Jangan Sepelekan Pengalaman Masa Kecil Yang Tidak Menyenangkan

Kita mungkin familiar sama kalimat ini, “Lu kecilnya gimana sih, kok gedenya jadi orang begini amat?”.

 Sebagian orang, mungkin ada yang tidak ambil pusing dengan bahasa seperti ini, namun ternyata istilah ini benar adanya dan sudah banyak diteliti oleh para ahli, khususnya dari sudut pandang kesehatan mental, neurobiologi, kesehatan fisik dan somatik,  dan perkembangan sosial emosi. Hari ini kita akan sedikit membahas topik ini, yaitu tentang   trauma masa kecil atau yang juga sering disebut dengan  Adverse Childhood Experiences  (ACEs). 

  ACEs dapat didefinisikan sebagai pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan atau  pengalaman traumatis dalam kehidupan seseorang yang terjadi sebelum usia 18 tahun. Pengalaman tersebut mencakup berbagai jenis pelecehan, pengabaian/penelantaran, kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh, disfungsi rumah tangga serius  seperti penyalahgunaan alkohol dan zat adiktif, kekerasan yang dilakukan oleh teman sebaya, dan kekerasan yang dilakukan oleh komunitas/kekerasan kolektif (WHO, 2018).

Trauma masa kanak-kanak dapat diakibatkan oleh pengalaman langsung atau tidak langsung dari suatu peristiwa, seperti yang disebutkan di atas dan perlu diketahui bahwa sebagian anak mungkin  tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya/meminimalisisrnya yang pada akhirnya berujung pada trauma yang terus terakumulasi hingga menyebabkan hal yang serius dan berdampak tidak baik bagi kesehatan dan perkembangan individu di masa dewasa (Van der Kolk, 2003).

Berdasarkan studi epidemiologi dan neurobiologis, pelecehan emosional, pelecehan seksual, pelecehan fisik, dan pengalaman buruk yang dialami seseorang berhubungan  erat dengan disfungsi neurobiologi otak dan  dapat  memengaruhi kesehatan fisik dan mental seumur hidup. Perubahan ini dicerminkan dalam perubahan fungsional di daerah anterior cingulate cortex (ACC), amigdala, dan hipoccampus yang berpengaruh pada kemampuan  seseorang dalam mengontrol emosi, mengendalikan kecemasan, mengendalikan pikiran negatif dan prasangka, memiliki kepekaan  yang berlebihan kepada suatu hal dan kejadian, bahkan  juga  memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan fungsi eksekutif.

Beberapa penelitian lain juga menjelaskan  bahwa jenis penganiayaan tertentu lebih berisiko untuk mengalami depresi, seperti ketika seseorang  terkena pelecehan emosional. Peneliti tersebut juga menjelaskan bahwa pelecehan emosional juga memiliki efek yang tidak kalah bahaya jika dibandingkan dengan pelecehan fisik ( Norman et al) .

Dalam sumber informasi yang lain dijelaskan bahwa bahwa ACE juga berhubungan dengan  perkembangan berbagai gangguan somatik, seperti obesitas, diabetes, penyakit radang usus (IBD), seperti kolitis ulserativa (UC) dan Penyakit Crohn (CD),serta persepsi nyeri abnormal dengan dan tanpa patologi somatik yang sesuai.

Kesimpulannya, masa dewasa tidak terjadi begitu saja, tidak ada seorang individu yang lahir langsung jadi dewasa. Seseorang pasti mengalami beragam fase dan kejadian, kejadian yang baik, maupun kejadian yang  buruk. Masa dewasa yang baik, salah satunya dipengaruhi oleh keberhasilan seorang individu melalui fase anak-anak, fase remaja, dan fase dewasa awal.

Meskipun ACEs memiliki dampak yang cukup kompleks, namun kita dapat mencegahnya dengan beberapa tipssebagai berikut: 

  1. Komunikasi yang baik dan efektif

Penting untuk mengembangkan kemampuan komunikasi yang penuh empati dan suportif, orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, lebih mudah terhindar dari bahaya ACEs. Belajarlah untuk bisa mengonunikasikan hal-hal yang mengganggu perasaan dan pikiran, dan bergaullah dengan teman-teman yang membawa perubahan positif.

2   Jadilah “sahabat” , “saudara”, “anak”, dan  “orang tua” yang peduli

Menjadi orang tua dengan pengalaman masa kecil yang buruk, tidak menjadi  pembenaran untuk menjadi orang tua yang buruk pula, sebaliknya jadikan itu sebagai hal atau pelajaran agar tidak menjadi orang tua yang salah dalam mendidik dan memperlakukan anak kita (jika kamu sekarang di posisi sebagai orang tua). 

Jika kamu adalah seorang teman dan mempunya teman yang memiliki perilaku berbeda atau mungkin menyimpang, berpegang teguhlah pada penilaian yang positif, kesampingkan judge/label dalam kesan pertama saat berinteraksi. Kita harus percaya sebuah perilaku adalah sebuah pesan, tidak ada perilaku yang muncul serta merta tanpa sebuah sebab (pada kondisi yang tidak patologis).

3.Jangan menyepelekan hal-hal kecil

Kajadian apapun itu, selalu merupakan mata rantai yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Hindari menyepelekan hal kecil terutama pada anak. Cara kita beriteraksi dengan anak kecil akan sangat memengaruhi anak tersebut seumur hidupnya. Anak-anak sangat rawan terpapar hal yang berisiko di era kebebasan teknologi dan informasi, mengontrol informasi dan teknologi anak sesuai usia nya, dan menghindari informasi visual tentang kekerasan dan pelecehan akan sangat membantu anak terhindar dari bahaya ACEs.

4. Edukasi coping skill behavior sedini mungkin

Meskipun semua orang beresiko mengalami ACEs, namun sebenarnya ACEs juga bisa diredam dengan mengedukasi coping skill behavior sedini mungkin. Orang tua perlu mengedukasi anak cara untuk berdamai dengan situasi dan kejadian dan mendorong kemampuan toleransi frustrasi yang baik agar anak dapat tumbuh menjadi anak yang tangguh dan tahan terhadap perubahan situasi dan kondisi.

“Setiap manusia diciptakan dengan keberagaman. Tuhan tidak menciptakan kejadian atau sesuatu apapun tanpa tujuan, bisa sajasalah satu dari tujuan itu adalah agar kita saling bisa mengenal dan mengambil pelajaran dalam hal yang positif.”

Referensi

American Occupational Therapy Association. (2015). Occupational therapy’s role in mental health promotion, prevention, & intervention with children & youth: Childhood trauma. Disadur dari https://www.aota.org/~/media/Corporate/Files/Practice/Children/Childhood-Trauma-Info-Sheet-2015.pdf

Anda RF, Felitti VJ, Bremner JD, Walker JD, Whitfield C, Perry BD, et al. . The enduring effects of abuse and related adverse experiences in childhood. A convergence of evidence from neurobiology and epidemiology. Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci. (2006) 256:174–86. 10.1007/s00406-005-0624-4 

Dannlowski U, Stuhrmann A, Beutelmann V, Zwanzger P, Lenzen T, Grotegerd D, et al. . Limbic scars: long-term consequences of childhood maltreatment revealed by functional and structural magnetic resonance imaging. Biol Psychiatr. (2012) 71:286–93. 10.1016/j.biopsych.2011.10.021 

 Felitti VJ, Anda RF. The relationship of adverse childhood experiences to adult medical disease, psychiatric disorders and sexual behavior: implications for healthcare. In: Pain C, Vermetten E, Lanius RA. editors, The Impact of Early Life Trauma on Health and Disease: The Hidden Epidemic. Cambridge: Cambridge University Press; (2010). p. 77–87. 

Felitti VJ, Anda RF, Nordenberg D, Williamson DF, Spitz AM, Edwards V, et al. . Relationship of childhood abuse and household dysfunction to many of the leading causes of death in adults. The Adverse Childhood Experiences (ACE) Study. Am J Prev Med. (1998) 14:245–58. 10.1016/S0749-3797(98)00017

Leeners B, Gorres G, Block E, Hengartner MP. Birth experiences in adult women with a history of childhood sexual abuse. J Psychosom Res. (2016) 83:27–32. 10.1016/j.jpsychores.2016.02.006 

National Child Traumatic Stress Network. (2003). Complex trauma in children and adolescents. Disadur dari     https://www.nctsn.org/sites/default/files/resources//complex_trauma_in_children_and_adolescents.pdf

Norman RE, Byambaa M, De R, Butchart A, Scott J, Vos T. The long-term health consequences of child physical abuse, emotional abuse, and neglect: a systematic review and meta-analysis. PLoS Med. (2012) 9:e1001349. 10.1371/journal.pmed.1001349 

Tesarz J, Eich W, Treede RD, Gerhardt A. Altered pressure pain thresholds and increased wind-up in adult patients with chronic back pain with a history of childhood maltreatment: a quantitative sensory testing study. Pain (2016) 157:1799–1809. 10.1097/j.pain.0000000000000586

Van der Kolk, B. A. (2003). The neurobiology of childhood trauma and abuse. Child Adolescent Psychiatric Clinics of North America, 12, 293–317.

Penulis : Gunawan

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *