5 Kesalahpahaman Tentang Okupasi Terapi dan Faktanya yang Harus Kamu Tahu!

  1. Ooh Okupasi Terapi.. jago dong jadi tukang pijatnya?”

Buat kalian mahasiswa OT maupun yang sudah bekerja menjadi Okupasi Terapis (OTs), pasti sering banget kan denger kata-kata ini? Mulai dari orang awam sampai keluarga terdekat sekalipun kadang masih aja loh menganggap profesi kita ini sebagai tukang pijat. Jujur sedih banget kan pastinya denger hal seperti ini, ketika sebetulnya apa yang kita pelajarin selama kuliah dan apa yang kita lakukan di lapangan itu jauh dari hanya sekadar “tukang pijat”. Kenapa? Karena, menurut definisinya aja, OT adalah suatu profesi yang memiliki tujuan/goal utama untuk dapat membuat seseorang berpartisipasi dalam aktivitas yang ingin mereka lakukan, butuhkan, ataupun harapkan (dan dapat melakukannya) secara mandiri, sehingga dapat mencapai kesejahteraan/well-being (WFOT, 2012). Gimana caranya? Sebelum masuk ke sesi intervensi atau pemberian treatment (terapi), hal pertama yang dilakukan oleh OTs adalah assessment, untuk mengetahui apa saja aset dan limitasi yang ada pada klien terkait goal yang ingin dituju. Selanjutnya adalah proses planning, pada proses ini, OTs akan merencanakan program atau tujuan jangka panjang yang terdiri dari beberapa tujuan jangka pendek. Setelahnya barulah OTs akan menjalankan sesi intervensi, yang dimana pada sesi ini, OTs akan memfasilitasi kliennya agar mampu melakukan aktivitas yang menjadi tujuannya dengan mengadaptasi, memodifikasi, dan meningkatkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dan berkaitan dengan performa aktivitas yang dituju (WFOT, n.d; AOTA, n.d).

Nah, dari penjelasan singkat di atas, apakah menggambarkan bahwa OTs itu adalah tukang pijat? Hmm.. tentu tidak ya! Meskipun teknik seperti massage dan stretching memang digunakan pada lahan kerja OT tertentu (OT pada physical disability) di salah satu tahapan intervensinya, namun hal tersebut bukanlah merupakan tujuan akhir apalagi tujuan utama dari pemberian terapi okupasi itu sendiri. Jadi, jangan samakan kami dengan tukang pijat lagi ya!

  1. “Okupasi Terapi kok kerjanya cuma main-main sama anak kecil sih?”

Kalau yang satu ini.. pasti sering banget kan di dengar oleh kalian yang bekerja di bidang pediatric (anak)? Tapi bener nggak sih kalau yang kita lakuin sebagai OTs itu hanya main-main aja?

Oke, sebetulnya bentuk treatment/terapi yang OTs berikan kepada anak-anak memang dikemas menjadi suatu permainan. Kenapa? Karena memang pekerjaan yang dimiliki oleh seorang anak adalah bermain. Seperti yang disebutkan dalam American Occupational Therapy Association (2012), bahwa bermain merupakan “job” atau “occupation” yang dimiliki oleh anak, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam hal physical coordination, emotional maturity, social-interaction skills, dan self-confidence dalam mencoba hal-hal baru serta mengeskplorasi lingkungan yang baru pula, sehingga, dengan permainan banyak sekali aspek-aspek yang dapat OT perhatikan dari seorang anak, serta memberikan terapi yang menyenangkan melalui permainan yang sesuai dengan kebutuhan pencapaian anak. Jadi, meskipun hanya terlihat seperti main-main, namun aktivitas permainan yang OTs berikan kepada anak tetap merupakan permainan yang meaningful dan purposeful bagi perkembangan anak, sehingga tujuan akhirnya merupakan pencapaian si anak terkait kemampuan/skills yang dituju, yaitu seperti kemampuan gross motor, fine motor, communication skills, problem solving, self-regulation, dan lain-lain. 

  1. “Okupasi Terapi = Fisioterapi”

Meskipun terdengar mirip karena sama-sama menggunakan kata “terapi”, tentu aja Okupasi Terapi (OT) dan Fisioterapi (FT) itu berbeda ya! Memang layanan yang kami berikan kepada klien terkadang overlap/tumpah tindih, sehingga menimbulkan asumsi di masyarakat bahwa OT dan FT adalah sama. Meski begitu, OT dan FT memiliki keahlian uniknya masing-masing, baik OT maupun FT memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kemampuan klien untuk mencapai goalsnya. 

Seperti yang udah disebutkan sebelumnya, bahwa OTs memiliki fokus utama meningkatkan kualitas hidup dengan meningkatkan kemampuan seseorang untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam melakukan aktivitas sehari-harinya, FT, menurut American Physical Therapy Association (n.d), merupakan movement experts yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang melalui exercise/latihan yang ditentukan, hands-on care, dan edukasi. Singkatnya, FT akan membantu kliennya untuk meningkatkan kemampuan pergerakan/movement mereka, sehingga dapat bergerak dengan lebih efektif dan efisien, serta berusaha menghilangkan rasa nyeri/pain yang dirasakan oleh klien (Sarah, et al., n.d). 

Langbein, dalam American Occupational Therapy Association, menganalogikan peran OT dan FT sebagai berikut, “While a PT might help you safely get out of the bed in the morning and walk 15 feet to your front door, an OT will meet you there and ask, “Now what?” As OT practitioners, we work with the “now what” and the activities that our clients want and need to do on a day-to-day basis.”. Artiin sendiri ya hehe.

  1. “Okupasi Terapi, berarti bisa bantu saya dapet pekerjaan ya?”

Nah, jangan sampai salah mengartikan kata “okupasi” dalam okupasi terapi ya! Meskipun istilah okupasi memiliki arti pekerjaan, okupasi yang dimaksud dalam profesi OT ini bukan seperti suatu lembaga profesi yang bersiap untuk selalu mencarikan pekerjaan untuk kamu. Istilah okupasi dalam okupasi terapi memiliki arti yang lebih luas dari sekedar “job” atau “employment”. Di sini, okupasi memiliki arti seluruh aktivitas yang seseorang ingin untuk lakukan ataupun butuh untuk lakukan (Langbein, n.d). Menurut Huaute (2020), okupasi berarti seluruh tugas atau kegiatan yang menyibukkan seseorang, atau mengisi seluruh waktu keseharian seseorang. Contohnya? Banyak banget, mulai dari hal-hal yang sederhana seperti tidur, makan dan minum, berbelanja, berpakaian, mengemudi, dan lain-lain. OT juga dapat membantu kliennya pada hal-hal yang dibutuhkan dan berkaitan dengan pekerjaan (job), seperti konsentrasi, berdiri ataupun duduk dalam waktu yang lama, mengetik, serta aspek-aspek ergonomis suatu pekerjaan bagi seseorang, dan lain-lain (Langbein, n.d), sehingga jika dikatakan bahwa OT dapat membantu meningkatkan keterampilan kerja agar klien dapat kembali bekerja, betul. Namun jika OT dianggap sebagai lembaga yang menjual jasa pencari kerja untuk siapapun yang membutuhkan pekerjaan, hmm.. sepertinya kurang tepat ya!

  1. “Okupasi Terapi cuma bisa kerja di rumah sakit/klinik doang ya?”

Eitss jangan salah. OT ini lahan kerjanya luaaas banget loh. OT bisa kerja di berbagai bidang, mulai dari bidang pediatri (anak), physical disability, kejiwaan/psikososial, dan geriatri (lansia). Dengan banyaknya bidang-bidang tersebut, lahan kerja yang dapat dimasuki oleh seorang OT pun akan sangat luas. Nggak cuma dalam medical settings seperti rumah sakit dan klinik aja, OT juga bisa masuk di lahan-lahan yang non-medical setting seperti sekolah, community centers, home-care, dan lain-lain (Langbein, n.d). OT juga bisa loh bekerja di perusahaan-perusahaan swasta. Biasanya OT yang bekerja di suatu perusahaan akan memperhatikan aspek-aspek ergonomis sebagai pengupayaan agar tidak terjadinya work injuries pada karyawan. OT akan memperhatikan bagaimana penempatan peralatan bekerja pada posisi yang baik, bagaimana proper body mechanism yang harus diperhatikan karyawan dan menghindari yang sebaliknya, serta menyesuaikan lingkungan kerja untuk menghindari adanya repetitive movement injuries (Huaute, 2020). 

REFERENSI

American Occupational Therapy Association. (t.thn.). Play. Diambil kembali dari American Occupational Therapy Association: https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Patients-Clients/ChildrenAndYouth/Play.aspx

American Occupational Therapy Association. (t.thn.). What is Occupational Therapy? Diambil kembali dari American Occupational Therapy Association: https://www.aota.org/Conference-Events/OTMonth/what-is-OT.aspx

American Physical Therapy Association. (t.thn.). Becoming a PT. Diambil kembali dari American Physical Therapy Association: https://www.apta.org/your-career/careers-in-physical-therapy/becoming-a-pt

Huaute, Y. (2020, April 22). OT Myths and Misconceptions. Diambil kembali dari Boundary Community Hospital: https://www.boundarycommunityhospital.org/ot-myths-and-misconceptions/

Langbein, R. (t.thn.). A Student’s Guide to Dispelling Common Misconceptions about OT. Diambil kembali dari American Occupational Therapy Association: https://www.aota.org/Education-Careers/Students/Pulse/Archive/school-tips/Misconceptions.aspx

Lyon, S., Behrens, A., & Castin, M. (t.thn.). OT vs. PT vs. SLP: Your Rehab Therapy Team Explained. Diambil kembali dari OTPotential: https://otpotential.com/occupationaltherapy-vs-physicaltherapy-vs-speechtherapy

World Federation of Occupational Therapist. (t.thn.). About Occupational Therapy. Diambil kembali dari World Federation of Occupational Therapist: https://www.wfot.org/about/about-occupational-therapy

Penulis : Fanza

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *