzheimer, terjadi kerusakan pada otak termasuk yang memungkinkan seseorang untuk melakukan fungsi tubuh dasar seperti berjalan dan menelan. Orang-orang pada tahap akhir penyakit ini bahkan tidak dapat beranjak dari tempat tidur dan membutuhkan perawatan maksimal. Penyakit Alzheimer pada akhirnya dapat berakibat kematian. (Alzheimer’s Association, 2017)

B. Patofisiologi

Otak orang dewasa yang sehat memiliki sekitar 100 miliar neuron, masing-masing memiliki ekstensi yang panjang dan bercabang. Ekstensi ini memungkinkan neuron individu membentuk koneksi dengan neuron lain. Koneksi atau celah sambungan tersebut dinamakan sinapsis, arus informasi dalam semburan bahan kimia kecil dilepaskan oleh satu neuron dan terdeteksi oleh neuron penerima. Otak mengandung sekitar 100 triliun sinapsis. Sinyal berjalan dengan cepat melalui sirkuit neuronal otak, menciptakan dasar seluler penyimpanan memori, pikiran, sensasi, emosi, gerakan dan keterampilan. (Alzheimer’s Association, 2017)

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan otak yang terkait dengan Alzheimer mungkin dimulai kurang lebih 20 tahun sebelum gejala muncul. (Villemagne, 2013) Akumulasi fragmen protein beta-amyloid (disebut plak beta-amyloid) di luar neuron dan akumulasi bentuk protein yang tidak normal (disebut tau tangles) di dalam neuron adalah dua dari beberapa perubahan otak yang terkait dengan Alzheimer. Plak beta-amyloid diyakini berkontribusi terhadap kematian sel dengan mengganggu komunikasi neuron-ke-neuron pada sinaps, sementara tau tangles menghalangi pengangkutan nutrisi dan molekul penting lainnya di dalam neuron. Otak orang dengan penyakit Alzheimer lanjut menunjukkan peradangan, penyusutan dramatis dari kehilangan sel, dan dan menyebabkan kematian neuron. (Alzheimer’s Association, 2017)

C. Etiologi

Para ahli percaya bahwa Alzheimer, seperti penyakit kronis lainnya, berkembang sebagai akibat beberapa faktor dan bukan penyebab tunggal, faktor resiko penyebab Alzheimer diantaranya :, usia yang semakin menua (Hebert, 2010), memiliki riwayat keluarga dengan Alzheimer’s (Lautenschlager, 1996) dan membawa gen APOE-e4 (Age, Family History and the Apolipoprotein E (APOE)-e4 Gene) (Saunders, 1993).

          a. Usia

Usia merupakan faktor resiko terbesar dalam penyakit Alzheimer, dengan sebagian besar penderita demensia Alzheimer berusia 65 tahun ke atas. Persentase demensia Alzheimer meningkat secara dramatis seiring bertambahnya usia : 3 persen orang berusia 65- 74, 17 persen orang berusia 75-84, dan 32 persen orang usia 85 atau lebih tua mengalami demensia Alzheimer (Sposato, 2015). Penting untuk dicatat bahwa Alzheimer bukanlah bagian normal dari penuaan. (Alzheimer’s Association, 2017)

          b. Riwayat Keluarga

Individu yang memiliki orang tua, kakak atau adik penderita Alzheimer lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit ini daripada mereka yang tidak memiliki keluarga dengan penyakit serupa (Green, 2002). Ketika penyakit menyerang keluarga, keturunan (genetika), faktor lingkungan dan gaya hidup (misalnya, akses terhadap makanan sehat dan tingkat aktivitas fisik), atau keduanya, memengaruhi faktor terjadinya Alzheimer.

c. APOE-e4 Gene

Gen APOE menyediakan cetak biru untuk protein yang mengangkut kolesterol ke dalam aliran darah. Setiap orang mewarisi satu dari tiga bentuk gen APOE : e2, e3 atau e4 dari setiap orang tua. Bentuk e3 adalah yang paling umum menyebabkan Alzheimer, dengan 50 persen sampai 90 persen individu. (Ikonomovic, 2008). Memiliki gene e4 meningkatkan resiko 5 persen hingga 35 persen terkena penyakit Alzheimer, dan bentuk gene e2 adalah yang paling tidak umum mengakibatkan Alzheimer, dengan 1 persen sampai 5 persen kerjadian Alzheimer. (Mahley, 2000) Perkiraan distribusi enam kemungkinan e2, e3 dan e4.

            d. Faktor Risiko Yang Dapat Dimodifikasi

Meskipun faktor risiko seperti usia dan riwayat keluarga tidak dapat diubah, faktor risiko lainnya dapat diubah, atau dimodifikasi, untuk mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia. Penelitian yang dilakukan (Mintun, 2006) mengevaluasi bukti mengenai efek faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada penurunan kognitif dan demensia dan menyimpulkan bahwa ada bukti yang cukup kuat, dari perspektif berbasis populasi bahwa aktivitas fisik reguler dan pengelolaan faktor risiko kardiovaskular (terutama diabetes, obesitas, pola merokok dan hipertensi) mengurangi risiko penurunan kognitif dan dapat mengurangi risiko demensia. (Aizenstein, 2008) juga menyimpulkan adanya cukup bukti kuat bahwa diet sehat dan pelatihan kognitif jangka panjang dapat mengurangi risiko penurunan kognitif.

D. Prevalensi

Diperkirakan 5,5 juta orang Amerika dari segala umur hidup dengan demensia Alzheimer pada tahun 2017. Jumlah ini mencakup sekitar 5,3 juta orang berusia kurang lebih 65 tahun. (Sposato, 2015), dan sekitar 200.000 orang di bawah usia 65 tahun memiliki onset awal Alzheimer. (Alzheimer’s Association, 2006).

Menurut (Hebert, 2010) prevalensi dementia Alzheimer adalah sebagai berikut :

  •  Satu dari 10 orang berusia 65 tahun atau lebih tua (10 persen) menderita demensia Alzheimer.
  • Persentase orang dengan demensia Alzheimer meningkat seiring bertambahnya usia : 3 persen orang berusia 65-74, 17 persen orang berusia 75-84, dan 32 persen orang berusia 85 dan lebih tua mengalami demensia Alzheimer.
  • Dari orang-orang yang menderita demensia Alzheimer, 82 persen berusia 75 atau
    lebih tua.

E. Maninfestasi Klinis

Maninfestasi klinis gangguan Alzheimer diantaranya adalah kehilangan memori yang mengganggu kehidupan sehari-hari terutama melupakan informasi yang baru dipelajari. Yang lain termasuk melupakan tanggal atau peristiwa penting, meminta informasi yang sama berulang-ulang, dan semakin bergantung pada bantuan memori (misalnya sering menggunakan catatan pengingat atau perangkat elektronik) atau anggota keluarga untuk halhal yang dulu ditangani sendiri. (Alzheimer’s Association, 2017).

Beberapa orang dengan Alzheimer mengalami perubahan dalam kemampuan mereka untuk mengembangkan dan mengikuti rencana atau bekerja dengan angka. Kesulitan mencatat tagihan bulanan dan kesulitan berkonsentrasi serta membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan sesuatu daripada sebelumnya. (Alzheimer’s Association, 2017)

Kesulitan menyelesaikan tugas familiar di rumah, di tempat kerja atau di waktu senggang : Orang-orang dengan Alzheimer sering merasa sulit menyelesaikan tugas seharihari. Terkadang, orang mengalami kesulitan mengemudi ke lokasi yang sudah dikenal, mengelola anggaran di tempat kerja atau mengingat aturan permainan favorit. (Alzheimer’s Association, 2017) Penurunan fungsi penilaian yang buruk (judgement) : Orang dengan Alzheimer mungkin mengalami perubahan dalam penilaian atau pengambilan keputusan. Misalnya, mereka mungkin menggunakan penilaian yang buruk saat mengelola keuangan. Mereka juga mungkin kurang memperhatikan perawatan atau menjaga kebersihan diri. (Alzheimer’s Association, 2017)

Perubahan mood dan kepribadian: Suasana hati dan kepribadian penderita Alzheimer dapat berubah. Mereka bisa menjadi bingung, curiga, depresi, takut atau cemas. Merekamungkin mudah marah di rumah, di tempat kerja, dengan teman atau di tempat di mana mereka berada di luar zona nyaman mereka. (Alzheimer’s Association, 2017).

F. Diagnosa

Tidak ada tes tunggal yang dapat langsung mendiagnosa Alzheimer. Sebagai gantinya, dokter dengan bantuan spesialis seperti ahli saraf dan ahli gizi, menggunakan berbagai pendekatan dan alat untuk membantu melakukan diagnosis diantaranya :

  • Mendapatkan riwayat medis dari keluarga dan individu, termasuk riwayat kejiwaan dan riwayat perubahan kognitif dan perilaku.
  • Meminta anggota keluarga untuk memberi masukan tentang perubahan dalam
    kemampuan berpikir dan perilaku.
  • Melakukan tes kognitif, fisik dan pemeriksaan neurologis
  • Memiliki individu menjalani tes darah dan pencitraan otak untuk menyingkirkan
    penyebab potensial lainnya.

Mendiagnosis Alzheimer memerlukan evaluasi medis yang hati-hati dan komprehensif. Meski dokter hampir selalu bisa menentukan apakah seseorang menderita demensia, namun sulit untuk mengidentifikasi penyebab pastinya. Beberapa hari atau minggu mungkin diperlukan bagi individu untuk menyelesaikan tes dan pemeriksaan yang diperlukan dan agar dokter menafsirkan hasilnya dan dapat membuat diagnosis.

PERAN OT

A. Efektifitas Penanganan Alzheimer dalam Berbagai Aspek

Menurut (Arbesman, 2011) Bukti kuat yang telah ditemukan untuk efektivitas intervensi multifaset penanganan Alzhaimer meliuputi meningkatkan kemauan dan kemampuan untuk berolahraga, menurunkan resiko jatuh, dan memodifikasi lingkungan di rumah sakit. Telah ditemukan bukti bahwa pelatihan fisik yang mencakup penguatan, keseimbangan, dan fleksibilitas berjalan mencegah resiko jatuh pada orang dewasa yang lebih tua dengan gangguan kognitif.

Penanganan yang dapat diberikan melalui intervensi caregiver menunjukan bahwa ada bukti kuat untuk efektivitas sesi terapi okupasi yang memberi edukasi terkait, problem solving, penyederhanaan tugas, komunikasi, dan modifikasi lingkungan (Arbesman, 2011). Terdapat bukti yang kuat untuk intervensi pengasuh yang menggabungkan konseling dan kelompok pendukung (support group), serta intervensi yang menggabungkan edukasi, manajemen kasus, keterlibatan pasien, dan manajemen stres.

B. Modifikasi Tuntutan Aktifiras

Tuntutan aktivitas (Activity demands) adalah “ciri khas suatu aktivitas yang mempengaruhi tipe dan jumlah usaha yang diperlukan untuk melakukan kegiatan (American Occupational Therapy Association, 2008). Dengan kata lain, karena tuntutan aktivitas dimodifikasi, klien juga memodifikasi pendekatannya terhadap aktivitas untuk menyelesaikannya dengan baik (Bontje, 2004). Tuntutan aktivitas dapat dimodifikasi dengan mengubah konteks di mana aktivitas biasanya berlangsung atau dengan “meningkatkan beberapa fitur untuk memberi beberapa petunjuk dan mengurangi resiko gangguan kerja (Dunn, 1998). Modifikasi mungkin termasuk mengubah bahan yang digunakan, memvariasikan ruang di mana aktivitas dilakukan, dan memberikan interaksi sosial dalam bentuk petunjuk yang memudahkan penyelesaian aktivitas. Modifikasi lainnya dapat mencakup langkah-langkah aktivitas, mengubah posisi orang yang menyelesaikan aktivitas, atau keduanya (American Occupational Therapy Association, 2008).

Modifikasi activity demand telah menjadi intervensi lama dalam terapi okupasi, dan bukti keefektifannya dalam memungkinkan orang-orang AD untuk berpartisipasi dalam
perawatan mandiri dan leisure. (Padilla, 2011)

Program okupasi terapi harus didesign secara individual untuk pasien untuk mendapatkan tingkat keterampilan mempertahankan minat pekerjaan yang tertinggi. (Padilla, 2011). Program yang disusun khusus untuk pasien melibatkan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan kognitif dan fisik pasien Alzheimer. Aktivitas yang sesuai dengan kemampuan pasien memberikan rangsangan sosial dan pilihan baru yang disukai dan dengan demikian menarik minat orang tersebut untuk melakukan aktivitas. Mempertahankan keterlibatan orang-orang dengan AD dalam aktivitas bermakna dalam jangka waktu yang lebih lama mengurangi perilaku terkait demensia seperti melamun, menjerit, dan agresi. (Padilla, 2011)

Komunikasi seperti pemberian petunjuk kerja yang digunakan saat membantu orang dengan Alzheimer untuk menyelesaikan tugas harus singkat dengan arahan yang jelas. Petunjuk kerja yang diberikan oleh praktisi dan perawat selama kegiatan adalah salah satu cara yang paling penting untuk memodifikasi tuntutan aktivitas (activity demand). (Padilla, 2011)

Jadi, petunjuk kerja bisa dimulai dari pernyataan netral (misalnya, “Ayo kita mengawali
hari ini dengan gembira”) ke pernyataan direktif (misalnya, “Tolong berpakaian sekarang” atau “Letakkan kaus kaki ini di kaki kiri Anda”) dan, jika diperlukan, mungkin disertai dengan bahasa isyarat (misalnya, menunjuk pada item atau menunjukkan gerakan) atau perintah fisik (misalnya, menyentuh kaki kiri orang tersebut sambil menyatakan, “letakkan kaus kaki ini di kaki kiri Anda”) (Padilla, 2011)

Pelatihan dan keterlibatan pengasuh sangat penting dalam menerapkan program individual untuk mempertahankan keterampilan dalam berkativitas. Ketika pengasuh dilatih bagaimana caranya utnuk memecah tugas dan memberikan petunjuk kerja yang tepat, akan berdampak pada kualitas hidup dan kepuasan yang lebih baik pada orang dengan gangguan Alzheimer (Padilla, 2011).

C. Peningkatan Kualitas Hidup Gangguan Alzheimer

Orang dengan Alzheimer atau demensia terkait sering mengalami tantangan dalam mempertahankan kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam pekerjaan yang berkontribusi terhadap QOL, kesehatan mereka, dan kepuasan. (Egan, 2006) Praktisi Okupasi Terapis mengatur pemahaman mereka tentang pekerjaan ke delapan bidang utama : ADL, istirahat dan tidur, IADLs, pendidikan, pekerjaan, bermain, rekreasi, dan partisipasi sosial (American Occupational Therapy Association, 2008). Dari jumlah tersebut, lima paling relevan dengan populasi orang dengan Alzheimer atau demensia terkait,yang sebagian besar adalah orang dewasa yang lebih tua, dan pensiunan (Letts, 2011). Aspek yang relevan mencakup ADL, yang terdiri dari merawat diri melalui kegiatan seperti mandi, toilet, makan, dan berpakaian ; Istirahat dan tidur ; IADL, yang mencakup pengelolaan rumah tangga dan kegiatan masyarakat seperti persiapan makanpembersihan, mengemudi, dan perbankan; Rekreasi, yang mencakup kegiatan bebas waktu dimana orang melakukan kesenangan; Dan partisipasi sosial, termasuk melibatkan keluarga, teman, dan orang lain dalam konteks komunitas. Keluarga dan pengasuh lainnya memberikan tingkat dukungan yang tinggi untuk Alzheimer atau kemajuan demensia terkait. (Letts, 2011)

Di bidang ADL, peneliti merasa heran bahwa tidak ada penelitian yang tersedia untuk memandu praktisi terapi okupasi untuk menilai, merencanakan, dan menerapkan intervensi untuk orang-orang dengan AD atau demensia terkait di wilayah fungsi yang secara signifikan dipengaruhi oleh kondisi tersebut. Sebagian besar bukti yang tersedia pada intervensi ADL memiliki fokus pada aspek feeding. (Letts, 2011) Untuk intervensi IADL, bukti yang menjanjikan ada mengenai keefektifan intervensi terapi okupasi berbasis home-based community untuk orang-orang dengan AD atau demensia terkait dan perawat mereka pada tahap awal demensia. Penilaian di rumah diikuti oleh strategi lingkungan dan kompensasi tampaknya memperbaiki kesehatan dan QoL untuk penderita demensia dan caregiver mereka. (Letts, 2011) Menurut (Letts, 2011) contoh intervensi Okupasi Terapi dalam penanganan kasus Alzheimer diantaranya :

  • Alat bantu yang bersifat fisik atau kognitif dapat dipertimbangkan untuk
    mendukung ADL pada orang dengan Alzheimer atau demensia terkait, namun
    kegunaannya mungkin perlu dipantau.
  • Di masyarakat, intervensi terapi okupasi berbasis rumah (home-based
    programe) yang mencakup penilaian dan rekomendasi IADL untuk
    meningkatkan kemampuan mungkin bermanfaat dalam meningkatkan QOL dan
    kesehatan klien dengan Alzheimer dan demensia terkait.
  •  Pemberian intervensi untuk aktivitas leisure dapat disesuaikan pada individu
    dengan gangguan Alzheimer atau dipilih berdasarkan kemampuan yang masih
    dapat dilakukan. Pemilihan aktivitas leisure yang baik dan efektif dapat
    memengaruhi tingkat kepuasan pasien dan caregiver.

References

Aizenstein. (2008). requent amyloid deposition without significan cognitive impairment
among the elderly, Arch Neurol 2008;65(11):1509-17.

Alzheimer’s Association. (2006). Early-Onset Dementia: A National Challenge, a Future
Crisis. Washington: Washington, D.C.: Alzheimer’s Association; 2006.

Alzheimer’s Association. (2017). 2017 Alzheimer’s Disease Facts and FiguresAlzheimers
Dement, Alzheimers Dement 2017;13:325-373.

American Occupational Therapy Association. (2008). Occupational therapy practice
framework: Domain and process (2nd ed.)., American Journal of Occupational
Therapy, 62, 625–683.

Arbesman. (2011). Methodology for the systematic reviews on occupational therapy for
adults with Alzheimer’s disease and related dementias, American Journal of
Occupational Therapy, 65, 490–496. doi: 10.5014/ajot.2011.002576.

Bontje. (2004). Occupational adaptation: The experiences of older persons with physical
disabilities, American Journal of Occupational Therapy, 58, 140–149. doi:
10.5014/ajot.58. 2.140.

Dunn. (1998). The ecology of human performance n M. E. Neistadt & E. B. Crepeau (Eds.)
Willard and Spackman’s occupational therapy (9th ed., pp. 525–535). Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Egan. (2006). Dementia and occupation: A review of the literature, Canadian Journal of
Occupational Therapy, 73, 132–140.

Fleisher. (2011). . Using positron emission tomography and florbetapirF18 to image corticalamyloid in patients with mild cognitive impairment or dementia due to Alzheimerdisease, Arch Neurol 2011;68(11):1404-11.

Green. (2002). Risk of dementia among white and African American relatives of patients with Alzheimer disease, JAMA 2002;287(3):329-36.

Hebert. (2010). Change in risk of Alzheimer disease over time, Neurology 2010;75:786-91.
Ikonomovic. (2008). Post-mortem correlates of in vivo PiB-PET amyloid imaging in a typical case of Alzheimer’s disease., Brain 2008;131(Pt 6):1630-45.

Lautenschlager. (1996). Risk of dementia among relatives of Alzheimer’s disease patients in the MIRAGE Study: What is in store for the oldest old?, Neurology 1996;46(3):641-
50.

Letts. (2011). Using occupations to improve quality of life, health and wellness, and client
and caregiver satisfaction for people with Alzheimer’s disease and related dementias,
American Journal of Occupational Therapy, 65, 497–504. doi: 10.5014/ajot.2011.002584.

Mahley. (2000). Apolipoprotein E: Far more than a lipid transport protein, Annu Rev
Genomics Hum Genet 2000;1:507–37.

Mintun. (2006). 11C]PIB in a nondemented population: Potential antecedent marker of
Alzheimer disease, Neurology 2006;67(3):446-52.

Padilla. (2011). Effectiveness of interventions designed to modify the activity demands of the occupations of self-care and leisure for people with Alzheimer’s disease and related
dementias, American Journal of Occupational Therapy, 65, 523–531. doi: 10.5014/ajot.2011.002618.

Saunders. (1993). Association of apolipoprotein E allele epsilon 4 with late-onset familial
and sporadic Alzheimer’s disease, Neurology 1993;43:1467-72.

Sposato. (2015). Declining incidence of stroke and dementia: Coincidence or prevention
opportunity?, AMA Neurol 2015;72(12):1529-31.

Villemagne. (2013). Amyloid ß deposition, neurodegeneration, and cognitive decline in
sporadic Alzheimer’s disease: A prospective cohort study. Lancet Neurol
2013:12(4):357-67.

Wilson. (2012). The natural history of cognitive decline in Alzheimer’s disease, Psychol
Aging 2012;27(4):1008-17.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s