Sexual Education and Attitudes toward Masturbation

Promosi kesehatan seksual menjadi sebuah bahasan yang tabu apalagi terkait dengan aktifitas masturbasi (Bockting, 2002). Memandang aktifitas masturbasi sebagai bahasan yang tabu ternyata membuat aspek manfaat masturbasi menjadi kian hilang, kenyataannya bahwa masturbasi berhubungan dengan tingkat kepercayaan diri, kepuasan seksual, orgasme yang lebih, hasrat seksual yang lebih baik (Hurlbert & Whittaker, 1991). Menurut Coleman (2002) aktifitas masturbasi dipercaya berhubungan dengan kapasitas orgasme, fungsi kesehatan seksual, dan hubungan kepuasan seksual dengan pasangan. Masturbasi merupakan faktor kunci pada perkembangan seksual dan harus dinilai sebagai sebuah isu sosiological yang kompleks. Dalam berbagai penelitian terkait, masturbasi merupakan salah satu cara yang digunakan individu untuk mendapatkan  self-actualization, dan penghargaan diri (Bockting, 2002; Hurlbert & Whittaker, 1991).

Walaupun memiliki sejumlah keuntungan, promosi mengenai safer sex dianggap masih kurang tepat (Bockting, 2002). Hal ini terlihat dari kebanyakan remaja masih menganggap masturbasi adalah sebuah bahasan yang tabu. Didasari dari kecenderungan anak merasa bersalah dan takut jika diketahui atau kedapatan melakukan aktifitas masturbasi (Abramson, 1973) serta ketakutan mendapatkan celaan sosial (Langston, 1973).

Namun, Story (1979) menemukan bahwa anggapan mengenai masturbasi menjadi lebih positif setelah dilakukan kelas kursus mengenai seksualitas pada manusia selama 2 tahun.

Jadi,  sangat penting untuk mengevaluasi hal hal yang berkaitan dengan prilaku masturbasi yang didasari dari pendidikan seksual dengan maksud untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat atau keuntungan dari masturbasi.

METODE

Partisipan

Partisipan terdiri dari 342 mahasiswa Midwestern university. Partisipan didominasi oleh perempuan (77.2%) dan pria 22.8%. partisipan didominasi oleh kulit putih (85.1%).

PENGUKURAN

   Sikap terhadap masturbasi dinilai melalui penggunaan instrumen Negative Attitudes Toward Masturbation Inventory  (NATMI; Abramson & Mosher, 1975). Terdari dari 30 statement yang dibagi menjadi 5 bagian.

Skor yang lebih tinggi mencerminkan sikap positif, kepercayaan negatif yang lebih sedikit, dan rasa bersalah terhadap seks yang kurang. Abramson dan Mosher menemukan bahwa analisis faktor (menggunakan prosedur varimax ortogonal) tanggapan mahasiswa terhadap persediaan ini menghasilkan tiga faktor (1, 2, 3) untuk masing-masing 31,0%, 6,7%, dan 5,7% dari total varians.

Faktor 1 (sikap positif terhadap masturbasi pada umumnya) termasuk item seperti “Masturbasi dapat memberi jalan keluar untuk fantasi seks tanpa membahayakan orang lain atau membahayakan diri sendiri.” Faktor 2 (keyakinan salah tentang sifat berbahaya dari masturbasi) mencakup pernyataan seperti “Masturbasi Dapat menyebabkan homoseksualitas, “dan faktor ini jelas tampak mewakili komponen sikap kognitif. Faktor 3 (secara pribadi mengalami pengaruh negatif yang terkait dengan masturbasi) termasuk item seperti “Ketika saya melakukan masturbasi, saya merasa jijik dengan diri sendiri” dan mewakili rasa bersalah.

HASIL

Hasil penelitian menunjukan bahwa individu cenderung menyikapi masturbasi secara positif setelah mendapatkan pengetahuan mengenai pengetahuan seksual yang  positif di sekolah atau melalui orangtua. Pengetahuan yang diajarkan secara positif mengenai “nama dan fungsi organ seksual” yang diajarkan oleh orangtua, atau guru di sekolah menengah keatas merupakan perdiktor terkuat untuk menentukan sikap seorang individu menaggapi masturbasi setelah mencapai pendidikan perkuliahan.

Kemudian, pengetahuan seksual yang diajarkan secara negatif memberikan pengaruh pada sikap negatif menanggapi masalah masturbasi. Pengetahuan negatif yang diajarkan oleh orantua atau guru pada indivudu berusia muda cenderung memberikan dampak negatif dalam menyikapi masalah masturbasi. Pelajaran dengan topik seperti “mencegah masturbasi” dan “menghindari sex sebelum menikah” adalah prediktor terkuat untuk menentukan sikap individu menanggapi masalah seksual.

 

Availabel Journal :

Ray, Jannine and Afflerbach, Shelby (2014) “Sexual Education and Attitudes toward Masturbation,” Journal of Undergraduate Research at Minnesota State University, Mankato: Vol. 14, Article 8. Available at: http://cornerstone.lib.mnsu.edu/jur/vol14/iss1/8

 

References

Bockting, W. O. (2002). Masturbation as a Means of Achieving Sexual Health. Journal of
Psychology & Human Sexuality, 14(2/3), 1-4.
Coleman, E., Ross, M. W., Miner, M., & Rosser, B. R. S. (2000). Structure of the Compulsive
Sexual Behavior Inventory in homosexual men and its associations with compulsive and
unsafe sexual behavior. Manuscript in preparation.

Hurlbert, D. F., & Whittaker, K. E. (1991). The role of masturbation in marital and sexual
satisfaction: A comparative study of female masturbators and nonmasturbators. Journal
of Sex Education & Therapy, 17(4), 272-282.

Abramson, P. R. (1973). The relationship of frequency of masturbation to several aspects of behavior. The Journal of Sex Research, 9, 132-142.
Abramson, P. R., & Mosher, D. L. (1975). Development of a measure of negative attitudes
toward masturbation. Journal of Consulting and Clinical Psychology. 43, 485-490.

 

 

One thought on “Sexual Education and Attitudes toward Masturbation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s