Obesitas Pada Anak-Anak 

Anak-anak dengan badan gemuk tentu terlihat menggemaskan. Tak jarang kebanyakan orang tua merasa bangga memiliki anak yang suka makan banyak dengan dalih “terlihat sehat” katanya. Padahal yang tidak mereka tahu, gemuk tidak sama dengan sehat. Apalagi di masa pandemi sekarang ini, anak-anak lebih banyak belajar dari rumah dengan gadget sehingga aktivitas fisik yang dilakukan pun menjadi kurang. Hal ini dapat meningkatkan resiko obesitas pada anak-anak. Tanpa disadari dibalik itu, ada bahaya yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak yang mengalami obesitas ini. 

Apa yang Membuat Anak Dikatakan Obesitas?

Kegemukan atau obesitas terjadi ketika asupan energi yang masuk melalui makanan lebih tinggi dibanding energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik (WHO, 2000). Sama halnya pada orang dewasa, anak dapat dikatakan obesitas dengan menghitung body mass index atau BMI, yaitu diperoleh dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2). Menurut WHO, anak dikatakan obesitas apabila BMI lebih dari atau sama dengan persentil 95 pada grafik tumbuh kembang berdasarkan usia dan jenis kelamin. Selain itu, mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ciri fisik yang dapat diamati pada anak dengan obesitas adalah bentuk pipinya yang tembam, dagu rangkap, leher yang terlihat pendek, perut buncit dan berlipat, paha dalam yang saling menempel, dan sebagainya. Apabila anak terlihat memiliki ciri tersebut, disarankan untuk membawanya menemui ahli yang terkait seperti dokter anak atau ahli gizi.

Obesitas pada Anak dengan Disabilitas

Menurut Bazyk & Winne (2013), anak disabilitas memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi obesitas. Hal ini karena anak yang memiliki disabilitas akan berkurang partisipasinya dalam aktivitas fisik, perilaku hidup sedenter, dan kebugaran fisik yang lebih rendah dibanding teman sebayanya (Cermak et al, 2015). Misalnya pada anak dengan Autisme yang memiliki masalah dalam pemrosesan sensori, cenderung akan menjadi pemilih terkait makanan, sehingga makanan yang dimakan kurang bervariasi dan berpotensi mengandung gizi yang kurang. Selain itu, anak dengan gangguan pemrosesan sensori, akan menghindari dalam partisipasi di lingkungan yang memiliki banyak stimuli. Berdasarkan penelitian oleh Mische Lawson and Foster pada tahun 2016, menemukan bahwa anak dengan ASD dan obesitas, menunjukkan hasil BMI yang lebih tinggi.

Masalah Okupasi dan Kesehatan pada Anak dengan Obesitas

Anak yang terdiagnosis obesitas dapat mengalami sejumlah masalah kesehatan yang umumnya dihadapi oleh orang dewasa, seperti tekanan darah dan kolestrol yang tinggi, masalah pada sistem kardiovaskular, diabetes tipe 2, masalah pada pernapasan, serta menyebabkan ketidaknyamanan pada sistem muskuloskeletal. Tak hanya itu, psikologis anak dengan obesitas memungkinkan untuk mengalami sejumlah masalah seperti rendah diri, depresi, serta masalah perilaku. Di masyarakat sendiri, anak dengan obesitas akan mendapat stigma yang negatif, marginalisasi atau pembatasan peran, perundungan oleh teman sebaya, munculnya pandangan diri yang negatif, serta kesulitan dalam partisipasi sosial (CDC, 2015). 

Memiliki berat badan yang berlebih dapat membatasi seseorang dalam menjalani okupasi yang bermakna. Saat seseorang terhalang dalam menjalani okupasinya, tentu saja hal ini akan berpengaruh pada kesejahteraannya. Anak dengan obesitas akan mengalami hambatan dalam okupasinya seperti bermain, aktivitas fisik, partisipasi di sekolah, gangguan dalam pengelolaan waktu dan kebiasaan makan, serta pemanfaatan waktu luang (Kugel et al., 2017; Pizzi & Orloff, 2015). 

Bagaimana Okupasi Terapi dapat Membantu

Okupasi terapis dapat memberikan kontribusi dalam intervensi pada anak yang mengalami obesitas. Okupasi terapis dapat berperan dengan memfasilitasi aktivitas fisik dan sosial yang menyenangkan, mengurangi stigma dan perundungan, serta menyarankan penyajian makanan yang sehat (AOTA, 2012). 

Menurut AOTA, intervensi okupasi terapis pada anak dengan obesitas dapat dilakukan di semua seting lingkungan seperti di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Di lingkungan rumah, okupasi terapis dapat mendorong keluarga untuk menyediakan pilihan makanan yang sehat serta partisipasi dalam aktivitas fisik yang menyenangkan. Sedangkan di lingkungan sekolah, okupasi terapi dapat mengedukasi program anti perundungan sehingga siswa dapat menumbuhkan rasa saling menghormati terhadap perbedaan. Bersama dengan guru di sekolah, okupasi terapi dapat menyusun program aktivitas fisik dalam kurikulum pelajaran maupun kegiatan ekstrakulikuler. Di lingkungan masyarakat, okupasi terapis dapat membantu mendesain ruang terbuka yang dapat digunakan untuk aktivitas fisik serta mendorong olahraga non-kompetitif bagi anak-anak untuk meningkatkan pertumbuhan self-esteem yang positif.

Referensi

American Occupational Therapy Association. (2012). Childhood Obesity. Diakses dari https://www.aota.org/-/media/Corporate/Files/Practice/Children/SchoolMHToolkit/Childhood%20Obesity.pdf pada 13 Maret 2021.

Cantal, Alyssa. (2019). Managing Obesity in Pediatrics: A Role for Occupational Therapy. American Occupational Therapy Association Continuing Education Article. Diakses dari https://www.aota.org/~/media/Corporate/Files/Publications/CE-Articles/CE-Article-January-2019-Obesity-Pediatrics.pdf  pada 11 Maret 2021.

Greydanus, D. E., Agana, M., Kamboj, M. K., Shebrain, S., Soares, N., Eke, R., & Patel, D. R. (2018). Pediatric obesity: Current concepts. Disease-a-Month, 64(4), 98-156.

https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/sekilas-tentang-obesitas-pada-buah-hati diakses pada 11 Maret 2021.

Penulis : Hanifa

Editor: Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *