Kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan emosi dan perilaku merupakan bagian dari regulasi diri. Kebanyakan orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi situasi tertentu dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Keterampilan regulasi diri penting bagi individu karena dapat membantunya menghadapi situasi yang sulit, seperti kehilangan hewan peliharaan, kematian anggota keluarga, dan lain-lain (Anderson & Grinder, 2017).
Pada anak-anak, regulasi diri akan menjadi tantangan pada tahap tertentu dalam perkembangan mereka. Misalnya, ketika si anak lelah atau lapar, mereka mungkin merasa kesal, mudah tersinggung, atau marah. Hal ini sebenarnya adalah hal biasa, kecuali terjadi begitu sering sehingga mulai memengaruhi kinerja akademis atau bidang kehidupan penting lainnya.
Tidak hanya pada anak, regulasi diri juga berlaku pada orang dewasa. Bagaimana mereka mampu mengontrol emosi dan perilaku mereka ketika sedang menghadapi sesuatu tentunya akan memengaruhi bagaimana lingkungan akan memperlakukan mereka.
Social-Emotional Learning
Social-Emotional Learning (SEL) adalah proses mengembangkan dan menggunakan keterampilan sosial dan emosional untuk memahami perasaan, menetapkan tujuan, membuat keputusan, dan menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain. Individu dengan keterampilan sosial dan emosional yang baik lebih siap menghadapi tantangan yang muncul setiap harinya, membangun hubungan yang positif, dan membuat keputusan yang tepat. SEL berperan penting tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa agar mereka mampu berpartisipasi dengan baik dalam hidup (CASEL, 2012).
Terdapat 5 kompetensi inti yang harus diperhatikan dalam membentuk SEL, yaitu:
Self awareness; seperti mengidentifikasi emosi, mengenali kekuatan dan kebutuhan, serta mengembangkan “growth mindset”,
Self management; seperti mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan menetapkan tujuan,
Social awareness; seperti melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, menunjukkan empati, dan menghargai keberagaman,
Relationship skills; seperti komunikasi, kerjasama, dan resolusi konflik,
Responsible decision-making; seperti memikirkan konsekuensi yang akan terjadi akibat dari keputusan yang diambil.
Pentingnya regulasi diri
Dalam Okupasi Terapi, frase regulasi diri bukan hal yang asing lagi. Dalam setiap bidang pekerjaan Okupasi Terapi, kemampuan regulasi diri adalah hal penting yang menjadi perhatian karena tanpa regulasi diri, maka seseorang akan dianggap tidak adaptif sehingga kehidupan sosialnya dapat terganggu jika dibiarkan terus-menerus. Dalam praktiknya, okupasi terapis akan menganalisis individu tersebut; bagaimana ia dan lingkungannya berinteraksi, apa yang menyebabkan emosi dan perilaku tertentu yang muncul, dan apa intervensi yang akan digunakan untuk meningkatkan regulasi diri, sehingga respon-respon yang diberikan akan lebih adaptif dan dapat diterima oleh lingkungan sosialnya.
Referensi:
Anderson, Mary & Grinder, Maine. (2017). Occupational Therapy’s Role in Social Emotional Development Throughout Childhood. AOTA
CASEL.org
Ditulis oleh : Elysa Nasri
