Hubungan antara Kortisol, Depresi, dan Gangguan Berpikir

Kortisol merupakan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Pada kadar normal, ia berperan dalam mengatur kekebalan tubuh, mengonversi protein menjadi glukosa, dan memelihara tekanan darah. Namun  saat  seseorang  menghadapi stres, kadar  hormon kortisol dilepaskan lebih banyak dari biasanya. Sehingga kortisol sering juga disebut sebagai hormon stres atau hormon indikator stres.

Dalam studi yang dilakukan, peneliti menemukan keterkaitan mengapa orang yang depresi juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang demensia. Tingkat hormon kortisol tinggi yang kerap ditemukan di tubuh penderita stres dapat memengaruhi bagian hippocampus di otak, yaitu bagian yang berperan penting dalam kemampuan belajar, berpikir, dan mengingat informasi (Launer, 2015)

Dari studi yang ia lakukan terhadap 4.244 orang tua berusia sekitar 76 tahun, Launer menemukan bahwa mereka yang memiliki kadar kortisol tinggi ternyata memiliki volume otak yang lebih kecil dibanding orang yang kadar kortisolnya lebih rendah. Selain itu, kemampuan partisipan dengan kadar kortisol tinggi dalam mengingat dan menyelesaikan tes yang diberikan, lebih buruk dibanding orang yang kadar kortisolnya normal.

Penelitian lain yang dipimpin oleh Dr Justin Echouffo-Tcheugui juga  menganalisa 2.231 orang dengan usia rata-rata 49 tahun dan bebas dari demensia. Mereka dibagi berdasarkan kadar kortisol. Dia mengatakan, penelitian timnya mendeteksi hilangnya memori dan penyusutan otak pada orang berusia paruh baya tersebut.

Orang-orang dengan kadar kortisol yang lebih tinggi memiliki volume otak yang lebih kecil, dibandingkan dengan orang dengan tingkat hormon kortisol yang normal. ”Penting bagi semua orang menemukan cara untuk mengurangi stres agar tidak mengalami penurunan daya ingat ketika memasuki masa lanjut usia, yaitu dengan tidur yang cukup, melakukan olahraga ringan, menggabungkan teknik relaksasi dalam kehidupan sehari-hari, atau memantau kadar kortisol dan mengkonsumsi obat yang dapat mengurangi kortisol jika diperlukan.” (Justin, 2019).

Referensi


Mirjam I. Geerlings, PhD, Sigurdur Sigurdsson, MSc, Gudny Eiriksdottir, et al. 2015. Cortisol, Brain Volumes, And Cognition In Community-Dwelling Elderly Without Dementia

 Justin Echouffo-Tcheugui, Sarah C. Conner, Jayandra J. Himali, et al. 2019. Circulating Cortisol And Cognitive And Structural Brain Measures: The Framingham Heart Study

Ditulis oleh : Gunawan

Disunting oleh : Elysa Nasri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *