Orang dengan Autisme Ternyata Bisa Berkamuflase Lho!

Salah satu tanda yang dapat kita amati pada seseorang dengan autisme ialah kurangnya kemampuan mereka dalam komunikasi dan interaksi sosial. Di berbagai situasi sosial yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan banyak orang, orang dengan gejala autisme akan merasa kesulitan dalam melakukan hal-hal yang biasanya dapat dengan biasa dilakukan orang-orang pada umumnya, seperti mempertahankan kontak mata, penggunaan gestur tubuh, hingga memunculkan ekspresi wajah dengan tepat. Bahkan perilaku stimming seperti menjentikkan jari, dapat sangat mengganggu saat orang dengan autisme mencoba untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, pada sebagian orang dengan autisme, tanda-tanda autisme di atas akan sulit terlihat karena mereka mampu ‘menyembunyikan’ tanda-tanda tersebut dengan baik. Inilah yang dimaksud kamuflase pada autisme. Kamuflase ini merupakan strategi yang dilakukan oleh seseorang dengan autisme untuk menutupi kesulitan mereka dalam situasi sosial. Dalam berkamuflase, mereka akan berusaha berperilaku layaknya orang lain di sekitarnya sehingga orang-orang tak akan memperhatikan tanda autisme pada dirinya. Orang dengan autisme yang berkamuflase ini dapat menunjukkan kontak mata yang baik maupun timbal balik yang sesuai dalam percakapan. 

Bagaimana Bentuk Kamuflase Autisme?

Upaya kamuflase ini berbeda-beda tiap individu dan beragam bentuknya, misalnya dalam menyembunyikan perilaku stimming-nya, beberapa orang akan membawa benda-benda yang dapat menjadi perantara seperti mainan fidget di sakunya atau dengan mengunyah permen karet, sementara beberapa orang lainnya hanya akan berusaha menahan dirinya sebaik mungkin untuk tidak melakukan perilaku stimming saat berada dalam situasi sosial. Dalam melakukan kamuflase, tak jarang mereka memaksakan dirinya untuk mempertahankan kontak mata saat berbicara dengan orang lain walaupun hal tersebut sangat tidak nyaman. Beberapa teknik yang biasa dilakukan adalah dengan menatap suatu titik di antara mata lawan bicara sehingga orang dengan autisme akan terlihat seolah-olah sedang melakukan kontak mata. 

Sebelum menghadapi situasi sosial, beberapa orang dengan kondisi autisme akan benar-benar mempersiapkan diri, misalnya dengan membayangkan ‘naskah’ percakapan yang kemungkinan akan terjadi nantinya, mempersiapkan beberapa topik pembicaraan atau bahan gurauan, melatih respon dirinya saat lawan bicara sedang senang atau sedih, maupun menghabiskan beberapa waktu di depan cermin untuk melatih ekspresi wajah serta gestur tubuhnya. Mereka biasanya mempelajari beberapa teknik tersebut dengan memperhatikan interaksi beberapa karakter atau tokoh dalam acara televisi atau film. Dengan begitu, orang dengan autisme akan lebih siap dalam ‘berakting’ di situasi sosial sehingga orang lain tidak akan menganggap dirinya aneh karena memberikan respon yang tidak tepat dalam berinteraksi.

Lantas, apakah semua orang dengan kondisi autisme berkamuflase?

Berbicara mengenai autisme tentu bukan hal yang sederhana. Pasalnya, cakupan gejala autisme sangat luas dan beragam pada tiap individu, oleh karena itu pada diagnosis terbaru ditambahkan kata ‘spektrum’ sehingga menjadi Autisme Spectrum Disorder (ASD), artinya kita tidak bisa menyamaratakan satu individu autisme dengan individu autisme lainnya. Akan ada variasi gejala yang luas dan berbeda-beda tiap individu. Namun, merujuk pada diagnosis lama, terdapat beberapa diagnosis yang sekarang menjadi satu dengan ASD, salah satunya adalah Sindrom Asperger, yang pada diagnosis baru masuk ke dalam ASD level 1 di mana mereka tidak mengalami masalah dalam komunikasi verbal, dapat berbicara dengan kalimat penuh, serta mampu ikut serta dalam komunikasi (DSM-V, 2013), beberapa orang ada yang menyebutnya high-functioning autism. Autisme dengan spektrum atau tipe inilah yang biasanya dapat melakukan kamuflase. 

Dalam pedoman diagnosis yang lama, DSM-IV, disebutkan bahwa indivdu dengan sindrom asperger tidak mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, keterampilan untuk membantu diri sendiri, dan ketertarikan pada lingkungan di masa anak-anaknya. Dalam melakukan kamuflase ini dibutuhkan kemampuan kognitif dan fungsi eksekutif yang baik seperti kemampuan memori yanng baik, pemikiran yang fleksibel, dan kontrol diri yang baik (Lai et al., 2017).  Hal ini menunjukkan bahwa strategi kamuflase ini melibatkan aturan-aturan, seperti kapan dan berapa lama harus membuat kontak mata, dan melibatkan kemampuan untuk secara cermat memantau serta beralih antar strategi dibutuhkan demi suksesnya kamuflase yang dilakuan (Livingston et al, 2020).

Perempuan dengan kondisi autisme lebih termotivasi untuk melakukan kamuflase dibanding laki-laki dengan kondisi yang sama (Lai et al., 2017). Hal ini menyebabkan kebanyakan perempuan lambat atau bahkan tidak terdiagnosis sama sekali dikarenakan tanda autisme ini tidak tampak sejak awal oleh guru maupun orang tua. Faktor sosial-budaya, khususnya ekspektasi mengenai gender tertentu dan bagaimana suatu gender bersosialisasi sepanjang masa perkembangannya menjadi salah satu penyebab mengapa perempuan dengan autisme melakukan kamuflase sehingga jarang terdiagnosis (Kreiser and White, 2014). Misalnya dalam pertemanan, perempuan cenderung saling protektif terhadap sesama teman perempuannya sehingga kesulitan sosial yang dihadapi tidak tampak.  Ekspektasi gender atau tuntutan pada perempuan seperti ‘harus bertingkah layaknya perempuan’ atau ‘harus lebih banyak bersosialiasi’ dapat menyebabkan perempuan, khususnya mereka dengan kondisi autisme, melakukan imitasi serta mempelajari perilaku sosial normatif pada perempuan (Lai et al., 2017).   

Baik dan Buruk Kamuflase bagi Orang dengan Autisme

Orang dengan autisme melakukan kamuflase untuk menyatu dengan lingkungannya sehingga mereka dapat diterima dengan baik. Dengan melakukan kamuflase, mereka dapat menjalin pertemanan maupun hubungan romantis. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan akan lebih besar jika mereka dapat menyembunyikan tanda autisme pada dirinya. Pada beberapa orang dengan autisme, kamuflase dapat menjadi suatu reward karena mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan. Sebagian orang dengan kondisi autisme melihat kamuflase sebagai kesempatan untuk mengubah persepsi masyarakat mengenai autisme dengan ketrampilan sosial yang dimilikinya.

Namun tidak selamanya perilaku kamuflase itu baik. Upaya untuk ‘berpura-pura’ ini dapat menjadi sangat melelahkan secara mental, fisik, maupun emosi karena menuntut kemampuan kognitif yang baik dan membutuhkan konsentrasi yang intens untuk mengelola ketidaknyamanan mereka. Beberapa orang dengan kondisi autisme melaporkan bahwa mereka merasa sangat cemas dan stres setelah melakukan kamuflase. Selain itu, orang dengan autisme yang terlambat terdiagnosis akibat kemampuan kamuflasenya yang baik akan kesulitan menemukan dukungan dan bantuan yang tepat. Kamuflase ini juga berpengaruh pada persepsi diri. Mereka akan merasa berbohong mengenai diri mereka kepada orang lain. Orang autistik yang melakukan kamuflase akan berpikir bahwa hubungan yang mereka jalin dengan orang lain berdasarkan pada penipuan. Merasa sendiri dan terisolasi umum dirasakan karena tidak ada yang benar-benar memahami kondisi meraka. Banyaknya peran yang dimainkan dalam berbagai situasi sosial yang berbeda membuat orang dengan tipe autisme ini sulit untuk mengetahui seperti apa identitas diri mereka yang sesungguhnya.

Referensi

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition Text Revision, DSM-IVTR. Arlington, VA: American Psychiatric Association.

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edition (DSM-V). Washington : American Psychiatric Publishing.

Hull, Laura., et al. (2017). “Putting on My Best Normal”: Social Camouflaging in Adults with Autism Spectrum Conditions. J Autism Dev Disord. 47:2519–2534.

Lai, Meng-Chuan., et al. (2017). Quantifying and Exploring Camouflaging in Men and Women with Autism. Sage Journal. 21(6): 690–702.

Lehnhardt, et al. (2016). Sex-related Cognitive Profile in Autism Spectrum Disorders Diagnosed Late in Life: Implications For The Female Autistic Phenotype. Journal of Autism and Developmental Disorders. 46(1): 139–154.

Livingston, et al. (2020). Quantifying Compensatory Strategies In Adults With And Without Diagnosed Autism. Molecular Autism. 11(15): 1-10.

Mandy, Will. (2019). Social camouflaging in autism: Is it time to lose the mask?. Autism. 23(8): 1879–1881.

Penulis : Hanifa

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *