Sentralisasi Pelayanan Okupasi Terapi : Nusantara Bukan Hanya Ibukota

Mengutip artikel yang dimuat solider.id saat mendapatkan kesempatan melakukan perbincangan dengan Tri Budi Santoso Phd,OT selaku Ketua Ikatan Okupasi Indonesia mengatakan bahwa jumlah sumber daya manusia yang kompeten di bidang Okupasi Terapis di Indonesia masih sangat kurang dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan lebih banyak memberikan pelayanan di pulau Jawa. Sementara penyandang disabilitas yang berada di luar pulau Jawa dan wilayah kepulauan yang kecil-kecil di seluruh pelosok Indonesia belum mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan tidak ada.

Jumlah Okupasi Terapis (OT) profesi kesehatan yang memberikan terapi anak untuk dapat hidup lebih mandiri dalam aktivitas kesehariannya pada tahun 2012 berjumlah sekitar 980 yang artinya setiap 10.000 orang hanya dilayani 0.04 OT (www.wfot.org).

Hingga kini, pada tahun 2017 meskipun jumlah Okupasi Terapis kian meningkat kenyataannya masih belum dapat menjangkau wilayah kepulauan Indonesia secara keseluruhan atau minimal dalam setiap provinsi menyediakan rumah sakit yang memiliki penanganan Okupasi Terapis yang dapat bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas.

Untitled.jpg

(Sumber : ioti.or.id)

Berdasarkan data yang dimiliki, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri mengatakan bahwa jumlah warga negara yang mengalami disabilitas kurang lebih berjumlah 26 juta jiwa (detikfinance,com). Data ini diperkuat oleh Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah  yang menjelaskan bahwa tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (Republika.co.id)

Melihat kondisi tenaga medis Okupasi Terapis yang tersentralisasi di Pulau Jawa khususnya Ibukota dan sekitarnya mengindikasikan adanya faktor yang membuat tenaga kerja profesional Okupasi Terapis belum berani mengambil kesempatan untuk menyentuh harapan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan di bagian timur hingga barat kepulauan Nusantara. Kebutuhan finansial dan jarak menurut saya merupakan faktor yang dianggap paling kuat untuk membuktikan bahwa sumber daya Okupasi Terapis di Indonesia masih berorientasi pada pendapatan dan kenyamanan bekerja. Tentu hal tersebut merupakan sebuah kewajaran, namun demikian jika pandangan tersebut dibiarkan teralalu larut, profesi ini tidak akan pernah dimengerti oleh masyarakat luas bahkan tenaga medis lainnya, apabila sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Okupasi Terapis belum mampu merubah pandangan terhadap kenyataan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas di Nusantara dapat dimaksimalkan dengan keterampilan yang dimiliki Okupasi Terapis dan apa yang dinamakan Nusantara itu terbentang dari sabang hingga merauke, tidak hanya di pulau Jawa.

Fakta yang cukup menarik saya temukan dalam riset yang dilakukan katadata.com dimana penyandang disabilitas di Ibukota pada tahun 2015 berjumlah 6.003 jiwa dan jika dibandingkan dengan data keseluruhan yang dijelaskan Menaker hanya bagian kecil dari kesuluruhan penyandang disabilitaas yang mencapai 21 juta jiwa. Perguruan tinggi yang setiap tahunnya menyediakan lulusan terbaik dari dari program studi Okupasi Terapi menurut pandangan saya belum memberikan jaminan lulusannya akan bekerja ke daerah – daerah yang belum mendapatkan pelayanan Okupasi Terapis, rata- rata klise, mereka akan lebih banyak menawarkan keterampilan Okupasi Terapi di klinik atau rumah sakit sekitar Jabodetabek , Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Data.png

i.png

(Sumber : Pusat Informasi dan Data Kemenkes. Situasi Penyandang Disabilitas)

Kurangnya penyedia pelayanan Okupasi Terapi di Indonesia tidak luput dari letak geografis yang terdiri dari ribuan pulau, maka dari itu tidak bisa disamakan dengan Singapura yang secara letak geografis tidak seluas Indonesia.

Namun saya berharap bahwa kedepannya tenaga kerja Okupasi Terapis khsusunya cendikiawan yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi mulai memupuk kesadaran dan keberanian untuk menyebarluaskan, memanfaatkan, dan mengulurkan bantuan kepada penyandang disabilitas di Nusantara, walaupun saya menyadari bahwa adanya keterbatasan informasi mengenai area kerja Okupasi Terapi di daerah yang masih belum dimengerti oleh tenaga medis merupakan salah satu faktor terhambatnya pelayanan Okupasi Terapi. Namun demikian bukan berarti kita harus pesimis, justru kita harus mencontoh dari beberapa rekan yang akhirnya dapat menempatkan pelayanan Okupasi Terapi di beberapa daerah di Indonesia, sebut saja Aceh, Papua, Mando, Nusa Tenggara Barat yang saya rasa butuh ketekunan dan perjuangan yang gigih sehingga pada akhirnya dapat diterima sebagai tenaga medis Okupasi Terapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s