SUNDAY BEDSIDE TEACHING “OCCUPATIONAL THERAPY TREATMENT FOR BIPOLAR DISORDER

SOLO, SEBAT-OT.com – Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia (IMOTI) kembali menggelar acara Sunday Bedside Teaching, acara ini dihadiri oleh mahasiswa jurusan okupasi terapi dari tingkat 1 sampai 3 dan Dewan Pimpinan Cabang IOTI dari Jakarta.

Pada kesempatan ini, IMOTI menghadirkan pembicara Maya Puspitasari, S. ST. OT, seorang praktisi Okupasi Terapis di Rumah Sakit Jiwa Klaten dan seorang narasumber yang memiliki gangguan bipolar. 

Acara yang dibuka MC dengan tema “Embrace Diversity Created Independence”, yang bertajuk “Occupational Therapy Treatment for Bipolar Disorder” terdiri dari rangkaian kegiatan :

1. Pembukaan
2. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
3. Sambutan oleh Rorry Banu K., S. Tr. OT selaku perwakilan dewan pimpinan cabang IOTI,
4. Sambutan ketua pelaksana Ridho Edgardito
5. Acara inti yaitu materi dan diikuti sesi tanya jawab oleh Maya Puspitasari, S. ST. OT

Maya Puspitasari menjelaskan bahwa gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar akan merasakan gejala mania dan depresi. Beberapa gejala mania/manik meliputi detak jantung tidak normal, gelisah atau aneh, merasa mempunyai energi berlebih sehingga melakukan banyak aktivitas, rasa percaya diri yang berlebihan, euforia, punya khayalan yang tak biasa, punya banyak pemikiran atau ide, mudah teralihkan atau terdistraksi, mudah tersinggung, bicara cepat, dan lain-lain.

Selain episode manik, ada pula episode depresi yang dialami oleh orang dengan gangguan bipolar, beberapa gejalanya adalah suasana hati yang buruk, mudah merasa tertekan, sedih, hampa, dan putus asa, kehilangan minat atau kesenangan pada sesuatu, gelisah, murung, mengurung diri, sulit konsentrasi, dan beberapa kasus orang merencanakan bunuh diri, dll. Jenis gangguan bipolar ada 4 yang pertama yaitu gangguan bipolar tipe I kondisi ini berarti seseorang setidaknya memiliki satu periode manik selama 7 hari kemudian diikuti eoisode depresi berat selama kurang lebih 2 minggu.

Kemudian gangguan bipolar tipe II adalah kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami satu episode depresiutama, jika mengalami bipolar tipe ini maka ia belum pernah mengalami episode manik. Ketiga, ada gangguan bipolar chyclothymic yaitu seseorang mengalami banyak periode hipomania dan depresi. Kondisi ini hampir sama dengan gangguan bipolar tipe II namun penangannya lebih mudah. Keempat, adalah gangguan bipolar yang disebabkan oleh konsumsi narkoba atau alkohol tertentu. Kondisi ini paling sering dialami oleh remaja atau awal 20 tahunan.

Belum diketahui secara pasti penyebab dari gangguan bipolar, namun terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan bipolar, antara lain adalah struktur fungsi otak. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menderita bipolar mempunyai struktur otak yang berbeda dari orang normal atau bahkan gangguan mental lain. Faktor kedua adalah dari genetik, study tentang orang yang kembar identik, jika salah satu mengalami bipolar maka saudara yang satunya belum tentu mengalami bipolar. Riwayat keluarga juga menjadi faktor risiko seseorang mengalami bipolar. Peneliti lain menunjukkan bahwa lingkingan dan gaya hidup dapat menjadi faktor risiko bipolar.

Penanganan orang dengan gangguan bipolar melibatkan berbagai profesi, seperti dokter, rawat inap, psikologis, dan okupasi terapi. Terapi okupasi menerapkan terapi kognitif perilaku (CBT) yang berfokus pada individu dan keluarga dilakukan dengan berbagai strategi tergantung dari kondisi pasien. Sebagai seorang terapis yang bisa dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik, bangun kepercayaan dan interaksi terlebih dahulu dengan pasien bipolar, jangan sekali-kali mematahkan pendapat mereka karena hal tersebut bisa membuat marah dan tidak suka.

Menurut Maya Puspitasari, “untuk mendiagnosa gangguan bipolar membutuhkan waktu dan berbagai pemeriksaan medis, karena gangguan tersebut ditandai dengan adanya perubahan emosi/mood yang berubah drastis dengan waktu yang cukup lama, tidak hanya sekali/sesaat aja kejadian tersebut, namun dalam rentang waktu yang sering dan berturut-turut.

Penulis : Indah Risky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s