“Autis Banget Sih!”, Kekinian Yang Tidak Pada Tempatnya

Author : TIM SEBAT-OT

Pic Source : https://www.solider.or.id

Istilah “kekinian” belakangan menjadi populer di berbagai kalangan manusia, tidak hanya remaja, tetapi juga dewasa. Tanpa disadari, istilah ini perlahan-lahan diterima dan melekat pada pribadi seseorang hanya karena sebagian besar orang menggunakan istilah tersebut. Namun ternyata, tidak semua orang yang disebut “kekinian” benar-benar tahu apa arti dari “kekinian” itu sendiri.

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kekinian” diartikan sebagai “keadaan kini”, “sekarang”, atau dalam makna luas dapat diartikan sebagai “hal-hal yang sedang tren, populer, booming di saat ini”.

Sejalan dengan keinginan manusia untuk mengupgrade diri sesuai dengan perkembangan zaman, tuntutan untuk terus beradaptasi semakin tinggi pula. Wajar saja, karena kemampuan beradaptasi terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar memang sangat diperlukan untuk tetap terus connect dengan perubahan-perubahan yang ada. Contoh nyatanya adalah penggunaan media sosial yang sedang marak-maraknya beberapa tahun terakhir ini. Penyandang label “kekinian” semakin terbantu dengan kehadiran media sosial yang semakin beragam, termasuk di dalamnya kebebasan dalam berbicara dan menyampaikan apa saja yang sedang mereka pikirkan.

Hal ini bukanlah hal negatif yang harus dihindari perkembangannya, namun bagi sebagian orang seringkali lupa menyaring informasi-informasi yang didapat dari lingkungan sekitar, sehingga muncullah penggunaan istilah yang tidak sesuai pada tempatnya.

Di era yang serba teknologi ini, hasil pemikiran seseorang dapat diketahui dengan mudah hanya dengan mengecek akun pribadinya dan voila! seluruh pengikutnya akan langsung tahu apa yang sedang dibicarakan orang tersebut. Termasuk salah satunya penggunaan kata “autis” untuk menggambarkan orang yang sedang keranjingan atau asyik chatting-an menggunakan handphone yang mungkin sudah sering kita dengar dalam percakapan bernada candaan.

Mirisnya, hal ini juga dilakukan oleh orang-orang yang lumayan berpengaruh atau yang biasa disebut “influencer” dimana para pengikutnya pastilah menjadikannya sebagai role model dalam bertutur kata maupun bersikap. Sehingga, bagi orang-orang berlabel “kekinian” tersebut akan langsung menangkap “autis” sebagai istilah “kekinian” baru yang dapat digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

So, here is the thing: jadilah “kekinian” pada tempatnya. Mengapa? Karena “autis” bukanlah suatu keadaan yang diinginkan, bukan pula sesuatu yang secara sengaja dipilih untuk dilakukan, seperti halnya orang-orang yang sedang sibuk bermain dengan handphone tadi.

“Autis” adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang ditandai oleh adanya gangguan komunikasi, gangguan interaksi sosial, dan adanya tingkah laku tertentu yang khas serta dilakukan secara berulang (Kaplan, 1993). Keadaan penyandang “autis” memang sering disebutkan seperti hidup di dunianya sendiri (Danuatmadja, 2003), namun pada kenyataannya tidak sesederhana itu.

Untuk memastikan apakah seseorang benar-benar “autis” atau tidak juga bukanlah hal yang dapat dengan mudah dilakukan. Ada serangkaian proses pemeriksaan oleh tenaga medis yang harus dilalui untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

Di samping itu, sebagai manusia “kekinian” yang aware dengan keadaan sekitar, sudah seharusnya kita belajar memilah dan menempatkan diri sebaik-baiknya agar “kekinian” yang melekat tidak dipandang negatif dan menyakiti hati orang lain yang mendengarkan.

Yang penting untuk diingat juga, banyak orangtua dari penyandang “autis”, berjuang tiada henti dengan segala daya dan upaya untuk membantu mereka agar tetap survive menjalani kehidupan setiap harinya. Maka, dapat dibayangkan betapa sedihnya mereka apabila kita menggunakan “autis” sebagai bahan candaan, kan?

Maka dari itu, yuk belajar menjadi orang yang “kekinian” pada tempatnya!

Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of   Mental Disorder  (5th ed.). Washington, DC: Author.

Baratawira, Stanley. (2011). Stop Menggunakan Kata Autis Sembarangan Memang Kenapa?. [Online]. Diakses dari https://www.kompasiana.com/stanleybrat/stop-menggunakan-kata-autis-sembarangan-memang-kenapa_550abb058133110478b1e216

Danuatmadja, B. (2003). Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara

Kaplan, dkk. (1993). Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara

Maslim, Rusdi. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta: PT Nuh Jaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s