Okupasi Terapi dan Kesehatan Mental

Topik kesehatan mental akhir-akhir ini semakin sering diangkat ke permukaan, semakin banyak diperbincangkan, artinya kesehatan mental semakin menarik untuk dibahas dan masyarakat semakin terbuka dengan topik yang dikenal sensitif ini.

Ketika mendengar kata “kesehatan mental” profesi apa yang pertama kali muncul dalam pikiran kita? Psikolog? Psikiater? Ya. Keduanya benar. Namun ada profesi lain yang juga concern dalam kesehatan mental, yaitu Okupasi Terapi.

Mengapa kesehatan mental itu penting?

Masalah kesehatan mental dapat dialami oleh orang dari berbagai usia, budaya, pendidikan, bahkan status sosial. Masalah kesehatan mental setiap orang dapat berbeda, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, dan gangguan kepribadian. Oleh karena itu, kesehatan mental adalah salah satu hal penting yang juga harus dijaga kesehatannya, sama seperti kesehatan fisik.

Bagaimana peran Okupasi Terapi dalam masalah kesehatan mental?

Hidup terdiri dari kegiatan sehari-hari yang bermakna, seperti berjalan, berkebun, menyiapkan makanan, melukis, mencuci pakaian, dan bermain game. Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, menggambarkan siapa dan bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri.

Okupasi terapi menyadari bahwa setiap hari pekerjaan yang kita lakukan akan memengaruhi kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Selain itu, okupasi terapi percaya bahwa kinerja, organisasi, pilihan, dan kepuasan seseorang terhadap pekerjaan ditentukan oleh hubungan antara individu dengan lingkungannya.

Apa yang dilakukan Okupasi Terapi dalam masalah kesehatan mental?

  1. Bekerja dengan klien dan keluarga mereka untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada.
  2. Membantu merancang, menginisiasi, dan memantau rencana jangka pendek dan jangka panjang yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.
  3. Mengajarkan cara-cara praktis dalam menanggulangi efek dari masalah kesehatan mental yang mereka alami, seperti teknik relaksasi.
  4. Bekerja dengan klien dalam rangka memahami dampak dari masalah kesehatan mental.
  5. Menolong klien mengganti aktivitas yang kurang menyehatkan dengan aktivitas yang menyehatkan dan bermanfaat.
  6. Mengases kemampuan, ketertarikan, nilai, dan kekuatan yang dimiliki oleh klien untuk membantu mereka mempertahankan, memodifikasi, atau menemukan pekerjaan yang tepat.
  7. Menerapkan aktivitas yang berguna bagi klien, seperti kemampuan bersosialisasi dengan teman-teman kelompok.
  8. Membantu mengatur aktivitas sehari-hari sehingga klien dapat menyeimbangkan apapun yang mereka inginkan, butuhkan, atau harapkan dapat mereka lakukan.

Referensi

Craik, Christine, Chacksfield, John, Richards, Gabrielle. (n.d.) A Survey Of Occupational Therapy Practitioners In Mental Health. Bethlem & Maudsley NHS Trust

Waghorn, Geoff, Lloyd, Chris, Clune, Alexis. (2009). Reviewing The Theory And Practice Of Occupational Therapy In Mental Health Rehabilitation. The College Of Occupational Therapist Ltd.

Ditulis oleh : Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *