Penyebab Kematian Nomor Satu di Indonesia
Stroke merupakan penyebab kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Penyakit ini juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami demensia dan depresi. Di Indonesia sendiri, penyakit neurologis ini memiliki prevalensi sebesar 10,9% atau sekitar 2.120.362 orang (Infodatin, 2019). Sekitar 21,1% kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke. Dengan angka tersebut, stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia (Kompas, 2020). Penderita stroke berisiko tinggi mengalami kecacatan permanen dan hal ini menjadi penyebab terganggunya kemampuan individu dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Mengikuti program rehabilitasi secara rutin dapat meningkatkan kemandirian penderita stroke. Pada fase pemulihan ini, dukungan dari berbagai pihak sangatlah penting. Anggota keluarga sebagai kelompok terdekat dengan penderita stroke memiliki peran yang sangat penting dalam menentukkan keberhasilan program rehabilitasi. Semakin baik dukungan keluarga maka tingkat kemandiriannya akan semakin baik pula (Setyoadi et al., 2018).
Keluarga adalah Support System yang Penting
Friedman (2010) dalam Setyoadi (2018) mengungkapkan bahwa dukungan keluarga terbagi atas 4 komponen, yaitu dukungan informasional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan emosional. Wujud nyata dukungan tersebut seperti memberikan perhatian kepada pasien, memotivasi dan menemani pasien untuk rutin melaksanakan terapi baik di rumah sakit maupun di rumah, dan memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisinya, sehingga mendukung penderita stroke di sini bukanlah dengan membantu segala aktivitas kesehariannya, tetapi dengan memberikan dukungan yang membuat mereka yakin dan semangat untuk memaksimalkan kemampuannya agar dapat kembali melakukan aktivitas kesehariannya dengan baik (Setyoadi et al., 2018).
Bergabung dalam komunitas stroke juga menjadi langkah yang sangat baik untuk memberikan dukungan emosional kepada penderita stroke. Terkadang penderita stroke merasa kesulitan dalam mengungkapkan keinginannya dan merasa keluarga maupun caregiver-nya tidak dapat memahami kondisi dan perasaannya. Hal-hal ini dapat menyebabkan frustasi baik bagi penderita stroke maupun bagi keluarga/caregiver yang mengasuh. Ketika penderita stroke bergabung ke dalam komunitas yang memiliki kondisi serupa, mereka akan merasa lebih baik. Dalam komunitas tersebut, mereka dapat mengungkapkan perasaan mereka, keinginan mereka, serta merasa di dengar dan diterima. Bagi keluarga/caregiver penderita stroke, bergabung ke dalam komunitas serupa juga dapat memberikan dampak positif secara emosional (Moleac, 2014).
Referensi
Infodatin, K. K. R. I. (2019). Stroke Don’t Be The One.
Kompas. (2020, October 18). Angka Kematian Akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia Melonjak . https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/23/130000923/angka-kematian-akibat-penyakit-tidak-menular-di-indonesia-melonjak?page=all
Moleac. (2014). Understanding Stroke A Guide for Stroke Survivors and Their Families.
Setyoadi, Nasution, T. H., & Kardinasari, A. (2018). Family support in improving independence of stroke patients. May. https://doi.org/10.21776/ub.jurnalilmukeperawatan(journalofnursingscience).2018.006.01.10
Penulis : Riama
Editor : Elysa
