Bu Guru, Yuk Ciptakan Sekolah Yang Ramah Untukku!

Terdapat sekitar 455 juta orang di dunia yang mengalami gangguan dalam mendengar dan 34 juta di antaranya adalah anak-anak. Pada tahun 2050, WHO memperkirakan bahwa orang yang mengalami kesulitan dalam mendengar akan mencapai sekitar 900 juta orang (World Health Organisation, 2020). Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) mendefinisikan gangguan mendengar sebagai gangguan dalam mendengar, baik permanen maupun tidak permanen, yang dapat memengaruhi performa akademik anak, kondisi ini berbeda dengan kondisi ketulian (Individuals with Disabilities Education Act (IDEA), 2018). Gangguan pendengaran adalah kondisi dimana seseorang tidak dapat mendengar suara dengan tingkatan sedang – parah, yaitu 26 dB ke atas, sehingga seorang individu baru bisa mendengar suara diatas 26 dB. Sedangkan ketulian berarti seseorang yang mengalami kesulitan mendengar tingkat parah yaitu diatas 90dB atau bahkan tidak bisa mendengar sama sekali. Mereka biasanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat (World Health Organisation, 2020).

Anak dengan gangguan mendengar akan berisiko mengalami kondisi penyerta (komorbiditas) berupa gangguan pada vestibular. Terdapat hubungan erat antara sistem penglihatan, somatosensori, dan vestibular yang ketiganya menunjang keseimbangan dan kestabilan postural. Apabila salah satu dari komponen ini mengalami gangguan maka akan berdampak pada komponen lainnya. Sekitar 30% – 70% anak dengan kondisi tuna rungu atau gangguan mendengar mengalami gangguan vestibular (Gronski, 2013). Gangguan pada vestibular dapat mengakibatkan munculnya gangguan pada perkembangan motorik kasar anak (Gronski, 2013; Sewpersad, 2014). Walaupun demikian, dampak langsung yang muncul dari gangguan mendengar ialah kesulitan dalam berkomunikasi dan menerima informasi (Colclasure et al., 2016; Gronski, 2013). Deteksi dini dan pemberian intervensi sedini mungkin, seperti menggunakan alat bantu dengar akan menurunkan dampak dari gangguan mendengar pada perkembangan anak dan performa akademiknya (World Health Organisation, 2020).

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menunjang performa akademik anak dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah (Colclasure et al., 2016):

  1. Memastikan anak untuk duduk di kursi paling depan atau tempat yang paling dekat untuk mengakses informasi dari guru. 
  2. Bagi guru yang mengajar, usahakan untuk memperbesar volume suara ketika sedang mengajar dan berbicara menghadap para siswa. Akan lebih baik lagi jika guru yang mengajar juga menggunakan ekspresi wajah yang jelas dan gestur tubuh yang mendukung informasi yang diberikan. Suasana ruangan yang tenang juga penting untuk diperhatikan agar pendengaran anak tidak terdistraksi oleh suara-suara lain.
  3. Guru juga disarankan untuk menuliskan informasi-informasi yang penting di papan tulis dengan ukuran tulisan yang cukup besar untuk dibaca anak dari tempat duduk paling belakang. Penggunaan berbagai media seperti gambar dan membagikan modul mengenai materi yang dibahas juga dapat sangat membantu.
  4. Merekam baik video atau suara ketika mengajar dan memberikan keterangan subtitle juga bisa menjadi pilihan untuk membantu anak dalam belajar. Mendapatkan informasi dari berbagai sumber seperti mendengarkan penjelasan guru, membaca tulisan di papan tulis, membaca gerak bibir, melihat gestur tubuh, dan ekspresi guru yang mengajar akan memudahkan anak menerima informasi dengan baik.
  5. Pada kegiatan praktikum, anak mungkin akan terpapar pada suara yang keras. Pada beberapa anak yang menggunakan alat bantu dengar, paparan suara yang terlalu keras dapat merusak organ dalam telinga, sehingga akan menjadi sangat penting bagi guru dalam memahami tingkat keparahan dan jenis gangguan pendengaran yang dimiliki oleh anak dengan mendiskusikannya bersama dokter. Mungkin anak akan membutuhkan perlindungan tambahan atau modifikasi aktivitas untuk anak perlu dilakukan.
  6. Terdapat berbagai risiko yang dapat terjadi ketika anak sedang melakukan kegiatan di dalam laboratorium. Pemberian perhatian khusus pada anak akan menjadi sangat penting. Guru bisa memberikan pendampingan pada anak secara individu atau membuat kegiatan di laboratorium secara berpasangan atau berkelompok. Hal ini akan sangat membantu penyebaran informasi dan saling memperhatikan satu sama lain.
  7. Ketika anak sedang mengikuti kegiatan di luar sekolah seperti field trip bersama guru atau tenaga profesional lain, penting untuk menginformasikannya bahwa terdapat anak yang mengalami gangguan pendengaran. Guru atau tenaga profesional tersebut dapat berbicara lebih dekat pada anak untuk memastikan anak memahami setiap informasi yang diberikan. Membuat kegiatan di luar sekolah secara berpasangan dan berkelompok juga akan sangat membantu anak dalam menerima informasi dan mengikuti setiap kegiatan.

Penting untuk memberikan perhatian khusus pada anak dengan gangguan pendengaran. Apabila anak dengan gangguan mendengar dibiarkan tanpa diberi penanganan maka anak akan mengalami berbagai gangguan dalam kehidupannya seperti kesulitan dalam mengikuti instruksi atau menerima informasi, kesulitan berkomunikasi, berisiko mengalami perundungan (bullying), merasa rendah diri atau tidak percaya diri, anak mengalami stres dan kecemasan, serta kurangnya kemampuan dalam mengatur diri dan perilaku (Kid Sense, n.d.). Tenaga profesional bekerjasama dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah terhadap kondisi gangguan pendengaran. Dengan demikian, diharapkan anak memiliki kehidupan yang lebih baik lagi.

Referensi

Colclasure, B., Thoron, A. C., & Larose, S. E. (2016). Teaching Students with Disabilities : Hearing Impairments and Deafness 1. University of Florida/Institute of Food and Agricultural Sciences (IFAS) Extension Publications, November 2018.

Gronski, M. (2013). Balance and Motor Deficits and the Role of Occupational Therapy in Children Who Are Deaf and Hard of Hearing: A Critical Appraisal of the Topic. Journal of Occupational Therapy, Schools, & Early Intervention, January 2015, 37–41. https://doi.org/10.1080/19411243.2013.860767

Individuals with Disabilities Education Act (IDEA). (2018). Sec. 300.8 Child with a disability. Diakses pada 22 September 2020, dari https://sites.ed.gov/idea/regs/b/a/300.8

Kid Sense. (n.d.). Hearing Impairment . Diakses pada 22 September 2020, dari https://childdevelopment.com.au/areas-of-concern/diagnoses/hearing-impairment/

Sewpersad, V. (2014). Co-morbidities of Hearing Loss and Occupational Therapy in Preschool Children. South African Journal of Occupational Therapy, 44(2).

World Health Organisation. (2020). Deafness and hearing loss. Diakses pada 22 September 2020, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/deafness-and-hearing-loss

Penulis: Riama Claudia

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *