Anak Sulit Fokus Belajar: Jangan Dimarahi! 

Anak Sulit Fokus Belajar: Jangan Dimarahi! 

Pernahkah kamu mendapati seorang anak yang sangat sulit untuk menyelesaikan tugasnya? Atau bahkan hanya untuk sekadar memperhatikan suatu materi pembelajaranpun, si anak seringkali kesulitan dalam mempertahankan atensinya dan justru sibuk melakukan hal lainnya yang tidak berkaitan dengan pembelajaran ataupun tugas yang diberikan. Terkadang saat berhadapan dengan kondisi seperti ini, memang tak jarang membuat guru maupun orangtua merasa stress dan kesal, mereka cenderung meminta anak untuk tetap duduk diam dan memaksanya memperhatikan atau melanjutkan tugasnya. Beberapa orang malah memarahi anak tersebut. Namun tahukah kamu bahwa cara seperti itu tidak akan membantu anak dalam meningkatkan atensinya, dan bahwa memarahi anak bukanlah jalan keluar yang terbaik?

Lalu, bagaimanakah cara yang tepat untuk mengatasinya?

Salah satu strategi yang seringkali diterapkan oleh Okupasi Terapis kepada anak-anak yang memiliki kesulitan untuk mempertahankan atensinya saat pembelajaran adalah brain breaks. Apakah brain breaks itu? Brain breaks adalah suatu sesi aktivitas yang diberikan kepada anak di tengah sesi pembelajaran untuk memberikan “istirahat” pada otak dari pekerjaan yang sedang dilakukan atau dari apa yang sedang menjadi fokus bagi anak (Morin, n.d). Ketika terlalu lama melakukan aktivitas belajar dan mengerjakan tugas, anak akan cenderung merasa lelah, bosan, dan menjadi tidak fokus. Menurut Dr. Judy Willis (2016), brain breaks dapat digunakan untuk mengembalikan fokus anak yang hilang tersebut.

Bagaimanakah brain breaks bekerja?

Saat seorang anak sedang belajar atau mengerjakan tugas, kemampuan potensi mereka untuk belajar secara optimal terjadi ketika otak mampu secara efisien mengirimkan signal dari reseptor sensoris mereka (apa yang anak lihat, dengar, sentuh, baca, dan lain-lain) menuju otak pada area yang bertanggung jawab atas memori. Proses penyimpanan informasi baru untuk menjadi memori dalam otak anak ini, terjadi setelah informasi tersebut berhasil melalui “filter emosi” yang disebut dengan amygdala, dan kemudian akan dikirimkan menuju prefrontal cortex, yaitu area pada otak yang bertanggung jawab atas memori. Namun proses ini dapat terhambat ketika anak merasa panik, kebingungan, dan kewalahan, dimana emosi ini sering muncul saat anak stress karena terlalu lama belajar. Jika emosi-emosi tersebut terus dirasakan anak, pengaktifan amygdala dapat mengalami lonjakan dan justru akan menghalangi informasi baru yang masuk menjadi tidak dapat diterima lagi dan gagal dikirimkan ke prefrontal cortex untuk dijadikan sebagai memori (Willis, 2016; Autrey, 2020). Oleh karenanya, ketika anak merasakan emosi-emosi tersebut saat sedang belajar atau mengerjakan tugas, memaksa atau memarahinya hanya akan membuat anak semakin stress dan semakin menyulitkan anak dalam menerima dan menyimpan informasi yang masuk. Ketika seorang anak diberikan brain breaks, sesi ini dapat membantu anak untuk menurunkan kadar emosinya hingga menjadi lebih tenang dan fokus (Weslake & Christian, 2015). Beberapa penelitian juga telah mengemukakan bahwa brain breaks dapat mempengaruhi dan meningkatkan motivasi serta kesenangan anak (Greany & Rodd, 2003), performa akademik, fokus, serta perilaku anak (Reilly, Buskist, & Gross, 201) di dalam kelas saat pembelajaran.

Aktivitas seperti apa yang dapat diberikan pada sesi brain breaks?

Banyak sekali jenis aktivitas yang dapat diberikan pada sesi brain breaks ini. Weslake dan Christian (2015), membagi jenis aktivitas brain breaks menjadi tiga bagian. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Breathing exercises ─ pada jenis aktivitas ini, yang dilakukan adalah meminta anak untuk melakukan deep breathing, visualisasi, dan seringkali digabungkan dengan gerakan-gerakan peregangan seperti memutar leher. Dikatakan bahwa latihan seperti ini dapat membantu mempertahankan fokus anak dan melepaskan stress serta membuat anak menjadi lebih rileks. 
  2. Physical brain breaks ─ jika melakukan jenis aktivitas ini, dikatakan bahwa selain dapat meringankan stress, juga dapat meningkatkan kesehatan fisik, kemampuan motorik kasar, serta motorik halus. Contoh aktivitas yang dapat dilakukan adalah yoga, jumping jacks, berjalan di tempat, menari, dan aktivitas motorik lainnya (The OT Toolbox, n.d).
  3. Mental brain breaks ─ pada jenis aktivitas ini, bisa dilakukan dengan melibatkan aktivitas fisik maupun tidak. Contoh aktivitas yang dapat dilakukan adalah dengan memilih permainan yang membutuhkan konsentrasi lebih ringan daripada tugas yang sedang dikerjakan, namun umumnya tetap berbentuk permainan pembelajaran seperti menjawab pertanyaan trivia atau saling bercerita tentang hal yang lucu (The OT Toolbox, n.d). 

Kapan brain breaks dapat diberikan?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa brain breaks adalah sesi aktivitas yang diberikan di sela-sela pembelajaran untuk menyegarkan kembali otak anak sehingga mengurangi kemungkinan bagi anak untuk merasa stress, dan anak dapat kembali fokus serta dalam keadaan yang optimal dalam menerima informasi pembelajaran. Autrey (2020) menyebutkan bahwa brain breaks sebaiknya diberikan sebelum anak terdistraksi, lelah, atau merasa bosan saat anak sedang belajar. Menurut Dr. Judy Willis (2016), waktu yang tepat untuk memberikan sesi ini pada anak SD adalah setiap 10-15 menit dan setiap 20-30 menit untuk anak SMP dan SMA, dengan durasi sesi 3-5 menit.

Siapa saja yang membutuhkan brain breaks?

Brain breaks dapat digunakan pada seluruh kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, sampai dewasa. Bagi seseorang, wajar jika merasa jenuh, lelah, dan stress dalam menghadapi tugas yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang saat kita dalam fase tersebut, rasanya sulit sekali untuk menerima informasi baru yang masuk. Oleh karena itu, sesi brain breaks ini akan selalu dapat digunakan oleh siapapun ketika mereka sedang berada dalam kondisi tersebut. 

Brain breaks juga disebutkan dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus, contohnya adalah pada anak yang memiliki attention deficit/ hyperactivity disorder (ADHD). Dengan memberikan sesi brain breaks, memungkinkan mereka untuk beristirahat sebentar agar mampu fokus kembali pada pembelajaran atau tugas yang sedang ia kerjakan (Parrish, 2018). Contoh kasus lainnya adalah pada anak yang memiliki sensory processing disorder (SPD). Aktivitas-aktivitas pada brain breaks yang melibatkan pergerakan dapat membantu anak dengan SPD dalam memenuhi kebutuhannya terkait stimulus-stimulus sensori tertentu seperti vestibular, proprioseptif, dan taktil agar mereka mampu meregulasi diri mereka menjadi lebih tenang, fokus, dan mampu untuk belajar (Autrey, 2020).

REFERENSI

Autrey, T. A. (2020, May). Mind in Movement: A Study of The Benefits of Brain Breaks for Students with Sensory Processing Disorder. Fort Wayne, Indiana, US.

Greany, T., & Rodd, J. (2003). Creating a Learning to Learn School. Bodmin: Network Educational Press Ltd.

Morin, A. (t.thn.). Brain Breaks: What You Need to Know. Diambil kembali dari Understood: https://www.understood.org/en/school-learning/learning-at-home/homework-study-skills/brain-breaks-what-you-need-to-know

Parrish, N. (2018, April 27). Setting Students With ADHD Up for Success. Diambil kembali dari Edutopia: https://www.edutopia.org/article/setting-students-adhd-success

Reilly, E., Buskist, C., & Gross, M. K. (2012). Movement in the classroom: Boosting brain power, fighting. Kappa Delta Pi Record, 62-66.

The OT Toolbox. (t.thn.). Brain Breaks. Diambil kembali dari The OT Toolbox: https://www.theottoolbox.com/brain-breaks/

Weslake, A., & Christian, B. J. (2015). Brain Breaks: Help or Hindrance?. Teach Collection of Christian Education, 38-46.

Willis, J. (2016, December 7). Using Brain Breaks to Restore Students’ Focus. Diambil kembali dari Edutopia: https://www.edutopia.org/article/brain-breaks-restore-student-focus-judy-willis

Ditulis oleh : Fanza

Disunting oleh : Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *