Perbedaan Pekerjaan dan Profesi
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang okupasi terapi, kita perlu memahami apa perbedaan antara “pekerjaan” dan “profesi”. Pekerjaan didefinisikan sebagai pekerjaan sementara atau tetap seseorang, bisnis, panggilan, atau pencarian (The Canadian Oxford Dictionary, 1998), sedangkan profesi adalah kelompok pekerjaaan yang terorganisir (Adams, 2010, hlm. 54). Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan pekerjaan, sedangkan pekerjaan belum tentu profesi. Misalnya saja menyapu, aktivitas ini merupakan pekerjaan rumah untuk membersihkan lantai dari debu, sedangkan asisten rumah tangga yang melakukan pekerjaan menyapu, mengepel, dan memasak adalah sebuah profesi.
Apakah OT adalah profesi?
Tidak dapat dipungkiri, OT mengalami perjalanan panjang menuju profesionalisasi. Proses profesionalisasi ini menghabiskan waktu yang tidak sedikit, mulai dari pengembangan pekerjaan, pendirian sekolah pelatihan, pembentukan asosiasi profesional, pengurusan hukum yang berperan sebagai perlindungan praktik dan jabatan sampai pembentukan kode etik formal. Proses profesionalisasi ini sangat kompleks dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, organisasi, politik, budaya, dan sosial (Adams, 2010; Siegrist, 1990 dalam Cooper, 2012).
Selain proses profesionalisasi, kurangnya jumlah peminat laki-laki membuat OT lebih sulit “bergerak”, alasannya adalah kesulitan yang dirasakan perempuan ketika harus membagi peran antara menjadi Ibu dan OT sekaligus. Sampai pada akhirnya, sebuah perubahan besar pada OT terjadi di tahun 1983 dengan terbitnya “Guidelines for the Client-centred Practice of Occupational Therapy” yang menjelaskan praktik OT berupa pelayanan yang terpusat pada klien atau dengan kata lain, OT akan bekerja secara kolaboratif dengan klien untuk menentukan terapi seperti apa yang akan dilakukan. Sejak saat itu terjadi perubahan yang semakin baik pada OT, yaitu dengan diterbitkannya “Model of Occupational Performance” di tahun 1983, disusul oleh “Canadian Model of Occupational Performance” di tahun 1997, dan pengertian dari Polatajko dkk (2004) bahwa kata “okupasi” akan selalu menjadi istilah penentu bagi profesi OT.
Alasan OT tidak se-terkenal profesi kesehatan lainnya
Salah satu hal yang membuat OT tidak se-terkenal profesi kesehatan lainnya adalah karena pengembangan model praktik OT yang belum “ramah” terhadap orang awam, ruang lingkup kerja yang sangat luas namun dibatasi pada disiplin ilmu lain, keharusan untuk up to date tapi sulit karena harus bekerja (Cooper, 2012). Masalah ini berlanjut karena masih sedikitnya jumlah OT dan perasaan malu saat memperkenalkan profesi OT pada publik sehingga terjadi ketidakefektifan dalam mempromosikan OT.
Masalah lain juga datang dari luar berupa sulitnya orang mengerti profesi OT, investor-investor menganggap layanan OT tidak masuk akal secara ekonomi, belum lagi terjadi persaingan dengan profesi lain yang mengaku menyediakan aktivitas fungsional yang seharusnya menjadi keunikan OT (Cooper, 2012). Apabila masalah-masalah tersebut dapat diatasi atau setidaknya dikurangi, maka tidak akan ada lagi pertanyaan “Apa itu OT?” di masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan okupasi terapis yang berkualitas dan bersedia berkolaborasi dengan profesi lain demi mempromosikan OT kepada orang banyak. Semangat yuk!
Referensi
Cooper, J. (2012). Reflection On The Professionalization of Occupational Therapy: Time to Put Down The Looking Glass. Canadian Journal of Occupational Therapy, 79(4), hal 199-209.
Penulis : Fitria dan Elysa
Editor : Elysa
