Daily Living Skills adalah keterampilan yang diperlukan untuk kemandirian sehari-hari di rumah, sekolah, dan di masyarakat. Biasanya kemampuan ini diperoleh pada usia tertentu pada perkembangan seseorang (misalnya, sebagian besar anak usia 2–3 tahun belajar berpakaian dan makan sendiri, sebagian besar anak berusia 8–10 tahun mampu mandi sendiri secara mandiri. Daily Living Skills contohnya adalah aktifitas perawatan diri (personal care), home living task (misalnya bersih-bersih ruangan, memasak, mencuci pakaian), mengatur waktu, keterampilan menggunkan uang untuk belanja dan menabung, keterampilan bekerja dan melakukan aktifitas sosial bermasyarakat. Daily Living Skills biasanya memerlukan instruksi, latihan berulang, dan umpan balik (feedback) dari orang lain sebelum dikuasai dan diselesaikan secara mandiri. Penguasaan dan kemandirian Daily Living Skills adalah landasan untuk mencapai tugas perkembangan kemandirian di usia anak, remaja dan dewasa.
Individu dengan perkembangan normal dapat mengembangkan Daily Living Skills secara otomatis melalui instruksi langsung, pengalaman, interaksi dengan orang dewasa,teman sebaya di rumah, sekolah, dan di masyarakat (Sparrow et al., 2005). Namun Pada kondisi gangguan perkembangan, khususnya ASD, keterampilan ini terkadang sulit untuk muncul dengan alami. Beberapa ahli akhirnya mempelajari faktor yang mempengaruhi dan menghambat keterampilan ini muncul. Adapun salah satu sebabnya adalah belum berkembangnya kemampuan dan kematangan fungsi motorik, kematangan fungsi sensory motor, kemampuan kognitif, komunikasi, fungsi eksekutif, juga dukungan faktor lingkungan fisik serta keterlibatan keluarga dan orang disekitar selama proses pembelajaran keterampilan ini dikenalkan.
Cara melatih Daily Living Skills, salah satunya adalah prinsip pembelajaran berbasis pengalaman yang biasa dilakukan dan prakter berulang. Pada individu anak dan remaja dengan kondisi ASD dapat dilakukan dengan penerapan analisis tugas, checklist tugas , memberi bantuan fisik , modeling , visual support , juga keterlibatan dukungan orangtua dan keluarga selama latihan (Bennett & Dukes, 2014; Palmen et all., 2012; Steinbrenner et all., 2020; Wong et all., 2015).
Analisis tugas adalah strategi yang dapat digunakan untuk memecah keterampilan kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih mudah dilakukan. Contohnya, membuat analisis tugas untuk langkah-langkah rutinitas di pagi hari, menjabarkannya dalam beberapa urutan , dan kemudian mengidentifikasi strategi/dukungan apa yang dapat membantu mereka melakukan langkah demi langkah tersebut.
Analisis tugas adalah langkah yang memungkinkan untuk bisa di generalisasi untuk banyak tugas, domain, dan item keterampilan sesuai dengan kapasitas klien serta skala prioritas program yang akan di targetkan. Misalnya keterampilan menyortir cucian, menggunakan mesin cuci dan pengering, serta melipat/menyimpan pakaian. klien dapat diberikan instruksi yang konkrit & eksplisit untuk menyelesaikan cucian (misalnya, menyortir cucian, mengidentifikasi siklus mesin cuci yang tepat untuk mencuci pakaian, dan melipat baju menggunakan papan lipat, dsb). Begitupun hal nya dengan keterampilan mengenali uang dan belanja, juga aktifitas perawatan kebersihan diri dan keterampilan community access .
Hanya saja pada klien dengan hambatan fungsi ekekutif, keterampilan ini sulit diterapkan menjadi habit yang otomatis, seringkali membutuhkan pengulangan dan supervisi agar keterampilan ini dapat dikuasi dengan baik.
Hal ini sering terjadi dalam konteks individu dengan kondisi ASD. Individu dengan ASD memiliki kesulitan jika dibandingkan typical children dalam hal fungsi eksekutif , dimana suatu tugas memerlukan beberapa langkah pemecahan masalah, melalui perencanaan dan melakukan identifikasi urutan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu (Tsatsanis 2005). Fungsi eksekutif dianggap sebagai kemampuan untuk mempertahankan rangkaian pemecahan masalah untuk melakukan suatu tugas tertentu (Welsh dan Pennington 1988). Kesulitan khusus individu ASD adalah saat menghadapi situasi yang baru dan di waktu yang bersamaan harus memproses informasi yang kompleks dan merencanakan langkah langkap pemecahan masalah (Minshew et al. 2002). Defisit dalam fungsi eksekutif dapat menjadi salah satu faktor yang mendasari kesulitan dalam keterampilan & kemandirian hidup sehari-hari.
Referensi
Bennett, K. D., & Dukes, C. (2014). A systematic review of teaching daily living skills to adolescents and adults with autism spectrum disorder [journal article]. Review Journal of Autism and Developmental Disorders, 1(1), 2–10. https://doi.org/10.1007/ s40489-013-0004-3
Brittany G.et all . (2022) Associations Among Daily Living Skills, Motor, and Sensory Difficulties in Autistic and Nonautistic Children. The American Journal of Occupational Therapy, 2022, Vol. 76(2), 7602205020. https://doi.org/10.5014/ajot.2022.045955
Hume, K., Plavnick, J., & Odom, S. L. (2012). Promoting task accuracy and independence in students with autism across educational set- ting through the use of individual work systems. Journal of Autism and Developmental Disorders, 42(10), 2084–2099.
Palmen, A., Didden, R., & Lang, R. (2012). A systematic review of behavioral intervention research on adaptive skill building in high- functioning young adults with autism spectrum disorder. Research in Autism Spectrum Disorders, 6(2), 602–617. https://doi.org/10. 1016/j.rasd.2011.10.001
Tsatsanis, K. (2005). Neuropsychological characteristics of autism and related conditions. In F. R. Volkmar, R. Paul, A. Klin, & D. Cohen (Eds.), Handbook of autism and developmental disorders (pp. 365–381). Hoboken, NJ: Wiley.
Sparrow, Cicchetti, D. V., & Balla, D. A. (2005). Vineland adaptive behavior scales, (Vineland-II). American Guidance Services.
Sparrow, S., Cicchetti, D. V., & Saulnier, C. A. (2016). Vineland adap- tive behavior scales–Third edition (Vineland-3). Pearson.
Welsh, M. C., & Pennington, B. (1988). Assessing frontal lobe functioning in children: Views from developmental psychology. Developmental Neuropsychology, 4, 199–230.
Penulis : Gunawan
