Bekerja Membuat Kamu Sehat Mental, Kok Bisa?

Hubungan Kesehatan Mental dan Bekerja

Sebagaimana yang telah kita ketahui, Okupasi Terapi (OT) merupakan salah satu profesi kesehatan yang dapat bekerja pada area psikososial/kejiwaan, di mana pada bidang ini OT turut berperan dalam menangani seseorang yang memiliki mental illness/penyakit kejiwaan. Mental illness sendiri didefinisikan sebagai gangguan kesehatan yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya, bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain, serta bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Mental illness dikatakan dapat memengaruhi pikiran, perasaan, kemampuan, serta perilaku seseorang (CMHA, 2016).

 Menurut The National Institute of Mental Health, sekitar lebih dari 3 juta orang dewasa dengan usia antara 18-69 tahun memiliki penyakit kejiwaan yang serius (Harnois & Gabriel, 2000). Dalam kelompok ini, sebanyak 70-90% dikatakan tidak memiliki pekerjaan/pengangguran. Padahal, kondisi seperti ini (pengangguran) diketahui dapat memperburuk kondisi kesehatan mental seseorang. Disebutkan dalam satu penelitian bahwa unemployment (pengangguran) berhubungan dengan lebih buruknya kondisi kesehatan mental seseorang, menurunnya psychological well-being, serta meningkatnya tekanan psikologis (Waddell & Burton, 2006). 

Beberapa alasan mengapa seseorang dengan penyakit kejiwaan banyak yang menjadi pengangguran adalah karena timbulnya permasalahan yang memengaruhi kinerja kerja mereka, seperti (CDC, 2018; CMHA, 2013; Ponte, 2019):

  1. Menurunnya performa dan produktivitas dalam bekerja. 
  2. Secara negatif memengaruhi kemampuan berkomunikasi dengan rekan kerja.
  3. Menurunnya kemampuan fisik dan fungsi keseharian.
  4. Timbulnya kelelahan yang menyebabkan kesulitan untuk dapat pergi bekerja.
  5. Thinking problems yang membuat seseorang kesulitan untuk mengingat dan mengambil informasi yang baru serta kesulitan untuk berkonsentrasi.
  6. Terganggunya emosi, seperti timbulnya perasaan sedih yang membuat seseorang kehilangan rasa ketertarikan ingin bekerja.
  7. Judgment problems yang membuat seseorang seringkali mengambil keputusan yang kurang tepat terkait dengan pekerjaan.
  8. Timbulnya kecemasan, paranoia, dan sifat iritabilitas/mudah marah, yang memengaruhi performa seseorang dalam bekerja, serta dapat memengaruhi kualitas hubungan dengan rekan dan tim kerja. 
  9. Adanya stigma yang melekat pada individu dengan gangguan kejiwaan, yaitu bahwa individu ini tidak memiliki ambisi, tidak termotivasi, tidak pandai, tidak memiliki kemampuan, kesulitan mengatasi tekanan/stress, dianggap sebagai seseorang yang sakit dan dapat membahayakan. 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa kondisi tidak memiliki pekerjaan/pengangguran memiliki efek yang kurang baik bagi kesehatan mental seseorang, maka sebaliknya, bekerja disebutkan sebagai salah satu faktor penting bagi pemulihan individu yang memiliki gangguan kejiwaan (Ponte, 2019). Beberapa di antara keuntungan yang didapatkan dari bekerja bagi individu yang memiliki permasalahan dengan kesehatan mentalnya antara lain, mampu meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan, mampu memberikan struktur dan rutinitas pada kehidupan sehari-hari, mampu memberikan sense of meaning and purpose, mampu mengembangkan peluang terjadinya social inclusion and support, serta dapat memberikan keamanan finansial (Heads Up, n.d).

Peran OT Dalam Bekerja

Tujuan OT dalam kasus-kasus kejiwaan di antaranya adalah untuk meningkatkan kemampuan individu agar dapat hidup secara mandiri dalam keterlibatannya pada peran kehidupan yang lebih bermakna dan produktif. OT akan membantu individu-individu ini dalam mengatasi hambatan-hambatan yang muncul yang mengakibatkan mereka kesulitan dalam bekerja melalui intervensi yang berfokus pada peningkatan keterampilan yang sudah ada, menciptakan peluang, mempromosikan kesehatan, memulihkan/mengembalikan keterampilan yang dimiliki, melakukan modifikasi serta adaptasi lingkungan dan aktivitas, serta pencegahan terjadinya kekambuhan (Castaneda, Olson, & Radley, 2013). 

Beberapa bentuk penanganan yang dapat OT berikan pada individu dengan gangguan kejiwaan yang memiliki permasalahan terkait bekerja di antaranya adalah (Castaneda, Olson, & Radley, 2013; Sarsak, 2018; Agustin, 2019): 

  1. Melakukan assessment untuk menentukan bidang apa yang menarik bagi individu
  2. Melakukan evaluasi dan adaptasi lingkungan kerja untuk mengoptimalkan fungsi individu.
  3. Menyediakan lingkungan kerja yang tidak banyak distraktor agar individu lebih mudah untuk berkonsentrasi.
  4. Melakukan evaluasi fungsional dan pemantauan berkelanjutan agar individu mendapatkan penempatan kerja yang sesuai dan sukses. 
  5. Memberikan bimbingan dan konsultasi pada orang-orang di sekitar lingkungan kerja individu.
  6. Memberikan vocational training yang meliputi persiapan keterampilan dasar, keterampilan manajemen waktu, dan keterampilan sosial. 
  7. Pemberian Cognitive Behaviour Therapy (CBT) yang dapat membantu individu dalam mengungkap pemikiran yang tidak efektif serta perilaku maladaptif, dan melatih pola kognitif serta pola perilaku baru yang lebih positif. 
  8. Pemberian Vocational Rehabilitation (VR) agar individu dapat memperoleh pekerjaan yang layak, memperoleh keterampilan, meningkatkan sumber daya, mengoptimalkan sikap, serta harapan yang diperlukan. VR terdiri dari vocational guidance, vocational training, dan selective placement. 

People with mental illness must be encouraged to enter or re-enter the workforce and offered reasonable support. We must advocate for the programs that support them getting jobs. We must hire them. And we must support businesses owned by them. People with mental illness have so much to offer.” -Katherine Ponte

Referensi

Canadian Mental Health Association. (2013). Mental Illness and Substance Use in the Workplace. Diambil kembali dari Canadian Mental Health Association: https://cmha.bc.ca/documents/mental-illness-and-substance-use-in-the-workplace-2/

Canadian Mental Health Association. (2016, February 27). Mental Illnesses in the Workplace. Diambil kembali dari Canadian Mental Health Association: https://cmha.ca/documents/mental-illnesses-in-the-workplace

Castaneda, R., Olson, L. M., & Radley, L. C. (2013). Occupational Therapy’s Role in Community Mental Health. Diambil kembali dari American Occupational Therapy Association: https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Professionals/MH/Community-Mental-Health.aspx

Centers for Disease Control and Prevention. (2018, July). Mental Health in The Workplace. Diambil kembali dari Centers for Disease Control and Prevention: https://www.cdc.gov/workplacehealthpromotion/tools-resources/pdfs/WHRC-Mental-Health-and-Stress-in-the-Workplac-Issue-Brief-H.pdf

Harnois, G., & Gabriel, P. (2000). Mental health and work : impact, issues and good practices. Geneva, Switzerland: World Health Organization & International Labour Organisation.

Heads Up. (t.thn.). Working with a mental health condition. Diambil kembali dari Heads Up: https://www.headsup.org.au/your-mental-health/working-with-a-mental-health-condition#:~:text=Benefits

Ponte, K. (2019, October 21). People with Mental Illness Can Work. Diambil kembali dari National Alliance on Mental Illness: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/October-2019/People-with-Mental-Illness-Can-Work

Waddel, G., & Burton, A. K. (2006). Is Work Good For Your Health and Well-Being? UK: The Stationery Office.

Penulis : Fanza

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *