Children Emotional Neglect : Ketika Perasaan Anak Dianggap Tak Penting

Saat seorang anak kecil menangis karena temannya di sekolah, kebanyakan orang tua akan menanggapi dengan menyuruh anak untuk berhenti menangis atau bahkan mendiamkannya saja karena menganggap itu hanya permainan anak kecil yang tidak penting. Sama seperti kita, anak-anak juga merasakan berbagai macam emosi setiap harinya, baik itu emosi positif, seperti gembira, maupun emosi negatif, seperti sedih. Saat anak merasakan emosi positif tentu para orang tua tak mempermasalahkannya dan mendorong anak untuk mengekspresikannya, lain halnya jika yang muncul emosi negatif, para orang tua cenderung akan menekan anaknya untuk menghilangkan emosi negatif tersebut. Padahal baik itu emosi positif maupun negatif sama-sama memegang peranan penting bagi perkembangan emosi anak. Sikap orang tua yang gagal memahami dan merespon dengan tepat kebutuhan emosi anaknya inilah yang dinamakan emotional neglect atau pengabaian emosi. Berbeda dengan kekerasan fisik atau kekerasan emosi yang dapat dengan jelas diamati, pengabaian emosi ini tidak terlihat dan dilakukan orang tua secara tidak sengaja namun memiliki dampak yang besar pada kehidupan anak saat dewasa nantinya.

Tipe Orang Tua dan Bentuk Emotional Neglect

Dalam bukunya Running on Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect, Jonice Webb mencontohkan bagaimana tipe-tipe orang tua yang secara tanpa sadar melakukan emotional neglect terhadap anaknya. Tipe orang tua narsistik misalnya, mereka cenderung akan menuntut anaknya untuk menjadi sempurna dan tidak membuat malu. Ketika anak mereka melakukan kesalahan, orang tua narsistik akan marah dan merasa dipermalukan secara personal karena mereka menganggap anaknya sebagai representasi kecil dari diri orangtua. Anak-anak yang mengekspresikan perasaannya akan dianggap sebagai anak yang egois dan tidak pengertian. Tipe orang tua otoritarian akan mengharapkan anaknya mematuhi peraturan tanpa mempertanyakan alasan dibalik peraturan tersebut. Mereka sangat tidak peduli terhadap perasaan dan pemikiran anaknya. Banyak orang tua tipe ini menyamakan kepatuhan sebagai rasa sayang. Sebagai contoh jika anak diam dan mematuhi peraturan dengan baik, orangtua ini akan menganggap anaknya menyayanginya. Namun ketika yang terjadi sebaliknya, mereka akan merasa tidak dihormati sebagai orangtua. Bersebrangan dengan orang tua otoritarian, tipe orang tua permisif terlalu memberi kebebasan terhadap anaknya. Ketika anak membuat masalah, orangtua akan mempercayai alasan apapun yang dikatakan anak entah itu bohong atau tidak. Anak dengan tipe orang tua permisif tidak memiliki kemampuan untuk memahami bahwa suatu kesulitan akan membuatnya berkembang dengan baik. Orang tua permisif tidak menyadari bahwa mereka bertanggunghjawab untuk memberi batasan yang dapat membantu anak  mengenal dan memahami perasaannya.  

Ketidakhadiran sosok orang tua juga menyebabkan anak mengalami emotional neglect. Tidak adanya sosok orang tua ini bisa jadi karena kematian, penyakit, waktu bekerja yang panjang, perjalanan dinas yang terlalu sering, atau bahkan karena perceraian. Anak yang tidak memiliki sosok orang tua kebanyakan akan tumbuh dengan mengurus dirinya sendiri. Mereka akan belajar untuk tidak membicarakan perasaan mereka karena takut akan menyakiti orang tua mereka atau membuat orang tua bertambah stres.

Kebutuhan Anak Tak Hanya Kebutuhan Fisik Saja

Selain kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, dan papan, anak-anak juga memiliki kebutuhan emosi yang perlu dipenuhi. Kita semua sama-sama mengetahui bahwa anak membutuhkan kasih sayang terutama dari orang tuanya. Namun selain itu, ternyata ada kebutuhan emosi lain yang perlu diperhatikan orang tua, yaitu validasi terhadap emosi anak. Validasi emosi terjadi ketika orang tua melihat apa yang anak rasakan, mengetahui perasaan mereka, dan mencoba memahami mengapa anak merasakan emosi-emosi tersebut. Validasi berarti mengenali dan menerima bahwa anak-anak memiliki perasaan dan pemikiran yang nyata tanpa mempertimbangkan apakah perasaan dan pemikiran tersebut logis atau masuk akal bagi semua orang. Ketika memvalidasi emosi anak, orang tua perlu membiarkan anak berbagi perasaan dan pemikiran mereka tanpa menghakimi dan menyalahkan anak. Orang tua juga perlu meyakinkan anak bahwa tidak ada emosi yang benar maupun salah. Setiap emosi memiliki maksudnya masing-masing. Emosi adalah alat yang dimiliki setiap manusia untuk membantu kita bertahan dan tumbuh, misalnya perasaan takut memperingatkan kita bahwa ada bahaya dan mendorong kita untuk mencari jalan keluar.

Perlu diperhatikan bahwa orang tua tidak boleh memvalidasi apa yang tidak boleh divalidasi. Memiliki suatu emosi tertentu adalah hal yang normal sebagai respon internal terhadap suatu hal yang terjadi, tidak ada yang salah dalam memiliki emosi, namun perilaku dan bagaimana anak bereaksi terhadap emosi tersebut bisa jadi salah. Sebagai contoh saat anak tidak mau berangkat sekolah karena terdapat pelajaran yang sulit atau guru yang galak, wajar saja jika anak merasa takut, namun memutuskan untuk tidak berangkat sekolah bukanlah hal yang benar. Memiliki emosi adalah hal yang normal, tetapi bertindak berdasarkan emosi tersebut dengan cara yang tidak baik atau bahkan merusak bukanlah hal dapat diterima dan tentu saja memiliki konsekuensi. Memvalidasi perasaan anak tanpa menerima perilaku mereka yang salah mengajarkan anak untuk tidak membiarkan perasaannya mengendalikan dirinya dan tidak bertindak secara impulsif.

Pengaruh Emotional Neglect 

Pengaruh dari emotional neglect awalnya tidak akan terlihat, namun seiring berjalannya waktu beberapa efeknya mulai dapat dilihat. Saat emosinya diabaikan dan tidak divalidasi, anak-anak akan mempelajari bahwa perasaan mereka tidaklah penting dan tumbuh dengan selalu memendam perasaannya. Kurangnya interaksi emosi pada awal masa perkembangan dapat menghasilkan regulasi emosi yang buruk.  Ketika emosi yang sama muncul kembali, anak mungkin tidak tahu bagaimana menghadapinya dengan baik dan berhenti mencari bantuan. Pengaruh ini bisa terbawa hingga kehidupan dewasa. Orang dewasa yang di masa kecilnya mengalami emotional neglect kemungkinan akan merasakan ada yang kurang dari diri mereka, merasa kosong, dan kesulitan mempercayai orang lain bahkan di saat mereka sukses dalam karirnya. Mereka juga cenderung menjadi orangtua yang juga mengabaikan emosi anaknya. Mereka tidak pernah mempelajari pentingnya emosi mereka sendiri dan tidak tahu bagaimana menghadapi emosi anak mereka.

Emotional neglect menjadi salah satu faktor resiko dari psikopatologi, termasuk masalah internal seperti depresi, kecemasan, dan borderline personality disorder, serta masalah eksternal termasuk kekerasan. Anak yang mengalami emotional neglect memiliki kemampuan akademik yang buruk. Selain itu mereka cenderung akan menarik diri dari lingkungan sosial, dan memiliki teman yang sedikit. Emotional neglect pada anak dihubungkan dengan gangguan personalitas pada masa remaja dan dewasanya. 

Referensi

Bailey, Paola. (2018). Childhood emotional neglect, the long-lasting impact of what wasn’t there diakses dari https://blog.paolabailey.com/childhood-emotional-neglect-the-long-lasting-impact-of-what-wasnt-there-9fc9f20dcebf pada tanggal 21 September 2020.

Hall, Karyn & Cook, Melissa. (2012). The power of Validation: Arming Your Child Against Bullying, Peer Pressure, Addiction, Self-Harm & Out-of-Control Emotions. Oakland: New Harbinger Publications. 

Sorin, Reesa. (2003). Validating Young Children’s Feelings and Experiences of Fear. James Cook University. 4 (1): 80-89.

Webb, Jonice.  (2013). Running On Empty: Overcome Your Childhood Emotional Neglect. New York: Morgan James Publishing.

Webb, Jonice. (2020). 10 Ways You May Have Been Emotionally Invalidated as a Child diakses dari https://drjonicewebb.com/10-ways-you-may-have-been-emotionally-invalidated-as-a-child/ pada tanggal 22 September 2020.

Young, Robert., Lennie, Susan., & Minnis, Helen. (2011). Children’s perceptions of parental emotional neglect and control and psychopathology. Journal of Child Psychology and Psychiatry 52(8): 889–897.

Penulis : Hanifa

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *