Menurut Jaak Panksepp, seorang peneliti di Washington State University, bermain adalah naluri alamiah setiap anak-anak. Sama seperti makan dan tidur, bermain adalah naluri untuk bertahan hidup. Setiap anak suka bermain. Bermain mencerminkan apa yang penting dalam kehidupan mereka. Ketika ditanya tentang bermain, anak-anak berbicara tentang bersenang-senang, bertemu dengan teman, memilih aktivitas yang mereka sukai tanpa instruksi dari orang lain, atau bahkan sekadar keluar dari rumah untuk mengamati apa yang orang lain lakukan. Bermain bisa saja sepi atau ribut, berantakan atau tertib, lucu atau serius, maupun mudah atau sulit. Bermain juga dapat terjadi di dalam atau di luar rumah dan akan berkembang seiring pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak-anak bermain karena berbagai alasan. Terkadang mereka sedang menjajaki atau mempelajari hal baru. Di lain waktu mereka merealisasikan pembelajaran yang ada atau mempraktikkan keterampilan. Bermain juga bisa menjadi cara membangun atau memperkuat suatu hubungan. Mereka membawa interpretasi mereka sendiri tentang situasi, kejadian, pengalaman, dan harapan terhadap permainan mereka. Selama bermain, mereka mengembangkan keterampilan sosial, belajar memberi, dan berinteraksi satu sama lain. Dengan terlibat dalam negosiasi selama bermain, anak-anak membangun koneksi di pusat kendali eksekutif otak yang membantu mengatur emosi, membuat rencana, dan memecahkan masalah. Perkembangan otak semacam inilah yang menjadi salah satu hal penting untuk kesuksesan di sekolah dan tingkat kehidupan mereka selanjutnya.
Bermain sangat penting untuk perkembangan karena berkontribusi pada kesejahteraan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak-anak. Bermain juga menawarkan kesempatan ideal bagi orang tua untuk terlibat sepenuhnya dengan anak-anak mereka. Terlepas dari manfaat yang didapat dari bermain baik untuk anak-anak maupun orang tua, waktu bermain telah berkurang secara nyata. Anak-anak saat ini kurang mendapat dukungan untuk bermain daripada generasi sebelumnya karena gaya hidup yang lebih tergesa-gesa, perubahan peran dalam keluarga, dan meningkatnya perhatian pada kegiatan akademis dan pengayaan dengan mengorbankan waktu istirahat maupun waktu bermain.
Mengapa bermain itu penting?
Apa manfaat bermain dalam kehidupan anak? Anak-anak yang bermain mengembangkan keterampilan belajar universal. Bermain memaksimalkan potensinya dengan mengembangkan kreativitas dan imajinasi. Bermain mempromosikan sukacita yang penting untuk harga diri dan kesehatan. Proses belajar mandiri didasarkan pada proses alamiah belajar dan keterlibatan yang menyenangkan dalam kehidupan.
Bermain telah didefinisikan sebagai aktivitas yang dipilih secara bebas, secara intrinsik termotivasi, dan diarahkan secara pribadi. Bermain bukanlah aktivitas yang spesifik, namun aktivitas apapun yang dilakukan dengan kerangka pikiran yang menyenangkan. Seorang psikiater, Stuart Brown, menulis bahwa bermain adalah ‘dasar dari semua seni, permainan, buku, olahraga, film, mode, kesenangan, dan keajaiban dalam hidup – singkatnya, dasar dari apa yang kita anggap sebagai peradaban.’ (Brown, 2009).
Seperti yang dikatakan oleh ahli teori bermain, Brian Sutton-Smith, kebalikan dari permainan bukanlah pekerjaan, tetapi depresi. Semua jenis permainan, mulai dari fantasi sampai yang kasar dan berantakan, memiliki peran penting dalam perkembangan anak-anak. Bermain adalah lensa dimana anak-anak mengalami dunia mereka dan dunia orang lain. Jika mereka tidak mengalami fase ini, anak-anak akan menderita baik di masa sekarang maupun dalam jangka panjang. Dengan peranan orang dewasa (dalam hal ini orangtua atau caregiver lainnya) yang mendukung, ruang bermain yang memadai, dan bermacam-macam bahan mainan, anak-anak memiliki kesempatan terbaik untuk menjadi anggota masyarakat yang sehat, bahagia, dan produktif.
Bermain dan Perkembangan Otak
Bermain meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan otak, membangun koneksi saraf baru, atau dalam artian sempit membuat pemain lebih cerdas. Bermain meningkatkan kemampuan untuk memahami keadaan emosional orang lain dan kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah. Bermain lebih sering terjadi pada periode pertumbuhan otak yang paling cepat. Brian Sutton-Smith juga percaya bahwa anak-anak terlahir dengan kapasitas neuron yang besar, yang jika tidak digunakan akan menyebabkan kematian neuron. Melalui bermain, anak-anak belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain, bagaimana mengenali bagian-bagian tubuh mereka, dan bagaimana berpikir secara abstrak. Seorang anak yang tidak dirangsang untuk bermain akan memiliki sedikit kesempatan untuk menjelajahi lingkungannya yang kemudian berdampak pada gagalnya menghubungkan koneksi dan jalur saraf yang akan dibutuhkan untuk pembelajaran.’ (Sutton-Smith, 1997). Jaak Panksepp, juga menemukan bahwa permainan merangsang produksi protein, ‘faktor neurotropika yang diturunkan dari otak’, di amigdala dan korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk mengatur, memantau, dan merencanakan masa depan.
