The Tree Theme Method® (TTM), an occupational therapy intervention for treating depression and anxiety: study protocol of a randomized controlled trial

Latar belakang : Gangguan depresi dan kecemasan meningkat di kalangan masyarakat umum di negara barat. mungkin memerlukan beberapa jenis perawatan untuk menjaga kesehatan, seperti penggunaan metode cognitive behavior therapy (CBT) dan penggunaan obat. Namun, memiliki aktifitas seperti pekerjaan rutin juga merupakan kebutuhan manusia yang erat kaitannya dengan kepuasan menjalani kehidupan sehari hari. Tree Theme Method® (TTM) adalah intervensi terapi okupasional yang dirancang untuk konteks yang berpusat pada klien di mana seorang individu mengembangkan strategi untuk menjadi aktor dalam kegiatan kehidupan sehari-harinya. Penelitian sebelumnya tentang TTM berfokus pada evaluasi proses; Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efek penggunaan metode. Tujuan pembuatan paper ini adalah untuk menguraikan intervensi yang dapat mengevaluasi dampak TTM dalam hal gejala psikologis, serta pekerjaan sehari-hari dan kesejahteraan pada pasien yang menderita depresi dan kecemasan.

Metode/Design : Uji coba klinis acak ini mencakup pasien dari tiga negara Swedia yang diacak baik intervensi maupun pengobatan seperti biasa. Pria dan wanita berusia 18-65 tahun yang telah didiagnosis dengan depresi atau kecemasan memenuhi syarat untuk dimasukkan. Pengambilan data dilakukan pada awal, dan hasilnya dinilai pada akhir intervensi, dan juga pada 3 bulan dan 12 bulan setelah intervensi berakhir. Hasil yang diukur adalah gejala psikologis, aktivitas sehari-hari, dan faktor terkait kesehatan

Diskusi: Depresi dan kecemasan dapat menimbulkan kesulitan bagi individu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Terlepas dari kenyataan ini, intervensi berbasis bukti yang berfokus pada aktivitas sehari-hari masih dianggap kurang. Oleh karena itu, akan berguna untuk merancang metode khusus untuk intervensi terapi okupasi pada individu dengan gangguan kecemasan dan depresi. Penelitian ini memberikan wawasan tentang efek TTM, membandingkannya dengan terapi terapi kerja biasa.

Latar belakang

Ketika seseorang mengalami gangguan depresi atau kecemasan, kemampuannya untuk mengatasi berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari [2, 3] dan berhubungan dengan orang lain mungkin terbatas, individu juga cenderung mengalami berbagai gejala psikologis dan kemungkinan efek samping dari obat-obata. Pada tahun 2011, gangguan depresi dan kecemasan masing-masing menyumbang 12% penyakit di Swedia [4].

The Swedish National Board of Health and Welfare [1] merekomendasikan pendekatan psikologis, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan perawatan obat, untuk pasien yang didiagnosis dengan depresi atau kecemasan.

Tetapi Swedish National Board of Health and Welfare  juga menyarankan intervensi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, yang menyatakan bahwa individu yang memiliki kehidupan sehari-hari yang memuaskan di rumah dan di tempat kerja atau sekolah, bersama dengan rasa memiliki dalam konteks sosial , sama pentingnya dengan mendapatkan diagnosis yang tepat dan perawatan psikologis atau farmakologis yang tepat [1]

Kami belum menemukan intervensi pengobatan berbasis bukti yang berfokus pada kehidupan sehari-hari, seperti aktivitas yang berkaitan dengan perawatan diri, produktivitas (di rumah, di tempat kerja, di sekolah), waktu luang, atau hubungan dengan orang lain. [1]

RCT.png
Gambar 1.1 Study Design

Tree Theme Method® (TTM) adalah intervensi yang dapat melengkapi pengobatan CBT dan farmakologis. TTM dirancang untuk konteks terapi pekerjaan klinis berpusat pada klien [5] di mana pasien melukis gambar pohon yang mewakili periode tertentu dalam hidupnya. Lukisan-lukisan ini digunakan sebagai titik awal bagi pasien untuk menceritakan kisah hidupnya, dengan fokus pada perpaduan aktivitas dan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari [6].

Intervensi didasarkan pada pengetahuan tentang terapi seni [7], life storytelling [8, 9] dan nilai aktivitas bermakna [10] dalam menjaga kesehatan. Intervensi TTM melibatkan lima sesi dan dilakukan selama periode 6-9 minggu yang ditentukan

Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu untuk mengatasi kehidupan sehari-hari [5], dan bertujuan adalah mengembangkan strategi individu agar memiliki insisiasi secara aktif, sehingga meningkatkan kepuasan pasien dengan gabungan aktivitas dan rutinitas yang membentuk kehidupan mereka sehari-hari [5]

TTM telah dievaluasi dalam hal proses. Studi pertama untuk menggambarkan metode yang disajikan : kasus seorang wanita didiagnosis dengan depresi dan kecemasan, setelah mengambil bagian dalam intervensi tersebut, wanita tersebut diarahkan untuk menjadi aktor dalam kehidupannya sendiri, dia beralih dari tidak mampu merawat keluarganya atau mengelola pekerjaannya agar aktif dan efektif dalam rutinitas sehari-harinya [5]

Dalam studi tambahan [11], TTM dievaluasi pada sekelompok pasien (6 pria dan 29 wanita) yang didiagnosis dengan gangguan depresi atau kecemasan, yang memeriksa perubahan persepsi kesehatan dan aktivitas mereka setelah menyelesaikan intervensi. Hasilnya menunjukkan hasil positif yang konsisten untuk kelompok pasien mengenai gejala psikologis, kesejahteraan, aktivitas kinerja, aliansi terapeutik, dan kepuasan pasien dengan intervensi

TTM juga telah dievaluasi dalam studi kualitatif yang berfokus pada pengalaman pasien dan terapis menggunakan metode ini. Secara keseluruhan, pasien melaporkan merasa bahwa TTM menuntun mereka agar menjadi fokus dan ekspresif, yang pada akhirnya dapat mengubah kehidupan mereka sehari-hari. Mereka berpendapat bahwa TTM menandai titik balik di mana mereka mendapatkan perspektif baru tentang perawatan diri, produktivitas, waktu luang, dan hubungan mereka dengan orang lain.

Terapis yang menggunakan TTM sebagai metode terstruktur untuk intervensi  terkesan dengan fakta bahwa metode tersebut dapat memulai proses perubahan yang signifikan bagi pasien dalam waktu singkat (yaitu, lima sesi) [12]. Dengan follow-up 3 tahun [14] menggunakan ukuran hasil yang sama yang disajikan di Gunnarsson dan Eklund [16] – gejala psikologis, kesejahteraan, dan kinerja aktivitas – dan menunjukkan hasil positif yang berkelanjutan, terutama mengenai peningkatan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari baik di rumah dan di tempat kerja

Penting untuk menawarkan pasien dengan gangguan depresi dan kecemasan berbagai intervensi selain CBT dan terapi obat saja, seperti terapi yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan mereka menjalani rutinitas sehari-hari mereka, seperti yang dilakukan TTM. Fokus penelitian sebelumnya yang meneliti TTM telah mengevaluasi proses terapi, dan oleh karena itu penelitian lebih lanjut harus mengevaluasi efek intervensi ini

Metode

Study Design

Penelitian ini adalah uji klinis terkontrol acak (RCT) [15] perlakuan nonfarmakologis sesuai rekomendasi CONSORT [16]. Peserta diacak baik kelompok intervensi atau kelompok kontrol. Desain penelitian ditunjukkan secara grafis pada Gambar. 1

Sample

Sampel penelitian kami meliputi pria dan wanita berusia antara 18 dan 65 tahun yang telah didiagnosis oleh dokter dengan depresi dan / atau kecemasan dan telah dinilai mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari mereka. Kami mengecualikan pasien dengan penyakit somatik atau psikosis berat, dan juga orang-orang dengan kesulitan bahasa atau gangguan kognitif yang akan menghalangi pemahaman mereka terhadap kuesioner penilaian diri.

Intervention TTM

Peserta yang diacak ke TTM menyelesaikan lima sesi intevensi masing masing selama 60 menit dalam periode 6-9 minggu. Di TTM, masing-masing dari empat sesi pertama dimulai dengan  progressive relaxation dengan tema tertentu yang diperkenalkan, dan pasien melukis sebuah pohon secara simbolis. Gambar ini kemudian dijadikan titik awal bagi pasien untuk menceritakan kisah hidup mereka, memusatkan perhatian pada aktivitas sehari-hari. Bagian dari intervensi ini merupakan dialog reflektif antara pasien dan terapis okupasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan yang diperlukan dalam kehidupan pasien. Tema pohon berbeda dari satu sesi ke sesi berikutnya, dan setiap pohon mewakili periode kehidupan tertentu: masa kini, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa. Pada sesi kelima, fokusnya adalah pada pembuatan cerita dan pembentukan rencana untuk masa depan

Pengobatan seperti biasa

Peserta yang diacak ke kelompok kontrol menyelesaikan lima sesi masing-masing 60 menit selama periode 6-9 minggu. Setiap terapis okupasi telah menentukan penanganan terapi okupasi seperti biasa. Fokus dari sesi ini adalah dialog, terkadang dikombinasikan dengan aktivitas, mengenai kesejahteraan pasien dan aktivitasnya saat ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pelatihan Okupasi Terapi menggunakan Metode TTM

Terapis okupasi yang berpartisipasi dalam studi intervensi ini menyelesaikan 50 jam pelatihan standar dalam kerangka dan teknik TTM yang diberikan oleh Swedish Association of Occupational Therapist yang melibatkan teori tentang terapi okupasi berpusat pada klien, terapi seni, dan pengisahan cerita dan pembuatan cerita. Dengan fokus pada aktivitas sehari-hari

Pelatihan ini juga melibatkan latihan praktis, termasuk melukis tema pohon yang berbeda, di mana para terapis bekerja dalam permainan peran, beralih antara klien dan terapis. Selain itu, terapis okupasi dalam penelitian ini juga menyelesaikan dua hari pelatihan untuk tujuan dan penerapan penelitian.

Pengumpulan Data

Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan oleh asisten proyek dalam empat kesempatan: 1 sampai 2 minggu sebelum intervensi, saat intervensi, 3 bulan setelah selesai, dan 12 bulan setelah selesai dilakukan intervensi.

Primary Outcomes

Gejala kognitif diukur dengan Symptom Checklist-90-R (SCL-90-R [17]. Kuesioner self-rating ini mengukur masalah psikologis, terdiri dari 90 item yang diberi nilai pada skala Likert  dari nol hingga empat, Dengan skor yang lebih tinggi yang menunjukkan tingkat keparahan yang lebih besar.Dalam penelitian ini, Global Scale Index (GSI) SCL-90-R dihitung. SCL-90-R sering digunakan dan telah terbukti dapat realibilitas dan validitasnya [17, 18] .

Depresi diukur dengan Skala Peringkat Depresi Montgomery-Åsberg (MADRS-S) [19]. Kuesioner self-rating terdiri dari sembilan item, masing-masing diberi nilai dari nol sampai enam, dengan skor lebih tinggi menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi. MADRS-S adalah pengukuran yang umum digunakan dalam praktik klinis dan telah terbukti memiliki konsistensi internal yang baik [20] dan menjadi alat skrining yang berguna untuk depresi [21].

Kecemasan dan depresi diukur dengan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) [22]. Kuesioner self-rating terdiri dari 14 item, dan dua subskala mengukur kecemasan (7 item) dan gejala depresi (7 item), masing-masing dinilai pada skala Likert empat langkah kategoris dari nol sampai tiga, di mana nilai yang lebih tinggi menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi. HADS umumnya digunakan dalam praktik klinis dan telah dilakukan dengan baik dalam menilai gejala gangguan depresi dan kecemasan pada populasi umum [22, 23].

Kegiatan sehari-hari diukur dari tiga aspek: kinerja dan kepuasan dengan kinerja kegiatan, kepuasan dengan aktivitas sehari-hari, dan keseimbangan Dalam aktivitas sehari-hari. Kinerja dan kepuasan dengan kinerja kegiatan diukur dengan Canadian Occupational Performance Measurement  (COPM) [24], instrumen semi-terstruktur yang berfokus pada perawatan diri, produktivitas, dan waktu luang.

Pasien mengidentifikasi tugas dan aktivitas bermasalah dan kemudian menilai kinerjanya dan kepuasannya dengan kinerja tersebut. Peringkat tersebut menerapkan skala Likert skala sepuluh langkah dari 1 (tidak penting sama sekali) sampai 10 (sangat penting). Pasien kemudian menilai kinerjanya dan kepuasannya dengan kinerja tugas yang ditargetkan

Kepuasan dengan aktivitas sehari-hari diukur dengan alat Kepuasan Satisfaction with Daily Occupations (SDO) [9], sebuah wawancara semi terstruktur yang berfokus pada kepuasan yang dirasakan dengan aktivitas sehari-hari dalam pekerjaan, liburan, tugas rumah tangga, dan perawatan diri. Individu pertama menunjukkan apakah dia saat ini melakukan aktivitas dan kemudian menilai kepuasannya dengan kinerja tersebut pada skala likert  tujuh langkah numerik dari 1 (kemungkinan terburuk) sampai 7 (terbaik).

Keseimbangan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari diukur dengan Kuesioner Occupational Balance Questionnaire (OBQ) [30], kuesioner self-rating 13 item yang menunjukkan persepsi keseimbangan individu. Dinilai pada skala Likert enam langkah kategoris, dari 0 (sama sekali tidak setuju) sampai 5 (sepenuhnya setuju). OBQ telah menunjukkan konsistensi internal yang baik dan reliabilitas uji coba ulang [30].

Secondary Outcome

Aspek terkait kesehatan diukur dari tiga perspektif: rasa koherensi, pengalaman kontrol, dan kualitas hidup. Rasa koherensi diukur dengan alat Sense of Coherence (SOC) [31], sebuah kuesioner self-rating dari 13 item yang menunjukkan seberapa baik seseorang mengatasi stres dan tetap sehat.

Pengalaman kontrol diukur dengan Mastery Scale [33]. Kuesioner self-rating ini terdiri dari tujuh item dan menunjukkan sejauh mana seseorang mengendalikan dan menguasai situasi yang mempengaruhi kehidupan sehari-harinya.

Kualitas hidup diukur dengan Manchester Short Assessment of quality of life (MANSA) [35], sebuah kuesioner wawancara berdasarkan 12 item, termasuk penilaian umum individu tentang kepuasan hidup dan kepuasannya terhadap pekerjaan, keuangan, hubungan sosial, kenyamanan , Situasi perumahan, hubungan keluarga, dan fisik dan kesehatan mental.

Intervensi terkait aspek diukur dengan dua faktor: aliansi terapeutik dan kepuasan pasien. Hubungan terapeutik diukur dengan menggunakan Helping Alliance Questionnaire (HAq-II) [37], yang mengindikasikan kekuatan aliansi antara pasien dan terapis.

Kepuasan pasien diukur dengan Kuesioner Client Satisfaction Questionnaire (CSQ) [39], yang mengindikasikan kepuasan pasien terhadap intervensi yang diterima.

Sample size/power calculation and randomization

Perhitungan daya menunjukkan bahwa 60 pasien akan dibutuhkan pada masing-masing kelompok untuk mendapatkan ukuran efek 3,6 (skala 9-63) untuk variabel hasil Kepuasan dengan Occupations Occupations (SDO), dengan kekuatan 80% (p = 0,05). Untuk mengimbangi kemungkinan kerugian, total 130 pasien akan direkrut. Setelah memberikan informed consent, pasien dialokasikan (dengan amplop tertutup yang disiapkan oleh peneliti yang tidak terlibat dalam penelitian ini) terhadap intervensi atau pengobatan seperti biasa. Secara keseluruhan, 65 pasien akan diacak ke TTM (kelompok intervensi) dan 65 terhadap pengobatan seperti biasa (kelompok kontrol)

Statistical analysis

Statistik deskriptif dan analitik akan digunakan untuk membandingkan hasil antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada awal, setelah intervensi, dan pada follow up 3- dan 12 bulan. Karena semua variabel akan dinilai pada skala nominal atau ordinal, analisis statistik dengan metode non-parametrik akan digunakan.

Ethical Issue

Penelitian ini telah disetujui oleh Dewan Peninjau Etika Regional di Linköping (Dnr 2012 / 232-31) dan sedang disesuaikan dengan Deklarasi Helsinki [43]. Semua peserta menerima informasi lisan dan tulisan tentang tujuan dan prosedur penelitian, dan masing-masing memberikan informed consent secara tertulis. Mengenai kerahasiaan, anonimitas dan integritas peserta dijamin, dan data tetap terkunci sehingga tidak ada orang yang tidak berhak memiliki akses terhadap mereka. Semua data akan dianalisis pada tingkat kelompok.

Kerangka waktu penelitian

Proses inklusi dimulai pada bulan Januari 2013 dan dijadwalkan berakhir pada bulan Juni 2016. Intervensi untuk setiap pasien dimulai segera setelah inklusi, dan semua pengumpulan data akan selesai 1 tahun setelah intervensi pasien terakhir berakhir.

Journal Source

Gunnarsson et al. BMC Psychology (2015) 3:40 DOI 10.1186/s40359-015-0097-9

References

  1. Swedish National Board of Health and Welfare [Socialstyrelsen]. Nationella riktlinjer för vård vid depression och ångest [The national guidelines for care in cases of depression and anxiety disorders].
  2. Stockholm: Socialstyrelsen; 2010. 2. Nagle S, Valiant Cook J, Polatajko HJ. I’m doing as much as I can: occupational choices of persons with a severe and persistent mental illness. Journal of Occupational Science. 2002;9:72–81
  3. Wieclaw J, Agerbo E, Mortensen PB, Bonde JP. Occupational risk of affective and stress-related disorders in the Danish workforce. Scandinavian Journal of Work, Environment and Health. 2005;31(5):343–51
  4. Swedish Social Insurance Agency [Försäkringskassan]. Vad kostar olika sjukdomar i sjukförsäkringen? [What are the costs for different diseases in Swedish sickness insurance?] Socialförsäkringsrapport [Social Insurance Report] (Vol. 2011). Stockholm: Försäkringskassan; 2011. https://www.forsa kringskassan.se/wps/wcm/connect/fb53e0ae-fb78-4671-ad97-e3aa7337c6a3/ socialforsakringsrapport_2011_4.pdf?MOD=AJPERES.
  5. Gunnarsson AB, Jansson JÅ, Eklund M. The tree theme method in psychosocial occupational therapy – a case study. Scandinavian Journal of Occupational Therapy. 2006;13(4):229–40
  6. Haglund, L, Lundgren Pierre, B. (2009). Arbetsterapi för personer med depressionssjukdom och/eller ångestsyndrom [Occupational therapy for people in cases of depression and/or anxiety disorders.] Tidskriften Arbetsterapeuten (8).
  7. Perruzza N, Kinsella EA. Creative arts occupations in therapeutic practice: a review of the literature. British Journal of Occcupational Therapy. 2010;73(6):261–8.
  8. Clark F. Occupation embedded in a real life: interweaving occupational science and occupational therapy. American Journal of Occupational Therapy. 1993;47:1067–78. Gunnarsson et al. BMC Psychology (2015) 3:40
  9. Clark F, Larsson EA, Richardson PR. A grounded theory of techniques for occupational storytelling and occupational story making. In: Zemke R, Clark F, editors. Occupational science. The evolving discipline. Philadelphia, PA: F.A Davis Company; 1996. p. 373–92.
  10. Townsend EA, Polatajko HJ. Enabling occupation II: advancing an occupational therapy vision for health, well-being, & justice through occupation. Ottawa, Ontario: CAOT Publications ACE; 2007
  11. Gunnarsson AB, Eklund M. The Tree Theme Method as an intervention in psychosocial occupational therapy: client acceptability and outcomes. Australian Occupational Therapy Journal. 2009;56:167–76.
  12. Gunnarsson AB, Jansson JÅ, Petersson K, Eklund M. Occupational therapists’ perception of the Tree Theme Method™ as an intervention in psychosocial occupational therapy. Occupational Therapy in Mental Health. 2011;27(1):36–49. doi: http://dx.doi.org/10.1080/0164212X.2011.543630.
  13. Gunnarsson AB, Peterson K, Leufstadius C, Jansson JÅ, Eklund M. Client perceptions of the Tree Theme Method™: a structured intervention based on storytelling and creative activities. Scandinavian Journal of Occupational Therapy. 2010;17(3):200–8. doi: http://dx.doi.org/10.3109/11038120903045366.
  14. Gunnarsson AB, Björklund A. Sustainable enhancement in clients who perceive the Tree Theme Method as a positive intervention in psychosocial occupational therapy. Australian Occupational Therapy Journal. 2013;60(3):154–60. doi:10.1111/1440-1630.12034.
  15. Kazdin AE. Research design in clinical psychology. 4th ed. Boston: Allyn & Bacon; 2003.
  16. Boutron I, Ravaud P, Moher D, Altman DG, Schulz KF. Methods and processes of the CONSORT group: example of an extension for trials assessing nonpharmacologic treatments. Annals of Internal Medicine. 2008;148(4):W-60–6.
  17. Derogatis LR. SCL-90-R, Administration, scoring & procedures. Manual II. 2nd ed. Towson, MD: Clinical Psychometric Research Inc.; 1992.
  18. Fridell M, Cesarec Z, Johansson M, Thorsen Malling S. Svensk normering, standardisering och validering av symtomskalan SCL-90. [A Swedish standardisation and validity check of the symptom scale SCL-90]. Report nr 4/2002. Västervik: Statens Institutionsstyrelse SiS; 2002.
  19. Montgomery SA, Åsberg M. A new depression scale designed to be sensitive to change. British Journal of Psychiatry. 1979;134(4):382–9.
  20. Hollañdare F, Andersson G, Engström I. A comparison of psychometric properties between internet and paper versions of two depression instruments (BDI-II and MADRS-S) administered to clinic patients. Journal of Medical Internet Research. 2010;12(5):7. doi:10.2196/jmir.1392.
