Memaknai Okupasi

Jika fisioterapis menggunakan latihan fisik, terapis wicara menggunakan kemampuan berbicara dan ekspresi bahasa, psikolog menggunakan komunikasi dan proses berpikir, maka okupasi terapis juga memiliki alat utama dalam memberi layanan kepada kliennya, yaitu okupasi. Penggunaan okupasi inilah yang membedakan profesi okupasi terapi dengan profesi kesehatan lainnya. Berdasarkan organisasi okupasi terapi dunia, WFOT, okupasi merujuk pada aktivitas sehari-hari yang dilakukan seseorang sebagai individu, dalam keluarga, maupun dalam komunitas di mana aktivitas tersebut dapat memberi makna dan tujuan dalam hidup. Pengertian lain dari okupasi juga disampaikan oleh Asosiasi Okupasi Terapi Kanada, sebagai sekumpulan aktivitas dan tugas sehari-hari yang memberi makna dan nilai bagi individu. Okupasi adalah semua yang dilakukan oleh orang untuk menyibukkan dirinya, termasuk mengurus diri (self-care), menikmati hidup (leisure), dan berkontribusi dalam tatanan sosial dan ekonomi dalam komunitas mereka (productivity). Dengan kata lain, semua kegiatan yang kita lakukan mulai dari saat kita membuka mata di pagi hari hingga kembali tidur di malam hari, dapat disebut sebagai okupasi, entah itu bekerja, belajar, makan, atau hanya sekedar melakukan hobi yang kita senangi. 

Sekarang kita sudah mengetahui apa itu definisi dari okupasi. Namun, tahukah kalian okupasi seperti apa yang digunakan oleh seorang okupasi terapis untuk membantu kliennya? Seperti yang telah disebutkan dalam dua definisi okupasi diatas, okupasi yang bermakna atau meaningful occupation adalah salah satu elemen inti yang mendasari praktik okupasi terapi. Suatu okupasi menjadi bermakna bagi seseorang ketika okupasi tersebut dapat membuat seseorang memenuhi suatu tujuan yang dirasa penting secara personal maupun budaya (Law, Polatajko, Baptiste, & Townsend, 1997).

Pandangan kita mengenai okupasi yang bermakna juga dapat dipengaruhi oleh peran kita dalam hidup, misalnya seorang ibu memiliki tujuan untuk dapat membesarkan anaknya dengan baik, maka segala aktivitas yang terkait, seperti mendidik anak, menyediakan kebutuhannya baik secara fisik maupun emosional, menjadi penting dan bermakna bagi diri si ibu. Dengan terlibat dalam okupasi yang bermakna, seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan psikologis ataupun biologisnya, tetapi juga dapat memberikan kesempatan untuk menggunakan kemampuannya sehingga memberikan rasa penghargaan diri serta meningkatkan well-being dan kualitas hidupnya. 

Para penyandang disabilitas akan berkurang atau bahkan hilang kesempatannya untuk terlibat dalam melakukan suatu okupasi. Seseorang dengan disabilitas mental terhalang dalam melakukan suatu okupasi yang dulunya penting dan bermakna bagi dirinya, ia tidak dapat bekerja, bersosialisasi, serta memenuhi perannya di masyarakat. Begitu pula dengan penyandang disabilitas fisik. Maka, di sinilah peran seorang okupasi terapis dibutuhkan untuk membantu klien kembali terlibat dalam okupasinya yang bermakna. Namun, perlu diingat bahwa pelayanan okupasi terapi juga berdasarkan pada client-centered practice atau berpusat pada klien. Artinya bukan kita sebagai terapis yang menentukan okupasi apa yang menjadi sarana atau tujuan terapi, tetapi klienlah yang memutuskan apakah suatu okupasi itu bermakna bagi dirinya sehingga dapat dijadikan sebagai sarana maupun hasil akhir dari proses terapi. 

Namun, apakah okupasi yang bermakna harus selalu menyenangkan? Menurut Ikiugu, et al (2015) dalam jurnal penelitiannya yang diterbitkan dalam South African Journal of Occupational Therapy, okupasi yang bermakna tidak harus selalu menyenangkan dan dapat memberikan penghargaan serta kepuasan secara psikologis dalam waktu yang instan, tetapi okupasi yang bermakna dapat memberikan perasaan sehat dan sejahtera yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Bagi guru yang mengalami stroke, proses terapi untuk dapat kembali mengajar menjadi aktivitas yang melelahkan dan sulit, walaupun aktivitas ini termasuk okupasi yang bermakna karena dapat memenuhi perannya sebagai pengajar dan berkontribusi dalam masyarakat. Pengalaman menyenangkan tidak akan selalu hadir saat proses terapi, akan ada saat-saat di mana klien maupun terapis merasa gagal, akan tetapi proses yang panjang dan sulit tersebut akan terbayarkan dengan perasaan senang dan puas saat klien tersebut dapat kembali berdiri di depan kelas dan mengajar para siswanya. 

Di bulan Oktober ini, profesi okupasi terapi merayakan hari okupasi terapi sedunia pada  27 Oktober 2020. Di masa pandemi yang belum pernah kita rasakan sebelumnya, yang penuh dengan ketidakpastian, kita menghadapi tantangan dan perubahan dalam menjalani okupasi yang bermakna bagi kita. Aktivitas yang dulunya kita anggap biasa saja, seperti berkumpul dan mengobrol bersama teman maupun belajar bersama di kelas, kini menjadi penting dan bermakna. Maka dari itu, dengan mengusung tema “reimagine doing”, WFOT mengajak kita semua, khususnya profesi okupasi terapi dan mahasiswa okupasi terapi untuk dapat menggambarkan kembali bagaimana bentuk keterlibatan kita dalam okupasi, walaupun dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, namun tetap dapat memberi nilai dan makna dalam kehidupan sehari-hari. 

Referensi

Goldberg, Bluma., et al. (2015).  The Relationship Between Engagement in Meaningful Activities and Quality of Life in Persons Disabled by Mental Illness. Occupational Therapy in Mental Health, 18 (2): 17-44.

Ikiugu, Moses., et al. (2015). Meaningful Occupation Clarified: Thoughts About the Relationship Between Meaningful and Psychologically Rewarding Occupations. South African Journal of Occupational Therapy. 45 (1): 47-50.

Rebeiro, Karen. (1998). Occupation-as-means to Mental Health: A Review of the Literature, and a Call for Research. Canadian Journal of Occupational Therapy. 65 (1): 12-19.

Salvatori, Penny. (1999). Meaningful Occupation for Occupational Therapy Students: A Student-centred Curriculum. Occupational Therapy International. 6 (3): 207–223.

World Federation of Occupational Therapy. (2020). Launch of World Occupational Therapy Day 2020 Theme and Materials diakses dari https://www.wfot.org/news/2020/launch-of-world-occupational-therapy-day-2020-theme-materials#:~:text=Launch%20of%20World%20Occupational%20Therapy%20Day%202020%20Theme%20and%20Materials&text=The%20WFOT%20is%20pleased%20to,event%20is%20%E2%80%9CReimagine%20Doing%E2%80%9D  pada 13 Oktober 2020.

Penulis : Hanifa

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *