Tidur adalah kebutuhan dasar setiap orang. Tidur adalah waktu dimana tubuh kita beristirahat dan meregenerasi sel-sel tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan waktu tidur yang baik secara teratur memiliki atensi, perilaku, kemampuan belajar, daya ingat, dan kesehatan fisik serta mental yang baik (Paruthi et al., 2016). Tidur siang sekitar 30 menit setelah belajar juga menunjukkan pengaruh positif dalam peningkatan kemampuan belajar bahasa dan memori anak (Tham et al., 2017).
Manfaat dari tidur yang baik tidak berhenti di kognitif anak, akan tetapi juga pada pertumbuhan tubuhnya. Ada banyak hormon pertumbuhan yang berhubungan dengan ritme sirkardian (siklus tidur-bangun dan proses biologis selama 24 jam). Hormon seperti melatonin, kortisol, leptin, insulin-like growth factor-1, proclatin, dan hormon pertumbuhan adalah hormon yang menstimulasi pertumbuhan tubuh dan berperan sangat penting pada usia 1 bulan pertama kehidupan. Produksi hormon ini dipengaruhi oleh nutrisi, aktivitas fisik, dan pola tidur (Tham et al., 2017).
Walau tidur membawa banyak sekali manfaat, tidur yang berlebihan juga tidak baik loh ya. Kurang tidur dan tidur berlebihan pada anak dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah dan obesitas. Durasi tidur dan pola jam tidur telah terbukti sangat mempengaruhi resiko obesitas pada anak (Miller et al., 2015). Pada remaja, waktu tidur yang tidak ideal dapat meningkatkan resiko self-harm dan suicidal thoughts (Paruthi et al., 2016).
Jam tidur yang ideal menurut The American Academy of Pediatrics sebagai berikut :
- Bayi usia dibawah 1 tahun sekitar 12 – 16 jam (sudah termasuk tidur siang) dalam sehari.
- Anak usia 1 – 2 tahun sekitar 11 – 14 jam (sudah termasuk tidur siang) dalam sehari.
- Anak usia 3 – 5 tahun sekitar 10 – 13 jam (sudah termasuk tidur siang) dalam sehari.
- Anak usia 6 – 12 tahun sekitar 9 – 12 jam dalam sehari.
- Remaja usia 13 – 18 sekitar 8 – 10 jam dalam sehari.
Gangguan tidur pada anak-anak dengan gangguan neurodevelopmental umum terjadi. Hal ini membawa dampak buruk pada anak dan keluarga, seperti peningkatan perilaku maladaptif dan peningkatan emosi serta rasa lelah pada orang tua. Lebih dari 50% anak mengalami gangguan tidur (Carter et al., 2014). Akan tetapi, anak dengan berbagai gangguan perkembangan seperti cerebral palsy, sindroma Smith-Magenis, sindroma Angelman, down’s syndrome (Tietze et al., 2012), tuberous sclerosis complex, dan Autism Spectrum Disorder mengalami gangguan tidur yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak tanpa gangguan perkembangan (Trickett et al., 2018).
Gangguan tidur dapat menyebabkan banyak dampak negatif pada fisik, perkembangan kognitif, dan perilaku maladaptif di pagi hari (Tietze et al., 2012). Ngantuk pada anak juga dapat dimanifestasikan dengan gangguan mood seperti depresi, penurunan atensi dan konsentrasi, dan masalah perilaku (Carter et al., 2014). Gangguan tidur juga membawa pengaruh negatif pada fungsi eksekutif pada anak. Fungsi eksekutif merupakan proses mental yang bertanggung jawab pada perencanaan, fokus, mengingat instruksi, dan keberhasilan dalam menyelesaikan suatu tugas (Trosman & Trosman, 2017)
Untuk mengurangi gangguan tidur pada anak, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua di malam hari secara rutin. Hal-hal tersebut seperti mengurangi pencahayaan, berhenti mengurangi penggunaan elektronik setidaknya satu jam sebelum tidur, mengurangi kafein, mandi dengan air hangat, melakukan aktivitas yang tidak menimbulkan kegaduhan, dan menetapkan waktu tidur dan bangun tidur. Jika anak terbangun di malam hari, antarkan anak kembali tidur dengan perlahan (Dawkins, 2018).
Referensi
AAP Supports Childhood Sleep Guidelines. (2016). HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/news/Pages/AAP-Supports-Childhood-Sleep-Guidelines.aspx
Carter, K. A., Hathaway, N. E., & Lettieri, C. F. (2014). Common Sleep Disorders in Children. American Academy of Family Physician, 89.
Dawkins, R. (2018). The Importance of Sleep for Kids. Johns Hopkins All Children’s Hospital. https://www.hopkinsallchildrens.org/ach-news/general-news/the-importance-of-sleep-for-kids
Miller, A. L., Lumeng, J. C., Lebourgeois, M. K., Arbor, A., Arbor, A., & Arbor, A. (2015). HHS Public Access. 22(1), 41–47. https://doi.org/10.1097/MED.0000000000000125.Sleep
Paruthi, S., Brooks, L. J., Ambrosio, C. D., Hall, W. A., Kotagal, S., Lloyd, R. M., Malow, B. A., Maski, K., Nichols, C., Quan, S. F., Rosen, C. L., & Troester, M. M. (2016). Recommended Amount of Sleep for Pediatric Populations : A Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine. 12(6), 785–786.
Tham, E. K. H., Schneider, N., & Broekman, B. F. P. (2017). Infant sleep and its relation with cognition and growth : a narrative review. 135–149.
Tietze, A., Blankenburg, M., Hechler, T., Michel, E., Koh, M., Schlüter, B., & Zernikow, B. (2012). Sleep disturbances in children with multiple disabilities. Sleep Medicine Reviews, 16(2), 117–127. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2011.03.006
Trickett, J., Heald, M., Oliver, C., & Richards, C. (2018). A cross-syndrome cohort comparison of sleep disturbance in children with Smith-Magenis syndrome , Angelman syndrome , autism spectrum disorder and tuberous sclerosis complex. 1–14.
Trosman, I., & Trosman, S. J. (2017). medical sciences Cognitive and Behavioral Consequences of Sleep Disordered Breathing in Children. 1–14. https://doi.org/10.3390/medsci5040030
Ditulis oleh : Riama
Disunting oleh : Elysa Nasri
