Tak dapat dipungkiri, setiap manusia pasti memiliki kebiasaan buruk. Beberapa diantaranya dapat menjadi masalah bagi kesehatan seperti merokok, malas berolahraga, hingga terlalu lama bermain gadget. Tak jarang kita merasa menyesal setelah melakukan kebiasaan buruk tersebut dan bertekad untuk tidak melakukannya di kemudian hari. Berbagai cara ditempuh untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk ini, diantaranya dengan memberikan punishment dan reward. Bahkan di era digital ini kita dapat dengan mudah mengunduh aplikasi di smartphone untuk membantu mengubah perilaku buruk. Aplikasi-aplikasi ini biasanya meminta pengguna untuk menginput emosi yang dirasakan dengan teratur.
Dalam penelitian yang berjudul berjudul Change of Heart: Emotion Tracking to Promote Behavior Change, Victoria Hollis, Artie Konrad, dan Steve Whittaker dari University of California melakukan penelitian untuk menilai seberapa penting mengamati emosi yang kita rasakan agar dapat mengubah perilaku.
Antara Perilaku dan Emosi
Manusia merupakan unit emosi. Setiap hari manusia mengalami beragam emosi yang berbeda. Suatu perilaku dapat dijelaskan dengan mengaitkannya pada emosi yang memicu perilaku tersebut: Seseorang melakukan sesuatu “karena dia marah” atau “karena dia senang”. Tujuan dari emosi ini adalah untuk membuat seseorang melakukan suatu perilaku secara khusus. Sebaliknya emosi juga dapat bertindak sebagai pemberi umpan balik. Setelah seseorang melakukan suatu perilaku, muncul emosi yang membuat seseorang melakukan penilaian dan refleksi, sehingga mendorong pembelajaran. Selanjutnya, orang akan belajar mengantisipasi perilaku khusus yang mengarah ke suatu emosi sehingga mereka menyesuaikan perilaku mereka (Baumeister, DeWall, Vohs, & Alquist, 2010).
Dengan mengenali emosi yang kita rasakan, kita dapat mengatur perilaku yang akan muncul setelahnya. Dengan kesadaran emosi yang meningkat, perilaku buruk sebagai konsekuensi dari emosi tersebut akan berkurang (Hollis, Konrad, & Whittaker, 2015).
Mengamati Emosi Diri
Hollis bersama rekannya melakukan penelitian dengan melibatkan 35 partisipan yang diminta untuk memilih perilaku yang ingin mereka kurangi atau hilangkan selama 3 minggu. Sebanyak 19 partisipan secara teratur menuliskan emosi yang timbul saat melakukan perilaku buruk maupun saat tidak melakukannya. Sedangkan sisanya tidak menuliskan emosi mereka.
Dalam jurnal penelitiannya, Hollis, Konrad, & Whittaker menuliskan, “Partisipan yang didorong untuk melibatkan emosinya membuat mereka dapat merefleksikan lebih dalam dan memahami dengan lebih baik konsekuensi dari perilaku buruk mereka, sehingga perilaku tersebut dapat berkurang.”
Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa partisipan yang mengamati emosi mereka secara teratur cenderung lebih sukses dalam mengurangi perilaku buruk dibanding partisipan yang tidak melakukannya. Hal ini dikarenakan mereka dapat merasakan lebih jelas emosi yang dirasakan, sehingga dapat membantu melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi (Hollis, Konrad, & Whittaker, 2015).
Pengalaman Gagal vs Pengalaman Berhasil
Perilaku merupakan hal yang sulit untuk diubah, namun bukan tidak mungkin. Penulis buku Tiny Habits: The Small Changes that Change Everything, BJ Fogg, dalam artikelnya yang dimuat Time menuliskan bahwa perasaan berhasil memicu produksi dopamin dan membantu kita mengingat perilaku apa yang membuat kita merasa senang, sehingga kita akan mengulangi perilaku tersebut. Namun dalam membentuk kebiasaan ini terkadang muncul dorongan untuk kembali melalukan perilaku buruk. Saat melakukan perilaku buruk tersebut kita merasa gagal dan kecewa terhadap diri, namun perasaaan gagal ini ternyata juga penting untuk memperdalam kesadaran mengenai emosi kita.
“Refleksi pada pengalaman gagal menimbulkan kesedihan dan penyesalan yang berkaitan dengan peningkatan kesuksesan yang dirasakan diri dan jumlah hari dimana perilaku buruk tersebut absen. Hal ini menunjukkan bahwa penyesalan yang dalam dapat menjadi motivator yang kuat untuk mengurangi kebiasaan buruk.” Ungkap Hollis, Konrad, & Whittaker dalam hasil penelitiannya.
Referensi
Baumeister, R., DeWall, C., Vohs, K., & Alquist, J. (2010). Does Emotion Cause Behavior (Apart from Making People Do Stupid, Destructive Thing)?. Oxford University Press. Diakses dari https://www.oxfordscholarship.com/view/10.1093/acprof:oso/9780195377798.001.0001/acprof-9780195377798-chapter-7 pada tanggal 27 Juli 2020.
Fogg, BJ. (2019). Better Control of Your Emotion Will Help You Create Better Habits. TIME. Diakses dari https://time.com/5756833/better-control-emotions-better-habits/ pada tanggal 27 Juli 2020.
Hollis, Victoria., Konrad, Artie., & Whittaker, Steve.(2015). Change of Heart: Emotion Tracking to Promote Behavior Change. University of California at Santa Cruz. doi:10.1145/2702123.2702196.
Ditulis oleh : Hanifa
Disunting oleh : Elysa Nasri
