Funfact seputar Okupasi Terapi

Semakin dikenalnya Okupasi Terapi (OT) di Indonesia, ternyata ada beberapa hal menarik yang belum banyak dikenal. Agar lebih jelasnya yuk kita kenal lebih dalam beberapa fakta menariknya. Ada apa aja ya?

  1. Indonesia hanya memiliki dua pendidikan formal untuk menjadi Okupasi Terapis.

Perguruan tinggi pertama ialah Politeknik Kementrian Kesehatan Surakarta. Kampus yang berpusat di Solo, Jawa Tengah ini secara resmi membuka jurusan semenjak tahun 1994. Poltekes Kemenkes memiliki dua program studi yakni DIII Okupasi Terapi (A.Md) dan DIV Okupasi Terapi (S.Tr, Kes). Dilengkapi dengan fasilitas laboratorium dan para dosen yang profesional, kampus ini juga menjadi pilihan bagi lulusan yang sebelumnya bergelar diploma karena kampus ini menyediakan program untuk program lanjutan. 

Kampus kedua yakni Universitas Indonesia, pada 1997 program OT berdiri dibawah naungan fakultas kedokteran, namun pada 2008 secara resmi bergabung dibawah program Vokasi (DIII). Kabar yang membahagiakan berdasarkan update terbaru, pada November 2020 UI secara resmi membuka program baru yakni Sarjana Terapan (S.Tr). Kampus yellow jacket ini juga memiliki lulusan Okupasi Terapis yang siap bersaing di dunia kerja. 

  1. Mempelajari banyak ilmu penting. 

Luasnya ruang lingkup ilmu yang dipelajari selama berkuliah, membuat mahasiswa jurusan Okupasi Terapi dituntut mengetahui materi yang tidak hanya berkaitan dengan bidang kesehatan namun juga ilmu menarik lainnya. Berikut sekilas info terkait mata kuliah yang dipelajari:

-Anatomi, neurologi, fisiologi, serta ilmu penyakit dalam & bedah. 

Ya, ini merupakan ilmu wajib yang menarik untuk dipelajari sebagai ilmu dasar. Coba ya, siapa tau Sebat SOBAT ada yang masih ingat apa yang termasuk otot intrinsik tangan? Boleh kok buka buku SOBOTA atau googling. Walaupun materi ini memiliki kesulitan tersendiri, namun ada banyak manfaat salah satunya bisa lebih mengenal cara kerja tubuh kita sendiri dari sisi medis.

-Analisis aktivitas

Sebagian besar materi ini selalu dibutuhkan untuk dunia kerja, SOBAT OT akan dilatih untuk melihat suatu aktivitas dari perspektif kesehatan, seni (art), dan bidang teknik termasuk pemecahan masalahnya. 

– Sains Okupasi Terapi.

OT mempelajari ilmu sains? Tentu. Pada 1989 para peneliti sudah memberikan penjelasan bahwa the human as an occupational beings occupational science (AJOT. 1991). Menurut Alice (2017) banyak profesi selain OT yang juga menilai bermaknanya suatu pekerjaan (occupation) namun mata kuliah ini menjadikan landasan teori dan science untuk melihat pentingnya pengaplikasian pada profesi OT yang berfokus pada perilaku manusia dengan okupasi sebagai ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, atau psikologi (Morrison. 2017). Salah satu istilah penting yang dibahas pada materi kuliah ini ialah occupational justice. 

–  Critical Thinking dan Clinical Reasoning

Tingkat analisis dan pemikiran kritis merupakan inti ketika OT bekerja sebagai klinis karena dipengaruhi oleh banyak faktor (Shafaaroodi. 2017). Penalaran klinis adalah fitur penting yang berfokus pada kebutuhan assement, perencanaan intervensi, deseminasi dan evaluasi. Proses ini sangat kompleks hingga OT dapat mengambilan keputusan (Shafaaroodi. 2017). Hal ini lebih dari sekedar pengaplikasian teori sederhana, terutama teori yang terlibat dalam natural science. Kompleksitas terapis mengharuskan untuk mengimprovisasi apporach yang unik dan benar-benar sesuai dengan kondisi pasein (AJOT. 1991). Penalaran klinis berkaitan dengan paparan praktisi individu terhadap pembelajaran, praktek klinis, dan pengalaman klinis (Perumal, V. 2014)

3. Profesi lain yang berkaitan dengan OT 

Dunia profesionalitas OT biasanya bekerja sama dengan profesi lain sesuai lahan pekerjaannya seperti dokter, psikolog, guru, kesehatan masyarakat, fisioterapi, terapi wicara, ortotik prostetik, teknisi, dan arsitek. Bahkan di luar negeri OT dapat melakukan intervensi sebagai konsultan modifikasi rumah (Home Modification Occupational Therapy Alliance), OT pada bidang industri assitive devices, contoh lain di Amerika OT juga bergabung dalam Association for Driver Rehabilitation Specialists yang khusus menangani pasien-pasien dengan permasalahan menyetir. OT juga berperan di rumah tahanan seperti di beebrapa negara bagian di Amerika dan Singapura. spesialisai pasien low vision, OT pada komunitas mental health, NICU, dan ambulanc.   

4. Kerja dibanyak bidang 

Lulusan OT mempunyai banyak fleksibilitas dalam memilih bidang yang akan ia tekuni seperti di rumah sakit menangani kasus pediatrik (anak-anak), geriatri (dewasa), dan psikososial (mental health), assistive devices, dan di sekolah. Funfact, ternyata OT di Pediatri sudah ada sejak 1912 Sob, wah ternyata sudah 100 tahun ya. Selain itu, lulusan OT juga dapat melanjutkan ilmunya di bidang lain seperti kesehatan masyarakat, psikolog, arsitek, ekonomi, hukum, atau lanjut menjadi dokter. 

  1. Tantangan sebagai Okupasi Terapi

Sebagian OT yang bekerja sebagai klinisi kesehatan dituntut untuk selalu dalam kondisi fisik yang prima karena jam kerja yang tinggi. Selain pasien, terapis juga harus dapat meregulasi diri dengan kondisi lingkungan, latar belakang, dan kasus pasien yang ditangani. Mempunyai intuisi dan problem solver antara pasien dan keluarga pasien karena OT bersifat client center sehingga kasus yang sama belum tentu dapat dilakukan untuk pasien lain dengan permasalahan yang serupa. Selanjutnya, OT juga dituntut untuk kreatif dan inovatif karena hal ini merupakan tuntutan yang akan terus dikembangkan menyesuaikan antara kebutuhan dan tujuan kemandirian pasien sebagaimana prinsip OT untuk menjadikan pasien mandiri dengan level fungsionalnya. Gimana SOBAT, sejauh ini tantangan terbesar apa yang pernah kamu lakukan terhadap pasien?

  1. OT mempunyai ikatan profesi di setiap benua

Sejak 1864 World Federation Occupational Therapy (WFOT) didirikan bertujuan untuk mewakili lima benua. Masing-masing wilayah yakni Asia, Afrika, Amerika, Australia, dan Eropa. WFOT secara langsung menghubungkan 105 organisasi anggota di seluruh dunia, dengan keanggotaan individu lebih dari 29.000 terapis dan keanggotaan organisasi nasional yang mewakili lebih dari 580.000 terapis okupasi secara internasional. Salah satunya ialah Indonesian Occupational Therapy Association (IOTA) yang bergabung sejak tahun 2000. Untuk mengetahui ikatan profesi OT lainnya, SEBAT OT bisa mengunjungi laman wfot.org. 

  1. OT di Indonesia memiliki variasi penggunaan bahasa daerah yang berbeda-beda. 

Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki banyak suku dengan ciri khas penggunaan bahasa masing-masing, sehingga tak jarang OT saat melakukan intervensi menggunakan bahasa daerah sebagai bentuk salah satu pendekatan untuk menjalin trust kepada pasien. Uniknya logat bahasa Jawa, bahasa Sunda, Medan, Papua, Minang, Lampung, Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya menjadikan OT memiliki bahasa unik yang berbeda-beda dalam pengucapannyaa. Misalkan kata mandi, makan, tidur, dan hobi memiliki banyak variasi kata. Terkadang, dengan mencoba menjalin kedekatan komunikasi dengan pasien menjadikan satu aset yang mempermudah untuk melakukan intervensi. 

Referensi

Alice. Mc Garvie. (2020). Occupational Therapist. Why we need to talk about Occupational Science, as well as Occupational Therapy. 

Eleanor Clarke Slagle, also known as the “Mother of Occupational Therapy”. https://prezi.com/p/g_vosje_5v_z/occupational-therapy-historical-timeline/?fallback=1 

Mattingly. C. (1991).American Journal of Occupational Therapy. Upgrade 2014.  Vol. 45, 979-986. https://doi.org/10.5014/ajot.45.11.979

Morrison. R. (2001). Principal Approaches to Understanding Occupation and Occupational Science Found in the Chilean Journal of Occupational Therapy  

Perumal, V. (2014). Clinical Reasoning in Occupational Therapy. Prof & Head, Occupational Therapy IIMS, SAIMS Medical College, Indore

Shafaaroodi, N. Kamali, M. Parvizi, S. Hassani, A, M. (2017). Occupational Therapists’ Clinical Reasoning: A Qualitative Study. Iranian Rehabilitation Journal 15(3):277-286. DOI: 10.29252/nrip.irj.15.3.277

Shafaaroodi, N. Kamali, M. Parvizi, S. Hassani, A, M. O’Toole, G. (2014). Factors affecting clinical reasoning of occupational therapists: a qualitative study. Medical Journal of  the Islamic Republic of Iran. 

Penulis : Putri Dirgantara

Editor : Elysa Nasri G

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *