Saat ini, perkembangan era teknologi digital kian merambah. Sebagai salah satu akibatnya, penggunaan gadget – yang merupakan bagian dari perangkat elektronik, juga mengalami peningkatan yang pesat. Meningkatnya penggunaan gadget ini ternyata tidak hanya terjadi pada kalangan remaja dan dewasa saja, namun juga terjadi pada kalangan anak-anak. Dikatakan bahwa dari total 47 juta jiwa pengguna gadget di Indonesia, 79,5% di antaranya merupakan pengguna dengan usia remaja serta anak-anak (Wulandari, 2016). Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh TheAsianParent Insight bersama Samsung Kidstime dalam “Mobile Device Usage Among Young Kids”, ditemukan bahwa dari sebanyak 2500 orangtua yang memiliki anak dengan usia antara 3-8 tahun di Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, serta Filipina, sebesar 98% dari total responden menyatakan bahwa mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk menggunakan smartphone/tablet. Dalam surveynya, sebanyak 80% orangtua memaparkan bahwa mereka memperbolehkan anak-anaknya menggunakan smartphone sebagai sarana edukasi. Namun kenyataannya, sebanyak 72% anak pengguna smartphone ini menggunakannya untuk keperluan bermain game (Nithy, n.d).
Terlebih lagi, telah diungkapkan juga dalam survey ini bahwa gadget screen time – waktu yang dihabiskan seseorang untuk bermain gadget, pada kategori usia anak-anak saat ini mencapai lebih dari 1 jam untuk satu kali duduk/setiap satu kali penggunaan (Nithy, n.d). Temuan lainnya mengatakan bahwa anak-anak di Amerika Serikat memiliki durasi gadget screen time hingga lebih dari 2 jam per harinya (Howard, 2017). Padahal, menurut Australia’s Physical Activity and Sedentary Behaviour Guidelines, pada anak dengan usia: 1) 0-2 tahun, tidak boleh sama sekali terpapar gadget/no screen time; 2) usia 2-5 tahun, kurang dari 1 jam per hari; dan 3) usia 5-17 tahun, kurang dari 2 jam per hari (Australian Parents Council, 2016).
Lalu apa yang terjadi jika seorang anak terpapar gadget melebihi batasan screen time berdasarkan usianya?
Sebetulnya penggunaan gadget pada usia anak-anak ini juga dikatakan memiliki beberapa dampak yang positif. Di antaranya adalah seperti sebagai media anak untuk melatih dan meningkatkan kemampuan motorik, meningkatkan pengetahuan, meningkatkan kemampuan kognitif, dianggap sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan jika dibandingkan dengan buku, serta melatih keterampilan anak dalam berkompetisi (Srinahyanti, et al., 2018; Sundus, 2018). Namun, jika digunakan secara berlebihan hingga menimbulkan ketergantungan, digunakan tanpa pengawasan orangtua, serta tidak digunakan untuk hal-hal yang memberikan sifat edukasi serta melatih keterampilan anak, penggunaan gadget ini disebutkan dapat memberikan efek yang buruk bagi perkembangan anak.
Salah satu efek buruk yang dapat terjadi dari penggunaan gadget pada anak yang tidak sesuai dengan aturan dan porsinya adalah timbulnya kondisi speech delay atau keterlambatan bicara (Srinahyanti, et al., 2018; Sundus, 2018; Tan, et al., 2019). Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa semakin lama seorang anak menghabiskan waktunya untuk bermain smartphone, tablet, electronic games, dan perangkat-perangkat lainnya, maka akan meningkat pula kemungkinan bagi anak tersebut untuk mengalami keterlambatan pada kemampuan expressive speech (Sundus, 2018). Sebuah penelitian lainnya juga mengungkapkan bahwa setiap penambahan waktu 30 menit untuk bermain gadget, dapat meningkatkan risiko anak mengalami keterlambatan berbicara hingga 49% (Srinahyanti, et al., 2018).
Mengapa demikian?
Dalam jurnalnya, Sundus (2018), memberikan pengibaratan seperti berikut, “Ketika seseorang pergi bersama anaknya, kemudian ia memberikan gadget kepada anaknya untuk menonton acara favorit ataupun bermain game kesukaannya, maka orangtua tidak akan mengganggu anaknya dengan menanyakan sesuatu ataupun mengajaknya berbicara. Padahal, jika hal tersebut tidak dilakukan (bemain gadget), anak kemungkinan besar akan berbicara dan berkomunikasi dengan orangtuanya.”
Seorang anak akan belajar bagaimana caranya berbicara dan berkomunikasi melalui interaksi yang terjalin antara anak dengan orang lain. Maka sebaliknya, ketika akhirnya interaksi dan komunikasi tersebut tidak ada, seorang anak dikatakan telah kehilangan kesempatannya untuk belajar (Sundus, 2018). Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa ketika seorang anak asik bermain gadget sendiri, anak akan memusatkan perhatiannya pada gadget tersebut dan melupakan lingkungan di sekitarnya. Srinahyanti, et al. (2018), mengatakan bahwa ketika seorang anak menggunakan gadget seperti smartphone, anak akan fokus dengan melihat kepada layar gadget dan tidak membuat kontak sosial. Padahal, kontak serta komunikasi sosial dibutuhkan oleh anak untuk mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa dan berbicara. Dr. Gary Small dalam Srinahyanti, et al. (2018), mengatakan bahwa jika seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya dalam hal teknologi dan lebih sedikit dengan manusia, hal ini dapat menyebabkan terhalangnya interaksi serta dapat mengganggu perkembangan keterampilan komunikasi yang normal pada anak. Dalam suatu penelitian lainnya telah dikatakan bahwa paparan gadget dan TV dapat memperburuk kemampuan penguasaan bahasa anak. Hal ini terjadi karena berkurangnya kuantitas dan kualitas waktu yang dimiliki oleh anak dengan orangtuanya untuk berhubungan dan bermain bersama (Tan, et al., 2019).
Sebagai gantinya (bermain gadget), banyak aktivitas-aktivitas lain yang dapat dilakukan oleh orangtua bersama anak-anaknya guna menunjang kemampuan interaksi sosial yang kemudian dapat menstimulasi kemampuan bahasa anak. JP Carlos (2020) dalam tulisannya mengatakan, “spend meaningful time with your child”. Luangkanlah lebih banyak waktu untuk bermain langsung dengan anak, menggunakan permainan-permainan yang menyenangkan dan anak sukai sehingga anak dapat lebih tertarik untuk berpartisipasi secara aktif dalam permainan/aktivitas yang diberikan. Dengan begitu, di kemudian hari anak pun akan lebih memilih untuk bermain bersama orang lain dibandingkan dengan bermain gadget. Beberapa contoh aktivitas yang dapat dilakukan adalah, 1) art and craft activities, 2) membaca dongeng bersama, 3) memasak bersama anak, 4) bermain peran/pretend play, dan aktivitas-aktivitas menarik lainnya.
Referensi
Australian Parents Council. (2016, Agustus 31). Screen Time: What is the recommended screen time for Australian kids? Australian Parents Council. https://austparents.edu.au/wp-content/uploads/2019/03/screentime.pdf
Howard, J. (2017, Oktober 19). Kids under 9 spend more than 2 hours a day on screens, report shows. CNN. https://edition.cnn.com/2017/10/19/health/children-smartphone-tablet-use-report/index.html
M, S. (2018). The Impact of using Gadgets on Children. Journal of Depression and Anxiety, 7(1), 296. 10.4172/2167-1044.1000296
Srinahyanti, Wau, Y., Manurung, I. F. U., & Anjani, N. (2018, Mei 3). Influence of Gadget: A Positive and Negative Impact of Smartphone Usage for Early Child. Annual Conference of Engineering and Implementation on Vocational Education. DOI 10.4108/eai.3-11-2018.2285692
Tan, S., Mangunatmadja, I., & Wiguna, T. (2019). Risk factors for delayed speech in children aged 1-2 years. Paediatrica Indonesiana, 59(2), 55-62. http://dx.doi.org/10.14238/pi59.2.2019.55-62
Theva, N. (n.d.). Survey tentang Smartphone & Tablet – Hasilnya Mengejutkan. TheAsianParent Indonesia. https://id.theasianparent.com/hasil-survey-smartphone-yang-mengejutkan
Wulandari, P. Y. (2016, Maret 17). Anak Asuhan Gadget. Liputan6. https://www.liputan6.com/health/read/2460330/anak-asuhan-gadget
Penulis : Fanza
Editor : Elysa
