Menelisik Peran Okupasi Terapi dalam Health Literacy di Indonesia

Author : SEBAT – OT

Pict source : https://www.cdc.gov/phpr/infographics/healthliteracy.htm

Kami tertarik untuk membahas isu health literacy yang ramai diperbincangkan di dunia global namun masih sangat minim dalam kajian-kajian di Indonesia. Health literacy didefinisikan sebagai tingkatan dimana seseorang dapat mengakses, memahami, menilai dan mengkomunikasikan informasi yang terlibat dengan tuntutan kesehatan untuk mempromosikan dan memelihara kesehatan selama menjalani kehidupan (Kwan, 2006). Health literacy telah menjadi salah satu faktor penentu kesehatan dan menjadi isu kesehatan global.

Penelitian dari seluruh dunia telah dengan cepat memperdalam pemahaman akan optimalisasi potensi health literacy untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan (well-being), dan mengurangi ketidakadilan kesehatan (Nurjanah, Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia, 2014). Dalam majalah OTPractice edisi 25 Agustus 2008, American Occupational Therapy Association (AOTA) menyebutkan bahwa health literacy adalah kemampuan untuk mendapatkan, memproses, dan memahami informasi kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat (Costa, 2008).

Meski demikian, health literacy belum menjadi isu penting di negara kita. Tercatat hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan di Indonesia terkait health literacy.

Survei yang dilakukan oleh Nurjanah tahun 2012-2014 dengan menggunakan 1029 responden menujukan masalah besar terkait health literacy di kota Semarang, dimana responden berada pada tingkat health literacy yang rendah (Inadequat 10.69%, problematic 53.06%, sufficient 38.29%, dan excellent 5.34%). Dimana sebagian besar faktor demografi dan sosial berkolerasi dengan tingkat health literacy di Semarang seperti faktor pendidikan, usia, pendapatan, status sosial, kehadiran dalam sosialisasi kesehatan. Selain itu disebutkan bahwa wanita memiliki health literacy yang lebih baik dari laki-laki (Nurjanah, Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia, 2014).

Peningkatan keterampilan melek health literacy dianggap penting karena begitu banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tergantung pada health literacy seperti kemampuan membaca dan memahami label resep, memahami perintah dokter, membaca brosur kesehatan yang mengedukasi dan menyediakan layanan kesehatan, memahami formulir persetujuan medis, mengetahui manfaat kesehatan terkait asuransi, serta memahami alur perawatan yang kompleks.

Sebagai praktisi okupasi terapi, penting bagi kita untuk memahami setiap keterampilan kompleks yang dibutuhkan dalam health literacy seperti membaca, mendengar, problem-solving serta kemampuan analisis untuk memahami dan menerapkan informasi kesehatan. Amerika membagi keterampilan health literacy kedalam empat tingkat : proficient, intermediate, basic, dan below basic. Tingkat ketermapilan profecient  berarti orang tersebut dapat memahami semua informasi teks dan informasi numerik yang disajikan dalam lingkungan perawatan kesehatan. Sekitar 12% dari populasi Amerika berada pada level ini.

Tingatan kedua yaitu intermediate menunjukan bahwa orang tersebut dapat membaca sebagian teks dan informasi numerik di tempat perawatan kesehatan, namun mungkin mengalami kesulitan terhadap teks yang rumit dan dokumen yang padat. Mayoritas 53% dari orang dewasa Amerika memiliki kemampuan helath literacy pada tahap ini. Tingkatan ketiga adalah basic, menunjukan bahwa orang tersebut dapat membaca beberapa informasi kesehatan dalam pamflet pendek, namun tidak dapat memahami sebagian besar handout. Pengisian kuisioner mungkin menjadi masalah tersendiri. Sekitar 21% populasi memiliki kemampuan pada tingkat ini.

Orang-orang dalam katagori terakhir, below basic, dapat mengidentifikasi tanggal pada medical appointment atau dalam kartu medis, mereka akan kesulitan dalam pengisian asuransi kesehatan, sulit memahami kebutuhan akan tes kesehatan terkait gejala yang muncul. Sekitar 14% populasi Amerika berada di level ini (Costa, 2008).

Terdapat implikasi lain dari rendahnya angka health literacy, khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan outcome dibidang kesehatan. Sebagai contoh, orang yang mengidap asma mungkin tidak mengerti petunjuk tentang cara menggunakan inhaler, orang dengan diabetes mungkin tidak bisa mengenali gejala hipoglikemia, atau orang-orang yang memiliki hipertensi mungkin tidak memahami hubungan antara diet, olah raga dengan kesehatan. Individu dengan tingkat health literacy yang rendah cenderung kurang mendapat akses untuk perawatan rutin anak-anak mereka, dan kurang pemahaman dalam hal menyusui bayi, memiliki tingkat rawat inap yang tinggi, dan jarang menggunakna layanan pencegahan daripada mereka yang memiliki tingkat health literacy yang tinggi (Weiss, 2007).

Tanggapan lain datang dari Canadian Association of Occupational Therapist (CAOT) “CAOT menyadari dampak utama dari rendahnya health literacy pada warga Canada, khususnya pada orang dewasa dan manula. Kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menerapkan informasi tertulis dan lisan diperlukan bagi klien untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dan mempertahankan kemandirian” (Costa, 2008). CAOT memberikan rekomendasi untuk menekan rendahnya tingkat helath literacy dan mebantu para okupasi terapis di Amerika, diantaranya sebagai berikut:

  1. Okupasi terapis memahami konsep melek health literacy dan dampaknya terhadap informasi kesehatan masyarakat
  2. Okupasi terapis menggunakan strategi komunikasi yang efektif untuk memungkinkan pemahaman dan akses klien terhadap informasi kesehatan
  3. Okupasi terapis berkontibusi terhadap inisiasi transfer pengetahuan untuk memfasilitasi akses klien terhadap informasi kesehatan yang akurat dan relevan secara privadi dan mendukung penggunaannya dalam aktivitas dan peran sehari-hari.
  4. Okupasi terapis bekerja dengan tim interprofesi mengenai cara meningkatkan partisipasi klien dalam pengambilan keputusan bersama (CAOT, 2013) .
  5. Berpartisipasi dalam berbagai kesempatan penelitian dan pengembangan program melek helath literacy, bekerjasama dengan pemangku kepentingn, pembuat kebijakan, dan para peneliti.

Lantas bagaimana peran okupasi terapi di Indonesia untuk mengenalkan pentingnya pendekatan health literacy dalam rangka mencapai kesejahteraan pasien baik dalam bidang pediatri, geriatri, dan psikososial?

Works Cited

CAOT, T. C. (2013). CAOT Position Statement Enabling Health Literacy in Occupational Therapy. Canada: Advancing excellence in occupational therapy.

Costa, D. M. (2008). Facilitating Health Literacy. USA: The American Occupational Therapy Association, In.

Kwan, B. F. (2006). The development and validation of measures of “health literacy” in different populations. University of British Columbia Institute of Health Promotion Research & University of Victoria Centre for Community Health Promotion Research.

Nurjanah, E. R. (2014). Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia. The Second International Conference of Health Literacy and Health Promotion. Taipei, Taiwan: A.H.L.A Asian Health Literacy Association.

Nurjanah, E. R. (2014). Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia. The Second International Conference of Health Literacy and Health Promotion. Taipei, Taiwan: A.H.L.A, Asian Health Literacy Association.

Weiss, B. D. (2007). Health Literacy and Patient Safety: Help Patients Understand: Manual for Clinicans. Chicago, USA: American Medical Association Foundation and American Medical Association.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s