5 BUKU INI DAPAT MENGUBAH HIDUP KAMU MENJADI LEBIH BAIK

Kalau sebelumnya kita udah pernah bahas 3 film tentang anak berkebutuhan khusus, kali ini tim SEBAT-OT ingin berbagi tentang 5 buku yang dapat membantu kamu, khususnya dalam self development (pengembangan diri). Lumayaaaaan untuk menemani long weekend di penghujung bulan Juli ini, ya ngga? Kali aja setelah baca buku-buku ini, kamu jadi semakin legowo menjalani hari-hari.

  1. I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki – Baek Se Hee

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki merupakah salah satu buku nonfiksi yang ditulis oleh Baek Se Hee, penulis buku asal Korea Selatan. Buku ini berisi rekapan percakapan antara penulis dengan seorang psikiater saat melakukan sesi konseling. Di dalam buku ini diceritakan bahwa penulis mengalami persistent depressive disorder atau distimia yaitu suatu kondisi psikologis dimana seseorang dapat kehilangan ketertarikan pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah, dan perasaan tidak layak. Dalam dialognya, penulis memaparkan berbagai isu yang menjadi kegelisahannya terkait problematika kehidupannya seperti permasalahan kepercayaan diri, insecurity, dan tantangan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Dialog dalam buku ini banyak memberi pesan agar kita dapat lebih memahami, menerima, dan mencintai diri sendiri.

  1. Filosofi Teras – Henry Manampiring

Di zaman yang serba “terbuka” saat ini, kita seringkali sibuk membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, sehingga bukan rasa syukur yang muncul, tapi rasa kesal. Melalui “Filosofi Teras” yang ditulis oleh Henry Manampiring, kita diajak melihat perspektif lain dari setiap hal yang terjadi dalam hidup kita agar kita tidak melulu menggantungkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang sebenarnya tidak dapat kita kendalikan. 

  1. The Subtle Art Of Not Giving A F*ck – Mark Marson

The Subtle Art Of Not Giving A F*ck atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan judul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat adalah karya Mark Marson yang berisi tentang bagaimana kita menjadi lebih kuat dan bahagia dengan cara berhenti memaksakan diri untuk menjadi positif di setiap waktu. Ia mengajak kita untuk tidak fokus pada masalah saja, tetapi pada penyelesaian masalahnya; “Apapun masalahmu, konsepnya sama: selesaikan, lalu berbahagialah!”.

  1. The Life-Changing Magic of Tidying Up – Marie Kondo

Siapa yang tidak kenal Marie Kondo, wanita asal Jepang yang hobi “beres-beres”? Dalam bukunya yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up, Marie Kondo sukses menarik perhatian kita dengan metode KonMari yang ia perkenalkan. Dengan berfokus dan hanya menyimpan barang-barang yang “sparks joy” (memancarkan sukacita), Marie Kondo ingin mengajak kita untuk belajar mengikhlaskan barang-barang yang memang harus dibuang karena dengan begitu, kita akan lebih siap untuk menghadapi segala perubahan yang terjadi dalam hidup.

  1. Going Offline: Menemukan Jati Diri Di Dunia Penuh Distraksi – Desi Anwar

Seorang jurnalis senior bernama Desi Anwar menerbitkan sebuah buku berjudul Going Offline: Menemukan Jati Diri Di Dunia Penuh Distraksi yang mengajak kita untuk “keluar” sebentar dari dunia online yang secara tidak sadar menuntut kita untuk “serba hadir” dalam setiap hal yang terjadi. Tak hanya sekadar meninggalkan gadget, ia juga menawarkan kegiatan-kegiatan yang dapat kita lakukan secara “offline”, terutama hal-hal favorit kita yang tanpa disadari telah kita abaikan.

Ditulis oleh : Aisyah dan Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *