Persamaan dan Perbedaan ASD, ADHD, dan SPD

Apa Itu ASD, ADHD, dan SPD?

ASD, ADHD, dan SPD merupakan tiga dari beberapa kondisi yang cukup sering ditemui pada kasus pediatri. Ketiga kondisi ini memiliki beberapa persamaan yang seringkali membuat anak mendapatkan diagnosis yang kurang tepat. Walaupun demikian, ketiga kondisi ini memiliki ciri-ciri yang menjadi khas pada masing-masing kondisi. Sebelum membahas persamaan dan perbedaan dari ASD, ADHD, dan SPD, kita akan melihat ketiga kondisi ini secara umum terlebih dahulu.

ASD

Masalah utama pada anak dengan kondisi Autism Spectrum Disorder atau yang sering disingkat sebagai ASD adalah gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku repetitif atau berulang (Konst et al., 2014). Anak dengan kondisi ASD memiliki dunianya sendiri dan kurang merespon dengan lingkungan sekitar. Bukanlah hal aneh jika kita melihat anak dengan kondisi ASD bermain dengan mainan yang itu–itu saja. Mereka memiliki perilaku repetitif, seperti melakukan gerakan dan mengucapkan kata yang sama berulang–ulang. Perilaku berulang ini juga terjadi dalam hal bermain. Mereka dapat bertahan memainkan satu jenis permainan dalam waktu yang sangat lama. Ketertarikan anak autis pada hal baru cenderung terbatas. Mereka cenderung bermain sendiri dan acuh pada orang disekitarnya. Anak autis memiliki gangguan dalam berinteraksi, berkomunikasi, mengungkapkan perasaanya dan menjalin kontak mata. 

ADHD

Hal yang paling menonjol dari anak dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD adalah anak yang menunjukkan berperilaku hiperaktif dan kesulitan dalam memusatkan perhatiannya (Konst et al., 2014). Anak ADHD juga sering dijuluki dengan istilah anak tanpa rasa lelah karena mereka memiliki level energi yang lebih besar dari anak pada umumnya. Hal inilah yang membuat anak kesulitan untuk duduk tenang. Mereka menunjukkan perilaku impulsif dan cenderung tidak sabar dalam berbagai hal seperti ketika berbicara dan melakukan suatu aktivitas (CHADD, 2018). 

SPD

Sensory processing disorder atau yang lebih dikenal dengan SPD merupakan gangguan dalam pemrosesan informasi sensori dari lingkungan luar. SPD adalah gangguan pada sistem saraf dalam mengintegrasikan informasi dari lingkungan sekitar, sehingga cara anak merespon lingkungan sekitar tidak tepat. Sederhananya, anak kesulitan dalam memproses mengenai informasi yang mereka lihat, dengar dan sentuh. SPD terbagi atas 3 kategori yaitu sensory modulation yang berkaitan dengan hipersensitif, hiposensitif, atau sensory seeking. Kemudian, sensory-based motor disorder yang berkaitan dengan kontrol postural dan praxis (perencanaan gerak). Serta kategori yang ketiga adalah sensory-discrimination disorder yang berkaitan dengan kemampuan dalam membedakan dan mengkategorikan benda yang ada di lingkungan sekitar (Delaney, 2008). 

Dampak dari kondisi SPD ini seringkali membuat anak menarik diri dari lingkungan sekitar dan menghindari interaksi. Perilaku tersebut sekilas seperti perilaku anak dengan kondisi ASD. Dampak dari kondisi SPD yang kesulitan mengoordinasikan gerakannya dan kesulitan memproses informasi dari lingkungan luar membuat anak mudah terdistraksi dan level aktivitas anak cenderung hiperaktif atau hipoaktif (Delaney, 2008). Perilaku tersebut sekilas seperti perilaku yang muncul pada anak dengan kondisi ADHD.

Persamaan dan Perbedaan ASD, ADHD, dan SPD

Persamaan

  1. Lebih dari 90% anak ASD juga memiliki masalah sensoris. Mereka bisa hipersensitif atau mungkin hiposensitif terhadap suatu stimulus. Masalah pemrosesan sensoris ini juga dialami lebih dari 69% anak laki-laki dengan kondisi ADHD. Ghanizadeh (2011) dalam Kern et al. (2012) menemukan bahwa anak ADHD juga mengalami gangguan sensori pada auditori, vestibular, visual, and taktil (Kern et al., 2012)  seperti yang dialami oleh anak dengan kondisi SPD tipe sensory modulation.
  2. Kesulitan dalam mengkoordinasikan gerakan dan keseimbangan tubuh juga ditemukan pada anak dengan kondisi ASD dan ADHD (Kern et al., 2012). Kesulitan dalam mengkoordinasikan gerakan dan keseimbangan tubuh ini dapat di temukan pada anak dengan kondisi SPD tipe sensory-based motor disorder
  3. ASD dan ADHD sama-sama disebabkan oleh gangguan dalam sistem neurodevelopmental (CHADD, 2018). Sekitar 30 – 80% anak ASD memiliki kriteria anak ADHD. Pada anak ADHD, sekitar 20 – 50% diantaranya memiliki kriteria anak ASD (Carrascosa et al., 2015). 
  4. Sekitar 85% anak ADHD mengalami kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi (Kern et al., 2012). Masalah dalam interaksi sosial juga dapat terjadi pada anak SPD dikarenakan gangguan pemrosesan informasi (Tara, 2008) 

Perbedaan

  1. Pada anak ASD, mereka dapat berfokus pada satu mainan (obsesi) dalam jangka waktu yang sangat lama, sedangkan anak ADHD memiliki kecenderungan cepat bosan sehingga membuat mereka berpindah–pindah jenis permainan (CHADD, 2018). 
  2. Anak ASD akan memberikan perhatian hingga ke hal terkecil sekalipun, sedangkan anak ADHD memiliki perhatian yang kurang dan cenderung ceroboh (Rommelse et al., 2018).
  3. Hal yang membedakan anak SPD dan ADHD dengan anak ASD adalah minat dalam interaksi anak pada lingkungan sekitar. Pada anak dengan kondisi ASD, ADHD, dan SPD mungkin menunjukkan gangguan dalam interaksi sosial akan tetapi penyebabnya berbeda-beda. Pada anak SPD, mereka memiliki ketertarikan untuk berinteraksi akan tetapi gangguan pemrosesan sensorinya dapat menghambat anak untuk menjalin interaksi (Delaney, 2008). Sedangkan pada kondisi ADHD, gangguan interaksi dikarenakan lingkungan sekitarnya yang menolaknya (Kern, 2015). Anak ADHD mampu berinteraksi secara non-verbal dan menjalin kontak mata (Rommelse et al., 2018). Berbeda dengan kondisi ASD, gangguan dalam berinteraksi sosialnya dikarenakan adanya kesulitan dalam berkomunikasi, mengungkapkan perasaanya dan menjalin kontak mata.

Kondisi ASD, ADHD dan SPD adalah ketiga kondisi yang memiliki banyak kesamaan kriteria dan kemiripan.  Untuk kondisi SPD, hingga saat ini baru memang belum dikategorikan sebagai suatu diagnosis dalam Diagnostic and Statisical Manual (DSM). Akan tetapi kondisi SPD ini, telah dikenal sejak lama di kalangan terapis dan orang tua. Komunitas terapis okupasi mendukung kondisi SPD untuk ikut dikategorikan sebagai suatu diagnosis dalam DSM agar anak dengan kondisi SPD tidak mengalami kesalahan dalam penegakan diagnosis (Delaney, 2008). Hal ini penting untuk dihindari karena diagnosis akan memengaruhi proses intervensi yang akan diberikan ke anak. Walaupun demikian, kemungkinan untuk di tegakkannya diagnosis kedua dapat terjadi atau dikenal sebagai penyakit penyerta/komorbid.

Referensi

Carrascosa-Romero, M. C., & Vega, C. D. C.-D. La. (2015). The Comorbidity of ADHD and Autism Spectrum Disorders ( ASDs ) in Community Preschoolers.

Children and Adults with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. (2018). ADHD and Autism Spectrum Disorder. 1–3.

Delaney, T. (2008). The sensory processing disorder answer book : practical answers to the top 250 questions parents ask. Sourcebooks, Inc.

Kern, J. K., Geier, D. A., Sykes, L. K., Geier, M. R., & Deth, R. C. (2012). Are ASD and ADHD a Continuum ? A Comparison of Pathophysiological Similarities Between the Disorders. Journal of Attention Disorders, Vol. 19(9)(October), 805 –827. https://doi.org/10.1177/1087054712459886

Konst, M. J., Matson, J. L., Goldin, R., & Rieske, R. (2014). Research in Developmental Disabilities How does ASD symptomology correlate with ADHD presentations ? Research in Developmental Disabilities, 35(9), 2252–2259. https://doi.org/10.1016/j.ridd.2014.05.017

Rommelse, N., Visser, J., & Hartman, C. (2018). Differentiating between ADHD and ASD in childhood : some directions for practitioners. European Child & Adolescent Psychiatry, 27(6), 679–681. https://doi.org/10.1007/s00787-018-1165-5

Penulis : Riama Claudia

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *