Orang Tua Perlu Curiga Jika…

Otak bayi berkembang sangat cepat pada usia 0–5 tahun. Anak dapat mempelajari banyak hal dengan baik pada usia ini, maka dari itu periode ini sering disebut sebagai usia emas pada anak. Akan tetapi, bila anak mengalami suatu gangguan pada salah satu kemampuan sensorinya seperti pendengaran, maka kemampuan anak yang lainnya akan ikut terganggu (Wijana et al., 2014). Dampak langsung dari kondisi ini ialah kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi (Gronski, 2013). Gangguan pendengaran sejak lahir (tuli kongenital) harus mendapatkan penangan sesegera mungkin karena dapat menganggu perkembangan kognitif, psikologi, dan sosial pada anak. Salah satu tanda atau gejala anak mengalami gangguan pendengaran adalah anak belum dapat berbicara sesuai usianya (Kemenkes RI, 2019).

Usia perkembangan bahasa pada anak (IDAI, 2013; Undiyaundeye, 2018) :

  • Usia 0-3 bulan, anak dapat mengenali suara orang tua atau pengasuhnya dan akan terkejut pada suara yang keras. Pada masa ini bayi juga membuat suara-suara babling (mengulangan huruf konsonan/vokal).
  • Usia 3-6 bulan, anak akan menunjukkan ketertarikannya pada suara-suara. Selain babling, anak akan memperhatikan orang yang berbincang-bincang dan tertawa saat bermain. Orang tua perlu waspada apabila pada usia 6 bulan anak tidak merespon ketika dipanggil namanya dan tidak babbling.
  • Usia 6-12 bulan, anak dapat mengidentifikasi sumber suara seperti suara telepon atau suara bel. Pada usia ini, anak juga dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “baba”, “mama”,”dada”. Di usia ini, anak juga menggunakan gestur tubuh untuk menunjukkan keinginannya. Orang tua perlu waspada apabila pada usia ini anak tidak menunjuk dengan jari dan wajah anak kurang berekspresi.
  • Usia 12-15 bulan, anak dapat memahami arti dari kata-kata sederhana, seperti “cangkir” dan memahami perintah sederhana seperti “cium mama”.
  • Usia 15-18 bulan, anak dapat memahami suatu perintah dengan 2 kalimat sederhana seperti “lepaskan sepatu dan berikan pada mama”. Anak juga akan mulai mengikuti perkataan dan tingkah laku orang dewasa yang ia lihat. Orang tua perlu waspada bila anak tidak mengucapkan kata yang berarti pada usia 16 bulan.
  • Usia 18-24 bulan, selain memahami perintah sederhana, anak akan mulai berbicara kalimat pendek sebanyak 2 hingga 3 kata. Menurut para ahli, pada usia 19-20 bulan, anak akan mengalami ledakan bahasa. Anak dapat mempelajari kata-kata baru hingga 9 kata/hari. Orang tua perlu waspada apabila pada usia 24 bulan anak tidak memahami kalimat 2 kata.
  • Usia 2-3 tahun, pada usia ini anak bisa menggunakan sekitar 300 kosa kata dan mengucapkan kalimat pendek sebanyak 4-5 kata.
  • Usia 3-4 tahun, pada masa ini, anak dapat memahami gestur dan perintah 2 kalimat dengan 4-6 kata.
  • Usia 4-5 tahun, pada usia ini, anak mampu memahami dan menjawab percakapan sederhana dengan baik.

Gangguan berbicara dan bahasa memiliki hubungan yang erat dengan gangguan pendengaran. Gangguan berbicara dan bahasa pada anak usia prasekolah dialami sekitar 5-8%, 17% pada anak usia 5 tahun, dan 75% dari anak tersebut mengalami gangguan pendengaran (Wijana et al., 2014). Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan apakah perkembangan berbicara dan bahasa si kecil sesuai dengan usia perkembangannya.

Orang tua dapat melihat beberapa tanda yang muncul pada anak yang mungkin mengalami gangguan pendengaran (Azwar, 2013):

  1. Anak kurang merespon suara–suara yang ada di sekitarnya seperti suara klakson kendaraan dan petir.
  2. Anak terlihat kurang perhatian dengan keadaan sekitarnya.
  3. Anak kurang responsif saat diajak berbicara apabila tidak melihat wajah lawan bicaranya. Anak yang mengalami gangguan pendengaran akan berusaha mencari informasi mengenai apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan melihat ekspresi wajah ataupun melalui gerakan bibir.
  4. Sering meminta pengulangan kata.
  5. Memberikan respon yang tidak sesuai terhadap pembicaraan atau perintah yang diberikan.
  6. Kesulitan menangkap huruf konsonan.
  7. Anak hanya merespon pada suara tertentu atau volume tertentu.
  8. Kesulitan memahami pembicaran di lingkungan yang ramai.
  9. Anak mengucapkan kata yang sulit dimengerti.
  10. Anak berbicara dengan volume yang terlalu lemah atau terlalu keras.
  11. Kemampuan anak dalam berbicara dan memahami kata-kata terbatas.

Memperhatikan perkembangan berbicara dan bahasa pada anak serta mengidentifikasi tanda dan gejala gangguan pendengaran, dapat dijadikan oleh orang tua sebagai pedoman untuk mengidentifikasi dini gangguan pendengaran yang mungkin dialami oleh anak. Gangguan pendengaran ini membawa dampak langsung pada kemampuan berbicara dan bahasa pada anak. Di negara maju, pemeriksaan pendengaran pada bayi secara berkala telah dilakukan untuk menghindari keterlambatan berbicara dan bahasa pada anak (Azwar, 2013). Apabila orang tua menemukan tanda dan gejala tersebut pada anak, maka dibutuhkan pemeriksaan dan penanganan segera oleh tenaga profesional. Ingat parents, tidak perlu denial dengan mengatakan anak kita baik-baik saja, karena penanganan yang lebih cepat, akan membawa dampak yang lebih baik untuk si kecil.

Referensi 

Azwar. (2013). Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak. JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 13 Nomor 1 April 2013 Untuk, 59–64.

Gronski, M. (2013). Balance and Motor Deficits and the Role of Occupational Therapy in Children Who Are Deaf and Hard of Hearing: A Critical Appraisal of the Topic. Journal of Occupational Therapy, Schools, & Early Intervention, January 2015, 37–41. https://doi.org/10.1080/19411243.2013.860767

Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Keterlambatan Bicara. Diakses pada 16 September 2020, dari https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara

Kemenkes RI. (2019). Begini cara sederhana deteksi pendengaran bayi baru lahir. Diakses pada 16 September, dari http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/begini-cara-sederhana-deteksi-pendengaran-bayi-baru-lahir

Undiyaundeye, F. (2018). PROCESSESS OF CHILDREN ’ S LEARNING AND SPEECH DEVELOPMENT IN EARLY YEARS. International Journal of Social Sciences, July. https://doi.org/10.20319/pijss.2018.42.126134

Wijana, Syamsuddin, A., & Dewi, Y. A. (2014). Gelombang Auditory Brainstem Response (ABR) pada Anak di Bawah Lima Tahun. 46(38), 183–188.

Penulis : Riama

Editor : Elysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *