Ternyata Ngobrol Ngga Harus Bersuara

Manusia ngga pernah lepas dari yang namanya komunikasi, entah itu komunikasi langsung, maupun tidak langsung. Seperti saat ini, ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, dalam sekejap, komunikasi kita harus berubah menjadi komunikasi tidak langsung. Sebelumnya kalau pengen ngobrol sama temen kuliah, ya tinggal datang aja ke kelasnya atau janjian ketemu di kantin untuk sekadar bertukar cerita, tapi sekarang semuanya berbeda, tetap bisa makan bareng sih, tapi virtual.

Ngomongin soal ngobrol, ternyata ngobrol ngga harus bersuara lho, salah satu contohnya teman tuli. Mereka terbiasa ngobrol dalam hening. Wah, emang bisa ngobrol dalam hening? Tentu bisa, ngobrolnya pakai bahasa isyarat. Kebetulan banget nih, setiap tanggal 23 September, seluruh dunia merayakan Hari Bahasa Isyarat. Emangnya apa sih bahasa isyarat itu?

Kenalan dengan bahasa isyarat

Bahasa isyarat adalah bahasa yang menggunakan komunikasi manual dan bahasa tubuh untuk menyampaikan makna, berbeda dengan pola suara yang disampaikan secara akustik. Ini dapat melibatkan penggabungan bentuk tangan, orientasi dan gerakan tangan, lengan atau tubuh, dan ekspresi wajah secara bersamaan untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikan oleh seseorang (National Deaf Center, 2019). Pada dasarnya, bahasa isyarat memiliki banyak kesamaan dengan bahasa lisan, itulah sebabnya para ahli bahasa menganggap keduanya sebagai bahasa alami, tetapi ada juga beberapa perbedaan yang signifikan antara bahasa lisan dan isyarat. Bahasa lisan diproduksi melalui alat ucap (oral) dan dipersepsi melalui alat pendengaran (auditory), sementara bahasa isyarat diproduksi melalui gerakan tangan (gesture) dan dipersepsi melalui alat penglihatan (visual). Bahasa isyarat dapat diekspresikan secara kasar, seperti seringai, mengangkat bahu, atau menunjuk; juga mungkin menggunakan kombinasi kode yang bernuansa halus yang diperkuat oleh ekspresi wajah dan kata-kata yang dieja dalam alfabet manual.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Prof. Iris Berent dari Northeastern University College of Science, otak manusia dapat menangkap struktur bahasa tidak peduli apakah bahasa itu dihadirkan secara lisan maupun isyarat. Inilah yang memungkinkan kita tetap mengerti apa yang dikomunikasikan teman tuli melalui bahasa isyarat. Uniknya lagi, otak kita dapat menyerap sebagian dari struktur bahasa ini sekalipun kita tidak mempunyai pengetahuan tentang bahasa isyarat sebelumnya.

Tips berkomunikasi dengan teman tuli

Setelah berkenalan dengan bahasa isyarat, ngga ada salahnya lho mencoba mempelajarinya sedikit demi sedikit. Siapa tahu pas ketemu dengan teman tuli, kamu bisa langsung praktik biar tau gimana rasanya ngobrol dalam hening. Sebelum lanjut belajar, baca dulu yuk tips berkomunikasi di bawah ini.

  • Sebelum ngobrol, pastikan teman tuli tau kalau kamu ingin ngobrol, bisa dengan tepukan pelan di bahu atau gerakan tangan yang dapat dilihat oleh mereka.
  • Berbicaralah dengan jelas dan dengan kecepatan normal.
  • Tatap lawan bicaramu saat berkomunikasi.
  • Jangan sungkan menggunakan kertas dan pulpen jika ada hal-hal yang sulit dikomunikasikan.

Selamat mencoba dan Selamat Hari Bahasa Isyarat se-dunia!

Referensi

Isma, Silva. (2013). Meneliti Bahasa Isyarat Dalam Perspektif Variasi Bahasa. Jurnal Fakultas Ilmu Budaya. Depok: Universitas Indonesia

National Deaf Center. (2019). Communicating With Deaf Individuals. NDC

Pizzuto, Elena, Bianchini, Claudia,  Capuano, Daniele, et al. (2010). Language Resources And Visual Communication In A Deaf-centered Multimodal E-learning Environment: Issues To Be Adressed. Italy: Universita di Macerata

Ditulis oleh: Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *