Pekerjaan Rumah IMOTI dalam Periode Baru

IMG-20181210-WA0002

Kongres nasional IMOTI ke VI telah selesai dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2018. Hajat mahasiswa okupasi terapi ini dilaksanakan di gedung Program Vokasi Universitas Indonesia dan dihadiri oleh kedua instransi yang melahirkan terapis okupasi Indonesia. Tidak banyak masyarakat yang tau bahwa terapis okupasi merupakan profesi kesehatan yang dididik secara akademis di dua instansi yaitu Universitas Indonesia dan Politeknik Kementrian Kesehatan Surakarta.

Ketua IMOTI periode 2017-2018 Cahya Ramadani dalam sambutannya mengajak kepada seluruh anggota IMOTI untuk bekerja sama membangun IMOTI yang lebih baik untuk periode selanjutnya. Dalam laporan pertanggungjawabannya, Cahya juga menyampaikan setiap program yang telah dilaksanakan dalam satu periode kepemimpinannya. Program-program IMOTI yang bersifat membangun secara internal dan eksternal. Bahkan pekerjaan dalam lingkup nasional dan internasioinal dengan bekerjasama dalam kegiatan Indo-Mas Youth Exchange Study (IMYES 2018) di Malaysia. Kongres Nasional IMOTI ini menjadi ajang evaluasi dan mawas diri bagi semua pengurus IMOTI untuk perjuangan selanjutnya.

Pada akhirnya, estafeta perjuangan IMOTI memulai babak baru dibawah kepemimpinan Agung Yudha Prakoso. Dengan membawa visi menjadikan Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia menjadi organisasi yang dapat berkoordinasi secara sinergis dengan mengutamakan rasa kekeluargaan, Agung memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah. Bagaimana membawa organisasi kemahasiswaan ini dalam menghidupkan kembali profesi dan profesionalisme dalam kehidupan kampus.

Dengan berakhirnya kegiatan Kongres Nasional Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indoensia ke VI, maka dibukalah pintu dan jalan baru bagi para pengurus IMOTI 2018-2019.

Mengenal Gangguan Low Vision

Low vision menurut Badan Kesehatan Dunia adalah turunnya fungsi penglihatan seseorang secara permanen dan tidak dapat diperbaiki dengan bantuan kacamata/ alat bantu optik standar. Sedangkan menurut Pertuni mendefenisikan low vision berupa “kondisi penglihatan yang masih mengalami kesulitan untuk melihat meskipun sudah menggunakan kacamata ataupun tidak terbantu dengan kacamata (PERTUNI,2004).

Individu dengan low vision memiliki kerusakan penglihatan yang sangat berat, meskipun telah mengalami perbaikan, tetapi masih mungkin meningkat fungsi penglihatannya menggunakan alat bantu optic, non optic, dengan modifikasi lingkungan dan atau teknik (Dr. Corn, 1983). Namun individu dengan low vision masih mungkin dapat melihat obyek dan benda-benda yang berada pada jarak beberapa inchi atau maksimum pada jarak beberapa kaki (Emirat, Barraga Natalie C).
The International Classification of Disease, 9 th Revision, Clinical Modifiication (ICD-9-CM) membagi low vision atas 5 kategori. sebagai berikut :

Moderate visual impairment. Tajam penglihatan yang paling baik dapat dikoreksi kurang dari 20/60 sampai 20/160.
Severe visual impairment. Tajam penglihatan yang paling baik dapat dikoreksi kurang dari 20/160 sampai 20/400 atau diameter lapang pandangan adalah 20 derajat atau kurang ( diameter terbesar dari isopter Goldmann adalah 1114e, 3/100, objek putih ).
Profound visual impairment. Tajam penglihatan yang paling baik dapat dikoreksi kurang dari 20/400 sampai atau diameter lapang pandangan adalah 100 atau kurang.
Near-total vision loss. Tajam penglihatan yang paling baik dapat dikoreksi 20/1250 atau kurang.
Total blindness. No light perception.

Ciri-ciri umum individu dengan low vision adalah : (a) menulis dan membaca dalam jarak dekat; (b) hanya dapat membaca huruf berukuran besar; (c) sulit membaca tulisan di papan tulis dari jarak jauh; (d) memicingkan mata atau mengerutkan dahi ketika melihat di bawah cahaya yang terang; (e) terlihat tidak menatap lurus ke depan ketika memandang sesuatu; (f) kondisi mata tampak lain, misalnya terlihat berkabut atau berwarna putih pada bagian luar.

Sedangkan deteksi dini pada anak di usia bayi , dapat di perhatikan beberapa tanda penting dari gangguan fungsi mata. Bayi dengan gangguan penglihatan pada usia 3 bulan dapat menunjukkan gejala-gejala berikut ini: (1) Tidak dapat mengikuti objek dengan menggunakan matanya. (2) Tidak dapat awas terhadap gerakan tangan (pada usia 2 bulan). (3) Mengalami kesulitan dalam menggerakkan salah satu atau kedua bola mata ke seluruh arah. (4) Mata sering menjadi juling
Sedangkan pada usia 6 bulan, bayi dapat menunjukkan gejala-gejala berikut: (1) Salah satu mata atau kedua mata juling hampir setiap saat. (2) Mata menjadi sering berair. (3) Tidak mengikuti objek yang berada pada jarak dekat (kurang lebih jarak 30 cm) atau objek jarak jauh (kurang lebih 2 meter) dengan kedua matanya
Selain tanda- tanda tersebut, anda juga harus memperhatikan beberapa hal penting yang menjadi tanda adanya kelainan pada mata anak yang mungkin dapat mengganggu penglihatannya seperti: (1) Bagian tengah mata yang harusnya berwarna hitam (pupil) ternyata berwarna putih atau ada bayangan putih pada bagian tengah bola mata. (2) Kelopak mata yang tidak terbuka atau setengah terbuka dapat menutupi pandangan bayi. (3) Mata juling, dapat disebabkan oleh ambliopia (mata malas) ataupun adanya kelainan pada otot gerak mata (extraocular muscle).
Low Vision dapat diakibatkan oleh berbagai kelainan yang mempengaruhi mata dan sistim penglihatan seperti; cacat bawaan, kecelakaan, penyakit tertentu (katarak, degenerasi makula, retinopati diabetika, glaukoma, luka pada kornea, terlepasnya retina, atau ketuaan, semuanya dapat mengakibatkan cacat penglihatan).
Kelainan-kelainan ini dapat diklasifikasikan menjadi 4 bagian besar yang dapat membantu dalam memahami kesulitan dan keluhan pasien serta memililih dan mengimplementasikan strategi untuk rehabilitasnya : (1) Penglihatan sentral dan perifer yang kabur atau berkabut, yang khas akibat kekeruhan media (cornea, lensa. corpus vitreous). (2) Gangguan resolusi fokus tanpa skotoma sentralis dengan ketajaman perifer normal, khas pada oedem makula atau albinisme. (3) Skotoma sentralis, khas untuk gangguan makula degeneratif atau inflamasi dan kelainan-kelainan nervus optikus. (4) skotoma perifer, khas untuk glaukoma tahap lanjut, retinitis pigmentosa dan gangguan retina perifer lainnya.
Berdasarkan informasi diatas maka, dapat disimpulkan bahwa Low vision merupakan gangguan penurunan fungsi mata, yang tingkat keparahannya berbeda-beda, tindakan dan program rehabilitatif pun juga berbeda-beda untuk masing-masing jenisnya. Bantuan berupa alat bantu optik dan non optik, beserta latihan visual, serta modifikasi lingkungan dan aksesibilitas individu dengan Low vision akan sangat membantu mereka untuk bisa berpartisipasi dalam tugas kemandirian sehari-hari.
Anda juga dapat mendownload informasi tambahan seputar layanan dan tata laksana program rehabilitasi untuk kondisi low vision melalui link berikut ini https://goo.gl/oG6jKa

Daftar Pustaka
Braga . Natalie. C . (1978). Pengembangan penggunaan sisa penglihatan , jakarta: departemen pendidikan dan kebudayaan . RI.
Corn. N 1983. Visual function ; A Model For Individual With Low Vision.Journal Visual Impairment And Blind , 77 , 8. P.374
Pertuni , 2004 . persatuan tunanetra Indonesia (artikel) . ww.pertuni.org diunduh pada 20 november 2018
World health organization.(2001) international clacification of functioning, disability health http://www3.who.int/icf/icftemplate.cfm?myurl=introduction.html%20&mytitle=Introdu
ction. Akses terahir 22 November 2018
Layanan Terpadu Untuk Gangguan Pengelihatan. diakses dari https://jec.co.id/id/service/page/28/76/null Akses terahir 20 November 2018

Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder

Jogjakarta, Minggu 6 Mei 2018

Biro Psikologi dan Intuisi Jogjakarta mengadakan seminar yang bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder”. Dalam seminar tersebut turut mengundang survivor bipolar disorder yang juga merupakan pengurus dalam komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Jogja. Dien Kartikasari sebagai salah satu survivor bipolar disorder mengatakan bahwa persepsi negatif masyarakat mengenai survivor bipolar disorder dapat menyebabkan rasa trauma, namun menurut Dien banyak juga survivor bipolar disorder yang mampu keluar dari keterpurukan dan bangkit menjadi seorang pengusaha, penulis, bahkan mahasiswa. Dita salah satu peserta dalam seminar adalah seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada yang terdiagnosis Bipolar Disorder dua bulan lalu mengatakan bahwa “jangan memandang rendah survivor bipolar disorder” kalimat itu menjelaskan bahwa para survivor bipolar disorder layak mendapatkan kesetaraan dan tempat didalam masyarakat yang mayoritas tanpa keterbatasan mental. Dian Mardiana salah satu pembicara yang juga merupakan survivor bipolar disorder mengatakan bahwa ” Bipolar bukan seseuatu yang harus ditakuti, dan bukan juga aib serta butuh penerimaan dari masyarkat” artinya masyarakat perlu meningkatkan toleransi dan menepis stigma yang melekat pada survivor bipolar disorder.

Dalam seminar ini, Azri Agustin juga turut menjelaskan Bipolar Disorder dari sudut pandang medis. Azri mengatakan bahwa “Penanganan bagi para penyandang Bipolar Disorder harus dilakukan secara multidisiplin baik psikolog, psikiater atau intervensi penunjang lainnya”. Artinya survivor bipolar disorder harus keluar mencari pertolongan baik itu dari lingkungan terdekat seperti keluarga atau kerabat hingga penanganan medis.

Berbagai penuturan dan diskusi yang berlangsung dalam seminar ini memberikan pandangan baru dan pengetahuan baru bahwa para survivor bipolar sejatinya adalah orang – orang yang mampu berinovasi dan berdikari hanya saja penerimaan dan pengakuan dari masyarakat belum sepenuhnya dapat memperlakukan mereka secara setara.

Isu yang mengedepankan kesadaran masyarakat akan penyandang disabilitas mental memang perlu perhatian khusus sehingga masyarakat tidak meng-generalisasi bahwa setiap gangguan mental adalah suatu “kegilaan”. Biro Psikologi dan Intuisi yang merupakan penyelenggara dalam seminar ini adalah salah satu dari sekian banyak suara yang masih terdengar menyerukan kepedulian terhadap penyandang disabilitas dan hal tersebut patut diapresiasi.

Okupasi Terapi Berbasis Sekolah, Dreaming or Realistic?

Sebagaimana yang kita tahu bahwa Okupasi Terapi adalah profesi kesehatan yang membantu individu untuk dapat mandiri melakukan aktifitas atau berpartisipasi dalam kegiatan spesifik pada kehidupan sehari-hari.

Okupasi pada anak meliputi beberapa aspek penting, dan bersekolah merupakan salah satu okupasi/tugas anak pada usia sekolah & pra sekolah. Dalam hal ini seorang Okupasi Terapis dapat berperan membantu siswa (klien okupasi) agar dapat berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan sekolah mulai dari memperhatikan penjelasan guru, berkonsentrasi pada tugas-tugas harian sekolah ; memegang pensil, memainkan alat musik, membaca buku pelajaran , mengerjakan tugas , atau hanya sekedar mengarahkan agar dapat berperilaku dengan baik dan benar selama di dalam kelas.

Okupasi terapis dapat membantu siswa melakukan tugas tertentu yang diperlukan untuk partisipasi atau pembelajaran. Hal itu dikarenakan pada prinsipnya “Keseluruhan tujuan dari layanan okupasi terapi berbasis sekolah adalah untuk membantu anak-anak sukses dalam okupasi nya yaitu bersekolah (Leslie Jackson,2007).

Seorang Praktisi okupasi terapis tidak hanya berfokus pada masalah spesifik yang mungkin muncul pada anak, sebaliknya, mereka harus dapat melihat anak secara holistic (client factor, task , & environment, serta keterikatan antar variable), sehingga dengan data tersebut maka akan di desain sebuah rencana tindakan, rekomendasi dan pemecahan masalah agar dapat berkolaborasi dengan lintas disiplin, dan membantu siswa menemukan cara untuk melakukan hal-hal yang mereka butuhkan , dan hal yang ingin mereka lakukan, agar dapat berpartisipasi dalam aktifitas bersekolah. Jadi pada prinsipnya , seorang okupasi terapis harus mengerti bahwa semua anak berhak untuk bisa sukses pada tugas di sekolah , sesuai dengan level dan kemampuannya (Leslie Jackson, 2007).

Biasanya, layanan Okupasi Terapi diberikan kepada siswa dengan disabilitas/keterbatasan. Akan tetapi layanan Okupasi Terapi juga dapat diberikan untuk anak-anak lain yang mengalami masalah tertentu di sekolah. Praktisi Okupasi Terapi juga bekerja untuk memberikan konsultasi kepada para guru tentang bagaimana desain kelas mempengaruhi  mengapa anak-anak tertentu berperilaku tidak pada waktu tertentu, dan mana yang terbaik untuk duduk seorang anak berdasarkan gaya belajar nya atau kebutuhan lainnya. Okupasi Terapi dapat memberikan intervensi berupa pembelajaran keterampilan motorik, proses kognitif, masalah visual atau persepsi, kemudian kesehatan mental, kesulitan fokus disorganisasi, atau masalah dalam pemrosesan sensoris yang menghambat proses belajar/rutinitas kelas.

Staff pengajar bisa merekomendasikan layanan yang terpisah atau juga biasanya layanan ini bisa di desain secara terintegrasi agar anak dapat berpartisipasi lebih baik di dalam rutinitas kelas.  Adanya layanan Okupasi Terapi disekolah dimulai sejak tahun 1975  dalam Individuals with Disabilities Education Act (IDEA), sebagai gagasan awal batu loncatan dari layanan okupasi terapi berbasis sekolah. Undang-undang tersebut menetapkan bahwa siswa penyandang disabiltas pada lembaga pendidikan khusus harus memiliki akses terhadap layanan okupasi terapi jika mereka memerlukannya.

Lalu Pada tahun 2001, Kongres organisasi No Child Left Behind (NCLB) menetapkan Undang-undang yang mewajibkan sekolah untuk memperbaiki prestasi akademik semua siswa, termasuk siswa penyandang disabilitas. Kemudian Pada tahun 2004, organisasi Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) memperluas ketersediaan layanan Okupasi Terapi kepada semua siswa, tidak hanya penyandang cacat, untuk berpartisipasi sepenuhnya di sekolah.

Sekilas perkenalan dan ulasan singkat tentang , kerangka kerja sederhana layanan OT berbasis sekolah, kira-kira menurut pendapat mu di indonesia gaimana ya ?

Sejauh mana yang sudah di realisasikan ? seperti apa poin penjelasan OT berbasis sekolah dalam poin aturan profesi/ pemerintah? Atau tidak ada aturan nya tapi tetap dilakukan ? Atau mungkin lain peraturan nya , lain juga praktek nya ?

Atau prakteknya masih di samakan dengan clinical aproach seperti layanan klinik & rumah sakit?h

Sharing yang kamu tau tentang OT berbasis sekolah di link di bawah ini , isi sebebas dan se-kreatif yang kamu mau, Bagi respon/jawaban terbaik akan di hubungi oleh tim SEBATOT dan berhak untuk reward thank you 🙂 silahkan memberi tanggapan anda melaui link berikut ini :

Link

Referensi

  1. Jackson,L (Ed).(2007).Occupational therapy service for children and youth under IDEA (3rd,ed.).
  2. Bethsda,MD; AOTA Press.
    No Child Left Behind Act of 2001 , pub , L 107-110 ,116 stat, 3071
  3. What Parents Need to Know About School-Based Occupational Therapy . (2017, December 19 ). Retrieved from https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Professionals/CY/Articles/School-consumer.aspx

SEBAT EVENT: Kongres Nasional ke-5 Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia

Karanganyar — Acara Kongres Nasional ke-5 Ikatan Mahasiswa Okupasi Terapi Indonesia (IMOTI) dengan tema “Be a good generation to Inform, influence, and inspire Occupational Therapy”, yang  dilaksanakan di Gedung Audit Kampus 2 Poltekkes Surakarta. (Jumat, 29/12/2017) 

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI), Ketua Jurusan OT kampus Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surakarta, Anggota IMOTI, dan juga beberapa peserta undangan. Pada kesempatan ini, Bapak Tri Budi Santoso Ph.D selaku Ketua IOTI memaparkan mengenai status IMOTI sebagai sebuah organisasi yang nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari IOTI sebagai bentuk legalitas atau menjadi sebuah wadah organisasi mandiri.

Beliau juga menyampaikan, pemanfaatan Sumber Daya Manusia di Indonesia masih kurang maksimal. “Keunggulan kompetensi OkupasiTerapis harus ditingkatkan melalui lulusan  lulusan S2 yang harus semakin meningkat jumlahnya, hal tersebut berkaitan dengan semakin meningkatnya daya saing terutama berkaitan dengan tenaga kerja asing. Apabila kompetensi ini tidak ditingkatkan maka hal tersebut akan semakin mendesak posisi terapis dalam negeri untuk berkembang.”, tambah beliau.

Terkait keorganisasian, beliau mengatakan bahwa organisasi itu penting untuk mengasah berbagai keterampilan; mengatur uang, pembuatan proposal, dsb. Mahasiswa harus dapat menjaga sikap (attitude) sebagai sebuah pondasi dasar yang membentuk kualitas profesi OT. “Mahasiswa OT juga harus cerdas, harus mulai mengadakan penelitian-penelitian yang bisa bersaing di kancah nasional maupun internasional.”, pesannya kepada mahasiswa. 

Pada Kongres Nasional IMOTI ke-5, diadakan pemilihan ketua umum periode baru, dengan kandidat Aisya Widya dari Poltekkes Surakarta, dan Cahya Ramadani dari UI. Diperoleh hasil kemenagan oleh Cahya Ramadani, dari Program Vokasi UI Program Studi Okupasi Terapi melalui hasil voting.

Cahya Ramadhani, Ketua Umum IMOTI periode baru, menyampaikan bahwa hal  hal baik yang diwariskan dari periode sebelumnya akan terus dibawa pada periode baru dan hal  hal yang perlu dibenahi dari periode sebelumnya diharapkan akan dapat diperbaiki pada periode baru ini.

Adapun beberapa pesan dari koordinator nasional IMOTI periode 2016/2017, Melia Resti Utami, yang mengatakan bahwa modalitas utama yang harus dimiliki IMOTI adalah rasa kekeluargaan dan itu harus dipertahankan. “Karena IMOTI itu ada untuk mempererat hubungan mahasiswa OT Se-Indonesia.”, pungkasnya.