Peran Okupasi Terapis Dalam Pelayanan Rehabilitasi Vokasional

Rehabilitasi vokasional adalah sekelompok pelayanan yang ditujukan kepada individu dengan kecacatan mental atau fisik, yang bertujuan agar individu tersebut dapat memperoleh keterampilan, meningkatkan sumber daya, mengoptimalkan sikap, serta harapan yang diperlukan (Fischler, 1999)

Crisp et al (2000) menyatakan bahwa pasien gangguan mental, terutama skizofrenia mengalami hendaya dalam melakukan pekerjaan sebagai akibat stigma dari masyarakat sehingga produktivitas bekerja menurun dan adanya isolasi sosial (Mueser 2006). Manfaat klinis bekerja mempunyai kepastian yang nyata seperti pepatah lama mengatakan bahwa “work is good therapy”

Pelayanan rehabilitasi vokasional dilakukan secara multidisiplin, terdiri dari dokter spesialis kejiwaan, perawat, psikolog, dan okupasi terapis. Pelayanan okupasi terapis di unit rehabilitasi Rumah Sakit Khusus Provinsi Maluku mulai menerapkan pelayanan rehabilitasi vokasional yang ditangani secara terpadu. Pelayanan ini dikhususkan untuk pasien dengan gangguan mental yang telah mengalami serangkaian pemeriksaan guna meningkatkan kemampuan occupational performance dalam area produktifitas. Sehingga kedepannya diharapkan dengan latihan vokasional yang berbasis client centered approach pasien mendapatkan kemampuan dan keahlian dalam persaingan kerja pasca perawatan.

Penerapan metode client centered approach occupational therapy dalam rehabilitasi vokasional terintegrasi berkontribusi dalam meningkatkan performa kerja, kepuasan, kualitas hidup dan keterampilan sosial orang dengan gangguan mental (Dielacher, Hoss. 2011)

Penggunaan metode client centered harus diterapkan dalam pelayanan okupasi terapi yang dimulai dari assesment sampai evaluasi aspek occupational performance yang mengalami defisit atau gangguan.

Law & Baum menyatakan bahwa implikasi pertama dalam penggunaan metode client centered adalah occupational performance harus diidentifikasi oleh pasien, keluarga dan terapis serta evaluasi keberhasilan intervensi akan fokus pada perubahan occupational performance. Kedua, teknik pengukuran harus memungkinkan klien mengevaluasi hasil dari intervensi yang dilakukan. Ketiga, pengukuran harus mencerminkan partisipasi pasien dalam pekerjaan. Keempat, pengukuran harus fokus pada pengalaman subjektif dan kualitas yang dapat diamati dari pemeriksaan skala occupational performance.

Salah satu pengukuran yang menerapkan metode client centered untuk profesi OT dalam menangani pasien dengan gangguan mental adalah Canadian Occupational Performance Measurement (COPM).

DAFTAR PUSTAKA

Fischler, Gary & Booth, N 1999, Vocational impact of psychiatric disorders: a guide for rehabilitation professionals, austin : PRO-ED, Incorporated.

Crisp, AH, Gelder, MG, Rix, S et al. 2000, ‘Stigmatization of people with mental illness’, Br j psychiatry, 177, pp. 4-7

Mueser, KT, Glynn, SM, McGurk, SR 2006, ‘Social and vocational impairmnets’, in Jeffrey, A, Lieberman, M.D, Scott T, Stroup, M.D, Diana, O, Perkins, MD, Text book of schizophrenia, American psychiatric press, Washington, DC, pp. 275-288.

Dielacher, Hoss. 2011. Occupational therapy in vocational rehabilitation of adults with mental illness.  doi: 10.1055/s-0031-1280809.

Law M, Baum C. Measurement in Occupational Therapy. In: Law M, Baum C, Dunn W, editors. Measuring occupational performance – supporting best practice in occupational therapy. New York: Slack

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s