  21. Kjærgaard M, Arfwedson Wang CE, Waterloo K, Jorde R. A study of the psychometric properties of the Beck Depression Inventory‐II, the Montgomery and Ásberg depression rating scale, and the hospital anxiety and depression scale in a sample from a healthy population. Scandinavian Journal of Psychology. 2014;55(1):83–9. doi:10.1111/sjop.12090.
  22. Zigmond AS, Snaith RP. The hospital anxiety and depression scale. Acta Psychiatrica Scandinavica. 1983;67(6):361–70.
  23. Lisspers J, Nygren A, Söderman E. Hospital Anxiety and Depression Scale (HAD): some psychometric data for a Swedish sample. Acta Psychiatrica Scandinavica. 1997;96(4):281–6. doi:10.1111/j.1600-0447.1997.tb10164.x.
  24. Law M, Baptiste S, Carswell A, McColl MA, Polatajko H, Pollock N. Canadian occupational performance measure. 2nd ed. Ottawa, ON: CAOT Publications ACE; 1998.
  25. Wressle E, Samuelsson K, Henriksson C. Responsiveness of the Swedish version of the Canadian Occupational Performance Measure. Scandinavian Journal of Occupational Therapy. 1999;6(2):84–9.
  26. Wressle E, Marcusson J, Henriksson C. Clinical utility of the Canadian Occupational Performance Measure – Swedish version. Canadian Journal of Occupational Therapy. 2002;69(2):40–8.
  27. Eklund M. Satisfaction with daily occupations: a tool for client evaluation in mental health care. Scandinavian Journal of Occupational Therapy. 2004;11(3):136–42.
  28. Eklund M, Gunnarsson AB. Satisfaction with daily occupations: construct validity and test-retest reliability of a screening tool for people with mental disorders. Australian Occupational Therapy Journal. 2007;54(1):59–65.
  29. Eklund M, Gunnarsson B, Sandlund M, Leufstadius C. Effectiveness of an intervention to improve day centre services for people with psychiatric disabilities. Australian Occupational Therapy Journal. 2014;61(4):268–75. doi:10.1111/1440-1630.12120.
  30. Wagman P, Håkansson C. Introducing the Occupational Balance Questionnaire (OBQ). Scandinavian Journal of Occupational Therapy. 2014;21(3):227–31.
  31. Antonovsky A. Unraveling the mystery of health: how people manage stress and stay well. San Francisco, CA: Jossey-Bass; 1987.
  32. Eriksson M, Lindström B. Validity of Antonovsky’s sense of coherence scale: a systematic review. Journal of Epidemiology and Community Health. 2005;59:460–9
  33. Pearlin LI, Menaghan EG, Lieberman MA, Mullan JT. The stress process.
    Journal of Health and Social Behavior. 1981;22:337–56.
  34. Marshall GN, Lang EL. Optimism, self-mastery, and symptoms of depression
    in women professionals. Journal of Personality and Social Psychology.
    1990;59(1):132–9.
  35. Priebe S, Huxley P, Knight S, Evans S. Application and results of the
    Manchester Short Assessment of Quality of Life (MANSA). International
    Journal of Social Psychiatry. 1999;45:7–12.
  36. Björkman T, Svensson B. Quality of life in people with severe mental illness.
    Reliability and validity of the Manchester Short Assessment of Quality of Life
    (MANSA). Nordic Journal of Psychiatry. 2005;59(4):302–6.
  37. Luborsky L, Barber JP, Siqueland L, Johnson S, Najavits LM, Frank A, et al.
    The revised Helping alliance questionnaire (Haq-II). Psychometric properties.
    Journal of Psychotherapy Practice and Research. 1996;5:260–71.
  38. Swedish Social Insurance Agency [Försäkringskassan]. Vad kostar olika
    sjukdomar i sjukförsäkringen? [What are the costs for different diseases in
    Swedish sickness insurance?] Socialförsäkringsrapport [Social Insurance
    Report] (Vol. 2011). Stockholm: Försäkringskassan; 2011. https://www.forsa
    kringskassan.se/wps/wcm/connect/fb53e0ae-fb78-4671-ad97-e3aa7337c6a3/
    socialforsakringsrapport_2011_4.pdf?MOD=AJPERES.
  39. Larsen DL, Attkisson CC, Hargreaves WA, Nguyen TD. Assessment of client/
    patient satisfaction: development of a general scale. Evaluation and
    Program Planning. 1979;2:197–207.
  40. Eklund M, Erlandsson LK. Quality of life and client satisfaction as outcomes
    of the Redesigning Daily Occupations (ReDO) programme for women with
    stress-related disorders: a comparative study. Work (Reading, Mass).
    2013;46(1):51–8. doi:10.3233/wor-121524.
  41. Nguyen TD, Attkisson CC, Stegner BL. Assessment of patient satisfaction:
    development and refinement of a service evaluation questionnaire.
    Evaluation Program Planning. 1983;6:299–314.
  42. de Wilde EF, Hendriks VM. The client satisfaction questionnaire: psychometric
    properties in a Dutch addict population. European Addiction Research.
    2005;11:157–62.
  43. World Medical Association. World medical association declaration of Helsinki:
    ethical principles for medicial research involving human subjects 1964. [cited
    2014 Sept 16] Available from: http://www.wma.net/en/10home/index.html.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s