Advokasi Pekerja Dengan Kondisi Disabilitas Masih Kurang

Lebih dari satu miliar orang (atau sekitar 15% dari populasi dunia) diperkirakan hidup dengan disabilitas dan setidaknya 15% penduduk Indonesia hidup dengan disabilitas (World Health Organization, 2011). Diantara sekian banyak hambatan yang dimiliki penyandang disabilitas terhadap akses publik, orang dewasa dengan disabilitas juga tidak mendapatkan kesempatan bekerja yang sama dengan orang non-disabilitas (Sri & Irwanto, 2014).

Kenyataan bahwa orang dengan disabilitas tetap memiliki tanggungan untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kehidupan yang lebih baik merupakan isu yang terus dikaji oleh banyak negara sehingga menghasilkan ketentuan atau perundang – undangan tertentu yang dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dan memberikan kesempatan kepada orang disabilitas untuk bekerja tidak terkecuali di Indonesia.

UU No. 4 Tahun 1997 pasal 6 menyatakan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh ”pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya”. Sedangkan pasal 14 mewajibkan perusahaan swasta dan pemerintah untuk mempekerjakan penyandang cacat (Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2016)

Namun faktanya sebanyak 25,6% orang dengan disabilitas memperoleh pekerjaan dan 74,4% lainnya tidak bekerja. Hal ini menunjukan bahwa ada masalah yang terjadi sehingga daya serap pekerja untuk masuk kedalam perusahaan milik negara / swasta belum berjalan baik, dan persepsi mengenai orang dengan disabilitas masih dianggap dari sisi negatif oleh kebanyakan perusahaan.

Marginalisasi terhadap pekerja dengan kondisi disabilitas mengakibatkan banyaknya perusahaan yang enggan menerima pekerja dengan kondisi disabilitas sebagai kandidat calon pekerja. Belum lagi stigma yang terjadi dalam lingkungan kerja dapat menurunkan harga diri dan berdampak pada psikologis pekerja.

Advokasi berbagai lembaga non – pemerintahan seperti LSM Saujana melalui kerjabilitas.com dan organisasi SIGAB Indonesia mungkin dapat menjadi contoh bagaimana beratnya melakukan advokasi penyediaan layanan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Kemudian apakah OT mampu terlibat dalam permasalahan ini?

Advokasi penyandang disabilitas di tempat kerja dapat dilakukan oleh seorang Okupasi Terapis, memediasi pekerja dan penanggung jawab perusahaan untuk meminimalisir stigma dan menyediakan tempat yang ergonomis sehingga kemampuan penyandang disabilitas dapat digunakan secara optimal.

“Occupational therapy practitioners promote success in the workplace by improving the fit between the person, the job tasks, and the environment. They work with employers and employees to adapt or modify the environment or task, facilitate successful return to work after illness or injury, and help prevent illness or injury to promote participation, health, productivity, and satisfaction in the workplace” (American Occupational Therapy)

Bagiamana? Tertarik mengembangkan Okupasi Terapi ke area kerja yang lebih luas? Atau Okupasi Terapis di Indonesia masih sibuk bergelut di area kerja yang cenderung imitatif? Mari sama – sama berbenah untuk Okupasi Terapis Indonesia.

Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder

Jogjakarta, Minggu 6 Mei 2018

Biro Psikologi dan Intuisi Jogjakarta mengadakan seminar yang bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder”. Dalam seminar tersebut turut mengundang survivor bipolar disorder yang juga merupakan pengurus dalam komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Jogja. Dien Kartikasari sebagai salah satu survivor bipolar disorder mengatakan bahwa persepsi negatif masyarakat mengenai survivor bipolar disorder dapat menyebabkan rasa trauma, namun menurut Dien banyak juga survivor bipolar disorder yang mampu keluar dari keterpurukan dan bangkit menjadi seorang pengusaha, penulis, bahkan mahasiswa. Dita salah satu peserta dalam seminar adalah seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada yang terdiagnosis Bipolar Disorder dua bulan lalu mengatakan bahwa “jangan memandang rendah survivor bipolar disorder” kalimat itu menjelaskan bahwa para survivor bipolar disorder layak mendapatkan kesetaraan dan tempat didalam masyarakat yang mayoritas tanpa keterbatasan mental. Dian Mardiana salah satu pembicara yang juga merupakan survivor bipolar disorder mengatakan bahwa ” Bipolar bukan seseuatu yang harus ditakuti, dan bukan juga aib serta butuh penerimaan dari masyarkat” artinya masyarakat perlu meningkatkan toleransi dan menepis stigma yang melekat pada survivor bipolar disorder.

Dalam seminar ini, Azri Agustin juga turut menjelaskan Bipolar Disorder dari sudut pandang medis. Azri mengatakan bahwa “Penanganan bagi para penyandang Bipolar Disorder harus dilakukan secara multidisiplin baik psikolog, psikiater atau intervensi penunjang lainnya”. Artinya survivor bipolar disorder harus keluar mencari pertolongan baik itu dari lingkungan terdekat seperti keluarga atau kerabat hingga penanganan medis.

Berbagai penuturan dan diskusi yang berlangsung dalam seminar ini memberikan pandangan baru dan pengetahuan baru bahwa para survivor bipolar sejatinya adalah orang – orang yang mampu berinovasi dan berdikari hanya saja penerimaan dan pengakuan dari masyarakat belum sepenuhnya dapat memperlakukan mereka secara setara.

Isu yang mengedepankan kesadaran masyarakat akan penyandang disabilitas mental memang perlu perhatian khusus sehingga masyarakat tidak meng-generalisasi bahwa setiap gangguan mental adalah suatu “kegilaan”. Biro Psikologi dan Intuisi yang merupakan penyelenggara dalam seminar ini adalah salah satu dari sekian banyak suara yang masih terdengar menyerukan kepedulian terhadap penyandang disabilitas dan hal tersebut patut diapresiasi.

Branding & Standar Mutu Shopping therapy

Kira-kira Apa sih sejatinya kepuasan klien/pasien? Hal yang begitu subjektif bukan ? Setiap  orang punya standarnya sendiri-sendiri soal kepuasan . Tapi tentu hampir semua sepakat bahwa setiap orang akan merasa puas saat mereka  dilayani dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu  pada artikel ini kita akan sedikit membahas bagaimana keterikatan antara fenomena shopping therapy dengan derajat atau indikator kepuasan klien/pasien. Informasi ini dapat menjadi arahan untuk pelayan kesehatan yang lain, tentang betapa kompleksnya indikator kepuasan klien pada layanan kesehatan/terapi. Karna faktanya 5 S (senyum, santun, sapa , salam , sopan) pun tetap tidak selalu menjadi jawaban kebutuhan atas fenomena shopping therapy.

Apa sih sejatinya  kepuasan klien/pasien? Kepuasan menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah puas; merasa senang; perihal (hal yang bersifat puas, kesenangan, kelegaan dan sebagainya). Menurut Oliver (dalam Supranto, 2001) mendefinisikan kepuasan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.

Setidaknya adanya tiga macam kondisi kepuasan yang bisa dirasakan oleh konsumen/klien/pasien, yaitu bertitik tolak pada  perbandingan antara harapan dan kenyataan  hal tersebut digolongkan menjadi : (1) Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan sangat kecewa. (2) Bila kinerja sesuai harapan, maka pelanggan akan puas. Sedangkan (3) bila kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan sangat puas, karena sejatinya harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi dari berbagai media. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan tersebut (Indarjati (2001)

Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kepuasan konsumen pada umumnya dan khususnya  pasien/klien kesehatan?  Menurut Tjiptono (1997) kepuasan pasien ditentukan oleh beberapa faktor antara lain, yaitu : 1) Kinerja (performance), 2)  Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), 3) Keandalan (reliability), 4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification) ,5) Daya tahan (durability), 6) Service ability, meliputi kecepatan, kompetensi, serta penanganan keluhan yang memuaskan, 7) Estetika, 8) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)  contohnya citra dan reputasi rumah sakit serta tanggung jawab rumah sakit atau bagaimana kesan yang diterima pasien terhadap rumah sakit tersebut terhadap prestasi dan keunggulan rumah sakit daripada rumah sakit lainnya. 9) Karakteristik produk, 10) Harga ,  11) Pelayanan   12) Lokasi  13) Fasilitas , 14) Image/reputasi , 15) Desain visual , 16) Suasana , 17) Komunikasi .

Dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pada pasien tidak melulu soal 5 S (senyum , sapa, salam, sopan , santun) , tidak melulu hanya  soal fitur/konten layanan,  lebih dari itu ternyata  branding dan reputasi, baik secara personal maupun instansi juga merupakan hal yang penting, karena kepuasan juga salah-satunya di ukur berdasarkan kualitas yang dipersepsikan klien dalam layanan/jasa  (perceived quality), maka tentu hal ini juga penting utuk di perhatikan, untuk semakin dapat meningkatkan mutu layanan .

Reputasi/branding, dan harga layanan merupakan hal lain yang juga di ilhami sebagai standar kepuasan klien.  Klien shopper cenderung  merepresentasikan sebuah layanan jasa, mendekati  prespektif  “price don’t lie” dalam hunting product /membeli produk di perbelanjaan.

Walaupun  sejatinya ini hanya lah kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) . namun  hal ini  membentuk persepsi klien,  tidak  jarang  persepsi akan membentuk sebuah rasa kepuasan dan kepercayaan (trust). Atau sebaliknya justru persepsi juga dapat menciptakan kehawatiran, ketidakpercayaan dan sebagainya.

Petugas kesehatan tidak hanya bertanggung jawab mengedukasi klien, atau merepresentasikan kualitas sesuai dengan job deskripsi dan tuntutan dari corporasi yang menaunginya. Lebih dari itu , penting juga untuk membangun personal branding dan comunity branding membangun citra dan suasana yang positif demi mewujudkan kenyamanan dan kepuasan klien .

Beberapa cara sederhana  yang mungkin dapat dilakukan untuk membangun personal branding (reputasi personal).  

Berinteraksi dengan  klien adalah tidak melulu banyak bicara dan menjalin keakraban cerita kesana-kemari, namun kamu juga harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang baik (evidence based practice), lalu pendekatan emosi dengan klien, memberikan empati, memberikan perhatian , support, menjembatani solusi dari permasalahan , teman berdiskusi, memberi hadiah dan  kejutan-kejuan yang membangkitkan semangat dan perasaan klien/ pasien.

Memberikan tone/nada suara yang tepat , memperhatikan  estentika dan penampilan, tata ruang, penggunaan tools assesment dan treatment yang berkualitas, mendesain suasana klinik yang nyaman, bagus, aman & nyaman, menampilkan  mimik wajah yang menyenangkan saat bekerja, menangani dan melayani dengan profesional dan berkualitas , menghargai privasi, serta memberikan data laporan yang jujur dan measurable , merupakan aspek lain dari komunikasi (non verbal) yang kadang pada sebagian tenaga profesional di kesampingkan.

Karena Okupasi terapis haruslah memahami bahwa memanusiakan seorang individu dalah hal yang penting dalam sebuah pelayanan.

“There is always something about how to Humanize  other people”.

Jika  kamu punya pendapat lain seputar shopping therapy atau argumen yang unik. Kamu bisa sharing di link berikut ini , respon terbaik akan di hubungi dan berhak mendapatkan reward yang menarik. https://goo.gl/6pc39G

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 🙂

Daftar pustaka

Budiastuti . 2002 “Kepuasan pasien terhadap pelayanan Rumah Sakit”

Fandy Tjiptono, 1997, Strategi Pemasaran, Edisi 1, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Fandy Tjiptono, 2004, Strategi Pemasaran, Edisi 2, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Grififth dalam buku the well managed Community Hospital (1987)

Indarjanti, A., 2001. Kepuasan Konsumen Pranata  No. 1 Th IV.

Johanes Supranto, 2001, Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan, Jakarta : Rineka Cipta

Sentralisasi Pelayanan Okupasi Terapi : Nusantara Bukan Hanya Ibukota

Mengutip artikel yang dimuat solider.id saat mendapatkan kesempatan melakukan perbincangan dengan Tri Budi Santoso Phd,OT selaku Ketua Ikatan Okupasi Indonesia mengatakan bahwa jumlah sumber daya manusia yang kompeten di bidang Okupasi Terapis di Indonesia masih sangat kurang dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan lebih banyak memberikan pelayanan di pulau Jawa. Sementara penyandang disabilitas yang berada di luar pulau Jawa dan wilayah kepulauan yang kecil-kecil di seluruh pelosok Indonesia belum mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan tidak ada.

Jumlah Okupasi Terapis (OT) profesi kesehatan yang memberikan terapi anak untuk dapat hidup lebih mandiri dalam aktivitas kesehariannya pada tahun 2012 berjumlah sekitar 980 yang artinya setiap 10.000 orang hanya dilayani 0.04 OT (www.wfot.org).

Hingga kini, pada tahun 2017 meskipun jumlah Okupasi Terapis kian meningkat kenyataannya masih belum dapat menjangkau wilayah kepulauan Indonesia secara keseluruhan atau minimal dalam setiap provinsi menyediakan rumah sakit yang memiliki penanganan Okupasi Terapis yang dapat bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas.

Untitled.jpg

(Sumber : ioti.or.id)

Berdasarkan data yang dimiliki, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri mengatakan bahwa jumlah warga negara yang mengalami disabilitas kurang lebih berjumlah 26 juta jiwa (detikfinance,com). Data ini diperkuat oleh Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah  yang menjelaskan bahwa tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (Republika.co.id)

Melihat kondisi tenaga medis Okupasi Terapis yang tersentralisasi di Pulau Jawa khususnya Ibukota dan sekitarnya mengindikasikan adanya faktor yang membuat tenaga kerja profesional Okupasi Terapis belum berani mengambil kesempatan untuk menyentuh harapan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan di bagian timur hingga barat kepulauan Nusantara. Kebutuhan finansial dan jarak menurut saya merupakan faktor yang dianggap paling kuat untuk membuktikan bahwa sumber daya Okupasi Terapis di Indonesia masih berorientasi pada pendapatan dan kenyamanan bekerja. Tentu hal tersebut merupakan sebuah kewajaran, namun demikian jika pandangan tersebut dibiarkan teralalu larut, profesi ini tidak akan pernah dimengerti oleh masyarakat luas bahkan tenaga medis lainnya, apabila sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Okupasi Terapis belum mampu merubah pandangan terhadap kenyataan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas di Nusantara dapat dimaksimalkan dengan keterampilan yang dimiliki Okupasi Terapis dan apa yang dinamakan Nusantara itu terbentang dari sabang hingga merauke, tidak hanya di pulau Jawa.

Fakta yang cukup menarik saya temukan dalam riset yang dilakukan katadata.com dimana penyandang disabilitas di Ibukota pada tahun 2015 berjumlah 6.003 jiwa dan jika dibandingkan dengan data keseluruhan yang dijelaskan Menaker hanya bagian kecil dari kesuluruhan penyandang disabilitaas yang mencapai 21 juta jiwa. Perguruan tinggi yang setiap tahunnya menyediakan lulusan terbaik dari dari program studi Okupasi Terapi menurut pandangan saya belum memberikan jaminan lulusannya akan bekerja ke daerah – daerah yang belum mendapatkan pelayanan Okupasi Terapis, rata- rata klise, mereka akan lebih banyak menawarkan keterampilan Okupasi Terapi di klinik atau rumah sakit sekitar Jabodetabek , Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Data.png

i.png

(Sumber : Pusat Informasi dan Data Kemenkes. Situasi Penyandang Disabilitas)

Kurangnya penyedia pelayanan Okupasi Terapi di Indonesia tidak luput dari letak geografis yang terdiri dari ribuan pulau, maka dari itu tidak bisa disamakan dengan Singapura yang secara letak geografis tidak seluas Indonesia.

Namun saya berharap bahwa kedepannya tenaga kerja Okupasi Terapis khsusunya cendikiawan yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi mulai memupuk kesadaran dan keberanian untuk menyebarluaskan, memanfaatkan, dan mengulurkan bantuan kepada penyandang disabilitas di Nusantara, walaupun saya menyadari bahwa adanya keterbatasan informasi mengenai area kerja Okupasi Terapi di daerah yang masih belum dimengerti oleh tenaga medis merupakan salah satu faktor terhambatnya pelayanan Okupasi Terapi. Namun demikian bukan berarti kita harus pesimis, justru kita harus mencontoh dari beberapa rekan yang akhirnya dapat menempatkan pelayanan Okupasi Terapi di beberapa daerah di Indonesia, sebut saja Aceh, Papua, Mando, Nusa Tenggara Barat yang saya rasa butuh ketekunan dan perjuangan yang gigih sehingga pada akhirnya dapat diterima sebagai tenaga medis Okupasi Terapi.

Okupasi Terapi Berbasis Sekolah, Dreaming or Realistic?

Sebagaimana yang kita tahu bahwa Okupasi Terapi adalah profesi kesehatan yang membantu individu untuk dapat mandiri melakukan aktifitas atau berpartisipasi dalam kegiatan spesifik pada kehidupan sehari-hari.

Okupasi pada anak meliputi beberapa aspek penting, dan bersekolah merupakan salah satu okupasi/tugas anak pada usia sekolah & pra sekolah. Dalam hal ini seorang Okupasi Terapis dapat berperan membantu siswa (klien okupasi) agar dapat berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan sekolah mulai dari memperhatikan penjelasan guru, berkonsentrasi pada tugas-tugas harian sekolah ; memegang pensil, memainkan alat musik, membaca buku pelajaran , mengerjakan tugas , atau hanya sekedar mengarahkan agar dapat berperilaku dengan baik dan benar selama di dalam kelas.

Okupasi terapis dapat membantu siswa melakukan tugas tertentu yang diperlukan untuk partisipasi atau pembelajaran. Hal itu dikarenakan pada prinsipnya “Keseluruhan tujuan dari layanan okupasi terapi berbasis sekolah adalah untuk membantu anak-anak sukses dalam okupasi nya yaitu bersekolah (Leslie Jackson,2007).

Seorang Praktisi okupasi terapis tidak hanya berfokus pada masalah spesifik yang mungkin muncul pada anak, sebaliknya, mereka harus dapat melihat anak secara holistic (client factor, task , & environment, serta keterikatan antar variable), sehingga dengan data tersebut maka akan di desain sebuah rencana tindakan, rekomendasi dan pemecahan masalah agar dapat berkolaborasi dengan lintas disiplin, dan membantu siswa menemukan cara untuk melakukan hal-hal yang mereka butuhkan , dan hal yang ingin mereka lakukan, agar dapat berpartisipasi dalam aktifitas bersekolah. Jadi pada prinsipnya , seorang okupasi terapis harus mengerti bahwa semua anak berhak untuk bisa sukses pada tugas di sekolah , sesuai dengan level dan kemampuannya (Leslie Jackson, 2007).

Biasanya, layanan Okupasi Terapi diberikan kepada siswa dengan disabilitas/keterbatasan. Akan tetapi layanan Okupasi Terapi juga dapat diberikan untuk anak-anak lain yang mengalami masalah tertentu di sekolah. Praktisi Okupasi Terapi juga bekerja untuk memberikan konsultasi kepada para guru tentang bagaimana desain kelas mempengaruhi  mengapa anak-anak tertentu berperilaku tidak pada waktu tertentu, dan mana yang terbaik untuk duduk seorang anak berdasarkan gaya belajar nya atau kebutuhan lainnya. Okupasi Terapi dapat memberikan intervensi berupa pembelajaran keterampilan motorik, proses kognitif, masalah visual atau persepsi, kemudian kesehatan mental, kesulitan fokus disorganisasi, atau masalah dalam pemrosesan sensoris yang menghambat proses belajar/rutinitas kelas.

Staff pengajar bisa merekomendasikan layanan yang terpisah atau juga biasanya layanan ini bisa di desain secara terintegrasi agar anak dapat berpartisipasi lebih baik di dalam rutinitas kelas.  Adanya layanan Okupasi Terapi disekolah dimulai sejak tahun 1975  dalam Individuals with Disabilities Education Act (IDEA), sebagai gagasan awal batu loncatan dari layanan okupasi terapi berbasis sekolah. Undang-undang tersebut menetapkan bahwa siswa penyandang disabiltas pada lembaga pendidikan khusus harus memiliki akses terhadap layanan okupasi terapi jika mereka memerlukannya.

Lalu Pada tahun 2001, Kongres organisasi No Child Left Behind (NCLB) menetapkan Undang-undang yang mewajibkan sekolah untuk memperbaiki prestasi akademik semua siswa, termasuk siswa penyandang disabilitas. Kemudian Pada tahun 2004, organisasi Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) memperluas ketersediaan layanan Okupasi Terapi kepada semua siswa, tidak hanya penyandang cacat, untuk berpartisipasi sepenuhnya di sekolah.

Sekilas perkenalan dan ulasan singkat tentang , kerangka kerja sederhana layanan OT berbasis sekolah, kira-kira menurut pendapat mu di indonesia gaimana ya ?

Sejauh mana yang sudah di realisasikan ? seperti apa poin penjelasan OT berbasis sekolah dalam poin aturan profesi/ pemerintah? Atau tidak ada aturan nya tapi tetap dilakukan ? Atau mungkin lain peraturan nya , lain juga praktek nya ?

Atau prakteknya masih di samakan dengan clinical aproach seperti layanan klinik & rumah sakit?h

Sharing yang kamu tau tentang OT berbasis sekolah di link di bawah ini , isi sebebas dan se-kreatif yang kamu mau, Bagi respon/jawaban terbaik akan di hubungi oleh tim SEBATOT dan berhak untuk reward thank you 🙂 silahkan memberi tanggapan anda melaui link berikut ini :

Link

Referensi

  1. Jackson,L (Ed).(2007).Occupational therapy service for children and youth under IDEA (3rd,ed.).
  2. Bethsda,MD; AOTA Press.
    No Child Left Behind Act of 2001 , pub , L 107-110 ,116 stat, 3071
  3. What Parents Need to Know About School-Based Occupational Therapy . (2017, December 19 ). Retrieved from https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Professionals/CY/Articles/School-consumer.aspx

SEBAT EVENT: Kongres Nasional ke-5 Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia

Karanganyar — Acara Kongres Nasional ke-5 Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia (IMOTI) dengan tema “Be a good generation to Inform, influence, and inspire Occupational Therapy”, yang  dilaksanakan di Gedung Audit Kampus 2 Poltekkes Surakarta. (Jumat, 29/12/2017) 

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI), Ketua Jurusan OT kampus Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surakarta, Anggota IMOTI, dan juga beberapa peserta undangan. Pada kesempatan ini, Bapak Tri Budi Santoso Ph.D selaku Ketua IOTI memaparkan mengenai status IMOTI sebagai sebuah organisasi yang nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari IOTI sebagai bentuk legalitas atau menjadi sebuah wadah organisasi mandiri.

Beliau juga menyampaikan, pemanfaatan Sumber Daya Manusia di Indonesia masih kurang maksimal. “Keunggulan kompetensi OkupasiTerapis harus ditingkatkan melalui lulusan  lulusan S2 yang harus semakin meningkat jumlahnya, hal tersebut berkaitan dengan semakin meningkatnya daya saing terutama berkaitan dengan tenaga kerja asing. Apabila kompetensi ini tidak ditingkatkan maka hal tersebut akan semakin mendesak posisi terapis dalam negeri untuk berkembang.”, tambah beliau.

Terkait keorganisasian, beliau mengatakan bahwa organisasi itu penting untuk mengasah berbagai keterampilan; mengatur uang, pembuatan proposal, dsb. Mahasiswa harus dapat menjaga sikap (attitude) sebagai sebuah pondasi dasar yang membentuk kualitas profesi OT. “Mahasiswa OT juga harus cerdas, harus mulai mengadakan penelitian-penelitian yang bisa bersaing di kancah nasional maupun internasional.”, pesannya kepada mahasiswa. 

Pada Kongres Nasional IMOTI ke-5, diadakan pemilihan ketua umum periode baru, dengan kandidat Aisya Widya dari Poltekkes Surakarta, dan Cahya Ramadani dari UI. Diperoleh hasil kemenagan oleh Cahya Ramadani, dari Program Vokasi UI Program Studi Okupasi Terapi melalui hasil voting.

Cahya Ramadhani, Ketua Umum IMOTI periode baru, menyampaikan bahwa hal  hal baik yang diwariskan dari periode sebelumnya akan terus dibawa pada periode baru dan hal  hal yang perlu dibenahi dari periode sebelumnya diharapkan akan dapat diperbaiki pada periode baru ini.

Adapun beberapa pesan dari koordinator nasional IMOTI periode 2016/2017, Melia Resti Utami, yang mengatakan bahwa modalitas utama yang harus dimiliki IMOTI adalah rasa kekeluargaan dan itu harus dipertahankan. “Karena IMOTI itu ada untuk mempererat hubungan mahasiswa OT Se-Indonesia.”, pungkasnya.

Sunday Bedside Teaching – Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia (SBT-IMOTI): How to Treat Children with Cerebral Palsy #sebatevent

Poltekkes Surakarta kampus 2 – Acara SBT (Sunday Bedside Teaching) bertema “How to Treat Children with Cerebral Palsy” di selenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia (IMOTI) di gedung Auditorium Kampus 2 Poltekkes Kemenkes Surakarta pada Minggu, 17 Desember 2017. 

“SBT merupakan sebuah miniworkshop yang memfasilitasi pembelajaran di luar kelas terkait intervensi ataupun peran okupasi terapi pada beberapa kondisi di lapangan”, tambah Melia, selaku Ketua Umum IMOTI, tentang apa itu SBT dan tujuan acara ini.

Pada hari ini, SBT diadakan untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa terkait tindakan terapetik terhadap anak dgn gangguan motorik cerebral palsy, sekaligus memberikan penalaran perspektif okupasi terapi. Dengan pembicara bapak Tri Winarno, SST. OT (Okupasi Terapis Yayasan Penyandang Anak Cacat) yang di ikuti oleh mahasiswa okupasi terapi Poltekkes Kemenkes Surakarta.

Tri Winarno, selaku pembicara SBT hari ini menambahkan bahwa Cerebral palsy adalah gangguan gerak, postur, dan keseimbangan yang disebabkan oleh cidera otak, cerebral palsy terjadi ketika masa otak belum matang.

Dengan diadakan SBT ini, mahasiswa mendapatkan pembelajaran tambahan terkait penatalaksanaan okupasi terapi, perspektif sebagai okupasi terapis, dan sekaligus ilmu yang didapat diluar kampus.

Menkes Sampaikan Dua Upaya Penting Pengendalian HIV/AIDS

Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami perkembangan epidemi HIV yang cepat. Meski prevalensi HIV di antara orang dewasa secara umum masih rendah, kecuali di Tanah Papua, namun prevalensi HIV pada kelompok populasi tertentu masih tinggi, seperti pada pengguna Napza Suntik atau pengguna narkoba suntik (Penasun), pekerja seks komersial (PSK) dan lelaki suka seks dengan lelaki (LSL).

Upaya pengendalian HIV-AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penularan dan penyebaran HIV-AIDS dan IMS di kalangan masyarakat. Salah satu pendekatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS adalah perubahan perilaku berisiko. Di samping itu, bagi mereka yang sudah tertular HIV atau disebut orang dengan HIV-AIDS (ODHA), diberikan terapi antiretroviral (ARV) untuk mencegah kematian atau mortalitas, memperpanjang umur, dan meningkatkan kualitas hidupnya.


Suksesnya Pengendalian HIV-AIDS dan IMS akan memberikan kontribusi penting terwujudnya bangsa Indonesia yang sehat, bermutu, produktif dan berdaya saing, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M (K), saat memberikan arahan pada Pertemuan Tahunan Kelompok Kerja dan Panel Ahli HIV-AIDS dan Infeksi Menular Seksual di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jumat pagi (12/12).

Sejak kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 sampai dengan saat ini, berbagai respon untuk mengendalikan penyakit ini telah dilakukan. Banyak kemajuan yang telah dicapai dalam upaya Pengendalian HIV-AIDS dan IMS dalam tiga dasa warsa terakhir, diantaranya peningkatan jenis dan cakupan layanan, peningkatan penyediaan reagen dan obat, serta bahan dan alat yang diperlukan. Meskipun demikian, masih dijumpai kesenjangan atau disparitas antar wilayah geografi, kelompok penduduk, dan tingkat sosial ekonomi. Disparitas ini utamanya terkait dengan 1) kapasitas pelayanan kesehatan, 2) jenis dan luasnya epidemi, serta 3) ketersediaan sumber daya.

Sementara itu, Millenium Development Goals (MDG) ditargetkan untuk dicapai pada tahun 2015 dan masyarakat dunia akan memulai upaya unyuk mencapai Sustainable Development Goals (SDG). Padahal, masih ada tugas yang masih harus kita selesaikan, yaitu: 1) upaya menekan laju infeksi baru HIV, 2) peningkatan pengetahuan komprehensif, 3) peningkatan penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko, serta 4) peningkatan akses pengobatan.

Selain itu, komitmen mewujudkan Getting To 3 Zeroes: Zero New HIV Infection, Zero Stigma and Discrimination dan Zero AIDS Related Death harus kita capai. Semoga dengan adanya Pokja dan Panli HIV-AIDS menjadikan rencana kerja lebih komprehensif dan pelibatan berbagai program dapat semakin terarah dan terkoordinasi, sehingga pencapaian 3 zeroes akan segera tercapai di Indonesia., tutur Menkes.

Sejak tahun 2007, telah dibentuk Kelompok Kerja Penanggulangan HIV-AIDS dan IMS, yang beranggotakan wakil dari masing-masing unit utama di lingkungan Kementerian Kesehatan RI yang berkaitan dengan Pengendalian HIV-AIDS dan IMS. Dengan adanya Pokja tersebut, diharapkan koordinasi, sinkronisasi dan harmonisasi dalam pelaksanaan upaya pengendalian HIV-AIDS dan IMS dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, sehingga respon terhadap epidemi HIV di jajaran kesehatan dapat berjalan secara optimal, efisien, terintegrasi dan terkoordinasi dan masyarakat yang memerlukan benar-benar mendapatkan manfaat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id

Sumber: http://www.depkes.go.id/article/view/14122200002/menkes-sampaikan-dua-upaya-penting-pengendalian-hiv-aids.html

“Autis Banget Sih!”, Kekinian Yang Tidak Pada Tempatnya

Author : TIM SEBAT-OT

Pic Source : https://www.solider.or.id

Istilah “kekinian” belakangan menjadi populer di berbagai kalangan manusia, tidak hanya remaja, tetapi juga dewasa. Tanpa disadari, istilah ini perlahan-lahan diterima dan melekat pada pribadi seseorang hanya karena sebagian besar orang menggunakan istilah tersebut. Namun ternyata, tidak semua orang yang disebut “kekinian” benar-benar tahu apa arti dari “kekinian” itu sendiri.

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kekinian” diartikan sebagai “keadaan kini”, “sekarang”, atau dalam makna luas dapat diartikan sebagai “hal-hal yang sedang tren, populer, booming di saat ini”.

Sejalan dengan keinginan manusia untuk mengupgrade diri sesuai dengan perkembangan zaman, tuntutan untuk terus beradaptasi semakin tinggi pula. Wajar saja, karena kemampuan beradaptasi terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar memang sangat diperlukan untuk tetap terus connect dengan perubahan-perubahan yang ada. Contoh nyatanya adalah penggunaan media sosial yang sedang marak-maraknya beberapa tahun terakhir ini. Penyandang label “kekinian” semakin terbantu dengan kehadiran media sosial yang semakin beragam, termasuk di dalamnya kebebasan dalam berbicara dan menyampaikan apa saja yang sedang mereka pikirkan.

Hal ini bukanlah hal negatif yang harus dihindari perkembangannya, namun bagi sebagian orang seringkali lupa menyaring informasi-informasi yang didapat dari lingkungan sekitar, sehingga muncullah penggunaan istilah yang tidak sesuai pada tempatnya.

Di era yang serba teknologi ini, hasil pemikiran seseorang dapat diketahui dengan mudah hanya dengan mengecek akun pribadinya dan voila! seluruh pengikutnya akan langsung tahu apa yang sedang dibicarakan orang tersebut. Termasuk salah satunya penggunaan kata “autis” untuk menggambarkan orang yang sedang keranjingan atau asyik chatting-an menggunakan handphone yang mungkin sudah sering kita dengar dalam percakapan bernada candaan.

Mirisnya, hal ini juga dilakukan oleh orang-orang yang lumayan berpengaruh atau yang biasa disebut “influencer” dimana para pengikutnya pastilah menjadikannya sebagai role model dalam bertutur kata maupun bersikap. Sehingga, bagi orang-orang berlabel “kekinian” tersebut akan langsung menangkap “autis” sebagai istilah “kekinian” baru yang dapat digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

So, here is the thing: jadilah “kekinian” pada tempatnya. Mengapa? Karena “autis” bukanlah suatu keadaan yang diinginkan, bukan pula sesuatu yang secara sengaja dipilih untuk dilakukan, seperti halnya orang-orang yang sedang sibuk bermain dengan handphone tadi.

“Autis” adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang ditandai oleh adanya gangguan komunikasi, gangguan interaksi sosial, dan adanya tingkah laku tertentu yang khas serta dilakukan secara berulang (Kaplan, 1993). Keadaan penyandang “autis” memang sering disebutkan seperti hidup di dunianya sendiri (Danuatmadja, 2003), namun pada kenyataannya tidak sesederhana itu.

Untuk memastikan apakah seseorang benar-benar “autis” atau tidak juga bukanlah hal yang dapat dengan mudah dilakukan. Ada serangkaian proses pemeriksaan oleh tenaga medis yang harus dilalui untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

Di samping itu, sebagai manusia “kekinian” yang aware dengan keadaan sekitar, sudah seharusnya kita belajar memilah dan menempatkan diri sebaik-baiknya agar “kekinian” yang melekat tidak dipandang negatif dan menyakiti hati orang lain yang mendengarkan.

Yang penting untuk diingat juga, banyak orangtua dari penyandang “autis”, berjuang tiada henti dengan segala daya dan upaya untuk membantu mereka agar tetap survive menjalani kehidupan setiap harinya. Maka, dapat dibayangkan betapa sedihnya mereka apabila kita menggunakan “autis” sebagai bahan candaan, kan?

Maka dari itu, yuk belajar menjadi orang yang “kekinian” pada tempatnya!

Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of   Mental Disorder  (5th ed.). Washington, DC: Author.

Baratawira, Stanley. (2011). Stop Menggunakan Kata Autis Sembarangan Memang Kenapa?. [Online]. Diakses dari https://www.kompasiana.com/stanleybrat/stop-menggunakan-kata-autis-sembarangan-memang-kenapa_550abb058133110478b1e216

Danuatmadja, B. (2003). Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara

Kaplan, dkk. (1993). Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara

Maslim, Rusdi. (2001). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III. Jakarta: PT Nuh Jaya

Hubungan Antara ADHD dengan Keterlambatan Bicara , Motorik, Gangguan Pemrosesan Sensori, serta Gangguan Tidur

Author : TIM SEBAT-OT

Pict : Pinterest.com

Attention Deficit Hyperactive Disorder adalah gangguan akfitas dan perhatian (hiperkinetik) merupakan gangguan psikiatrik yang cukup banyak ditemukan dengan gejala utama seperti hiperaktifitas dan impulsivitas yang tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak, remaja, atau dewasa. Beberapa remaja atau dewasa yang mengalami ADHD gejala hiperaktifitas dan impulsivitas cenderung menurun meskipun gejala inatensinya kadang masih tetap ada (sadock,2003 )

Menurut Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), banyak anak-anak dengan ADHD juga mengalami keterlambatan bicara, keterlambatan motor kasar dan halus, memiliki  masalah sensorik atau gangguan pemrosesan sensori. Nampaknya juga mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari, terutama ketika orang tua mencoba membawanya ke tempat tidur  (DSM-5, APA 2013)

Artikel :  Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Power Point : https://tinyurl.com/y82aknmz

 

Beda Junk Food dan Healthy Food Dari Label Nutrisi

Di masa lalu, makanan tak pernah dikelompokkan menjadi makanan sehat atau tidak. Orang menganggap semua makanan sama-sama menyumbang kesehatan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, makanan dan minuman kini semakin beragam. Untuk memenuhi selera masyarakat, produsen berlomba-lomba menciptakan makanan kemasan yang lebih praktis dan siap disajikan.

Sayangnya, inovasi tersebut tidak dibarangi dengan peningkatan mutu gizi dari makanan. Tak jarang di masa sekarang ini banyak makanan enak namun tak sehat. Agar bisa membedakan mana makanan sehat dan tak sehat dalam sebuah kemasan, perhatikan langkahnya berikut ini.

Baca label nutrisi

Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah membaca label nutrisi secara keseluruhan. Lihat secara seksama mulai dari label yang paling atas hingga label yang ada pada bagian bawah. Label-label ini akan membantu Anda menentukan jenis makanan yang sehat maupun tidak, sebelum Anda memutuskan untuk membelinya.

Perhatikan jumlah kalori

Selanjutnya, fokuskan pandangan Anda pada label kalori. Junk food biasanya memiliki takaran sajian kalori lebih besar daripada healthy food. Jumlah kalori yang besar tersebut banyak bersumber dari lemak. Beda halnya dengan healthy food, yang memiliki jumlah kalori dari lemak yang lebih rendah. Salah satu praktisi kesehatan Amerika, Ivy Morris, mengatakan konsumsi deal lemak per hari sekitar 65 gram. Hal ini didasarkan pada takaran standar diet 2.000 kalori.

Lihat kandungan lemaknya

Dalam label nutrisi, Anda akan menemukan daftar kandungan lemak tak sehat, baik lemak trans maupun lemak  jenuh (saturated). Junk food memiliki kandungan lemak tak sehat lebih tinggi. American Heart Association, menyebutkan bahwa konsumsi lemak trans sebaiknya tidak lebih dari satu persen dar total kalori pada lemak trans. Atau, kurang dari 2 gram jumlah lemak trans dengan takaran standar diet 2.000 kalori. Sementara itu, healthy food memiliki kandungan lemak trans lebih sedikit, bahkan tidak ada sama sekali.

Fokus pada kolesterol dan sodium

Indikasi lain suatu makanan termasuk junk food atau healthy food adalah lewat kandungan kolesterol dan sodiumnya. Menurut Ivy Morris, untuk takaran diet standar 2.000 kalori, Anda semestinya tidak mengonsumsi kolesterol lebih dari 300 mg dan sodium lebih dari 2.400 mg. Jika lebih dari itu, makanan tersebut bisa dikategorikan sebagai junk food.

Itu dia hal-hal yang perlu Anda perhatikan saat ingin menentukan suatu makanan termasuk junk food atau healthy food. Semoga berhasil, ya.

Source :

https://www.sahabatnestle.co.id/content/view/beda-junk-food-dan-healthy-food-dari-label-nutrisi.html

Pentingnya Bermain

Author : SEBAT-OT

Pict Source : https://id.pinterest.com

Abstrak :

Bermain adalah naluri untuk bertahan hidup. Setiap anak suka bermain. Bermain mencerminkan apa yang penting dalam kehidupan mereka. Dengan terlibat dalam negosiasi selama bermain, anak-anak membangun  koneksi di pusat kendali eksekutif otak yang membantu mengatur emosi, membuat rencana, dan memecahkan masalah.

Bermain sangat penting untuk perkembangan karena berkontribusi pada kesejahteraan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak-anak. Anak-anak saat ini kurang mendapat dukungan untuk bermain daripada generasi sebelumnya karena gaya hidup yang lebih tergesa-gesa, perubahan peran dalam keluarga, dan meningkatnya perhatian pada kegiatan akademis dan pengayaan dengan mengorbankan waktu istirahat maupun waktu bermain.

Download Articles : SEBAT-OT – PENTINGNYA BERMAIN

Menelisik Peran Okupasi Terapi dalam Health Literacy di Indonesia

Author : SEBAT – OT

Pict source : https://www.cdc.gov/phpr/infographics/healthliteracy.htm

Kami tertarik untuk membahas isu health literacy yang ramai diperbincangkan di dunia global namun masih sangat minim dalam kajian-kajian di Indonesia. Health literacy didefinisikan sebagai tingkatan dimana seseorang dapat mengakses, memahami, menilai dan mengkomunikasikan informasi yang terlibat dengan tuntutan kesehatan untuk mempromosikan dan memelihara kesehatan selama menjalani kehidupan (Kwan, 2006). Health literacy telah menjadi salah satu faktor penentu kesehatan dan menjadi isu kesehatan global.

Penelitian dari seluruh dunia telah dengan cepat memperdalam pemahaman akan optimalisasi potensi health literacy untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan (well-being), dan mengurangi ketidakadilan kesehatan (Nurjanah, Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia, 2014). Dalam majalah OTPractice edisi 25 Agustus 2008, American Occupational Therapy Association (AOTA) menyebutkan bahwa health literacy adalah kemampuan untuk mendapatkan, memproses, dan memahami informasi kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat (Costa, 2008).

Meski demikian, health literacy belum menjadi isu penting di negara kita. Tercatat hanya ada sedikit penelitian yang dilakukan di Indonesia terkait health literacy.

Survei yang dilakukan oleh Nurjanah tahun 2012-2014 dengan menggunakan 1029 responden menujukan masalah besar terkait health literacy di kota Semarang, dimana responden berada pada tingkat health literacy yang rendah (Inadequat 10.69%, problematic 53.06%, sufficient 38.29%, dan excellent 5.34%). Dimana sebagian besar faktor demografi dan sosial berkolerasi dengan tingkat health literacy di Semarang seperti faktor pendidikan, usia, pendapatan, status sosial, kehadiran dalam sosialisasi kesehatan. Selain itu disebutkan bahwa wanita memiliki health literacy yang lebih baik dari laki-laki (Nurjanah, Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia, 2014).

Peningkatan keterampilan melek health literacy dianggap penting karena begitu banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tergantung pada health literacy seperti kemampuan membaca dan memahami label resep, memahami perintah dokter, membaca brosur kesehatan yang mengedukasi dan menyediakan layanan kesehatan, memahami formulir persetujuan medis, mengetahui manfaat kesehatan terkait asuransi, serta memahami alur perawatan yang kompleks.

Sebagai praktisi okupasi terapi, penting bagi kita untuk memahami setiap keterampilan kompleks yang dibutuhkan dalam health literacy seperti membaca, mendengar, problem-solving serta kemampuan analisis untuk memahami dan menerapkan informasi kesehatan. Amerika membagi keterampilan health literacy kedalam empat tingkat : proficient, intermediate, basic, dan below basic. Tingkat ketermapilan profecient  berarti orang tersebut dapat memahami semua informasi teks dan informasi numerik yang disajikan dalam lingkungan perawatan kesehatan. Sekitar 12% dari populasi Amerika berada pada level ini.

Tingatan kedua yaitu intermediate menunjukan bahwa orang tersebut dapat membaca sebagian teks dan informasi numerik di tempat perawatan kesehatan, namun mungkin mengalami kesulitan terhadap teks yang rumit dan dokumen yang padat. Mayoritas 53% dari orang dewasa Amerika memiliki kemampuan helath literacy pada tahap ini. Tingkatan ketiga adalah basic, menunjukan bahwa orang tersebut dapat membaca beberapa informasi kesehatan dalam pamflet pendek, namun tidak dapat memahami sebagian besar handout. Pengisian kuisioner mungkin menjadi masalah tersendiri. Sekitar 21% populasi memiliki kemampuan pada tingkat ini.

Orang-orang dalam katagori terakhir, below basic, dapat mengidentifikasi tanggal pada medical appointment atau dalam kartu medis, mereka akan kesulitan dalam pengisian asuransi kesehatan, sulit memahami kebutuhan akan tes kesehatan terkait gejala yang muncul. Sekitar 14% populasi Amerika berada di level ini (Costa, 2008).

Terdapat implikasi lain dari rendahnya angka health literacy, khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan outcome dibidang kesehatan. Sebagai contoh, orang yang mengidap asma mungkin tidak mengerti petunjuk tentang cara menggunakan inhaler, orang dengan diabetes mungkin tidak bisa mengenali gejala hipoglikemia, atau orang-orang yang memiliki hipertensi mungkin tidak memahami hubungan antara diet, olah raga dengan kesehatan. Individu dengan tingkat health literacy yang rendah cenderung kurang mendapat akses untuk perawatan rutin anak-anak mereka, dan kurang pemahaman dalam hal menyusui bayi, memiliki tingkat rawat inap yang tinggi, dan jarang menggunakna layanan pencegahan daripada mereka yang memiliki tingkat health literacy yang tinggi (Weiss, 2007).

Tanggapan lain datang dari Canadian Association of Occupational Therapist (CAOT) “CAOT menyadari dampak utama dari rendahnya health literacy pada warga Canada, khususnya pada orang dewasa dan manula. Kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menerapkan informasi tertulis dan lisan diperlukan bagi klien untuk menyelesaikan tugas sehari-hari dan mempertahankan kemandirian” (Costa, 2008). CAOT memberikan rekomendasi untuk menekan rendahnya tingkat helath literacy dan mebantu para okupasi terapis di Amerika, diantaranya sebagai berikut:

  1. Okupasi terapis memahami konsep melek health literacy dan dampaknya terhadap informasi kesehatan masyarakat
  2. Okupasi terapis menggunakan strategi komunikasi yang efektif untuk memungkinkan pemahaman dan akses klien terhadap informasi kesehatan
  3. Okupasi terapis berkontibusi terhadap inisiasi transfer pengetahuan untuk memfasilitasi akses klien terhadap informasi kesehatan yang akurat dan relevan secara privadi dan mendukung penggunaannya dalam aktivitas dan peran sehari-hari.
  4. Okupasi terapis bekerja dengan tim interprofesi mengenai cara meningkatkan partisipasi klien dalam pengambilan keputusan bersama (CAOT, 2013) .
  5. Berpartisipasi dalam berbagai kesempatan penelitian dan pengembangan program melek helath literacy, bekerjasama dengan pemangku kepentingn, pembuat kebijakan, dan para peneliti.

Lantas bagaimana peran okupasi terapi di Indonesia untuk mengenalkan pentingnya pendekatan health literacy dalam rangka mencapai kesejahteraan pasien baik dalam bidang pediatri, geriatri, dan psikososial?

Works Cited

CAOT, T. C. (2013). CAOT Position Statement Enabling Health Literacy in Occupational Therapy. Canada: Advancing excellence in occupational therapy.

Costa, D. M. (2008). Facilitating Health Literacy. USA: The American Occupational Therapy Association, In.

Kwan, B. F. (2006). The development and validation of measures of “health literacy” in different populations. University of British Columbia Institute of Health Promotion Research & University of Victoria Centre for Community Health Promotion Research.

Nurjanah, E. R. (2014). Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia. The Second International Conference of Health Literacy and Health Promotion. Taipei, Taiwan: A.H.L.A Asian Health Literacy Association.

Nurjanah, E. R. (2014). Demography and Social Determinants of Health Literacy in Semarang City Indonesia. The Second International Conference of Health Literacy and Health Promotion. Taipei, Taiwan: A.H.L.A, Asian Health Literacy Association.

Weiss, B. D. (2007). Health Literacy and Patient Safety: Help Patients Understand: Manual for Clinicans. Chicago, USA: American Medical Association Foundation and American Medical Association.

 

Sensory Processing Disorder

Author : SEBAT – OT

Pict Source : https://www.freshtilledsoil.com/sensory/

Sensory processing adalah istilah yang menggambarkan bagaimana sistem saraf menerima pesan dari indera, dan mengubahnya menjadi respons motor dan perilaku yang tepat (Sensory processing disorder foundation, 2014).

Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi dimana sinyal sensorik tidak diatur sesuai respons yang tepat  (Sensory processing disorder foundation, 2014).

1. Diagnosa Sensory Processing Disorder

Evaluasi seorang Okupasi Terapis dalam melakukan diagnosa gangguan SPD meliputi : evaluasi  pengelihatan (vision), pendengaran (auditory), pengecap (gustatory), tactile, olfactory, proprioception, dan vestibular (Lonkar & Heather, 2014).

A. Sensory Modulation Disorder

Sensory Modulation Disorder (SMD) menurut (Miller, 2006) merupakan masalah kronis dan berat yang mengubah informasi sensorik menjadi perilaku yang sesuai dengan sifat dan intensitas pesan . Seperti yang Miller jelaskan, anak-anak dengan SMD mungkin terlalu responsif (over-respon), atau kurang merespons (under respon) terhadap rangsangan di lingkungan.

B. Sensory Over-Responsivity

Sensory over responsivity (SOR) atau sensory defensiveness, mengacu pada saat seorang anak merespons pesan sensorik lebih intens, lebih cepat, dan / atau dalam waktu yang lebih lama daripada anak dengan responsivitas sensorik normal (Miller, 2006).

Beberapa gejalan umum pada anak dengan Sensory Over Responsivity (Miller, 2006):

  • Intoleransi tekstur (pakaian wol, bulu binatang, selimut bertekstur)
  • Intoleransi lumpur atau lem pada tangan
  • Tekstur makanan
  • Senang bermain ayunan
  • Lampu terang atau sinar matahari
  • Tidak mudah bernafas, rewel, murung
  • Sering menghindari aktivitas kelompok dan mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan
  • Kesal karena transisi dan perubahan yang tak terduga

C. Sensory Under Responsivity

Anak-anak dengan Sensory Under Responsivity kurang respons terhadap informasi sensorik daripada dan biasanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk bereaksi dan / atau memerlukan pesan sensoris yang relatif intens atau tahan lama sebelum mereka akhirnya dapat merespon stimulus tersebut  (Miller, 2006).

Beberapa prilaku umum pada anak dengan Sensory Over Responsivity (Miller, 2006) :

  • Tidak merespon saat di sentuh oranglain
  • Tidak menyadari dan membutuhkan aktifitas seperti toileting
  • Pasif, tenang
  • Mudah tersesat di dunia fantasinya sendiri
  • Apatis dan mudah lelah
  • Lambat menyelesaikan tugas

D. Sensory Craving

Sensory Craving mengacu pada saat seorang anak tidak bisa mendapatkan sensasi yang cukup di lingkungan mereka. Anak akan cenderung memiliki keinginan yang kurang memuaskan pada pengalaman indrawi dan secara aktif mencari sensasi,  seringkali dengan cara yang tidak dapat diterima secara sosial (Miller, 2006).

Beberapa prilaku umum pada anak dengan Sensory Craving (Miller, 2006) :

  • Risiko berlebihan saat bermain; memanjat tinggi ke pohon, melompat dari tempat tinggi
  • Suka memainkan musik dan televisi dengan volume sangat tinggi
  • Sering menjilat, mengunyah makanan non-makanan seperti rambut, pensil, pakaian
  • Marah atau saat mereka diminta duduk diam atau menghentikan apa yang sedang mereka lakukan
  • Sulit untuk tenang

2. Sensory Based Motor Disfunction

Sensory-Based Motor Disorder (SBMD),  menggambarkan disfungsi yang terjadi ketika indra proprioseptif dan vestibular yang memungkinkan tubuh kita bergerak dan merasakan posisi tubuh kita terganggu (Miller, 2006)

Anak-anak dengan SBMD mengalami masalah dengan menstabilkan, memindahkan, atau melakukan gerakan (Miller, 2006). SBMD dikategorikan dalam dua subtipe, Dispraksia dan Disorder Postural.

A. Dispraksia

Anak-anak dengan dyspraxia mengalami kesulitan menerjemahkan informasi sensorik ke gerakan fisik, gerakan asing, atau gerakan dengan banyak langkah,  (Miller, 2006). Gejala dyspraxia dapat terlihat dari keterampilan motorik anak-anak, kemampuan motorik halus (gerakan kecil jari dan tangan), atau kemampuan motorik oral (gerakan mulut), atau kombinasi dari hal-hal ini.

Seorang anak dengan dispraxia motorik halus, mulai menunjukkan gejala sekitar usia sekitar dua belas bulan. Tanda-tanda dapat terlihat meliputi kesulitan meraih mainan, atau memegang / melepaskan benda-benda kecil.

B. Postural Control

Subtipe kedua SBMD adalah gangguan postural, yang merupakan ketidakmampuan seorang anak untuk mempertahankan fleksi otot fleksi / ekstensi yang dibutuhkan untuk aktivitas tertentu.

Gejala umum dan perilaku gangguan postural tercantum di bawah ini menurut (Miller, 2006)B.

  • Kelemahan otot
  • Memiliki keseimbangan yang buruk dan mudah jatuh, bahkan saat duduk.
  • Kurangnya motivasi
  • Lelah dan sering bosan
  • Kesulitan memegang mainan/objek

 

3. Sensory Discrimination Disorder

Sensory Discrimination Disorder (SDD adalah kemampuan untuk menafsirkan dan membedakan pesan dalam indra (Miller, 2006).

Anak-anak dengan SDD sering membutuhkan waktu ekstra untuk memproses informasi sensorik karena mereka sulit mengetahui apa yang mereka anggap cepat dan alami seperti yang dilakukan anak-anak lain (Miller, 2006)

Prilaku yang ditunjukan anak dengan SDD menurut (Miller, 2006)

  • Membedakan dengan tepat apa yang menyentuh mereka
  • Mengidentifikasi dan membedakan antara suara yang berbeda
  • Kesulitan mengikuti petunjuk
  • Pengulangan instruksi untuk memahami sesuatu

Pustaka

Lonkar, & Heather. (2014). An Overview of Sensory Processing Disorde. Honors Theses. Paper 2444.

Miller. (2006). Sensational kids: Hope and help for children with sensory processing disorder. New York: the Penguin Group.

Sensory processing disorder foundation . (2014, January 24). Retrieved from http:// www.spdfoundation.net/index.htm

 

Post-disease Hand Recovery Training

Author : SEBAT – OT

Pict Source : http://globe-views.com/dreams/hands.html

Beberapa penelitian mejelaskan penanganan yang dapat dilakukan Okupasi Terapis dan disiplin ilmu terkait dalam memberikan terapi untuk memperbaiki kemampuan tangan dalam melakukan aktifitas :

Bone, Joint, and General Hand Disorders

  1. Hand Exercise untuk Rheumatoid Artritis

       Kebanyakan orang dengan rheumatoid arthritis memiliki kerusakan pada sendi tangan dan pergelangan tangan (Harris, 1997). Pembengkakan pada sendi dan artrofi otot pada akhirnya dapat menyebabkan kelainan bentuk dan gangguan fungsi tangan. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa adanya penurunan pada kekuatan grip, range of motion, dan fungsi tangan pada orang dengan rheumatoid arthritis (Dellhag, Grennan DM, & Palmer DG, 1980; Dellhag & Hosseini N, 2001).

           Gangguan seperti kelainan bentuk (malformitas) dan berkurangnya kekuatan grip disertai penurunan rentang gerak yang akhirnya berkorelasi dengan semakin buruknya fungsi tangan / ketangkasan (Jean, 2004).

       Menurut penelitian (Schaufler, Sverdlik SS, Baker A, & Krewer SE, 1978) dengan jumlah sample penelitian sebanyak 18 pasien RA yang memiliki defisit pada tangan. Penggunaan intervensi berupa ROM exercise dan isometric strengthening exercises yang dilakukan setiap hari dalam tempo 4 bulan menunjukan adanya peningkatan pada grip strength, pinch strength, ROM,  dan task performance.

           Menurut penelitian Hoening, dengan jumlah sample penelitian sebanyak 57 pasien dengan gangguan RA yang memiliki defisit pada tangan. Penggunaan intervensi yang dilakukan dalam 3 experimental group ; (1) E1 = pemberian ROM exercise,  (2) E2 = strengthening , (3) E3 = ROM exercise dan strengthening dan satu kontrol grup yang tidak diberi penanganan, penelitian dilakukan  dalam jangka waktu 3 bulan menunjukan adanya peningkatan grip strength, ROM MCP dan PIP, ulnar deviation, deformities, ketangkasan tangan dan penurunan kekakuan dan nyeri pada sendi menggunakan intervensi ROM exercise dan strengthening dalam periode waktu tertentu, penggunaan intervensi pada E1 dengan ROM exercise ternyata tidak menyebabkan perubahan yang signifikan pada hasil outcomes penelitian.

      Menurut penelitian (Brighton, Lubbe JE, & van der Merwe, 1993) dengan jumlah sample penelitian sebanyak 55 pasien diagnosa RA selama 1 tahun,  usia 27-59 tanpa deformitas yang parah.  Penggunaan intervensi yang dilakukan dalam periode waktu 4 tahun, menujukan bahwa experimental group yang diberi penanganan berupa exercise selama 6 hari mengakibatkan peningkatan pada grip/pinch strength ROM MCP dan PIP dibanding kelompok kontrol yang tidak diberikan penanganan.

     Menurut penelitian (Dellhag B & Bjelle A, 1999), dengan jumlah sample penlitian sebanyak 52 pasien dengan diagnosa RA. Penggunaan intervensi yang dibagi kedalam 3 experimental group ; (1) E1 = ROM exercise dan resisted grip, (2) E2 = wax bath, (3) E3 = waxbath dan exercise,  serta kontrol grup yang tidak diberikan penanganan, latihan dilakukan selama 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu menunjukan bahwa penggunaan intervensi E1 (ROM exercise dan resisted grip ) dan E3 (wax bath dan exercise) meningkatkan  ROM, menurunkan nyeri, meringankan kekakuan, dan memperkuat kemampuan grip, sementara penggunaan ROM ex dan resisted grip pada E1 tidak memberikan dampak signifikan pada peningkatan outcomes penelitian.

Peripheral Nerve Disorders

  1. Hand Exercise untuk Carpal Tunnel Syndrome

       Pengobatan CTS meluputi berbagai pilihan pengobatan konservatif meliputi splinting, latihan spesifik, terapi parafin, dan ultrasound. Dari perawatan konservatif ini, latihan tendon dan nerve gliding sangat populer, dan telah digunakan sejak tahun 1990 dalam pengelolaan (Baysal, 2006).

           Intervensi Carpal Tunnel Syndrome dapat dilakukan dengan cara neural gliding exercises sebagai latihan alternatif lain dalam rangkaian latihan komperhensif (Medina McKeon, 2008).

          Menurut penelitian (Horng, 2014), dengan jumlah sample sebanyak 53 dengan gangguan CTS, dilakukan intervensi terhadap 3 kelompok dalam waktu 2 bulan ; (1) paraffin therapy, splint, tendon gliding exercise, (2) paraffin therapy, splint, nerve gliding exercise, (3) paraffin therapy, splint. Didapatkan peningkatan pada uji instrument/outcomes untuk kelompok satu diantaranya SSS: symptom severity scale; FSS: functional status scale; DASH: Disability of the Arm, Shoulder, and Hand questionnaire; WHOQOL-BREF: World Health Organization Quality of Life questionnaire, kelompok 2 dan 3 tidak memperoleh peningkatan pada outcomes instrumen FSS: functional status scale, DASH: Disability of the Arm, Shoulder, and Hand questionnaire.

Tendon Disorders

  1. Tendon Transfer

          Pasien yang mendapat intervensi berupa melakukan gerakan aktif menunjukkan kekuatan dan ROM yang lebih baik pada 3-4 bulan kedepan dibandingkan peserta dalam kondisi imobilisasi  (Sultana, MacDermid, J. C., Grewal, & R., & Rath, S, 2013)

      2. Ekstensor Tendon Injury

          Pasien yang melakukan gerakan jari secara aktif dalam 5 hari setelah operasi, dalam waktu 3 minggu pertama setelah operasi, memiliki peningkatan terbesar dalam perkembangan tangan fungsional pada 12 minggu. dibandingkan dengan pasien yang menerima gerakan pasif awal atau yang tangannya sepenuhnya diimobilisasi selama 3 minggu pertama (Hall, 2010)

          Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa melakukan gerakan awal selama 4 minggu pertama setelah operasi, menggunakan splint gerak relatif (modified relative motion splint) menghasilkan peningkatan gerak aktif total secara signifikan pada 6 minggu (Hirth, Bennett, Farrow, & Cavallo, 2011).

 

Daftar Pustaka

Baysal. (2006). Comparison of three conservative treatment protocols in carpal tunnel syndrome. Int J Clin Pract, 2006, 60: 820–828. .

Brighton, Lubbe JE, & van der Merwe. (1993). The effect of a long-term exercise programme on the rheumatoid hand. Br J Rheumatol. 1993;32:392–5.

Dellhag B, & Bjelle A. (1999). A five-year followup of hand function and activities of daily living in rheumatoid arthritis patients. Arthritis Care Res. 1999;12:33–41.

Dellhag, & Hosseini N. (2001). Disturbed grip function in women with rheumatoid arthritis, J Rheumatol.2001;28:2624–33.

Dellhag, Grennan DM, & Palmer DG. (1980). Hand grip function in patients with rheumatoid arthritis, Arch Phys Med Rehabil 1980;61:369–72.

Hall. (2010). Comparing three postoperative treatment protocols for extensor tendon repair in Zones V and VI of the hand. American Journal of Occupational Therapy. 64, 682–688. https:/doi.org/10.5014/ajot.2010.09091.

Harris. (1997). Clinical features of rheumatoid arthritis In: Kelley WN, Harris ED, Ruddy S (eds). . Philadelphia: Textbook of Rheumatology. 5th ed. Philadelphia: WB Saunders, 1997:898–932.

Hirth, Bennett, Farrow, & Cavallo. (2011). Early return towork and improved range of motion with modified relative motion splinting: A retrospective comparison with immobilization splinting for Zones V and VI extensor tendon repairs. Hand and Therapy, 16, 86–94. https:/doi. org/10.1258/ht.2011.011012.

Horng. (2014). Ultrasonographic median nerve changes under tendon gliding exercise in patients with carpal tunnel syndrome and healthy controls. J Hand Ther, 2014, 27: 317–323, quiz 324.

  1. W. (2004). The Effectiveness of Hand Exercises for Persons with Rheumatoid Arthritis. J HAND THER. 2004;17:174–180.

Medina McKeon. (2008). Neural gliding techniques for the treatment of carpal tunnel syndrome: A systematic review. ournal of Sport Rehabilitation, 17, 324–341.

Schaufler, Sverdlik SS, Baker A, & Krewer SE. (1978). Hand gym for patients with arthritic hand disabilities: preliminary report. Arch Phys Med Rehabil. 1978;59:221–6.

Sultana, MacDermid, J. C., Grewal, & R., & Rath, S. (2013). he effectiveness of early mobilization after tendon transfers in the hand: A systematic review. Journal of Hand Therapy,. 26, 1–21. https:/doi.org/10.1016/j.jht.2012. 06.006.