Penyebab Utama Kematian Secara Global
Bunuh diri didefinisikan sebagai “tindakan membunuh diri sendiri secara sengaja” (Suicide, 2017). Dilaporkan bahwa setiap empat puluh detik terjadi satu kasus bunuh diri, sehingga bunuh diri menjadi salah satu dari dua puluh penyebab utama kematian secara global untuk orang-orang dari segala usia. Oleh karenanya, setiap tanggal 10 September ditetapkan sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri se-dunia yang bertujuan untuk mendukung setiap orang yang sedang berjuang untuk tetap hidup dan tidak memilih untuk membunuh diri sendiri.
Sebagai masyarakat yang peduli akan isu bunuh diri, kita dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kesadaran tentang bunuh diri, yaitu dengan mendidik diri sendiri dan orang lain tentang penyebab bunuh diri, aware terhadap tanda-tanda bunuh diri, menunjukkan empati kepada orang-orang yang menjadi pejuang bunuh diri dengan memperhatikan mereka dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang memiliki kesan stigma.
Penelitian menunjukkan bahwa upaya pencegahan bunuh diri akan jauh lebih efektif jika dilakukan pada berbagai tingkat dan menggabungkan berbagai intervensi. Ini membutuhkan keterlibatan intervensi yang terjadi di komunitas dan melibatkan reformasi sosial dan kebijakan yang ada, sehingga diharapkan setiap orang dapat memberikan kontribusi dalam mencegah bunuh diri. Perilaku bunuh diri bersifat universal, tidak mengenal batasan tertentu. Tahun demi tahun, perilaku bunuh diri memiliki wawasan yang eksklusif dan suara yang unik. Pengalaman mereka sangat berharga untuk menginformasikan tindakan pencegahan bunuh diri dan mempengaruhi pemberian dukungan untuk orang yang ingin bunuh diri dan orang di sekitar mereka. Keterlibatan orang dengan pengalaman hidup bunuh diri dalam penelitian, evaluasi, dan intervensi harus menjadi pusat pekerjaan setiap orang organisasi yang menangani perilaku bunuh diri.
Peran OT Pada Pencegahan Bunuh Diri
Praktisi okupasi terapi perlu menyadari faktor risiko dan tanda-tanda peringatan bunuh diri pada seseorang agar dapat memberikan tanggapan dan penanganan dengan tepat. Selain itu, okupasi terapis dapat meningkatkan evaluasi dan pendekatan pemulihan mereka dengan menerapkan model praktik dan kerangka acuan, analisis aktivitas, ataupun melalui pemeriksaan yang sesuai dengan Occupational Therapy Practice Framework: Domain and Process (American Occupational Therapy Asosiasi, 2014).
Mengetahui apa yang dibutuhkan klien adalah karakteristik inti dari Okupasi Terapis (Lamb, 2016). Oleh karenanya, Okupasi Terapis perlu menerapkan seluruh pengetahuan tentang kondisi manusia dan analisis aktivitas dalam lingkungan terapeutik melalui keterlibatan klien. Meskipun intervensi okupasi terapi melibatkan berbagai aktivitas fungsional (misalnya, berpakaian, mandi, memasak), praktisi okupasi terapi harus melihat lebih dalam kinerja klien pada aktivitas yang mereka lakukan (yaitu komponen yang mempengaruhi status fungsional, seperti penurunan rentang gerak atau kekuatan, atau rentang perhatian) untuk memahami makna penting aktivitas tersebut terhadap klien dan bagaimana tingkat keterlibatan klien secara konsekuen. Komponen kinerja memberikan informasi penting mengenai kemampuan dan potensi klien, namun interpretasi klien tentang makna terhadap aktivitas yang dilakukan sangat penting dalam proses keterlibatan berkelanjutan. Dengan menerapkan hal-hal yang telah disebutkan tadi, Okupasi Terapis dapat menentukan apa yang menjadi tujuan bagi seseorang tersebut, apakah promosi kesehatan, rehabilitasi/ pemulihan, remediasi, pemeliharaan kesehatan, adaptasi, atau pencegahan (AOTA, 2014). Melibatkan klien untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengidentifikasi keseluruhan tujuan ini serta membangun langkah-langkah yang tepat sangat penting untuk keberhasilan intervensi, seperti membantu klien dalam mengembangkan kesadaran diri (misalnya, tanda dan gejala depresi atau kesadaran harga diri rendah), pengetahuan (misalnya, mengidentifikasi strategi dan sumber daya koping), dan bahkan mungkin rencana kesehatan dan kebugaran (misal perawatan diri, olahraga dan diet, keterlibatan komunitas).
Praktisi okupasi terapi juga dapat menjadi pendukung dengan terlibat dalam praktik dan penelitian berbasis bukti. Mencari bukti-bukti dan mendiskusikannya dengan kolega dan profesi kesehatan lainnya dapat membantu menetapkan dasar klinis dan alasan untuk layanan yang akan diberikan. Berpartisipasi dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan menyusun data dan hasil serta melakukan studi kasus (sesuai dengan protokol penelitian fasilitas dan persyaratan yang berlaku) selanjutnya akan mengembangkan tubuh pengetahuan dan berpotensi membantu memperkuat kebutuhan dan nilai layanan okupasi terapi. AOTA (2017) memberikan strategi dan alat untuk mendukung praktisi dalam menangani dan mengadvokasi layanan kesehatan mental. Alat ini mencakup sumber daya yang membantu praktisi dalam mengembangkan praktik berbasis bukti serta alat yang dapat digunakan untuk mendidik orang lain tentang nilai okupasi terapi dalam menangani kesehatan mental.
Referensi
International Association for Suicidal Prevention. (2020). Working Together To Prevent Suicide. IASP
Novalis, Sharon. (2017). Suicide Awareness and Occupational Therapy for Suicide Survivors. AOTA
World Health Organization. (2014). World Prevention Suicide Day. WHO
Ditulis oleh : Elysa Nasri
