Advokasi Pekerja Dengan Kondisi Disabilitas Masih Kurang

Lebih dari satu miliar orang (atau sekitar 15% dari populasi dunia) diperkirakan hidup dengan disabilitas dan setidaknya 15% penduduk Indonesia hidup dengan disabilitas (World Health Organization, 2011). Diantara sekian banyak hambatan yang dimiliki penyandang disabilitas terhadap akses publik, orang dewasa dengan disabilitas juga tidak mendapatkan kesempatan bekerja yang sama dengan orang non-disabilitas (Sri & Irwanto, 2014).

Kenyataan bahwa orang dengan disabilitas tetap memiliki tanggungan untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kehidupan yang lebih baik merupakan isu yang terus dikaji oleh banyak negara sehingga menghasilkan ketentuan atau perundang – undangan tertentu yang dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dan memberikan kesempatan kepada orang disabilitas untuk bekerja tidak terkecuali di Indonesia.

UU No. 4 Tahun 1997 pasal 6 menyatakan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh ”pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya”. Sedangkan pasal 14 mewajibkan perusahaan swasta dan pemerintah untuk mempekerjakan penyandang cacat (Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2016)

Namun faktanya sebanyak 25,6% orang dengan disabilitas memperoleh pekerjaan dan 74,4% lainnya tidak bekerja. Hal ini menunjukan bahwa ada masalah yang terjadi sehingga daya serap pekerja untuk masuk kedalam perusahaan milik negara / swasta belum berjalan baik, dan persepsi mengenai orang dengan disabilitas masih dianggap dari sisi negatif oleh kebanyakan perusahaan.

Marginalisasi terhadap pekerja dengan kondisi disabilitas mengakibatkan banyaknya perusahaan yang enggan menerima pekerja dengan kondisi disabilitas sebagai kandidat calon pekerja. Belum lagi stigma yang terjadi dalam lingkungan kerja dapat menurunkan harga diri dan berdampak pada psikologis pekerja.

Advokasi berbagai lembaga non – pemerintahan seperti LSM Saujana melalui kerjabilitas.com dan organisasi SIGAB Indonesia mungkin dapat menjadi contoh bagaimana beratnya melakukan advokasi penyediaan layanan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Kemudian apakah OT mampu terlibat dalam permasalahan ini?

Advokasi penyandang disabilitas di tempat kerja dapat dilakukan oleh seorang Okupasi Terapis, memediasi pekerja dan penanggung jawab perusahaan untuk meminimalisir stigma dan menyediakan tempat yang ergonomis sehingga kemampuan penyandang disabilitas dapat digunakan secara optimal.

“Occupational therapy practitioners promote success in the workplace by improving the fit between the person, the job tasks, and the environment. They work with employers and employees to adapt or modify the environment or task, facilitate successful return to work after illness or injury, and help prevent illness or injury to promote participation, health, productivity, and satisfaction in the workplace” (American Occupational Therapy)

Bagiamana? Tertarik mengembangkan Okupasi Terapi ke area kerja yang lebih luas? Atau Okupasi Terapis di Indonesia masih sibuk bergelut di area kerja yang cenderung imitatif? Mari sama – sama berbenah untuk Okupasi Terapis Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s