Melihat Peran Bermain dari Kacamata Okupasi Terapi

Melihat Peran Bermain dari Kacamata Okupasi Terapi

Bermain bukan aktivitas yang asing dilakukan oleh para praktisi okupasi terapi, terutama mereka yang bekerja di area pediatri. Memanjat, bermain bola, bermain puzzle, dan berbagai permainan lainnya hampir dilakukan setiap hari bersama anak-anak. Bagi kebanyakan orang awam, bermain merupakan hal yang sepele, namun praktisi okupasi terapi melihat lebih jauh dibalik aktivitas bermain. Meskipun okupasi terapi bukanlah satu-satunya profesi yang berkaitan dengan bermain, namun okupasi terapi memberikan perspektif yang unik bagi bermain sebagai okupasi (Kuhaneck et al, 2013). 

Banyak peneliti dari berbagai profesi telah berusaha menjabarkan pengertian bermain. Namun, meskipun terlihat sederhana, penelitian mengenai bermain ternyata bukanlah hal yang mudah, mengingat luasnya cakupan makna dari bermain. Misalnya saja permainan catur dan boneka, tentu saja kita tidak akan menemukan hal yang sama persis dari kedua jenis permainan tersebut. Dalam suatu budaya, sebuah aktivitas dapat disebut sebagai bermain namun tidak bagi budaya lain. Selain itu seseorang dapat menganggap suatu aktivitas sebagai bermain namun orang lain mungkin mengganggap aktivitas tersebut sebagai sebuah pekerjaan. Seperti saat kita bermain basket untuk mengisi waktu luang, para atlet basket akan menganggap permainan basket sebagai pekerjaan mereka. Meskipun demikian, ada beberapa karakteristik yang dapat menjadi ciri khas aktivitas bermain. Mayoritas peneliti menyimpulkan bermain haruslah menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan berasal dari motivasi internal atau dari dalam diri,  jika aktivitas itu dipaksakan oleh orang lain, tentu kita tidak bisa menyebutnya sebagai bermain. 

Seperti yang kita semua tahu, di dalam setiap tingkat perkembangan, manusia memiliki occupational roles atau peran okupasinya masing-masing. Peran okupasi ini berubah sepanjang hidup manusia. Saat masa kanak-kanak, kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk bermain. Kemudian kita akan bertumbuh dan saat memasuki usia sekolah, kita akan menjadi seorang pelajar yang memiliki tugas untuk belajar. Waktu untuk bermain pun berkurang. Setelahnya, kita akan menjadi seorang pekerja dan kemudian menjadi pensiunan. Tahukah kamu apa peran okupasi anak-anak? Ya, bagi anak-anak peran okupasi utama mereka adalah seorang pemain, terutama mereka yang belum memasuki usia sekolah. Sesuai pernyataan Norma Alessandrini (AJOT, 1949), yang dikutip dalam buku Play in Occupational Therapy for Children edisi kedua oleh L Diane Parham dan Linda Fazio, bermain adalah pekerjaan bagi anak-anak. Seperti halnya orang dewasa dalam pekerjaannya, anak-anak mengganggap bermain adalah hal yang serius bagi mereka. Anak-anak mengeluarkan energi dalam bermain sebesar orang dewasa mengeluarkan energinya dalam bekerja. Dengan demikian bermain merupakan aktivitas yang tak terpisahkan dari anak-anak. Melalui bermain anak dapat menyiapkan keterampilan yang dibutuhkan dalam peran okupasi selanjutnya.  

Sebagai okupasi terapis, kita paham bahwa aktivitas bermain dapat digunakan secara efektif sebagai teknik intervensi. Ketika anak-anak bermain, mereka mungkin saja tertawa, tersenyum, dan bergerak aktif; mereka mungkin juga serius dan diam. Anak-anak bermain untuk kepentingannya sendiri, yaitu untuk berkreasi dan eksplorasi. Oleh karena itu, tidak ada cara bermain yang benar atau salah. Bermain adalah jalan keluar yang aman bagi anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri dan membantu mereka mengembangkan keterampilan dengan cara yang fun. Okupasi terapis perlu mengingat bahwa peran okupasi anak sebagai pemain merupakan dasar bagi penerapan intervensi. Praktisi okupasi terapi menggunakan aktivitas bermain untuk menciptakan situasi yang terapeutik dimana anak-anak dapat mencoba keterampilan baru. 

Bermain sebagai alat

Bermain sering digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pengembangan keterampilan. Okupasi terapis merancang kegiatan bermain yang akan meningkatkan keterampilan seperti kekuatan, perencanaan motorik, pemecahan masalah, menggenggam, dan menulis. Menggunakan aktivitas bermain sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan anak memiliki banyak keuntungan. Anak-anak biasanya akan lebih kooperatif dan mudah terlibat dalam permainan. Akan tetapi, menciptakan sesi terapi yang menyenangkan melalui permainan tidak selalu mudah. Okupasi terapis harus bisa mengatur lingkungan yang tepat agar tujuan terapi terpenuhi. Okupasi terapis juga harus mampu mengukur tantangan yang tepat, yaitu tantangan yang tidak terlalu sulit maupun terlalu mudah untuk dilakukan anak; mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing anak, apakah permainan tersebut akan memotivasi atau malah mengintimidasi si anak.

Bermain sebagai tujuan

Okupasi terapis harus berhati-hati terhadap permainan yang terkesan “mengajar” dan memastikan bahwa permainan itu menyenangkan. Selain menggunakan aktivitas bermain sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan anak, bermain juga dapat digunakan sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai. Pada anak-anak yang tidak mempunyai pengalaman dalam bermain, maka aktivitas bermain akan terasa sulit dan saat itulah bermain akan berfungsi sebagai tujuan.

Referensi:

American Occupational Therapy Association. (2012). Tip Sheet: Learning Through Play. Diakses dari http://www.aota.org/about-occupational-therapy/patients-clients/childrenandyouth/play.aspx pada 4 Agustus 2020

Kuhaneck, Heather Miller., Tanta, Kari J., Coombs, Allison Kristine et al. (2013) A Survey of Pediatric Occupational Therapists’ Use of Play. Journal of Occupational Therapy, Schools, & Early Intervention, 6:3, 213-227,DOI: 10.1080/19411243.2013.850940

Parham, L Diane; Fazio, Linda. (2007). Play in Occupational Therapy for Children 2nd Edition. United States of America. Mosby Elsevier.

Solomon, Jean & O’Brien, Jane. (2011). Pediatric Skills For Occupational Therapy Assistants 3rd Ed. Missouri: Elsevier Mosby

Ditulis oleh : Hanifa dan Elysa Nasri

Disunting oleh : Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *