Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder

Jogjakarta, Minggu 6 Mei 2018

Biro Psikologi dan Intuisi Jogjakarta mengadakan seminar yang bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder”. Dalam seminar tersebut turut mengundang survivor bipolar disorder yang juga merupakan pengurus dalam komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Jogja. Dien Kartikasari sebagai salah satu survivor bipolar disorder mengatakan bahwa persepsi negatif masyarakat mengenai survivor bipolar disorder dapat menyebabkan rasa trauma, namun menurut Dien banyak juga survivor bipolar disorder yang mampu keluar dari keterpurukan dan bangkit menjadi seorang pengusaha, penulis, bahkan mahasiswa. Dita salah satu peserta dalam seminar adalah seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada yang terdiagnosis Bipolar Disorder dua bulan lalu mengatakan bahwa “jangan memandang rendah survivor bipolar disorder” kalimat itu menjelaskan bahwa para survivor bipolar disorder layak mendapatkan kesetaraan dan tempat didalam masyarakat yang mayoritas tanpa keterbatasan mental. Dian Mardiana salah satu pembicara yang juga merupakan survivor bipolar disorder mengatakan bahwa ” Bipolar bukan seseuatu yang harus ditakuti, dan bukan juga aib serta butuh penerimaan dari masyarkat” artinya masyarakat perlu meningkatkan toleransi dan menepis stigma yang melekat pada survivor bipolar disorder.

Dalam seminar ini, Azri Agustin juga turut menjelaskan Bipolar Disorder dari sudut pandang medis. Azri mengatakan bahwa “Penanganan bagi para penyandang Bipolar Disorder harus dilakukan secara multidisiplin baik psikolog, psikiater atau intervensi penunjang lainnya”. Artinya survivor bipolar disorder harus keluar mencari pertolongan baik itu dari lingkungan terdekat seperti keluarga atau kerabat hingga penanganan medis.

Berbagai penuturan dan diskusi yang berlangsung dalam seminar ini memberikan pandangan baru dan pengetahuan baru bahwa para survivor bipolar sejatinya adalah orang – orang yang mampu berinovasi dan berdikari hanya saja penerimaan dan pengakuan dari masyarakat belum sepenuhnya dapat memperlakukan mereka secara setara.

Isu yang mengedepankan kesadaran masyarakat akan penyandang disabilitas mental memang perlu perhatian khusus sehingga masyarakat tidak meng-generalisasi bahwa setiap gangguan mental adalah suatu “kegilaan”. Biro Psikologi dan Intuisi yang merupakan penyelenggara dalam seminar ini adalah salah satu dari sekian banyak suara yang masih terdengar menyerukan kepedulian terhadap penyandang disabilitas dan hal tersebut patut diapresiasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s