Tak terasa sudah sekitar enam bulan lamanya kita menjalani karantina akibat pandemi Covid-19. Walaupun beberapa orang sudah melakukan aktivitas new normal kembali, namun masih ada diantara kita yang melakukan aktivitas dari rumah. Karena lebih sering dirumah, aktivitas fisikpun jadi minim kita lakukan, yang biasanya kita banyak menghabiskan waktu berjalan kaki ke sana ke mari, sekarang kita hanya berjalan kaki dari satu ruang ke ruang lain di rumah kita yang paling hanya butuh beberapa langkah saja, selebihnya mungkin kita hanya rebahan atau duduk-duduk saja, benar bukan? Akibat minimnya aktivitas fisik ini, resiko obesitas pun menjadi lebih tinggi. Apalagi ditambah konten-konten resep makanan easy to try yang banyak beredar di media sosial membuat kita ingin mencobanya dan mustahil untuk tidak mencicipinya, sehingga membuat lemak dalam tubuh semakin bertambah yang dapat berakibat pada naiknya berat badan.
Seperti apa sih yang digolongkan sebagai obesitas?
Obesitas bukan merupakan masalah baru. Jika sekarang Covid-19 menjadi pandemi, obesitas sudah lama menjadi epidemi di banyak negara di dunia. Menurut WHO, obesitas terjadi karena penumpukan lemak yang berlebihan dalam waktu yang lama dikarenakan banyaknya energi dari makanan yang kita makan tidak seimbang dengan banyaknya energi yang kita keluarkan saat beraktivitas. Banyak cara untuk dapat menggolongkan apakah seseorang termasuk dalam kategori obesitas atau tidak, namun cara yang paling umum digunakan adalah dengan menghitung Indeks Masa Tubuh (IMT). Nilai IMT ini dapat diperoleh dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2). Seseorang masuk dalam kategori obesitas apabila nilai IMT mencapai 25-29,9 untuk obesitas I dan ≥ 30 untuk obesitas II (WHO Western Pasific Region, 2000). Namun standar nilai ini dapat berbeda-beda di tiap negara dikarenakan perbedaan ras dan etnik. Di indonesia sendiri, seseorang dikatakan gemuk atau obesitas ringan apabila nilai IMT berada di rentang 25,1-27,0 dan gemuk atau obesitas berat bila nilai IMT melebihi 27 (Pedoman Gizi Nasional, 2014).
Masalah yang Dihadapi Penderita Obesitas
Jika dibiarkan terus menerus obesitas dapat menyebabkan penyakit kronis seperti hipertensi, masalah cardiopulmonary, stroke, kanker, dan diabetes. Karenanya WHO menetapkan obesitas sebagai penyumbang risiko kematian di dunia. Tak hanya itu, dalam kehidupan sehari-harinya, penderita obesitas mengalami hambatan dalam okupasi mereka. Semakin tinggi IMT penderita obesitas, semakin tinggi pula disabilitas yang dialaminya. Dalam penelitian yang dilakukan Randi Nossum, Ann-Elin Johansen, dan Ingvild Kjeken, menemukan hasil bahwa penderita obesitas berat pada orang dewasa mengalami masalah occupational performance dan hambatan yang beragam. Masalah occupational performance yang paling banyak ditemui adalah bermain dengan anak maupun cucu, membeli baju, dan makan dengan teratur. Sedangkan hambatan fisik banyak ditemui karena ukuran tubuh yang besar, mobilitas, lingkup gerak sendi yang terbatas, dyspnea atau sesak napas, dan masalah kecepatan langkah serta kelelahan selama aktivitas fisik.
Selain masalah pada fisik, penderita obesitas juga rentan mengalami masalah psikologis. Hal ini dikarenanakan stigma yang melekat pada penderita obesitas di mana banyak masyarakat menghubungkan obesitas dengan stereotip negatif, misalnya orang yang bertubuh gemuk dipandang kurang disukai dan diapresiasi. Selain itu, penderita obesitas dapat mengalami occupational injustice, seperti dilarang melakukan suatu pekerjaan baik secara eksplisit maupun implisit melalui pengucilan sosial. Akibatnya, penderita obesitas dapat memiliki penghargaan diri yang rendah sehingga dapat menimbulkan stres dan lebih memilih untuk mengisolasi diri dibanding terlibat dalam aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang.
Peran Okupasi Terapi Dalam Masalah Obesitas
Praktisi okupasi terapi dapat membantu penderita obesitas mengubah gaya hidup mereka, lebih berpartisipasi dalam aktivitas bermakna, dan memanajemen berat tubuh. Okupasi terapi berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit, adaptasi, dan pemeliharaan (AOTA, 2013). Penyederhanaan aktivitas dan pemeliharaan energi dapat dilakukan dalam melakukan aktivitas baik di rumah, tempat kerja, dan komunitas, terutama jika masalah respirasi menjadi komorbid. Misalnya saat bermain dengan anak atau cucu, klien dapat berdiskusi dengan mereka untuk memilih aktivitas yang dapat dilakukan dengan duduk. Klien juga dapat diinstruksikan untuk melakukan gerak mekanis tubuh yang baik untuk menjaga keselamatan selama aktivitas fisik. Penerapan metode dan peralatan adaptif dapat digunakan untuk memfasilitasi keterlibatan klien dalam IADL. Melibatkan keluarga dalam intervensi dapat membantu penderita obesitas untuk memelihara gaya hidup sehat. Sebagai tambahan, praktisi okupasi terapi dapat membentuk sebuah kelompok memasak bersama penderita obesitas lain. Ini dapat membantu klien untuk berdiskusi dan mempraktikkan diet yang lebih sehat serta sebagai sarana untuk membangun relasi sosial yang dapat saling mendukung. Penderita obesitas juga perlu diberikan edukasi dan stategi dalam memanajemen stress selama aktivitas sehari-hari, terutama aktivitas yang melibatkan konteks sosial.
Referensi
American Occupational Therapy Association. (2015). Occupational Therapy’s Role in Bariatric Care. Diakses dari https://www.aota.org/~/media/Corporate/Files/AboutOT/Professionals/WhatIsOT/HW/Facts/Bariatric%20fact%20sheet.pdf pada 26 Agustus 2020.
Barasa, Paul. (2016). The Challenges That Obese People Face Everyday. Diakses dari https://www.standardmedia.co.ke/ureport/article/2000227880/the-challenges-that-obese-people-face-everyday pada 26 Agustus 2020.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Fact Sheet Obesitas. Diakses dari http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/N2VaaXIxZGZwWFpEL1VlRFdQQ3ZRZz09/2018/02/FactSheet_Obesitas_Kit_Informasi_Obesitas.pdf pada 26 Agustus 2020.
Nossum, Randi., Johansen, Ann-Elin., & Kjeken, Ingvild. (2017). Occupational Problems and Barriers Reported by Individuals With Obesity. Scandinavian Journal of Occupational Therapy. DOI: 10.1080/11038128.2017.1279211.
Ditulis oleh : Hanifa
Disunting oleh : Elysa Nasri