Bermain dan Hubungannya dengan Proses Kognitif
Proses kognitif pada aktivitas bermain sama dengan proses kognitif yang terjadi pada aktivitas belajar, yaitu motivasi, makna, pengulangan, pengaturan diri, dan pemikiran abstrak. Periset, pendidik, dan orang tua telah lama percaya bahwa anak-anak belajar hubungan sebab dan akibat melalui permainan eksplorasi. Dalam sebuah penelitian, anak-anak berusia empat sampai lima tahun mengeksplorasi mainan baru untuk memahami bagaimana mainan tersebut bekerja (Schulz, 2007). ‘Untuk belajar di lingkungan sekolah formal, anak-anak harus dapat mengatur perilaku dan emosi mereka, cara berkomunikasi, dan keterlibatan dengan orang lain dengan cara yang sesuai secara sosial. Penelitian secara jelas menyoroti hubungan antara pengalaman belajar yang menyenangkan, keterampilan sosial dan pengaturan diri, dan prestasi akademik.’ (Fisher, 2011).
Bermain dan Hubungannya dengan Bahasa
Gunhilde Westman dari Universitas Uppsala Swedia melihat bermain sebagai arena pengembangan bahasa dan komunikasi. Bermain menuntut anak-anak berkomunikasi dimana mereka harus memperhatikan kata-kata dan tindakan masing-masing. Mereka harus berkonsentrasi pada penggunaan bahasa mereka sendiri agar dapat berkomunikasi dengan jelas. Anak-anak belajar dengan mendengarkan satu sama lain saat mereka bermain. Melalui bermain, anak-anak belajar untuk mengimbangi kata-kata dan tindakan. Westman (2003) percaya bahwa terdapat kaitan antara kepercayaan dan motivasi anak saat bermain dengan perkembangan bahasa mereka. Anak-anak yang termotivasi oleh permainan dan mencoba untuk memperluas permainan mereka cenderung lebih mampu mengembangkan kemampuan berbahasa mereka dan memiliki rasa percaya diri yang baik.
Bermain dan Hubungannya dengan Sosial-Emosi
Selain itu, bermain juga akan membentuk proses emosi yang lebih sehat: mengurangi rasa takut, cemas, stres, dan mudah tersinggung, menciptakan kegembiraan, keintiman, harga diri dan penguasaan diri yang tidak didasarkan pada kehilangan penghargaan dari orang lain, meningkatkan fleksibilitas emosional dan keterbukaan, meningkatkan ketenangan, ketahanan dan kemampuan beradaptasi, serta kemampuan untuk mengatasi kejutan dan perubahan.
Bermain dan Hubungannya dengan Fisik
Sedangkan dalam hubungannya dengan kondisi fisik, bermain akan meningkatkan emosi positif dan efisiensi sistem kekebalan tubuh, endokrin, dan kardiovaskular, mengurangi stres, kelelahan, cedera, dan depresi, serta meningkatkan jangkauan gerak, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, fleksibilitas, dan eksplorasi motorik kasar dan motorik halus.
Pada akhirnya, bermain bukanlah hal yang sia-sia dan membuang waktu belaka. Dengan bermain, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan yang terjadi di sekitar mereka. Tidak hanya itu, bermain juga dapat menjadi salah satu cara mudah membangun bonding dan comfort antara anak dengan orangtua/ caregiver, lho! Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, main!
“You can discover more about a person in an hour of play than in a year of conversation” – Pluto
Referensi
Goldstein, Jeffrey. (2012). Play in Children’s Development, Health, and Well-Being. Brussels: Toy Industries of Europe
Hamilton, Jon. (2014). Scientists Say Child’s Play Helps Build Better Brain. [Online]. Diakses dari http://www.news.wfsu.org/post/scientists-say-childs-play-helps-build-better-brain
Lahey, Jessica. (2014). Why Free Play is the Best Summer School. [Online]. Diakses dari http://www.theatlantic.com/education/archive/2014/06/for-better-school-results-clear-the-schedule-and-let-kids-play/373144
Panksepp, Jaak. (2007). Can Play Diminish ADHD and Facilitate the Construction of the Social Brain?. Journal of the Canadian Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 16, 57–66
Panksepp, J., Burgdorf, J., Turner, C., and N. Gordon. (2003). Modeling ADHDtype Arousal with Unilateral Frontal Cortex Damage in Rats and Beneficial Effects of Play Therapy. Brain and Cognition, 52, 97-105
Schulz, Laura E., Bonawitz, Elizabeth Baraff. (2007). Serious fun: Preschoolers Engage in More Exploratory Play when Evidence is Confounded. Developmental Psychology, 43, 1045-1050
Westman, Gunhilde. (2003). Lek och kommunikation. [Play and communication.] Förskoletidningen, No.1, 11-17. Lego Learning Institute Newsletter, Sept./Oct
Whitebread, D., Marisol B., Martina K., et al. (2012). The Importance of Play. Brussels: Toy Industries of Europe
Ditulis oleh : Elysa Nasri
