SEBAT – OT

Sensory Processing Disorder : Dealing with Sensory Over-Responsivity Children

Anak-anak dengan Autisme Spectrume Disorder sering menunjukkan gejala atau kelompok gejala, yang secara signifikan dapat meningkatkan impairment pada anak dengan gangguan ASD. Salah satu gejala tersebut adalah Sensory Over-Responsivity (SOR), yang ditandai dengan reaktivitas yang meningkat dan tidak biasa terhadap sensasi (Carter AS & Ben-Sasson A, 2009).

SOR dimanifestasikan oleh reaksi ekstrem atau negatif terhadap rangsangan sensorik seperti lingkungan bising atau respon visual yang merangsang, penggunaan pakaian dalam waktu lama, atau disentuh secara tak terduga (Dunn, 1999; Interdisciplinary Council on Developmental, 2005; Lane, 202; Parham; , Mailloux, 2010; Reynolds & Lane , 2008).

Mengatur respons sensorik terhadap lingkungan adalah kemampuan seseorang yang berkembang di awal kehidupan sebagai mekanisme protektif dan diskriminatif (Dunn, 1997). Telah dihipotesiskan bahwa anak-anak yang terlalu responsif terhadap rangsangan sensorik memiliki ambang neurologis yang rendah (low neurological threshold) sehingga menghasilkan reaksi kuat terhadap rangsangan tersebut dengan masukan minimal (Pfeiffer et al, 2005) yang mencerminkan kegagalan dalam mencapai keseimbangan antara sensitisasi dan habituasi (Dunn, 1997). Sebagai kondisi utama, SOR merupakan jenis gangguan modulasi sensorik (sensory modulation disorder) dimana individu menunjukan tanggapan berlebihan, intens, dan / atau berkepanjangan terhadap sensasi tertentu (Miller et al, 2007).

Therapy Method

Salah satu metode yang digunakan untuk mengurangi kecemasan dan arousal  pada anak dengan autisme adalah penerapan tekanan mendalam (deep pressure/sensory stimulation). Sebagai contoh, (Ayres, 1979) dan (King, 1989) melaporkan bahwa menggulung anak dengan autisme di tikar gym menghasilkan efek menenangkan. Orang dengan autisme juga telah diketahui memberikan tekanan mendalam pada diri mereka sendiri sebagai bentuk usaha menenangkan diri (Grandin, 1992; Grandin & Scariano, 1986)  dan sering lebih memilih untuk memberikan stimulasi ini sendiri, sering menghindari rangsangan sentuhan yang dikendalikan oleh orang lain (Delacato, 1974)

Pendekatan Sensory Stimulation bervariasi yang secara pasif memberikan satu jenis stimulasi sensorik melalui modalitas terbatas (misalnya, tekanan sentuh, stimulasi vestibular (Baranek, 2002), contoh teknik yang umum digunakan adalah “deep pressure” (yaitu tekanan sentuhan yang memberikan masukan yang menenangkan), yang dapat diterapkan melalui sentuhan terapeutik (misalnya massage,  joint compression (Field & Lasko, 1997), atau peralatan  misalnya, Hug Machine (Grandin, 1992), pressure garments, weighted vests (Ferterl-Daly et al, 2001). Rangsangan vestibular, sering digunakan untuk memodulasi arousal, memudahkan nada postural, atau meningkatkan vokalisasi. (Baranek, 2002)

 

Referensi

Ayres. (1979). Sensory Integration and the Child. Los Angeles, CA: Western Psychological Services.

Baranek. (2002). Efficacy of sensory and motor interventions for children with autism. Journal of Autism and Developmental Disorders, 32(5), 397–422.

Carter AS, & Ben-Sasson A. (2009). Prevalence and correlates of sensory over-responsivity from infancy to elementary school. Journal of Abnormal Child Psychology. 2009; 37(5):705–716.[PubMed: 19153827].

Delacato. (1974). The ultimate stranger. Novato,: CA: Arena Press.

Dunn. (1997). The impact of sensory processing abilities on the daily lives of young children and their families:. A conceptual model., Infants and Young Children 1997; 9(4):23–35.

Ferterl-Daly et al. (2001). Effects of a weighted vest on attention to task and self-stimulatory behaviors in preschoolers with pervasive developmental disorders. American Journal of Occupational Therapy, 55(6), 629–640.

Field, & Lasko. (1997). Brief report – Autistic children’s attentiveness and responsivity improve after touch therapy. Journal of Autism and Developmental Disorders 27: 333–338.

Grandin. (1992). Calming effects of deep touch pressure in patients with autistic disorder, college students and animals. Journal of Child and Adolescent Psychopharmacology, 2, 63

Grandin. (1995). Thinking in pictures. New York: Doubleday.

Interdisciplinary Council on Developmental. (2005). Learning Disorders. Diagnostic manual for infancy and early childhood. Bethesda: ICDL.

King. (1989). Facilitating neurodevelopment. Proceedings of the Autism Society of America, 117-120.

Lane. (202). Sensory modulation. Dalam Bundy, Lane, , & Murray, , Sensory integration: Theory and practice. (hal. p. 101-122.). Philadelphia :: FA. Davis

Miller & Coll. (2007). A randomized controlled pilot study of the effectiveness of occupational therapy for childern with sensory modulation disorders. Am J Occup Ther. 2007;61:228-38.

Pfeiffer et al. (2005). Sensory modulation and affective disorders in children and adolescents with Asperger’s disorder. he American Journal of Occupational Therapy 59:335–345. [PubMed: 15969281].

Advokasi Pekerja Dengan Kondisi Disabilitas Masih Kurang

Lebih dari satu miliar orang (atau sekitar 15% dari populasi dunia) diperkirakan hidup dengan disabilitas dan setidaknya 15% penduduk Indonesia hidup dengan disabilitas (World Health Organization, 2011). Diantara sekian banyak hambatan yang dimiliki penyandang disabilitas terhadap akses publik, orang dewasa dengan disabilitas juga tidak mendapatkan kesempatan bekerja yang sama dengan orang non-disabilitas (Sri & Irwanto, 2014).

Kenyataan bahwa orang dengan disabilitas tetap memiliki tanggungan untuk memenuhi kebutuhan dan memperoleh kehidupan yang lebih baik merupakan isu yang terus dikaji oleh banyak negara sehingga menghasilkan ketentuan atau perundang – undangan tertentu yang dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dan memberikan kesempatan kepada orang disabilitas untuk bekerja tidak terkecuali di Indonesia.

UU No. 4 Tahun 1997 pasal 6 menyatakan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh ”pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya”. Sedangkan pasal 14 mewajibkan perusahaan swasta dan pemerintah untuk mempekerjakan penyandang cacat (Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia, 2016)

Namun faktanya sebanyak 25,6% orang dengan disabilitas memperoleh pekerjaan dan 74,4% lainnya tidak bekerja. Hal ini menunjukan bahwa ada masalah yang terjadi sehingga daya serap pekerja untuk masuk kedalam perusahaan milik negara / swasta belum berjalan baik, dan persepsi mengenai orang dengan disabilitas masih dianggap dari sisi negatif oleh kebanyakan perusahaan.

Marginalisasi terhadap pekerja dengan kondisi disabilitas mengakibatkan banyaknya perusahaan yang enggan menerima pekerja dengan kondisi disabilitas sebagai kandidat calon pekerja. Belum lagi stigma yang terjadi dalam lingkungan kerja dapat menurunkan harga diri dan berdampak pada psikologis pekerja.

Advokasi berbagai lembaga non – pemerintahan seperti LSM Saujana melalui kerjabilitas.com dan organisasi SIGAB Indonesia mungkin dapat menjadi contoh bagaimana beratnya melakukan advokasi penyediaan layanan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Kemudian apakah OT mampu terlibat dalam permasalahan ini?

Advokasi penyandang disabilitas di tempat kerja dapat dilakukan oleh seorang Okupasi Terapis, memediasi pekerja dan penanggung jawab perusahaan untuk meminimalisir stigma dan menyediakan tempat yang ergonomis sehingga kemampuan penyandang disabilitas dapat digunakan secara optimal.

“Occupational therapy practitioners promote success in the workplace by improving the fit between the person, the job tasks, and the environment. They work with employers and employees to adapt or modify the environment or task, facilitate successful return to work after illness or injury, and help prevent illness or injury to promote participation, health, productivity, and satisfaction in the workplace” (American Occupational Therapy)

Bagiamana? Tertarik mengembangkan Okupasi Terapi ke area kerja yang lebih luas? Atau Okupasi Terapis di Indonesia masih sibuk bergelut di area kerja yang cenderung imitatif? Mari sama – sama berbenah untuk Okupasi Terapis Indonesia.

Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder

Jogjakarta, Minggu 6 Mei 2018

Biro Psikologi dan Intuisi Jogjakarta mengadakan seminar yang bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Bipolar Disorder”. Dalam seminar tersebut turut mengundang survivor bipolar disorder yang juga merupakan pengurus dalam komunitas Bipolar Care Indonesia Simpul Jogja. Dien Kartikasari sebagai salah satu survivor bipolar disorder mengatakan bahwa persepsi negatif masyarakat mengenai survivor bipolar disorder dapat menyebabkan rasa trauma, namun menurut Dien banyak juga survivor bipolar disorder yang mampu keluar dari keterpurukan dan bangkit menjadi seorang pengusaha, penulis, bahkan mahasiswa. Dita salah satu peserta dalam seminar adalah seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada yang terdiagnosis Bipolar Disorder dua bulan lalu mengatakan bahwa “jangan memandang rendah survivor bipolar disorder” kalimat itu menjelaskan bahwa para survivor bipolar disorder layak mendapatkan kesetaraan dan tempat didalam masyarakat yang mayoritas tanpa keterbatasan mental. Dian Mardiana salah satu pembicara yang juga merupakan survivor bipolar disorder mengatakan bahwa ” Bipolar bukan seseuatu yang harus ditakuti, dan bukan juga aib serta butuh penerimaan dari masyarkat” artinya masyarakat perlu meningkatkan toleransi dan menepis stigma yang melekat pada survivor bipolar disorder.

Dalam seminar ini, Azri Agustin juga turut menjelaskan Bipolar Disorder dari sudut pandang medis. Azri mengatakan bahwa “Penanganan bagi para penyandang Bipolar Disorder harus dilakukan secara multidisiplin baik psikolog, psikiater atau intervensi penunjang lainnya”. Artinya survivor bipolar disorder harus keluar mencari pertolongan baik itu dari lingkungan terdekat seperti keluarga atau kerabat hingga penanganan medis.

Berbagai penuturan dan diskusi yang berlangsung dalam seminar ini memberikan pandangan baru dan pengetahuan baru bahwa para survivor bipolar sejatinya adalah orang – orang yang mampu berinovasi dan berdikari hanya saja penerimaan dan pengakuan dari masyarakat belum sepenuhnya dapat memperlakukan mereka secara setara.

Isu yang mengedepankan kesadaran masyarakat akan penyandang disabilitas mental memang perlu perhatian khusus sehingga masyarakat tidak meng-generalisasi bahwa setiap gangguan mental adalah suatu “kegilaan”. Biro Psikologi dan Intuisi yang merupakan penyelenggara dalam seminar ini adalah salah satu dari sekian banyak suara yang masih terdengar menyerukan kepedulian terhadap penyandang disabilitas dan hal tersebut patut diapresiasi.

Branding & Standar Mutu Shopping therapy

Kira-kira Apa sih sejatinya kepuasan klien/pasien? Hal yang begitu subjektif bukan ? Setiap  orang punya standarnya sendiri-sendiri soal kepuasan . Tapi tentu hampir semua sepakat bahwa setiap orang akan merasa puas saat mereka  dilayani dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu  pada artikel ini kita akan sedikit membahas bagaimana keterikatan antara fenomena shopping therapy dengan derajat atau indikator kepuasan klien/pasien. Informasi ini dapat menjadi arahan untuk pelayan kesehatan yang lain, tentang betapa kompleksnya indikator kepuasan klien pada layanan kesehatan/terapi. Karna faktanya 5 S (senyum, santun, sapa , salam , sopan) pun tetap tidak selalu menjadi jawaban kebutuhan atas fenomena shopping therapy.

Apa sih sejatinya  kepuasan klien/pasien? Kepuasan menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah puas; merasa senang; perihal (hal yang bersifat puas, kesenangan, kelegaan dan sebagainya). Menurut Oliver (dalam Supranto, 2001) mendefinisikan kepuasan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.

Setidaknya adanya tiga macam kondisi kepuasan yang bisa dirasakan oleh konsumen/klien/pasien, yaitu bertitik tolak pada  perbandingan antara harapan dan kenyataan  hal tersebut digolongkan menjadi : (1) Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan sangat kecewa. (2) Bila kinerja sesuai harapan, maka pelanggan akan puas. Sedangkan (3) bila kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan sangat puas, karena sejatinya harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi dari berbagai media. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan tersebut (Indarjati (2001)

Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kepuasan konsumen pada umumnya dan khususnya  pasien/klien kesehatan?  Menurut Tjiptono (1997) kepuasan pasien ditentukan oleh beberapa faktor antara lain, yaitu : 1) Kinerja (performance), 2)  Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), 3) Keandalan (reliability), 4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification) ,5) Daya tahan (durability), 6) Service ability, meliputi kecepatan, kompetensi, serta penanganan keluhan yang memuaskan, 7) Estetika, 8) Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality)  contohnya citra dan reputasi rumah sakit serta tanggung jawab rumah sakit atau bagaimana kesan yang diterima pasien terhadap rumah sakit tersebut terhadap prestasi dan keunggulan rumah sakit daripada rumah sakit lainnya. 9) Karakteristik produk, 10) Harga ,  11) Pelayanan   12) Lokasi  13) Fasilitas , 14) Image/reputasi , 15) Desain visual , 16) Suasana , 17) Komunikasi .

Dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pada pasien tidak melulu soal 5 S (senyum , sapa, salam, sopan , santun) , tidak melulu hanya  soal fitur/konten layanan,  lebih dari itu ternyata  branding dan reputasi, baik secara personal maupun instansi juga merupakan hal yang penting, karena kepuasan juga salah-satunya di ukur berdasarkan kualitas yang dipersepsikan klien dalam layanan/jasa  (perceived quality), maka tentu hal ini juga penting utuk di perhatikan, untuk semakin dapat meningkatkan mutu layanan .

Reputasi/branding, dan harga layanan merupakan hal lain yang juga di ilhami sebagai standar kepuasan klien.  Klien shopper cenderung  merepresentasikan sebuah layanan jasa, mendekati  prespektif  “price don’t lie” dalam hunting product /membeli produk di perbelanjaan.

Walaupun  sejatinya ini hanya lah kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) . namun  hal ini  membentuk persepsi klien,  tidak  jarang  persepsi akan membentuk sebuah rasa kepuasan dan kepercayaan (trust). Atau sebaliknya justru persepsi juga dapat menciptakan kehawatiran, ketidakpercayaan dan sebagainya.

Petugas kesehatan tidak hanya bertanggung jawab mengedukasi klien, atau merepresentasikan kualitas sesuai dengan job deskripsi dan tuntutan dari corporasi yang menaunginya. Lebih dari itu , penting juga untuk membangun personal branding dan comunity branding membangun citra dan suasana yang positif demi mewujudkan kenyamanan dan kepuasan klien .

Beberapa cara sederhana  yang mungkin dapat dilakukan untuk membangun personal branding (reputasi personal).  

Berinteraksi dengan  klien adalah tidak melulu banyak bicara dan menjalin keakraban cerita kesana-kemari, namun kamu juga harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang baik (evidence based practice), lalu pendekatan emosi dengan klien, memberikan empati, memberikan perhatian , support, menjembatani solusi dari permasalahan , teman berdiskusi, memberi hadiah dan  kejutan-kejuan yang membangkitkan semangat dan perasaan klien/ pasien.

Memberikan tone/nada suara yang tepat , memperhatikan  estentika dan penampilan, tata ruang, penggunaan tools assesment dan treatment yang berkualitas, mendesain suasana klinik yang nyaman, bagus, aman & nyaman, menampilkan  mimik wajah yang menyenangkan saat bekerja, menangani dan melayani dengan profesional dan berkualitas , menghargai privasi, serta memberikan data laporan yang jujur dan measurable , merupakan aspek lain dari komunikasi (non verbal) yang kadang pada sebagian tenaga profesional di kesampingkan.

Karena Okupasi terapis haruslah memahami bahwa memanusiakan seorang individu dalah hal yang penting dalam sebuah pelayanan.

“There is always something about how to Humanize  other people”.

Jika  kamu punya pendapat lain seputar shopping therapy atau argumen yang unik. Kamu bisa sharing di link berikut ini , respon terbaik akan di hubungi dan berhak mendapatkan reward yang menarik. https://goo.gl/6pc39G

Sampai jumpa di artikel selanjutnya 🙂

Daftar pustaka

Budiastuti . 2002 “Kepuasan pasien terhadap pelayanan Rumah Sakit”

Fandy Tjiptono, 1997, Strategi Pemasaran, Edisi 1, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Fandy Tjiptono, 2004, Strategi Pemasaran, Edisi 2, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Grififth dalam buku the well managed Community Hospital (1987)

Indarjanti, A., 2001. Kepuasan Konsumen Pranata  No. 1 Th IV.

Johanes Supranto, 2001, Pengukuran tingkat kepuasan pelanggan, Jakarta : Rineka Cipta

Sentralisasi Pelayanan Okupasi Terapi : Nusantara Bukan Hanya Ibukota

Mengutip artikel yang dimuat solider.id saat mendapatkan kesempatan melakukan perbincangan dengan Tri Budi Santoso Phd,OT selaku Ketua Ikatan Okupasi Indonesia mengatakan bahwa jumlah sumber daya manusia yang kompeten di bidang Okupasi Terapis di Indonesia masih sangat kurang dan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan lebih banyak memberikan pelayanan di pulau Jawa. Sementara penyandang disabilitas yang berada di luar pulau Jawa dan wilayah kepulauan yang kecil-kecil di seluruh pelosok Indonesia belum mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan tidak ada.

Jumlah Okupasi Terapis (OT) profesi kesehatan yang memberikan terapi anak untuk dapat hidup lebih mandiri dalam aktivitas kesehariannya pada tahun 2012 berjumlah sekitar 980 yang artinya setiap 10.000 orang hanya dilayani 0.04 OT (www.wfot.org).

Hingga kini, pada tahun 2017 meskipun jumlah Okupasi Terapis kian meningkat kenyataannya masih belum dapat menjangkau wilayah kepulauan Indonesia secara keseluruhan atau minimal dalam setiap provinsi menyediakan rumah sakit yang memiliki penanganan Okupasi Terapis yang dapat bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas.

Untitled.jpg

(Sumber : ioti.or.id)

Berdasarkan data yang dimiliki, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dakhiri mengatakan bahwa jumlah warga negara yang mengalami disabilitas kurang lebih berjumlah 26 juta jiwa (detikfinance,com). Data ini diperkuat oleh Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah  yang menjelaskan bahwa tiga provinsi dengan tingkat prevalensi tertinggi adalah Sumatra Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan (Republika.co.id)

Melihat kondisi tenaga medis Okupasi Terapis yang tersentralisasi di Pulau Jawa khususnya Ibukota dan sekitarnya mengindikasikan adanya faktor yang membuat tenaga kerja profesional Okupasi Terapis belum berani mengambil kesempatan untuk menyentuh harapan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan di bagian timur hingga barat kepulauan Nusantara. Kebutuhan finansial dan jarak menurut saya merupakan faktor yang dianggap paling kuat untuk membuktikan bahwa sumber daya Okupasi Terapis di Indonesia masih berorientasi pada pendapatan dan kenyamanan bekerja. Tentu hal tersebut merupakan sebuah kewajaran, namun demikian jika pandangan tersebut dibiarkan teralalu larut, profesi ini tidak akan pernah dimengerti oleh masyarakat luas bahkan tenaga medis lainnya, apabila sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang Okupasi Terapis belum mampu merubah pandangan terhadap kenyataan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas di Nusantara dapat dimaksimalkan dengan keterampilan yang dimiliki Okupasi Terapis dan apa yang dinamakan Nusantara itu terbentang dari sabang hingga merauke, tidak hanya di pulau Jawa.

Fakta yang cukup menarik saya temukan dalam riset yang dilakukan katadata.com dimana penyandang disabilitas di Ibukota pada tahun 2015 berjumlah 6.003 jiwa dan jika dibandingkan dengan data keseluruhan yang dijelaskan Menaker hanya bagian kecil dari kesuluruhan penyandang disabilitaas yang mencapai 21 juta jiwa. Perguruan tinggi yang setiap tahunnya menyediakan lulusan terbaik dari dari program studi Okupasi Terapi menurut pandangan saya belum memberikan jaminan lulusannya akan bekerja ke daerah – daerah yang belum mendapatkan pelayanan Okupasi Terapis, rata- rata klise, mereka akan lebih banyak menawarkan keterampilan Okupasi Terapi di klinik atau rumah sakit sekitar Jabodetabek , Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Data.png

i.png

(Sumber : Pusat Informasi dan Data Kemenkes. Situasi Penyandang Disabilitas)

Kurangnya penyedia pelayanan Okupasi Terapi di Indonesia tidak luput dari letak geografis yang terdiri dari ribuan pulau, maka dari itu tidak bisa disamakan dengan Singapura yang secara letak geografis tidak seluas Indonesia.

Namun saya berharap bahwa kedepannya tenaga kerja Okupasi Terapis khsusunya cendikiawan yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi mulai memupuk kesadaran dan keberanian untuk menyebarluaskan, memanfaatkan, dan mengulurkan bantuan kepada penyandang disabilitas di Nusantara, walaupun saya menyadari bahwa adanya keterbatasan informasi mengenai area kerja Okupasi Terapi di daerah yang masih belum dimengerti oleh tenaga medis merupakan salah satu faktor terhambatnya pelayanan Okupasi Terapi. Namun demikian bukan berarti kita harus pesimis, justru kita harus mencontoh dari beberapa rekan yang akhirnya dapat menempatkan pelayanan Okupasi Terapi di beberapa daerah di Indonesia, sebut saja Aceh, Papua, Mando, Nusa Tenggara Barat yang saya rasa butuh ketekunan dan perjuangan yang gigih sehingga pada akhirnya dapat diterima sebagai tenaga medis Okupasi Terapi.