Coronavirus Disease (Covid-19) telah menginfeksi 216 negara di dunia, termasuk Indonesia (WHO, 2020). Berbagai upaya seperti physical distancing, stay at home dan penerapan protokol kesehatan dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Walaupun kebijakan yang diterapkan dapat melindungi keselamatan semua orang, akan tetapi strategi langsung untuk mengatasi masalah mental yang muncul di masyarakat masih kurang (Serafini et al., 2020). Berbagai aspek kehidupan seperti perekonomian, sosial, pendidikan, dan kesehatan mengalami hambatan dikarenakan pandemi Covid-19. Situasi sulit ini menimbulkan banyak ketakutan bahkan memunculkan istilah coronaphobia untuk mendeskripsikan dampak psikososial dari Covid-19 (Dubey et al., 2020).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berbagai gangguan mental dan kondisi psikologis lainnya muncul akibat pembatasan aktivitas dan interaksi sosial karena suatu pandemi (Hossain et al, 2020). Pembatasan aktivitas dan interaksi sosial akan menghambat individu dalam melakukan aktivitas kesehariannya. Hal ini dapat menimbulkan kecemasan, frustasi, kebosanan, rasa kesepian, peningkatan depresi (Serafini et al., 2020), dan stres yang dapat menimbulkan ketakutan, kesulitan tidur, makan, kesulitan berkonsentrasi, serta peningkatan konsumsi alkohol dan tembakau. Stres juga dapat memperparah penyakit kronis dan kesehatan mental, serta membawa dampak buruk bila dialami selama berkepanjangan (CDC, 2020).
Stres dan masalah mental lainnya yang muncul akibat pandemi Covid-19 dapat diatasi dengan melakukan strategi koping. Strategi koping adalah usaha kognitif dan perilaku untuk mengelola tekanan dari eksternal dan atau internal yang dinilai melebihi kemampuan seorang individu (Lazarus & Folkman, 1984). Polizzi & Lynn (2020) menyatakan bahwa strategi koping dan resilience yang diungkapkan Reich (2006) ketika menghadapi bencana alam juga dapat diterapkan di masa pandemi COVID-19. Model yang dikembangkan Reich (2006) yaitu “3 Cs”, yang terdiri dari control, coherence, dan connectedness.
Prinsip control ialah bahwa individu mampu mencapai tujuan yang diinginkannya walaupun sedang dalam masa epidemi. Beberapa contoh dari prinsip ini yang dapat diterapkan adalah dengan menjaga pola hidup yang sehat seperti tidur yang cukup, makan yang sehat dan teratur, berolahraga, dan menjaga rutinitas harian. Menghibur diri dengan hal-hal yang bisa membuat kita tertawa juga dapat menurunkan stres dan kecemasan. Kemudian, dalam menghadapi situasi yang sulit ini, kita perlu memastikan bahwa informasi mengenai situasi yang kita dapatkan adalah akurat. Melakukan hal sebaliknya juga baik, yaitu membatasi diri dari berita-berita yang membuat stres. Hal lain yang dapat dilakukan ialah dengan menyusun rencana kegiatan harian dan membuat catatan harian untuk menyadarkan diri bahwa segala sesuatu ada hikmahnya.
Prinsip yang kedua ialah coherence. Prinsip ini didasarkan pada prinsip acceptance-based coping atau penerimaan. Ketika menghadapi situasi yang sulit kita harus belajar menerimanya. Akan tetapi, selain menerima, kita juga memandang apa yang dapat kita lakukan di situasi yang sulit ini, dimulai dari apa yang menjadi kesukaan dan bernilai bagi kita. Melakukan hobi dapat menjadi pilihan yang baik untuk mengurangi stres di masa pandemi ini.
Kemudian, prinsip yang terakhir ialah connectedness atau tetap menjalin komunikasi dengan orang lain dan saling mendukung. Saling berkomunikasi dengan keluarga atau teman melalui media sosial ataupun perangkat elektronik lainnya dapat memberikan dukungan secara emosional.
Masa pandemi corona ini memang menimbulkan berbagai tantangan dan perubahan signifikan pada hampir seluruh aspek kehidupan. Tantangan dan perubahan yang ada, berpotensi besar menjadi sumber tekanan pada kesehatan mental. Sikap yang tepat dalam menghadapi tekanan – tekanan yang ada penting untuk diterapkan agar kesehatan mental kita tetap terjaga. Dengan menerapkan prinsip control, coherence, dan connectedness diharapkan mental kita siap dan kuat untuk terus berjuang bersama melalui masa pandemi corona.
“Be strong now, because things will get better. It might be stormy now, but it can’t rain forever.” – Unknown
Referensi
Canadian Psychological Association. (2020). “ Psychology Works ” Fact Sheet : Helping Teens Cope with the Impacts of and Restrictions Related to COVID-19
CDC. (2020). Mental Health and Coping During COVID-19 | CDC. Diakses dari https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html pada tanggal 29 Juli 2020
Coronavirus disease (COVID-19). (n.d.). Diakses dari https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019 pada tanggal 29 Juli 2002
Dubey, S., Biswas, P., Ghosh, R., & Chatterjee, S. (2020). Psychosocial impact of COVID-19. January. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.dsx.2020.05.035
Hossain, M., Sultana, A., Purohit, N. (2020). Mental Health Outcomes Of Quarantine And Isolation For Infection Prevention: A Systematic Umbrella Review Of The Global Evidence. Texas A&M School of Public Health, USA., Nature Study Society of Bangladesh, Bangladesh., The IIHMR University, India
Lazarus, & Folkman, S. (1987). Age differences in stress and coping processesPolizzi, C., Lynn, S. J., & Perry, A. (2020). Stress and Coping in the Time of COVID-19 : Pathways to Resilience and Recovery. April
Serafini, G., Parmigiani, B., Amerio, A., Aguglia, A., Sher, L., & Amore, M. (2020). The psychological impact of COVID-19 on the mental health in the general population. 1–7. https://doi.org/10.1093/qjmed/hcaa201
Ditulis oleh : Riama
Disunting oleh : Elysa Nasri
