Okupasi Terapis dan Motif Pengguna Jasa Seks Komersial

Aktivitas seksual merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari (activity daily living) seseorang dan merupakan aspek penting untuk meningkatkan kepercayaan diri (self esteem), konsep diri, dan pengalaman manusia (Tipton, 2013).

Aktivitas seksual merupakan bagian dari aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) yang dinilai oleh profesi terapi okupasi dan termasuk kedalam Occupational Therapy Practice Framework (American Occupational Therapy Association, 2014). Aktivitas seksual didefinisikan dalam kerangka kerja sebagai “sebuah aktifitas yang menghasilkan kepuasan seksual dan / atau memenuhi kebutuhan relasional atau reproduksi) (American Occupational Therapy Association, 2014). Definisi ini mencakup pendekatan holistik yang harus dilakukan oleh terapis terhadap intervensi ADL aktivitas seksual (Sakellariou, 2006), karena meningkatkan kepuasan terhadap aktivitas seksual merupakan faktor penting untuk mempertahankan quality of life.(Turner, 2015)

Prosititusi atau seks bebas merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Prostitusi di Indonesia bermula sejak zaman kerajaan – kerajaan di pulau Jawa yang menggunakan wanita sebagai bagian dari komoditas sistem feodal. (Lutfi, 2010)

Pasar kembang berada di Sosrowijayan Kulon dan dikenal sebagai tempat prostitusi sejak 125 tahun yang lalu yaitu seiring dengan pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan kota – kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Surabaya pada tahun 1844. Seiring meningkatnya pembangunan rel kereta maka tempat prostitusi yang menyediakan perempuan untuk melayanin para pekerja mulai bermunculan. Praktik prostitusi melibatkan pekerja seksual, calo dan konsumen yang kebanyakan adalah laki – laki. (Bestyan, 2013)

Sebagian besar penelitian tentang pelacuran berfokus pada wanita yang bekerja sebagai seks komersial namun nyatanya meningkatnya konsumsi pengguna jasa tersebut sebagian besar berasal dari jenis kelamin laki laki sebagai sebagai faktor pendorong industri perdagangan ini. (Anderson, 2003)

featured-videos_image2.jpg
Stigma pada wanita dengan profesi pekerja seks komersial selalu mendapat label negatif dari masayarakat, tahukah kamu? apakah mereka benar – benar menginginkan hal itu? keterbatasan kterampilan dan perasaingan dunia membuat mereka merasa bahwa menjual diri adalah jalan terbaik  untuk mendapatkan uang. sex buyer yang merupakan faktor bertambahnya PSK merupakan sebuah fenomena yang perlu diteliti.

Konsumen yang menggunakan pekerja seks komersial melakukan kegiatan okupasi seksual yang erat kaitannya dengan sebuah dorongan/ motif / motivasi, menurut (Coope, 1998) Studi tentang motivasi seksual telah menemukan bahwa alasan individu untuk melakukan aktivitas seksual cenderung terbagi dalam 6 jenis gaya motivasi seksual : Untuk mendapatkan kesenangan seksual, keintiman atau ikatan dengan pasangannya, memenuhi harapan pasangan, penegasan diri, atau melakukan seks sebagai jalur untuk memastikan keyakinan seseorang tentang diri sendiri, dan mengatasi atau mengurangi pengaruh negatif misalnya tekanan dari pasangan atau kehidupan seks yang kurang memuaskan.

Menurut (Rusbult, 1983) terdapat dua jenis idealisasi hubungan seksual : idealisasi relasional  rasional idealization (keinginan untuk mencari hubungan seksual yang intim yang kuat dalam investasi emosional) dan idealisasi yang penuh gairah (passionate idealization) (keinginan untuk mencari hasrat yang penuh gairah dan hubungan seks ekspresif secara fisik) . Mereka yang sangat menghargai idealisasi relasional cenderung mengutip komitmen dan alasan emosional untuk terlibat dalam aktivitas seksual, daripada alasan ketertarikan pribadi, dan orang-orang yang sangat menghargai idealisasi relasional menyatakan bahwa ketertarikan fisik dan eksplorasi cenderung memotivasi seks mereka. (Rusbult, 1983). Dan orang-orang yang mendapat nilai tinggi dalam passionate idealization mengatakan bahwa daya tarik dan eksplorasi fisik cenderung memotivasi aktivitas seksual mereka. (Rusbult, 1983)

Menurut Penelitian (Melissa, 2015) seorang konsumer jasa seks komersial melakukan seks bebas untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan seksual, ketidakpuasan dengan hubungan, menginginkan variasi kehidupan seks, dan berkurangnya komitmen emosional terhadap pasangan.

(Melissa, 2015) orang yang menggunakan jasa seks komersial merasa takut menghadapi penolakan, dan menganggap bahwa penyedia jasa seks komersial adalah tempat yang bagus untuk dimana konsumer tidak perlu takut ditolak untuk mengajak wanita tidur bersama, dan tidak perlu takut untuk dihakimi.

Aktifitas seks komersial berkaitan juga dengan konsumsi konten pornografi, masalah dalam keluarga yang dapat memicu kekerasan seksual bagi pekerja seks komersial, dan kebanyakan konsumer mengganggap ketika wanita dibayar maka konsumer memiliki hak penuh atas apapun yang akan mereka lakukan terhadap wanita tersebut.

Penyelidikan lebih lanjut pada aspek seksual dan bagaimana pola aktifitas tersebut terjadi dimasyarakat perlu diteliti untuk mengetahui variasi motif yang dilakukan individu baik dalam kondisi sehat atau sakit dalam melakukan aktifitas seksual.

References

American Occupational Therapy Association. (2014). Occupational therapy practice framework: Domain and process (3rd ed.), American Journal of Occupational Therapy, 68(Suppl. 1), S1-S48. https://doi.org/10.5014/ajot.2014.68s1.

Anderson. (2003). Is trafficking in human beings demand driven? A multi-country pilot study, Geneva: International Organization for Migration.

Bestyan. (2013). Prostitusi di sosrowijayan yogyakarta. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.

Coope. (1998). Motivations for sex and risky. sexual behavior among adolescents and young adults: A functional perspective, Journal of Personality and Social Psychology 75, no. 6 (1998): 1528–58.

Lutfi. (2010). Kehidupan Pekerja Seks Komersial : Studi Kasus Faktor Penyebab Perempuan Menjadi Pekerja Seks Komersial Di Susrowijayan Jogjakarta . Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Melissa. (2015). Comparing Sex Buyers with Men Who Do Not Buy Sex: New Data on Prostitution and Trafficking. Journal of Interpersonal Violence, online publication August 31, 2015.

Rusbult. (1983). Responses to dissatisfaction in romantic involvements: A multidimensional scaling analysis, Journal of Experimental Social Psychology 19, no. 3 (1983): 274–93.

Sakellariou. (2006). exuality and occupational therapy: Exploring the link., British Journal of Occupational Therapy 9(8), 350-356. http://dx.doi.org/10.1177/030802260606900802.

Tipton. (2013). Pedretti’s occupational therapy: Practice skills for physical dysfunction (7th ed). MO: pp. 295-312). St. Louis, MO: Elsevier. .

Turner. (2015). Sexual behavior and its correlates after traumatic brain injury, Current Opinion in Psychiatry, 28, 180- 187. http://dx.doi.org/10.1097/YCO.0000000000000144 .

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s