Missing work area : Sexuallity on Pediatrics and Physical dysfunction.

Author : SEBAT – OT

Okupasi Terapi dan Seksulitas?

Sebagian besar literatur dan penelitian yang mengangkat tema seksual kurang mendapat perhatian dari kalangan profesi okupasi terapis karena dibatasi oleh banyak faktor ; budaya, agama, norma, dan keterbukaan sample dalam pengumpulan data penelitian, hingga ketertarikan peneliti. Namun apakah seksualitas termasuk kedalam ruang lingkup kerja okupasi terapis?

(Mosey A, 1986) seorang professor dari departemen Okupasi Terapi New York University mengatakan bahwa  ada enam keterampilan manusia yang diperoleh secara berurutan. Beberapa keterampilan tersebut salah satunya berkaitan dengan keterampilan identitas seksual.

“Keterampilan identitas seksual : Kemampuan untuk menganggapi sifat seksual seseorang sebagai baik dan untuk berpartisipasi dalam hubungan seksual jangka panjang yang relatif berorientasi pada kepuasan bersama kebutuhan”

Praktisi Okupasi Terapi menganggapi fungsi seksual sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari  (Pedretii, 1990; Reed & Sanderson, Concept Of Occupational Therapy 3rd ed, 1992) namun belum termasuk dalam aktivitas indeks kehidupan sehari-hari yang diulas dalam literatur profesional (Spencer, 1986; Mcavoy, 1991; Fricke, 1993)

Seksualitas pada Pediatri.

Pernah mendengan teori perkembangan seksual menurut Freud? dia menekankan fungsi seksualitas terjadi sepanjang siklus hidup manusia, dan hal ini terjadi pada perkembangan seksual anak usia dini. Perasaan seksual yang tidak terfokus pada awal perkembangan anak dapat diprediksi dan diperlukan untuk pembentukan prilaku dan kepribadian saat dewasa. Tahapan tersebut terbagi atas ‘oral stage’ (tahun pertama kehidupan), ‘anal stage’ (1 sampai 3 tahun), tahap ‘phallic’ (3 sampai 6 tahun) dan ‘tahap latency’ (6 tahun – pubertas). (Ausubel, 1975; Rosen & Hall, 1984; Macconaghy, 1979)

Misalnya, ketika anak berusia 4 tahun fenomena anak bertanya bagaimana aku dilahrikan merupakan sebuah tanda perkembangan seksual yang umum pada anak, dan kesalahan pemberian informasi pada fase perkembangan seksual akan memberikan dampak yang negatif saat usia dewasa?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dengan orang tua anak-anak dengan Down Syndrome oleh Pueschel dan Scola (1988), 70% orang tua merasa terganggu untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang seksualitas (Pueschel & Schola, 1988). Namun, anak-anak melihat perilaku non-verbal dan jawaban mengelak akan belajar mengasosiasikan percakapan tentang seksualitas dengan perasaan malu dan cemas (Pueschel & Schola, 1988).

Pada anak berkebutuhan khusus seperti Intelectual Disorder, kesalahan pemberian informasi seksual dapat berakibat pada tumbuhnya prilaku penyimpangan seksual, dan memungkinkan mereka menjadi rentan terhadap pelecehan seksual.

Area kerja yang masih belum mendapat perhatian lebih dari praktisi Okupasi Terapis, dimana sebenarnya mereka dapat memberikan bimbingan terutama pada anak dan orangtua melalui program edukasi dan beberapa teknik behavior therapy yang mengadaptasi teori Skineer, sebuah pembelajaran berdasarkan reinforcement yang membantu anak  agar mampu mengidentifika dan merespon secara benar dalam prilaku seksual.

Okupasi Terapis melakukan intervensi menggunakan pendekatan Perkembangan Seksual dimana edukasi seksual dapat disampaikan sesuai usia dan perkembangan mental anak ABK, misal kita memberikan pembelajaran identifikasi fungsi dan bagian tubuh yang merupakan pertanyaan seputar seksualitas pada usia 1-4 tahun. Sehingga mereka mampu mengenali dan dapat menanamkan persepsi bahwa seksualitas dapat ditanggapi secara positif.

sex-ed-take-4.jpg
Source : http://www.ssbguide.com

Seksualitas dan Keterbatasan Fisik

Area seksual juga belum mendapat perhatian yang baik dari kalangan peneliti dengan latar belakang Okupasi Terapis, rekan – rekan dapat melihatnya di banyak sumber literatur dari American Journal Occupational Therapist, British Journal Occupational Therapist, dan sebagainya. Padahal aktivitas seksual adalah hal yang dibutuhkan seorang individu bahkan dengan disabilitas yang dimilikinya, menghindari dari depresi dan penurunan kualitas hidup, aktivitas seksual adalah salah satu cara melepaskan rasa sedih, depresi atau perasaan tidak berguna.

Terapis okupasi memiliki peran dalam menangani aktivitas seksual dalam intervensi untuk orang-orang penyandang cacat. Penelitian menunjukkan bahwa individu penyandang cacat mengungkapkan kekhawatiran tentang aktivitas seksual (Shuttleworth, 2012).

Pendidikan seksual dan bagaimana melakukan aktifitas seks secara aman tergantung dari kondisi oasien merupakan sebuah indikator yang harus dapat diukur oleh okupasi terapis, karena sekali lagi ini berkaitan dengan kesejahteraan hidup (Well-being)

Ada satu fakta yang menyebabkan aspek seksual kurang diminati adalah kurangnya pengalaman calon Okupasi Terapi dan teori yang diberikan di pendidikan formal yang membahas masalah seks, menurut (Couldrick, 1998) menemukan bahwa banyak okupasi terapis tidak menangani aktivitas seksual karena kurangnya pendidikan formal.

seniorsex.jpg
scienceblog.com

Kesimpulan

Okupasi Terapis di Indonesia sedang dalam masa perkembangan menuju profesi yang memiliki pendirian dalam professionalisme kerja, area seksual merupakan sebuah tambang ilmu pengetahuan yang belum mendapat perhatian dari peneliti bahkan OT diseluruh dunia. Mari kita tergerak untuk membawa keilmuan ini dan profesi OT menjadi profesi yang memiliki jati diri dan profesional dalam bidangnya.

Ask @sebatotindonesia@gmail.com for citatition on this articles

2 thoughts on “Missing work area : Sexuallity on Pediatrics and Physical dysfunction.

    1. Okupasi Terapis adalah profesi kesehatan yang memiliki keahlian dalam menganalisis aktifitas manusia secara holistik terkait dengan aktifitas kehidupan keseharian, produktifitas dan leisure terutama pada penyandang disabilitas (anak,dewasa,kondisi kejiwaan) sehingga mereka dapat hidup lebih mandiri dan sejahtera.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s