Seperti yang kita ketahui, semenjak masa pandemi Covid-19 ini banyak sekali aktivitas-aktivitas yang biasanya kita lakukan di luar rumah, namun sekarang harus kita lakukan dengan sebaliknya. Contohnya adalah pemberlakuan sistem work from home (WFH) dan juga sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang mengharuskan kita untuk bekerja dan bersekolah/ menempuh pendidikan secara online melalui media komputer/ PC di rumah masing-masing. Sistem seperti ini diberlakukan untuk membatasi akses masyarakat pergi ke luar rumah. Namun, ternyata masa pandemi Covid-19 ini juga banyak disalahgunakan oleh masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memanfaatkan waktunya untuk banyak bersantai atau yang sering disebut dengan kaum rebahan. Biasanya aktivitas yang dilakukan oleh kaum rebahan ini hanyalah menonton TV/ film, tidur-tiduran, atau main gadget. Tahukah kamu bahwa gaya hidup seperti ini disebut juga dengan sedentary lifestyle?
Sedentary lifestyle diambil dari bahasa Latin “sedere” yang berarti “duduk” (Inyang & Stella, 2015). Sedentary lifestyle mengacu pada kebiasaan seseorang yang terlalu banyak melakukan aktivitas duduk, berbaring, dan hanya mengeluarkan sangat sedikit energi (≤ 1.5 METs) dalam kehidupan sehari-harinya karena tidak banyak terlibat dalam aktivitas fisik (physical inactivity) ataupun exercise (Owen, et al., 2010; Tremblay, et al., 2010). Terdapat satu istilah yang seringkali digunakan untuk menjelaskan penyebab dari seseorang memiliki gaya hidup seperti ini, yaitu “long screen time”. Apakah itu? Long screen time adalah dimana ketika seseorang banyak menghabiskan waktunya berada di depan layar TV dan gadget seperti komputer/ PC serta handphone, baik untuk bekerja, belajar, maupun hanya untuk sekadar bermain social media, bermain game, atau menonton.
Nah, kira-kira dari penjelasan di atas apakah kamu termasuk salah satu orang yang memiliki gaya hidup sedentary? Kalau iya, kamu harus hati-hati loh. Kenapa? Karena seseorang yang memiliki gaya hidup seperti ini rentan mendapatkan efek yang kurang baik dan bahkan berbahaya bagi tubuh. Sedentary lifestyle dapat membuat seseorang lebih mudah bertambah berat badan karena sedikitnya kalori yang terbakar. Hal ini juga menyebabkan seseorang kehilangan kekuatan dan ketahanan otot, tulang yang melemah, terganggunya sistem metabolisme tubuh dan sistem imun, sirkulasi darah yang buruk, meningkatkan terjadinya inflamasi, dan terjadinya ketidakseimbangan hormon (MedlinePlus, 2017). Menurut Owen, et al. (2010), sedentary lifestyle kini menjadi risiko terhadap kondisi kesehatan seseorang dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari WHO (2002), bahwa sekitar 2 juta pertahunnya terdapat individu yang meninggal karena memiliki gaya hidup seperti ini. Sebagai tambahan, WHO juga menyampaikan bahwa sedentary lifestyle termasuk dalam 10 peringkat teratas penyebab terjadinya kematian dan disabilitas di dunia.
Selain itu, dampak gaya hidup sedentary ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak. Penyakit yang dapat terjadi akibat dari gaya hidup ini adalah obesitas, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik (seperti hipertensi, diabetes, dan kadar kolestrol tinggi), kanker, stroke, dan juga kesehatan mental (Tremblay, et al., 2010; MedlinePlus, 2017). Selain hal-hal tersebut, anak-anak dan remaja dengan sedentary lifestyle juga dapat mengalami gangguan terkait kemampuan akademik. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa pada masa kini, anak-anak menghabiskan waktu di depan TV sejak usia di bawah 2 tahun (Christakis, 2009). Sementara, jika seorang anak secara aktif menonton TV di bawah usia 3 tahun, dikatakan dapat memiliki gangguan terkait atensi (Christakis, et al., 2004), bahasa (Zimmerman, et al., 2007), dan perkembangan kognitif (Zimmerman & Christakis, 2005). Dalam penelitian lainnya disebutkan bahwa remaja yang juga banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV dan banyak terpapar media berisiko memiliki level akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak memiliki gaya hidup seperti ini (Tremblay, et al., 2010).
Melakukan aktivitas-aktivitas pemanfaatan waktu luang seperti bermain gadget dan istirahat boleh-boleh saja dilakukan. Justru hal ini dapat dilakukan untuk menghindari stres karena pekerjaan atau tugas. Namun jangan sampai keseharian kita hanya dihabiskan untuk melakukan aktivitas tersebut saja. Lakukanlah aktivitas fisik lainnya seperti berolahraga, melakukan pekerjaan rumah (menyapu, menyuci, dan lain-lain), dan pemanfaatan waktu luang lainnya yang melibatkan aktivitas fisik seperti berkebun.
REFERENSI
Christakis, D. A. (2009). The Effects of Infant Media Usage: What Do We Know and What Should We Learn? Acta Pediatrica, 8-16. doi:https://doi.org/10.1111/j.1651-2227.2008.01027.x
Christakis, D. A., Zimmerman, F. J., DiGiuseppe, D. L., & McCarty, C. A. (2004). Early Television Exposure and Subsequent Attentional Problems in Children. Pediatrics, 708-713. doi:10.1542/peds.113.4.708
Dr. Inyang, M. P., & Stella, O.-O. (2015). Sedentary Lifestyle: Health Implications. International Organization of Scientific Research Journal of Nursing and Health Science, 20-25. doi:10.9790/1959-04212025
MedlinePlus. (2017, Juni 27). Health Risks of an Inactive Lifestyle; Also called: Sedentary Lifestyle, Sitting Disease. Diambil kembali dari MedlinePlus: https://medlineplus.gov/healthrisksofaninactivelifestyle.html
Owen, N., Sparling, P. B., Healy, G. N., Dunstan, D. W., & Matthews, C. E. (2010). Sedentary Behavior: Emerging Evidence for a New Health Risk. 1138-1141. doi:10.4065/mcp.2010.0444
Tremblay, M. S., Colley, R. C., Saunders, T. J., Healy, G. N., & Owen, N. (2010). Physiological and Health Implications of a Sedentary Lifestyle. Applied Physiology, Nutrition, and Metabolism, 725-740. doi:10.1139/H10-079
World Health Organization. (2002, April 4). Physical Inactivity a Leading Cause of Disease and Disability, Warns WHO. Diambil kembali dari World Health Organization: https://www.who.int/mediacentre/news/releases/release23/en/#:~:text=Sedentary%20lifestyles%20increase%20all%20causes,lipid%20disorders%2C%20depression%20and%20anxiety.
Zimmerman, F. J., Christakis, D. A., & Meltzoff, A. N. (2007). Associations Between Media Viewing and Language Development in Children Under Age 2 Years. The Journal of pediatrics, 364-368. doi:10.1016/j.jpeds.2007.04.071
Zimmerman, F. J., Glew, W. M., Christakis, D. A., & Katon, W. (2005). Early Cognitive Stimulation, Emotional Support, And Television Watching As Predictors Of Subsequent Bullying Among Grade-School Children. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, 384-388. doi:10.1001/archpedi.159.4.384
Ditulis oleh : Fanza
Disunting oleh : Elysa Nasri
