Advokasi Pekerja Dengan Kondisi Disabilitas Masih Kurang

Lebih dari satu miliar orang (atau sekitar 15% dari populasi dunia) diperkirakan hidup dengan disabilitas dan setidaknya 15% penduduk Indonesia hidup dengan disabilitas (World Health Organization, 2011). Diantara sekian banyak hambatan yang dimiliki penyandang disabilitas terhadap akses publik, orang dewasa dengan disabilitas juga tidak mendapatkan kesempatan bekerja yang sama dengan orang non-disabilitas (Sri & Irwanto, 2014).

Kenyataan bahwa orang dengan disabilitas tetap memiliki tanggungan untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kehidupan yang lebih baik merupakan isu yang terus dikaji oleh banyak negara sehingga menghasilkan ketentuan atau perundang – undangan tertentu yang dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dan memberikan kesempatan kepada orang disabilitas untuk bekerja tidak terkecuali di Indonesia.

UU No. 4 Tahun 1997 pasal 6 menyatakan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh ”pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya”. Sedangkan pasal 14 mewajibkan perusahaan swasta dan pemerintah untuk mempekerjakan penyandang cacat (Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2016)

Namun faktanya sebanyak 25,6% orang dengan disabilitas memperoleh pekerjaan dan 74,4% lainnya tidak bekerja. Hal ini menunjukan bahwa ada masalah yang terjadi sehingga daya serap pekerja untuk masuk kedalam perusahaan milik negara / swasta belum berjalan baik, dan persepsi mengenai orang dengan disabilitas masih dianggap dari sisi negatif oleh kebanyakan perusahaan.

Marginalisasi terhadap pekerja dengan kondisi disabilitas mengakibatkan banyaknya perusahaan yang enggan menerima pekerja dengan kondisi disabilitas sebagai kandidat calon pekerja. Belum lagi stigma yang terjadi dalam lingkungan kerja dapat menurunkan harga diri dan berdampak pada psikologis pekerja.

Advokasi berbagai lembaga non – pemerintahan seperti LSM Saujana melalui kerjabilitas.com dan organisasi SIGAB Indonesia mungkin dapat menjadi contoh bagaimana beratnya melakukan advokasi penyediaan layanan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Kemudian apakah OT mampu terlibat dalam permasalahan ini?

Advokasi penyandang disabilitas di tempat kerja dapat dilakukan oleh seorang Okupasi Terapis, memediasi pekerja dan penanggung jawab perusahaan untuk meminimalisir stigma dan menyediakan tempat yang ergonomis sehingga kemampuan penyandang disabilitas dapat digunakan secara optimal.

“Occupational therapy practitioners promote success in the workplace by improving the fit between the person, the job tasks, and the environment. They work with employers and employees to adapt or modify the environment or task, facilitate successful return to work after illness or injury, and help prevent illness or injury to promote participation, health, productivity, and satisfaction in the workplace” (American Occupational Therapy)

Bagiamana? Tertarik mengembangkan Okupasi Terapi ke area kerja yang lebih luas? Atau Okupasi Terapis di Indonesia masih sibuk bergelut di area kerja yang cenderung imitatif? Mari sama – sama berbenah untuk Okupasi Terapis Indonesia.

Branding & Standar Mutu Shopping therapy

Kira-kira Apa sih sejatinya kepuasan klien/pasien? Hal yang begitu subjektif bukan ? Setiap  orang punya standarnya sendiri-sendiri soal kepuasan . Tapi tentu hampir semua sepakat bahwa setiap orang akan merasa puas saat mereka  dilayani dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu  pada artikel ini kita akan sedikit membahas bagaimana keterikatan antara fenomena shopping therapy dengan derajat atau indikator kepuasan klien/pasien. Informasi ini dapat menjadi arahan untuk pelayan kesehatan yang lain, tentang betapa kompleksnya indikator kepuasan klien pada layanan kesehatan/terapi. Karna faktanya 5 S (senyum, santun, sapa , salam , sopan) pun tetap tidak selalu menjadi jawaban kebutuhan atas fenomena shopping therapy.

Apa sih sejatinya  kepuasan klien/pasien? Kepuasan menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah puas; merasa senang; perihal (hal yang bersifat puas, kesenangan, kelegaan dan sebagainya). Menurut Oliver (dalam Supranto, 2001) mendefinisikan kepuasan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.

Setidaknya adanya tiga macam kondisi kepuasan yang bisa dirasakan oleh konsumen/klien/pasien, yaitu bertitik tolak pada  perbandingan antara harapan dan kenyataan  hal tersebut digolongkan menjadi : (1) Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan sangat kecewa. (2) Bila kinerja sesuai harapan, maka pelanggan akan puas. Sedangkan (3) bila kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan sangat puas, karena sejatinya harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi dari berbagai media. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan tersebut (Indarjati (2001)

Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kepuasan konsumen pada umumnya dan khususnya  pasien/klien kesehatan?  Menurut Tjiptono (1997) kepuasan pasien ditentukan oleh beberapa faktor antara lain, yaitu : 1) Kinerja (performance), 2)  Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), 3) Keandalan (reliability), 4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification) ,5) Daya tahan (durability), 6) Service ability, meliputi kecepatan, kompetensi, serta penanganan keluhan yang memuaskan, 7) Estetika, 8) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)  contohnya citra dan reputasi rumah sakit serta tanggung jawab rumah sakit atau bagaimana kesan yang diterima pasien terhadap rumah sakit tersebut terhadap prestasi dan keunggulan rumah sakit daripada rumah sakit lainnya. 9) Karakteristik produk, 10) Harga ,  11) Pelayanan   12) Lokasi  13) Fasilitas , 14) Image/reputasi , 15) Desain visual , 16) Suasana , 17) Komunikasi .

Dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pada pasien tidak melulu soal 5 S (senyum , sapa, salam, sopan , santun) , tidak melulu hanya  soal fitur/konten layanan,  lebih dari itu ternyata  branding dan reputasi, baik secara personal maupun instansi juga merupakan hal yang penting, karena kepuasan juga salah-satunya di ukur berdasarkan kualitas yang dipersepsikan klien dalam layanan/jasa  (perceived quality), maka tentu hal ini juga penting utuk di perhatikan, untuk semakin dapat meningkatkan mutu layanan .

Reputasi/branding, dan harga layanan merupakan hal lain yang juga di ilhami sebagai standar kepuasan klien.  Klien shopper cenderung  merepresentasikan sebuah layanan jasa, mendekati  prespektif  “price don’t lie” dalam hunting product /membeli produk di perbelanjaan.

Walaupun  sejatinya ini hanya lah kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) . namun  hal ini  membentuk persepsi klien,  tidak  jarang  persepsi akan membentuk sebuah rasa kepuasan dan kepercayaan (trust). Atau sebaliknya justru persepsi juga dapat menciptakan kehawatiran, ketidakpercayaan dan sebagainya.

Petugas kesehatan tidak hanya bertanggung jawab mengedukasi klien, atau merepresentasikan kualitas sesuai dengan job deskripsi dan tuntutan dari corporasi yang menaunginya. Lebih dari itu , penting juga untuk membangun personal branding dan comunity branding membangun citra dan suasana yang positif demi mewujudkan kenyamanan dan kepuasan klien .

Beberapa cara sederhana  yang mungkin dapat dilakukan untuk membangun personal branding (reputasi personal).  

Berinteraksi dengan  klien adalah tidak melulu banyak bicara dan menjalin keakraban cerita kesana-kemari, namun kamu juga harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang baik (evidence based practice), lalu pendekatan emosi dengan klien, memberikan empati, memberikan perhatian , support, menjembatani solusi dari permasalahan , teman berdiskusi, memberi hadiah dan  kejutan-kejuan yang membangkitkan semangat dan perasaan klien/ pasien.

Memberikan tone/nada suara yang tepat , memperhatikan  estentika dan penampilan, tata ruang, penggunaan tools assesment dan treatment yang berkualitas, mendesain suasana klinik yang nyaman, bagus, aman & nyaman, menampilkan  mimik wajah yang menyenangkan saat bekerja, menangani dan melayani dengan profesional dan berkualitas , menghargai privasi, serta memberikan data laporan yang jujur dan measurable , merupakan aspek lain dari komunikasi (non verbal) yang kadang pada sebagian tenaga profesional di kesampingkan.

Karena Okupasi terapis haruslah memahami bahwa memanusiakan seorang individu dalah hal yang penting dalam sebuah pelayanan.

“There is always something about how to Humanize  other people”.

Jika  kamu punya pendapat lain seputar shopping therapy atau argumen yang unik. Kamu bisa sharing di link berikut ini , respon terbaik akan di hubungi dan berhak mendapatkan reward yang menarik. https://goo.gl/6pc39G

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 🙂

Daftar pustaka

Budiastuti . 2002 “Kepuasan pasien terhadap pelayanan Rumah Sakit”

Fandy Tjiptono, 1997, Strategi Pemasaran, Edisi 1, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Fandy Tjiptono, 2004, Strategi Pemasaran, Edisi 2, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Grififth dalam buku the well managed Community Hospital (1987)

Indarjanti, A., 2001. Kepuasan Konsumen Pranata  No. 1 Th IV.

Johanes Supranto, 2001, Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan, Jakarta : Rineka Cipta

Sentralisasi Pelayanan Okupasi Terapi : Nusantara Bukan Hanya Ibukota

Mengutip artikel yang dimuat solider.id saat mendapatkan kesempatan melakukan perbincangan dengan Tri Budi Santoso Phd,OT selaku Ketua Ikatan Okupasi Indonesia mengatakan bahwa jumlah sumber daya manusia yang kompeten di bidang Okupasi Terapis di Indonesia masih sangat kurang dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan lebih banyak memberikan pelayanan di pulau Jawa. Sementara penyandang disabilitas yang berada di luar pulau Jawa dan wilayah kepulauan yang kecil-kecil di seluruh pelosok Indonesia belum mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan tidak ada.

Jumlah Okupasi Terapis (OT) profesi kesehatan yang memberikan terapi anak untuk dapat hidup lebih mandiri dalam aktivitas kesehariannya pada tahun 2012 berjumlah sekitar 980 yang artinya setiap 10.000 orang hanya dilayani 0.04 OT (www.wfot.org).

Hingga kini, pada tahun 2017 meskipun jumlah Okupasi Terapis kian meningkat kenyataannya masih belum dapat menjangkau wilayah kepulauan Indonesia secara keseluruhan atau minimal dalam setiap provinsi menyediakan rumah sakit yang memiliki penanganan Okupasi Terapis yang dapat bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas.

Untitled.jpg

(Sumber : ioti.or.id)

Berdasarkan data yang dimiliki, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri mengatakan bahwa jumlah warga negara yang mengalami disabilitas kurang lebih berjumlah 26 juta jiwa (detikfinance,com). Data ini diperkuat oleh Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah  yang menjelaskan bahwa tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (Republika.co.id)

Melihat kondisi tenaga medis Okupasi Terapis yang tersentralisasi di Pulau Jawa khususnya Ibukota dan sekitarnya mengindikasikan adanya faktor yang membuat tenaga kerja profesional Okupasi Terapis belum berani mengambil kesempatan untuk menyentuh harapan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan di bagian timur hingga barat kepulauan Nusantara. Kebutuhan finansial dan jarak menurut saya merupakan faktor yang dianggap paling kuat untuk membuktikan bahwa sumber daya Okupasi Terapis di Indonesia masih berorientasi pada pendapatan dan kenyamanan bekerja. Tentu hal tersebut merupakan sebuah kewajaran, namun demikian jika pandangan tersebut dibiarkan teralalu larut, profesi ini tidak akan pernah dimengerti oleh masyarakat luas bahkan tenaga medis lainnya, apabila sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Okupasi Terapis belum mampu merubah pandangan terhadap kenyataan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas di Nusantara dapat dimaksimalkan dengan keterampilan yang dimiliki Okupasi Terapis dan apa yang dinamakan Nusantara itu terbentang dari sabang hingga merauke, tidak hanya di pulau Jawa.

Fakta yang cukup menarik saya temukan dalam riset yang dilakukan katadata.com dimana penyandang disabilitas di Ibukota pada tahun 2015 berjumlah 6.003 jiwa dan jika dibandingkan dengan data keseluruhan yang dijelaskan Menaker hanya bagian kecil dari kesuluruhan penyandang disabilitaas yang mencapai 21 juta jiwa. Perguruan tinggi yang setiap tahunnya menyediakan lulusan terbaik dari dari program studi Okupasi Terapi menurut pandangan saya belum memberikan jaminan lulusannya akan bekerja ke daerah – daerah yang belum mendapatkan pelayanan Okupasi Terapis, rata- rata klise, mereka akan lebih banyak menawarkan keterampilan Okupasi Terapi di klinik atau rumah sakit sekitar Jabodetabek , Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Data.png

i.png

(Sumber : Pusat Informasi dan Data Kemenkes. Situasi Penyandang Disabilitas)

Kurangnya penyedia pelayanan Okupasi Terapi di Indonesia tidak luput dari letak geografis yang terdiri dari ribuan pulau, maka dari itu tidak bisa disamakan dengan Singapura yang secara letak geografis tidak seluas Indonesia.

Namun saya berharap bahwa kedepannya tenaga kerja Okupasi Terapis khsusunya cendikiawan yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi mulai memupuk kesadaran dan keberanian untuk menyebarluaskan, memanfaatkan, dan mengulurkan bantuan kepada penyandang disabilitas di Nusantara, walaupun saya menyadari bahwa adanya keterbatasan informasi mengenai area kerja Okupasi Terapi di daerah yang masih belum dimengerti oleh tenaga medis merupakan salah satu faktor terhambatnya pelayanan Okupasi Terapi. Namun demikian bukan berarti kita harus pesimis, justru kita harus mencontoh dari beberapa rekan yang akhirnya dapat menempatkan pelayanan Okupasi Terapi di beberapa daerah di Indonesia, sebut saja Aceh, Papua, Mando, Nusa Tenggara Barat yang saya rasa butuh ketekunan dan perjuangan yang gigih sehingga pada akhirnya dapat diterima sebagai tenaga medis Okupasi Terapi.

Instrument Pemeriksaan Okupasi Terapi : Reliabilitas dan Validitas

Journal Source : Heale R, Twycross A. 2015. Validity and realibility in qualitative research. Evide Based Nurse. Vol 18 ; 3.

Picture on Articles Source : http://www.rehabmeasures.orgotpotential.com

Edited by : Sebat – OT

Teman – teman pasti sudah tidak asing dengan beberapa pemeriksaan (instrument) yang digunakan untuk melakukan sebuah assesment pada seorang klien, sebut saja FIM (Functional Independence Measure) untuk mengukur level kemandirian pasien dalam aktifitas kehidupan sehari- hari, MMT ( Manual Muscel Testing ), COPM (Canadian Occupational Performance Measurement), atau Barthel Index.

Beberapa instrumen yang sudah tidak asing bagi seorang praktisi Okupasi Terapis dan masih digunakan hingga sekarang dikhususkan untuk mengevaluasi variabel yang hendak diamati, sebut saja jika rekan-rekan menggunakan Barthel Index atau FIM berarti variabel yang akan diamati tentu saja tingkat kemandirian bukan?

Namun apakah rekan-rekan sudah mengerti istilah Reliabilitas dan Validitas instrumen? Ternyata tidak semua instrumen dalam penelitian yang bersifat Kuantitatif dapat dipakai untuk menguji hasil temuan yang diinginkan. Pemilihan instrumen yang tepat yang memiliki nilai uji Realibilitas dan Validitas yang baik dan merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan sebuah penelitian Kuantitatif maupun melakukan sebuah pemeriksaan pada pasien sehingga mendapatkan hasil yang akurat dan memiliki dasar teori yang kuat.

Nah apakah FIM, MMT, Barthel Index memiliki keriteria dan syarat yang baik untuk digunakan dalam sebuah penelitian atau pemeriksaan berkala? Baik, kita akan ulas dahulu pengertian dari Realibilitas dan Validitas sebelum mengkritisi instrumen tersebut.

A. Validitas (Validity)

Validitas didefinisikan sebagai sejauh mana sebuah konsep diukur secara akurat dalam sebuah studi kuantitatif. Misalnya, sebuah instrumen dirancang untuk mengeksplorasi depresi tapi yang sebenarnya diukur adalah tingkat kecemasan  maka  uji konsep tidak akan dianggap valid.

Ukuran kedua kualitas dalam studi kuantitatif adalah reliabilitas, atau keakuratan instrumen. Dengan kata lain, sejauh mana instrumen penelitian secara konsisten memiliki hasil yang sama jika digunakan dalam situasi yang sama pada kesempatan berulang. Contoh sederhana tentang validitas dan reliabilitas adalah jam alarm yang biasa berdering pada pukul 7:00 setiap pagi, namun diatur pukul 6.30. Hal ini sangat dapat diandalkan (secara konsisten berdering pada waktu yang sama setiap hari), namun tidak valid (tidak berdering pada waktu yang diinginkan). Penting untuk mempertimbangkan validitas dan reliabilitas alat pengumpulan data (instrumen) saat melakukan atau mengkritisi penelitian.

Ada tiga jenis validitas diantaranya :

  1. Validitas isi (content validity). Kategori ini melihat apakah instrumen tersebut cukup mencakup semua konten yang seharusnya berkaitan dengan variabel tersebut. Dengan kata lain, apakah instrumen mencakup keseluruhan domain yang terkait dengan variabel, atau konstruksinya dirancang untuk mengukur sebuah variabel?
  2. Construct validity mengacu pada apakah anda dapat menarik kesimpulan tentang nilai tes yang terkait dengan konsep yang sedang dipelajari. Misalnya, jika seseorang memiliki skor tinggi dalam survei yang mengukur kecemasan, apakah orang ini benar-benar memiliki tingkat kecemasan yang tinggi?

Ada tiga jenis bukti yang bisa digunakan untuk mendemonstrasikan instrumen penelitian yang memiliki construct validity yang baik

  1. Homogenitas – yang berarti bahwa instrumen mengukur satu konstruksi misalnya level kecemasan.
  2. Konvergensi – Ini terjadi ketika instrumen mengukur konsep yang serupa dengan instrumen lainnya.
  3. Bukti teori – ini terbukti ketika perilaku serupa dengan proposisi teoritis konstruk yang diukur dalam instrumen menghasilkan hasil yang sama dari gejala yang dialami oleh sample disertai dengan landasan kajian teori. Misalnya, ketika instrumen mengukur level kecemasan, hasil pengukuran akan menentukan bahwa skor tinggi pada instrumen yang mengukur level kecemasan memang menunjukkan gejala kegelisahan yang serupa pada individu dalam kehidupan sehari-hari mereka [2]

Ukuran akhir dari validitas adalah criterion validity, yaitu membendingkan instrumen lain yang mengukur variabel yang sama. Korelasi dapat dilakukan untuk menentukan sejauh mana instrumen yang berbeda mengukur variabel yang sama. Validitas kriteria diukur dalam tiga cara:

  1. Convergent Validity : Menunjukkan bahwa instrumen sangat berkorelasi dengan instrumen yang mengukur variabel serupa.
  2. Divergent Validity : Menunjukkan bahwa instrumen berkorelasi buruk dengan instrumen yang mengukur variabel yang berbeda. Dalam kasus ini, misalnya, terdapat korelasi rendah antara instrumen yang mengukur motivasi dan satu instrument yang mengukur self-efficacy.
  3. Predictive validity : Berarti instrumen tersebut memiliki korelasi tinggi. Misalnya, skor self-efficacy yang tinggi yang berkorelasi dengan bagaimana individu melakukan tugas dapat meramalkan kemungkinan peserta menyelesaikan tugas pada periode waktu yang akan datang [2].

B. Reliabilitas (Reliability)

Reliabilitas berhubungan dengan konsistensi suatu ukuran. Partisipan yang menyelesaikan instrumen  untuk mengukur tingkat motivasi harus memiliki respons yang sama setiap kali tes selesai pada partisipan lainnya.

Pengujian realibilitas sebuah instrumen mencakup 3 syarat :

Homogenitas (internal consistency)

Dinilai menggunakan korelasi item-to-total, reliabilitas split-half, koefisien KuderRichardson dan Cronbach’s α. Korelasi yang kuat menunjukkan reliabilitas tinggi, sementara korelasi lemah menunjukkan instrumen yang kurang dapat diandalkan dalam uji variabel penelitian.

Cronbach’s α adalah tes yang paling umum digunakan untuk menentukan konsistensi internal instrumen. Instrumen dengan pertanyaan yang memiliki lebih dari dua tanggapan dapat digunakan dalam tes ini. Hasil Cronbach α adalah angka antara 0 dan 1. Skor reliabilitas yang dapat diterima adalah nilai yang 0.7 dan lebih tinggi dari 1,3. [1] [3]

Stabilitas (Stabilllity) diuji dengan uji coba test-retest dan uji reliabilitas bentuk-linier atau alternatif. Test–retest reliability dinilai saat instrumen diberikan kepada peserta yang sama lebih dari sekali dalam keadaan serupa. Perbandingan statistik dibuat antara nilai ujian peserta untuk setiap kali mereka menyelesaikannya. Ini memberikan indikasi keandalan instrumen.

Stabilitas keandalan instrumen yang baik harus memiliki korelasi tinggi antara skor setiap kali peserta menyelesaikan tes. Secara umum, koefisien korelasi kurang dari 0,3 menunjukkan korelasi yang lemah, 0,3-0,5 moderat dan lebih besar dari 0,5 kuat. [4]

Kesetaraan (Equivalence) sebuah instrumen  dinilai melalui inter-rater reliability. Tes ini mencakup proses untuk menentukan secara kualitatif tingkat kesepakatan antara dua atau lebih pengamat. Contoh yang baik dari proses yang digunakan dalam menilai reliabilitas inter-rater adalah skor hakim yang menentukan individu dalam kompetisi skating.

Skor yang diberikan kepada peserta skating adalah ukuran keandalan antar-penilai. Contoh dalam penelitian adalah ketika peneliti diminta memberi skor untuk relevansi masing-masing item pada instrumen. Konsistensi dalam skor mereka berhubungan dengan tingkat reliabilitas instrumen antar-penilai.

Menentukan seberapa penting masalah reliabilitas dan validitas yang telah ditangani dalam sebuah penelitian adalah komponen penting dalam sebuah penelitian serta mempengaruhi keputusan tentang apakah penelitian cukup relevan atau tidak dipraktikan dalam dunia kesehatan. Dalam studi kuantitatif, ketelitian ditentukan melalui evaluasi validitas dan reliabilitas alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian. Studi penelitian berkualitas baik akan memberikan bukti bagaimana semua faktor termasuk instrumen dikaji berdasarkan validitas dan realibilitas yang memang sudah teruji sebelumnya.

Apakah rekan – rekan sudah mengerti bagaimana cara menentukan instrumen yang baik berdasarkan uji Realibilitas dan Validitas? Mari kita kritisi dua instrumen yang familiar yaitu FIM dan Barthel Index, keduanya sama sama mengevaluasi tingkat kemandirian bagaimana mengetahui Realibilitas dan Validitas antara FIM dan Barthel Index?

FIM

Data diatas menjelaskan uji Realibilitas dan Validitas instrumen FIM dimana hasil test – retest mendapatkan hasil Excellent yang dilakukan pada pasien lansia ICC = 0,98 pada tiap aspek motorik dan kognitif pada instrumen FIM.

Inter-raterreliability instrumen FIM yang dilakukan untuk pasien ortopedi dan stroke mendapatkan hasil Adequate – Poor pada 4 item yaitu naik tangga, berpakaian, berjalan dan manajemen BAB. Interrater berkaitan dengan penilaian beberapa penguji dalam satu periode waktu yang sama terhadap pasien dengan kondisi serupa.

Hal berbeda tejadi pada pemeriksaan pasien SCI, Inter -rater instrumen FIM mendapatkan hasil Excellent pada pengukuran selama satu bulan yang dilakukan beberapa parktisi klinis, dengan beberapa item dengan nilai dibawah 0,5 : Locomotion, communication dan social cognition. Artinya beberapa konten dalam FIM termasuk locomotion, communication dan social cognition tidak memperoleh konsistensi dalam uji inter – rater.

FIM 3

Sekarang kita akan membahas masalah internal – consistency pada instrumen FIM yang diukur menggunakan cronbach alpha, sebelumnya rekan – rekan masih ingat kan? sebuah instrumen yang baik memiliki nilai cronbach alpha diatas 0,7. Pada instrumen FIM yang digunakan untuk memeriksa beberapa kasus stroke, neurological disorder menunjukan bahwa rata – rata nilai cronbach alpha menunjukan angka lebih dari 0,9 yang menunjukan bahwa instrumen FIM sangat layak digunakan untuk sebuah pemeriksaan pada kasus tertentu dan memenuhi syarat Realibilitas yang baik diukur dari Inter-rater, test-retest dan internal consistency.

Bagaimana dengan Validitasnya? Validitas sebuah instrumen dikatakan baik apabila terdapat penjelasan dan pembuktian dari penelitian yang dilakukan untuk menguji instrumen tersebut, coba kita lihat Predictive Validity instrument FIM, dikatakan bahwa skor FIM 37 -72 memiliki lebih banyak keuntungan daripada pasien dengan skor diatas 73 atau dibawah 36.

FIM 6.png

Content Validity instrumen FIM dapat digunakan namun membutuhkan validitas atau pengembangan lebih lanjut, dan kurang tepat digunakan untuk penelitian kasus SCI.

Untuk penelitian kasus TBI walaupun FIM telah memiliki reliabilitas dan validitas, FIM memiliki 5 item yang kurang tepat untuk dilakukan pada pasien TBI yaitu kognitif, prilaku, komunikasi yang merupakan kekurangan dari validitas untuk kasus TBI.

Sekarang coba kita bandingkan dengan instrumen Barthel Indeks

BI 1.png

Instrumen Barthel indeks belum memiliki kajian test – retest realibilitas yang berarti belum ada uji reabilitas test-retest yang dilakukan beberapa kali dengan pasien yang sama.

Sementara Inter-rater reliability instrumen Barthel Index kebanyakan dilakukan pada pasien stroke akut dengan hasil excellent pada beberapa penelitian dengan nilai ICC lebih dari 0,9

Internal Consistency instrumen barthel indeks juga banyak dilakukan pada pasien stroke akut dengan nilai alpha lebih dari 0,70 yang menunjukan bahwa instrumen tersebut layak digunakan untuk pasien stroke akut.

BI1

 

Bagaimana dengan validitasnya? Predictive Validity instrumen Barthel Indeks dilakukan pada kasus stroke akut dan pasien Brain Injury, dan didapatkan korelasi yang tinggi ditunjukan dari nilai r dan ICC diatas 0,70

Construct Validity pada instrumen Barthel Indeks diukur pada pasien Rehabilitasi Neurologis, didapatkan hasil adanya korelasi yang baik antara disabilitas pada skor BI.

Bagaimana apakah rekan – rekan sudah dapat menyimpulkan perbedaan antara kedua instrumen tersebut? instrumen yang sama sama mengevaluasi level kemandirian nyatanya dalam uji Realibilitas dan Validitas diuji pada pasien yang beragam dan tidak semua pasien dapat diukur menggunakan instrumen FIM dan Barthel Indeks.

Misalnya dari contoh diatas instrumen FIM kurang layak digunakan untuk pasien TBI dan SCI karena dari hasil uji Validitas konten mengatakan bahwa ada item yang tidak sesuai dengan kondisi SCI dan TBI. Korelasi tersebut berbanding lurus pada pada uji Inter -rater instrumen FIM dimana instrumen mendapatkan hasil Excellent pada pengukuran selama satu bulan yang dilakukan beberapa parktisi klinis, namun terdapat item dengan nilai dibawah 0,5 : Locomotion, communication dan social cognition merupakan sebuah tanda bahwa instrumen ini kurang cocok digunakan untuk pasien TBI dan SCI, walaupun nilai  alpha pada kasus SCI lebih dari 0,9 hal inilah yang menjadi bahan kritisi dalam menilai sebuah instrument.

Lain halnya dengan Barthel Indeks, kajian teori yang mendasari uji realibilitas dan validitas instrument tersebut lebih spesifik digunakan untuk pasien dengan stroke akut. hal ini terlihat dari beberapa penelitian terkait pembuktian realibilitas dan validitas instrumen Barthel Indeks. Nilai alpha pada beberapa penelitian menunjukan konsistensi diatas 0,7 pada pasien stroke akut dan hal ini sudah dapat dijadikan landasan teori yang kuat apabila kita melakukan pemeriksaan pada pasien stroke akut menggunakan instrumen ini.

Namun kekurangannya adalah, tidak adanya data yang menjelaskan apakah instrumen Barthel Indeks dapat digunakan pada kasus geriatri/lansia? tidak adanya data ini dalam penelitian realibilitas dan validitas Barthel Indeks menjadikan instrumen ini memiliki kelemahan pada bagian ini, dibandingkan instrumen FIM yang memiliki data penelitian dan uji realibilitas untuk kasus geriatri.

KESIMPULAN

Tidak semua instrumen dapat dipakai untuk semua kasus walaupun pada dasarnya dapat digunakan untuk mengukur sebuah variabel, didalam sebuah penelitian kualitatif atau pemeriksaan yang diharuskan untuk dievaluasi bersama praktisi kesehatan lain diperlukan dasar ilmu yang kuat agar pemeriksaan kita dapat dipertanggung jawabkan dengan dasar teori yang jelas,  berdasarkan kajian penelitian, termasuk didalamnya kajian reliabilitas dan validitas instrumen itu sendiri. Sehingga apa yang kita kerjakan memberi dampak yang positif terhadap klien dan lebih mudah dikomunikasikan bersama disiplin ilmu lainnya.

Apakah akhirnya rekan – rekan semua penasaran realibilitas dan validitas instrumen yang telah anda gunakan selama ini cocok atau tidak menurut penelitian? Rekan – rekan dapat mengakses referensi website http://www.rehabmeasures.org  untuk mengetahui instrumen okupasi terapi berdasarkan uji Realibilitas dan Validitasnya.

REFERENCES

2. Korb K. Conducting Educational Research. Validity of Instruments. 2012. http://korbedpsych.com/R09eValidity.html
3. Shuttleworth M. Internal Consistency Reliability. 2015. https:// explorable.com/internal-consistency-reliability
4. Laerd Statistics. Determining the correlation coefficient. 2013. https://statistics.laerd.com/premium/pc/pearson-correlation-inspss-8.ph