Balance System and Functional Activities : Geriatric Perspective

Tentang Geriatri

Di Indonesia kelompok geriatri/ lansia didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 60 tahun ke atas. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia (Pusat Data dan Informasi Kementerian dan Kesehatan RI, 2014), sedangkan menurut World Health Organization (WHO), ada empat tahapan lansia: usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) usia > 90 tahun.

Pada usia ini, banyak sistem tubuh mengalami kerusakan, salah satunya adalah perubahan pada sistem sensori dan integrasi dari sistem yang berkaitan dengan postural control (Poole, 1992). Pada proses penuaan yang normal akan terjadi penurunan massa tulang, otot, dan peningkatan adipositas (kelebihan timbunan lemak dalam tubuh). Penurunan massa otot dan kekuatan otot menyebabkan risiko patah tulang, kerapuhan, penurunan life satisfaction dan hilangnya kemandirian. Hal ini berpotensi memengaruhi aktivitas fungsional sehari-hari termasuk aktivitas fisik yang berkurang, membatasi mobilitas yang aman, meningkatkan kemungkinan terjatuh, yang selanjutnya berdampak buruk pada kualitas hidup dan well being (Patel, et al., 2019).

Hubungan Sistem Keseimbangan Dengan Aktivitas Fungsional. 

Keseimbangan yang baik sangat diperlukan seseorang dalam menunjang mobilitasnya sehari-hari. Keseimbangan tidak hanya berguna bagi kita sebagai atlet olahraga dalam mencapai prestasi, tetapi sangat berguna bagi lansia untuk menjalani masa tuanya tanpa bantuan orang lain. Menurut  Patel  (2019), masalah keseimbangan pada lansia paling sering disebabkan oleh kondisi multi faktor, termasuk penurunan terkait usia, atau penyakit yang berhubungan dengan sistem keseimbangan. Penyebab berkurangnya keseimbangan pada lansia dapat berupa kelemahan pada core stabilizing muscles, pola aktivasi otot yang berubah, hilangnya proprioseptif, dan ketidakmampuan untuk  menjaga postural control.

Merla & Spaulding (1997) menambahkan bahwa postural control atau kemampuan untuk menjaga keseimbangan seseorang secara statis dan dinamis merupakan elemen penting dan persyaratan dasar dalam kegiatan fisik sehari-hari. Insiden jatuh yang terjadi karena ketidakmampuan untuk menjaga keseimbangan, kemungkinan berkaitan  dengan faktor aktivitas dan lingkungan. Maka  dari  itu,  sangat jelas bahwa hubungan antara keseimbangan dan aktivitas fungsional ini merupakan aspek yang saling menunjang pada waktu intervensi okupasi terapi. Review dari literatur okupasi terapi memunculkan banyak pendapat mengenai interaksi antara keseimbangan dengan aktivitas fungsional. Penatalaksanaan gangguan sistem keseimbangan dalam intervensi okupasi terapi sebagian besar difokuskan pada pencegahan jatuh pada lansia daripada rehabilitasi gangguan keseimbangannya.

Implikasi Gangguan Keseimbangan Pada Intervensi Okupasi Terapi

Menurut Poole (1992), orang-orang dari berbagai usia mungkin mempunyai kondisi kulit, kinestetik, proprioseptif, vestibular, dan visual yang berbeda-beda untuk berbagai aktivitas. Pengulangan informasi sensori yang sama dan berulang-ulang biasanya mulai berkurang seiring penambahan usia pada orang dewasa. Ini menyebabkan terjadinya situasi di mana lansia mengurangi input untuk mengkompensasi saat terjadi masalah atau penurunan input yang terjadi di salah satu sistem sensori. Misalnya, untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, seseorang membutuhkan integrasi somatosensori, visual dan sistem vestibular. Penurunan terkait usia pada sistem tersebut, membatasi informasi sensori yang diterima. Oleh karena itu, lansia mungkin tidak menyadari bahwa mereka kehilangan keseimbangan sehingga terlambat untuk merespon pada waktu hal itu terjadi. 

Sampai saat ini, intervensi okupasi terapi difokuskan pada modifikasi lingkungan dan edukasi mengenai pencegahan risiko jatuh. Okupasi terapis harus melakukan kajian tentang fungsi sistem keseimbangan pada berbagai kondisi lingkungan dan occupation lansia. Occupation sebagai treatment tool memberikan tujuan intervensi yang tepat untuk identifikasi dan penatalaksanaan penurunan keseimbangan (Merla & Spaulding, 1997).

Referensi

Merla, J. Leann & Spaulding, Sandi. J. (1997), The Balance System: Implications for Occupational Therapy Intervention. Physical & Occupational Therapy in Geriatrics, Vol. 150 1997

Patel, K. K., Deshmukh, M., Palekar, T. (2019), Effect of Yoga on Balance in Geriatric Population. April  23,  2019, International Journal of Scientific Research in Science and Technology. https://www.researchgate.net/publication/332534716_Effect_of_Yoga_on_Balance_in_Geriatric_Population

Poole, Janet. L. (1992). Age Related Changes in Sensory System Dynamics Related to Balance. Physical & Occupational Therapy in Geriatrics, Vol. 10(2) 1992.

Pusat Data dan Informasi Kementerian dan Kesehatan RI, 2014

Penulis : Nurvita Maharani

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *